Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Absurd
"Berhenti. Cukup sampai di sini."
Suara Kiara Masita memecah keheningan kabin mewah mobil Abraham Wijaya. Gadis itu menunjuk sebuah rumah minimalis dengan pagar kayu yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut, kontras tajam dengan siluet gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang biasa menjadi latar belakang hidup pria di sampingnya. Kiara segera melepas sabuk pengaman, jemarinya yang lentik bergerak cepat seolah ingin segera lepas dari jerat aroma maskulin yang memenuhi mobil itu.
"Tunggu, Kiara. Penawaran saya tadi bukan sekadar angin lalu. Saya sungguh-sungguh mengajakmu menikah."
Bara memutar tubuh. Wajahnya yang tegas dengan rahang yang terpahat sempurna, kini menatap Kiara dengan intensitas yang sanggup mengintimidasi direktur mana pun di Jakarta. Namun bagi Kiara, tatapan itu hanyalah gangguan yang tidak diinginkan.
Kiara menatapnya dengan binar skeptis. "Atas dasar apa saya harus menerima ide gila ini, Om Bara? Kita baru bertemu satu setengah jam yang lalu di trotoar. Saya masih siswi SMA yang sibuk memikirkan ujian, sementara Anda... Anda adalah duda yang sudah setahun melajang dengan beban masa lalu yang entah seperti apa. Tolong, jangan buat hidup saya yang sudah cukup rumit ini menjadi naskah drama murahan."
Kiara mencoba menarik tuas pintu, namun suara central lock yang mengunci otomatis terdengar dingin di telinganya.
"Om, apa-apaan sih? Saya mau pulang!" Kiara merengek, matanya mulai memanas karena kelelahan yang memuncak.
"Kiara, dengarkan saya sekali saja." suara Bara melembut, namun tetap penuh penekanan. "Saya membutuhkanmu untuk menghentikan rencana gila Ibu tiri saya, ibu tiri yang terobsesi menjodohkan saya dengan Meisya. Meisya itu seperti parasit dan saya tidak ingin hidup saya hancur untuk kedua kalinya setelah Erika pergi."
"Siapa Meisya? Siapa Erika? Saya tidak peduli!" seru Kiara frustrasi.
"Kiara tolong. Saya akan memberikan apa pun yang kamu inginkan. Biaya pendidikan, rumah, jaminan masa depan keluargamu, semuanya. Asalkan kamu bersedia berdiri di samping saya sebagai istri."
Kiara menguap lebar, menutupi mulutnya dengan punggung tangan. "Cari wanita lain saja, Om. Jakarta penuh dengan model dan sosialita yang akan mengantre hanya untuk sekadar dipandang oleh CEO Starship. Kenapa harus saya? Saya cuma ingin tidur di ranjang saya yang keras sekarang juga."
Bara menatap profil samping Kiara. "Karena kamu berbeda. Kamu punya keberanian yang tidak dimiliki wanita-wanita manja di lingkaran saya. Kamu tegas, berani memaki saya di depan umum dan saya yakin kamu satu-satunya yang bisa menghadapi lidah tajam ibu saya. Wanita lain hanya akan menangis atau bersujud di depannya."
Kiara tetap bergeming. Baginya, kebebasan lebih berharga daripada tumpukan rupiah dari pria asing ini.
"Bagaimana dengan pernikahan kontrak?" Bara menawarkan jalan tengah. "Satu tahun. Kita buat perjanjian hitam di atas putih secara profesional. Selama itu, saya akan menanggung seluruh kebutuhan hidupmu. Setelah satu tahun, kamu bebas pergi membawa apa pun yang kamu inginkan."
"Curang! Enak saja. Om yang untung, saya yang rugi. Saya masih murni, sementara Om... yah, barang second." protes Kiara telak.
Bara hampir tersenyum mendengar analogi jujur itu. "Saya berjanji tidak akan menyentuhmu tanpa izin. Kita akan hidup sebagai mitra. Bagaimana?"
"Tetap tidak. Orang tua saya pasti akan mengamuk." sahut Kiara ketus. Ia berhasil menekan tombol buka kunci dan melesat keluar menuju teras rumahnya tanpa menoleh lagi.
"Bagaimana kalau mereka justru setuju?" Suara Bara terdengar tepat di belakangnya. Kiara terkejut, pria itu rupanya ikut turun.
Kiara mengabaikannya. Ia mengetuk pintu kayu rumahnya berkali-kali. Namun, alih-alih sambutan hangat, yang terdengar adalah suara nyaring tapi terdengar dramatis, seperti percakapan di pentas seni, diiringi oleh musik melow yang tiba-tiba ngejreng membuat jantung hampir copot saking kerasnya.
"Itu orang tuamu?" tanya Bara, mencoba menahan diri untuk tidak menutup telinga.
"Iya." jawab Kiara pelan, wajahnya memerah karena malu. Ia lupa atau bahkan tidak punya kewajiban memberitahu Bara bahwa Ayahnya, Pak Ronal, mantan buruh pabrik yang kini punya hobi eksentrik dan Ibunya, Bu Merry adalah duo aktor dan aktris abal-abal. Suara mereka sering kali menjadi polusi suara bagi para tetangga di Gang Cempaka, namun bagi mereka, itulah puncak kejayaan seni.
Kiara mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci. Seketika, pentas seni tunggal di ruang tamu itu terhenti. Pak Dirga dan Bu Merry menoleh serempak, menatap putri mereka dan pria asing yang tampak seperti pangeran dari planet lain di ambang pintu mereka.
"Siapa ini, Kiara?" tanya Pak Ronal sambil merapikan kumisnya yang terlihat agak asimetris.
"Saya Abraham Wijaya, Pak. Kekasih Kiara." jawab Bara dengan kepercayaan diri yang mutlak.
Mata Kiara nyaris melompat keluar dari kelopak matanya. "Kekasih??? Om, jangan mengarang cerita!"
"Jangan malu begitu, Sayang." Bara dengan lancang merangkul pundak Kiara. Gadis itu segera membalasnya dengan sikutan tajam di rusuk Bara.
“ Kiara….” panggil Bu Merry dengan sorot mata tajam.
“ Saya Ronal, ayah Kiara. dan Ini ini istri saya, Merry.”
"Pak Ronal dan Bu Merry... maafkan kedatangan saya yang mendadak. Maksud kedatangan saya malam ini adalah untuk melamar Kiara."
Hening sejenak. Pak Ronal menatap Bara dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bibirnya gemetar. "Melamar? Kamu mau menikahi putri kecil kami yang sering masuk angin ini?"
"Bu... lihat ini, Bu. " Pak Ronal memeluk Bu Merry, terisak kecil. "Anak kita yang hobi tidur ini akhirnya ada yang mau membawa."
"Iya, Pak... sebentar lagi kita akan menimang cucu.” Bu Merry ikut menangis tersedu-sedu. Keduanya berpelukan dalam drama melankolis yang membuat Kiara ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ia lupa memperingatkan Bara bahwa orang tuanya memang memiliki bakat akting berlebihan.
"Bara, kami menghargai niatmu. Tapi Kiara masih sekolah..." Bu Merry memulai, membuat Kiara sempat merasa lega.
"Tapi Bu, hubungan kami sudah... sejauh itu. Saya harus bertanggung jawab." sela Bara dengan nada yang dibuat sedramatis mungkin.
Pak Ronal langsung menarik kerah kemeja mahal Bara, menyudutkannya ke dinding. "Sejauh mana, hah??? Kamu bawa dia ke mana? Kamu tahu tidak, Kiara itu gampang sekali meriang kalau kena angin malam? Kamu bawa dia tanpa jaket?!"
Bara terpaku. Logika Pak Ronal benar-benar berada di luar jangkauan otaknya yang biasa berpikir tentang strategi bisnis internasional.
“ Pak…Bukan itu maksudnya….Tapi itu…..” kata Bu Merry memberi kode kepada Pak Ronal. Sesaat kemudian, Pak Ronal baru mengerti. Ia kembali menarik kerah baju Bara dengan tatapan kini lebih tajam.
“ Apa yang sudah kamu lakukan dengan putriku? Haaa….” tanya Pak Ronal.
“ Hubungan kami sudah terlalu jauh Pak, makanya saya datang kesini untuk melamar Kiara.”
"Jadi, kamu bekerja di mana?" tanya Pak Ronal, berusaha kembali terlihat wibawa.
"Di Starship Jakarta, Pak. Perusahaan teknologi dan logistik."
"Bagian apa? Satpam? Atau kurir?"
"Saya Direkturnya, Pak."
Keheningan kembali melanda. Pak Ronal dan Bu Merry saling berpandangan selama lima detik, sebelum akhirnya Pak Ronal berbisik keras, "Bu... dia Direktur!"
Seketika, sikap Bu Merry berubah anggun. Ia meluruskan daster batiknya seolah itu adalah gaun pesta. "Ekhem. Jadi, kapan rencana pernikahannya?"
"Secepatnya, Bu. Hari Minggu ini saya rasa waktu yang tepat."
semangat💪 crazyup