NovelToon NovelToon
Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Misteri Hati Dibalik Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Eliana. s

Ketika kecurigaan mulai menggerogoti rumah tangganya, seorang wanita menyadari bahwa ancaman datang dari orang-orang terdekatnya. Suami yang dingin, anak yang mungkin bukan darah dagingnya, hingga asisten rumah tangga yang selalu mengintai semua tampak memainkan peran dalam permainan berbahaya yang mematikan. Terjebak dalam jebakan penuh tipu daya, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup adalah melawan, meski harus mempertaruhkan segalanya hingga titik darah penghabisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana. s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Kunci Didalam Kompartemen Rahasia

Aku menyisir seluruh wadah alat tulis miliknya dengan cermat, namun hasilnya tetap nihil. Logikaku menolak untuk menerima kenyataan bahwa dia bisa membawa semua kunci yang ada di sini begitu saja. Sesuatu terasa janggal.

Tiba-tiba, pandanganku tersangkut pada sebuah brankas di pojok ruangan. Detik itu juga, ingatanku melayang ke kunci yang seharusnya membuka brankas tersebut. Jantungku berdegup lebih cepat.

Tanpa membuang waktu, aku berbalik dan melangkah ke arah patung kuda jingkrak berlapis emas setinggi orang dewasa yang berdiri anggun dekat pintu. Dengan hati-hati, aku menekan bagian dekoratif yang tersembunyi di alas patung itu. Seketika, alasnya terbuka dengan suara lembut. Tangan ku merogoh ke dalam, dan mataku berbinar ketika berhasil menemukan seuntai kunci.

Aku terhenti sejenak, menatap kunci itu, dan sadar bahwa ternyata dia tidak pernah memindahkan tempat persembunyian itu. Sebuah pertanyaan menyambar pikiranku: jika dia sampai mengunci ruang kerjanya, sebenarnya siapa yang sedang dia waspadai?

Lokasi rahasia ini sebenarnya ideku sendiri. Pengaturan kompartemen tersembunyi itu memang brilian dan sulit ditemukan. Dulu, saat aku mengusulkannya, dia menyetujuinya dengan senyum penuh antusias dan hanya aku serta Dean Junxian yang tahu.

Sepertinya, dia menganggap aku terlalu sering tidur sepanjang waktu, sehingga tidak perlu memindahkan persembunyian itu. Tapi kalau begitu… siapa sebenarnya yang membuatnya waspada?

Aku tidak punya waktu untuk merenung terlalu lama. Dengan cepat, aku mengambil kunci itu dan berlari kembali ke meja. Begitu kunci terkecil dimasukkan, terdengar suara klik dan laci itu terbuka.

Benar saja. Di laci kedua sebelah kanan, ponsel dan tabletku tersimpan rapi. Aku segera mengambilnya. Ponsel dalam keadaan mati. Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol daya, menunggu layar menyala.

Sambil menunggu, aku mencoba membuka komputer Dean Junxian untuk memeriksa rekaman CCTV rumah. Kata sandi yang sudah sangat kuhafal kuinput, namun yang muncul justru notifikasi dingin: Kata sandi salah.

Dia sudah menggantinya!

Aku mencoba berkali-kali, namun semuanya gagal. Komputernya seolah menolak masukanku, menutup semua akses dengan dingin.

"Sialan, laki-laki brengsek!" seruku, rasa frustrasi memuncak. Dengan kemarahan, aku menggebrak laptopnya. Dentuman keras bergema di ruangan, sampai aku sendiri terkejut oleh suara itu.

Jantungku berdetak begitu keras, seolah ingin meledak.

Aku meraih ponselku dengan tangan gemetar, namun lagi-lagi notifikasi dingin muncul: Kata sandi salah. Aku tidak menyangka dia tega mengganti kode pengunci ponselku sendiri, seperti sengaja menutup jalanku untuk mencari bantuan.

Untungnya, saat pertama kali beralih ke ponsel ini, aku sempat mendaftarkan sidik jari. Dengan napas tertahan, aku menempelkan jariku pada pemindai, dan seketika layar menyala. Lega menyelimuti, meski hanya sesaat.

Segera, aku memeriksa kondisi ponsel. Baterainya sudah nyaris habis, dan rasanya waktu seperti menipis begitu cepat. Di log panggilan, aku melihat panggilan masuk terakhir ternyata dari ibuku. Pandanganku tiba-tiba buram, air mata menggenang di mata tanpa bisa ditahan.

Rasanya ingin sekali menelepon Ibu saat itu juga, menumpahkan semua kekhawatiran dan rasa rindu, tapi aku sadar sekarang bukan waktunya. Emosiku belum stabil, dan aku tak mau membuatnya panik. Selain itu, baterai ponsel yang tersisa bisa habis kapan saja. Prioritasku sekarang jelas: aku harus segera menghubungi Zea Helia.

Tanpa membuang waktu untuk berpikir panjang, aku mencari nama Zea Helia di antara daftar panggilan tak terjawab yang panjang. Begitu menemukannya, jari-jari ku langsung menekannya.

Namun, begitu sambungan mulai tersambung, aku buru-buru menekan tombol akhiri. Tidak, ini terlalu berisiko. Menelepon secara langsung akan meninggalkan jejak yang mudah dilacak.

Aku segera membuka aplikasi WeChat. Tak butuh waktu lama, aku menemukan profil Helia. Dia ternyata sudah mengirimkan puluhan pesan padaku. Tanpa sempat membaca satu per satu, aku langsung menekan tombol panggilan suara.

Sambungan di seberang sana berdering cukup lama sebelum akhirnya diangkat. Detik berikutnya, suara Zea Helia yang penuh amarah terdengar nyaring, “Heh, Luna Danni! Akhirnya kamu ingat juga sama aku, ya? Aku kira kamu sudah sakit parah sampai hampir mati. Kalau kamu nggak kasih kabar sedikit lagi, aku sudah siap pesan karangan bunga duka cita, tahu nggak!”

Belum sempat dia menyelesaikan makiannya, aku memotongnya cepat, “Helia, dengarkan aku dulu...”

Begitu kata-kata itu keluar, pertahananku runtuh. Isak tangisku pecah, sesenggukan tak terbendung. “…Aku… aku butuh bantuanmu!”

“Danni? Ada apa ini? ... Jangan menangis, kamu kenapa? Ayo, bicara! Aduh, kamu bikin aku jantungan saja!”

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Helia, jangan tanya dulu. Ceritanya panjang sekali. Pokoknya kamu harus bantu aku… ini tidak bisa dijelaskan lewat telepon. Kamu harus dengarkan aku baik-baik…”

Aku mengoceh tanpa henti, kata-kata keluar begitu saja tanpa teratur, sampai-sampai aku sendiri tidak sepenuhnya mengerti apa yang baru saja kuucapkan.

Zea Helia tampak benar-benar bingung, alisnya berkerut, matanya menatapku dengan cemas. Ia akhirnya memotong ocehanku dan bertanya dengan nada khawatir, “Danni… apa yang terjadi padamu?”

Aku menarik napas panjang, suaraku serak saat menjawab, “Ya… aku dalam masalah…”

Di titik ini, aku tak lagi bisa menyembunyikan apa yang kurasakan. Perlahan, aku mulai menjelaskan secara singkat situasiku apa yang terjadi, dan bantuan apa yang kubutuhkan darinya. Kata-kata itu baru saja mulai keluar ketika terdengar suara klik dingin, teleponnya mati total karena kehabisan daya.

Aku terdiam sejenak, terpaku oleh kekosongan itu. Rasanya masih begitu banyak hal yang belum sempat kujelaskan. Dengan perasaan tak berdaya, aku menurunkan tangan dan menaruh kembali gagang telepon di atas meja. Aku tahu, sebelum mendapatkan bukti yang kuat, aku tidak boleh gegabah. Satu langkah yang salah bisa memancing kecurigaan, dan semua usahaku bisa sia-sia.

Namun, rasa penasaran terus mengusik pikiranku. Sebenarnya, aku ingin sekali mencari tahu apa yang disimpannya di dalam laci itu mengapa harus dikunci rapat, bahkan di rumah sendiri. Tapi sebelum aku sempat merencanakan langkah berikutnya, lampu tiba-tiba berkedip sebentar, lalu kembali redup dan gelap gulita.

Gawat. Naluriku berteriak; sepertinya listrik akan segera menyala kembali. Panik dan rasa takut mulai merayap, membuat setiap detik terasa begitu panjang. Aku harus bertindak cepat sebelum siapapun atau apapun mengetahui keberadaanku…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!