Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawar dalam Pelukan
Mobil Rolls-Royce itu melaju kencang menembus hujan badai Kota Metropol menuju mansion pribadi keluarga Feng yang memiliki fasilitas medis paling canggih. Di kursi belakang, Feng Yan masih mendekap erat tubuh Lin Diya. Ia tidak membiarkan wanita itu menyentuh jok kulit mobil; ia ingin Diya hanya merasakan detak jantungnya sebagai jangkar agar kesadarannya tidak hilang ditelan efek serum.
"Dingin..." gumam Diya pelan. Bibirnya yang biasanya merah muda kini memucat, gemetar karena suhu tubuhnya yang tidak stabil.
Tanpa berkata apa-apa, Feng Yan melepas jas hitamnya dan menyelimuti tubuh Diya. Ia memeluknya lebih erat, menenggelamkan wajah Diya di dadanya. "Tahan sebentar lagi, Mutiara. Aku di sini. Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi. Aku bersumpah."
Di kursi depan, Dr. Kanaya yang sedang memantau tablet medisnya melirik lewat spion tengah. Ia menghela napas panjang. "Feng Yan, serum itu bekerja dengan cara menyerang reseptor emosi. Semakin dia merasa takut, semakin cepat serum itu menyebar. Pelukanmu... sebenarnya adalah obat penenang alami yang dia butuhkan saat ini."
Feng Yan tidak menjawab, ia hanya mencium puncak kepala Diya dengan lembut. "Dengar itu, Diya? Kau harus tenang. Kau adalah Author dari takdirmu sendiri, jangan biarkan virus sampah ini mendiktemu."
Sementara itu, lewat earpiece yang masih terpasang, suara Rendy terdengar terisak kecil. "Bos... aku sudah mengunci semua akses gedung Liu Ruyan. Aku sudah memutus aliran dana daruratnya. Tapi... aku merasa sangat bersalah. Kalau saja aku lebih cepat..."
"Rendy, berhenti menyalahkan dirimu," potong Feng Yan, suaranya melunak namun tetap tegas. "Fokuslah pada tugasmu. Aku butuh kau tetap waras untuk membantu Kanaya membuat penawar. Kau adalah otak dari tim ini, jangan biarkan emosimu mengaburkan logikamu."
Mobil berhenti dengan derit ban yang tajam di depan lobi mansion. Pasukan keamanan pribadi keluarga Feng sudah berbaris rapi, membentuk pagar betis manusia. Feng Yan keluar sambil menggendong Diya dengan gaya bridal style, langkahnya lebar dan penuh kepastian.
Sesampainya di dalam ruang medis steril, Kanaya mulai menyiapkan berbagai peralatan. Namun, saat Kanaya hendak menyuntikkan obat penenang, tangan Diya tiba-tiba mencengkeram kemeja Feng Yan dengan sangat kuat. Matanya terbuka sedikit, menatap Feng Yan dengan tatapan sayu yang penuh permohonan.
"Jangan... jangan pergi..." bisik Diya lirih.
Feng Yan tertegun. Ia menatap Kanaya yang memberikan isyarat agar dia tetap di sana. Feng Yan akhirnya duduk di tepi tempat tidur medis, membiarkan Diya menggenggam tangannya erat-erat sementara Kanaya mulai memasang infus.
"Aku tidak akan pergi, Diya," bisik Feng Yan tepat di telinga Diya, suaranya berat dan penuh emosi. "Aku akan tetap di sini sampai kau bangun dan memarahi aku karena tidak becus menjagamu. Aku akan tetap di sini bahkan jika seluruh dunia mencoba memisahkan kita."
Beberapa menit kemudian, Diya mulai tertidur karena efek obat penenang. Feng Yan tetap tidak melepaskan genggamannya. Ia menatap wajah wanita itu dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan yang hanya ia berikan pada Lin Diya.
"Kanaya," panggil Feng Yan tanpa mengalihkan pandangan.
"Ya?"
"Lakukan apa pun. Pakai aset apa pun. Jika perlu, beli seluruh pabrik farmasi di dunia ini untuk mendapatkan bahan penawarnya. Aku tidak peduli soal harta atau tahta lagi jika Mutiara-ku tidak ada di sampingku untuk menikmatinya."
Kanaya berhenti sejenak, menatap punggung Feng Yan yang tampak rapuh namun sangat kuat secara bersamaan. "Aku tahu, Feng Yan. Aku akan melakukannya bukan hanya karena kau bosku, tapi karena aku tahu betapa berartinya dia bagimu... dan bagi Rendy."
Di luar, guntur menggelegar, namun di dalam ruangan itu, keheningan yang penuh cinta mulai menyelimuti. Feng Yan tahu, besok dia harus menjadi monster untuk menghancurkan Liu Ruyan, tapi malam ini, dia hanya ingin menjadi seorang pria yang menjaga separuh jiwanya.