Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Bayang-Bayang yang Hidup
Wanita itu berdiri tak sampai sepuluh langkah dari tempat Adrian dan Arumi berada. Ia mengenakan mantel panjang sewarna ivory dengan potongan sederhana namun elegan, membungkus tubuhnya yang mulai dimakan usia namun tetap memancarkan aura wibawa yang tak bisa didebat. Wajahnya—garis rahang itu, sepasang mata elang yang tajam namun menyimpan kesedihan mendalam—adalah replika sempurna dari wajah yang selama ini Adrian lihat di cermin setiap pagi.
"Ibu...?" Suara Adrian nyaris tak keluar.
Tenggorokannya mendadak kering, seolah seluruh pasokan udara di sekitar proyek Bekasi itu lenyap tersedap kabut masa lalu.
Arumi bisa merasakan bagaimana seluruh tubuh suaminya menegang kaku, seperti sebuah patung batu yang siap retak kapan saj. Ia mempererat genggamannya pada lengan Adrian, mencoba menyalurkan kehangatan dan realitas ke dalam nadi pria itu. Di hadapan mereka, Diana Pramoedya—wanita yang selama belasan tahun ini mereka doakan di atas gundukan tanah subur di Puncak—melangkah maju dengan ragu.
"Adrian, anakku..." Setitik air mata jatuh menyusuri pipi Diana yang mulai berkerut.
"Maafkan Ibu. Maafkan Ibu karena baru muncul sekarang."
Pertemuan itu tidak berlanjut di tengah debu proyek. Adrian, dengan sisa-sisa ketegaran yang dipaksakannya, membawa wanita itu ke sebuah ruang pertemuan privat di restoran kecil dekat kawasan industri tersebut. Arumi duduk di sisi Adrian, sementara Diana duduk di seberang mereka, menatap putranya dengan tatapan lapar seolah ingin membayar belasan tahun waktu yang hilang dalam sekejap.
"Bagaimana mungkin?" Adrian akhirnya bersuara, nadanya dingin, datar, dan sarat akan luka yang kembali menganga. "Kami menguburkanmu, Ibu. Ayah menangis di depan peti matamu. Aku memegang nisanmu setiap kali aku merindukanmu. Siapa... siapa yang ada di makam Puncak itu?"
Diana menghela napas panjang, sebuah suara berat yang sarat akan beban rahasia puluhan tahun. Ia membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwajah usang, mirip dengan buku-buku yang ditemukan Arumi di loteng vila Puncak.
"Makam itu tidak kosong, Adrian," ujar Diana lirih.
"Di sana bersemayam jasad seorang wanita tunawisma yang wajahnya hancur akibat kecelakaan mobil yang sama dengan yang dilaporkan mematikan Ibu. Ayahmu... mendiang suamiku... dialah yang mengatur semua itu."
Arumi tertegun. Otak penulisnya yang biasa merangkai plot rumit sekalipun merasa ngeri mendengar realitas ini. "Kenapa Ayah melakukan hal sekejam itu, Bu?" tanya Arumi lembut, mencoba menjembatani komunikasi yang terlalu emosional antara ibu dan anak itu.
Diana menatap Arumi, ada binar apresiasi di matanya. "Kamu Arumi, kan? Penulis yang mengembalikan jiwa anakku. Ibu tahu segalanya tentangmu dari jauh." Diana kembali menatap Adrian. "Ayahmu melakukan itu bukan untuk membunuhku, Adrian. Tapi untuk menyelamatkanku dari diriku sendiri... dan dari Paman Bram."
Diana mulai bercerita tentang masa lalu yang lebih gelap dari apa yang tertulis di surat-surat lamanya. Belasan tahun lalu, Diana menemukan bahwa Bram—yang saat itu masih menjadi tangan kanan suaminya—telah terlibat dalam jaringan pencucian uang internasional yang menggunakan yayasan keluarga sebagai kedok.
Ketika Diana mengancam akan melaporkannya ke otoritas berwenang, Bram tidak tinggal diam.
"Bram meracuniku perlahan, Adrian. Melalui dosis kecil obat-obatan yang dicampurkan ke dalam teh harian yang dikirim ke kamarku. Aku mulai berhalusinasi, tubuhku melemah, dan semua orang mengira aku gila. Ayahmu tahu, tapi dia tidak bisa menyentuh Bram secara hukum karena Bram memegang kartu truf yang bisa menghancurkan seluruh saham Pramoedya Group saat itu."
Untuk menyelamatkan nyawa istrinya, sang Ayah mengambil keputusan radikal. Memanfaatkan sebuah kecelakaan mobil tragis di pinggiran kota, ia memalsukan kematian Diana. Jasad korban kecelakaan yang tak teridentifikasi diakui sebagai Diana Pramoedya. Sementara Diana yang asli diselundupkan keluar negeri, menjalani perawatan medis intensif di sebuah sanatorium terpencil di Swiss hingga racun di tubuhnya benar-benar bersih.
"Ayahmu membuat perjanjian dengan Bram: Ibu dianggap mati, dan sebagai gantinya, Ayah tidak akan membongkar keterlibatan Bram dalam pencucian uang, dengan syarat Bram harus menjauh dari operasional utama perusahaan selama sepuluh tahun," lanjut Diana dengan suara bergetar. "Ayahmu menukar reputasi dan kebahagiaan kita demi nyawaku, Adrian. Dia membiarkanmu membencinya, membiarkanmu mengira dia adalah pria dingin yang tak punya hati, hanya agar Bram percaya bahwa Ayah sudah hancur dan kehilangan segalanya."
Adrian menutup matanya rapat-rapat. Air mata mengalir perlahan melewati pipinya. Bayangan tentang ayahnya yang kaku, yang selalu menuntutnya menghafal angka, yang ia benci setengah mati karena dianggap mengabaikan ibunya, mendadak runtuh. Pria tua itu ternyata menanggung beban rahasia yang begitu mengerikan sendirian hingga akhir hayatnya.
"Lalu kenapa Ibu tidak kembali setelah Ayah meninggal?" tanya Adrian, suaranya parau oleh duka yang terlambat datang.
"Karena Bram masih mengawasimu, Adrian. Perjanjian sepuluh tahun itu sudah habis tepat saat kamu kembali dari London. Bram bersiap menyerangmu. Jika Ibu muncul lebih awal, Bram akan tahu bahwa dia telah ditipu, dan dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menghancurkanmu sebelum kamu siap. Ibu harus menunggu... menunggu sampai kamu memiliki kekuatan sendiri. Dan hari ini, setelah melihat bagaimana kamu dan Arumi menumbangkan Bram dan Pak Hardi, Ibu tahu... singa kecilku sudah tumbuh menjadi raja yang sesungguhnya."
Malam itu, mereka bertiga tidak kembali ke Jakarta. Adrian bersikeras untuk berkendara menuju Puncak, menuju vila tua tempat semua cerita ini berakar. Kabut pegunungan menyambut mobil mereka, bergulung-gulung di bawah sorot lampu seolah membukakan jalan bagi kepulangan yang sesungguhnya.
Mereka berdiri di depan makam batu di sudut perkebunan teh. Diana melangkah maju, meletakkan seikat bunga mawar putih di atas nisan yang memuat namanya sendiri. Ia berlutut, menyentuh batu dingin itu dengan air mata yang mengalir tenang.
"Terima kasih karena sudah menjagakan tempat ini untukku," bisik Diana kepada jiwa tak dikenal yang bersemayam di sana.
Adrian berdiri di belakang ibunya, sementara Arumi menggandeng tangannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kerutan tegang di dahi Adrian lenyap sepenuhnya. Beban rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ibunya, kemarahan mendalam pada mendiang ayahnya, dan rasa hampa yang selama ini ia bawa dari London hingga Jakarta, menguap bersama angin malam Puncak.
"Aku memaafkan Ayah, Bu," ujar Adrian pelan, namun suaranya terdengar begitu kokoh menembus kegelapan. "Dan aku bersyukur Ibu kembali."
Diana bangkit dan memeluk putranya. Arumi menyaksikan momen itu dengan perasaan buncah. Buku karisnya, Akar yang Menghujam, mungkin menceritakan tentang pernikahan kontrak dan intrik menara gading, namun realitas malam ini adalah bab penutup yang jauh lebih indah daripada apa yang pernah ia ketik di atas papan tombol.
Dua minggu setelah malam di Puncak, kehidupan di rumah baru mereka di Jakarta Selatan mulai menemukan ritme barunya. Diana memilih untuk tidak muncul di depan publik atau mengklaim kembali posisinya di Pramoedya Group. Bagi dunia, Diana Pramoedya telah tiada, dan ia lebih memilih menikmati sisa hidupnya dengan tenang sebagai "Nenek Anna" bagi Abimanyu kecil.
Sore itu, halaman belakang rumah dipenuhi tawa.
Abi sedang berlarian mengejar bola bersama Diana, sementara Adrian dan Arumi memperhatikan mereka dari beranda sambil menikmati teh hangat.
"Proyek Bekasi sudah berjalan seratus persen, Rum," ujar Adrian sambil merangkul pundak istrinya. "Konsorsium asing itu menarik seluruh gugatannya setelah bukti pemerasan mereka diekspos oleh tim hukum kita. Pemerintah daerah bahkan menunjuk Eco-Tech sebagai mitra utama untuk tiga kota berikutnya."
"Dan bagaimana dengan Pramoedya Group?" tanya Arumi, menyandarkan kepalanya di bahu Adrian.
"Dewan komisaris yang baru sudah terbentuk. Mereka meminta aku kembali menjadi penasihat utama, tapi aku menolak. Aku memilih untuk tetap di sini, membangun sesuatu yang nyata bersama kalian. Dinasti itu sudah selesai, Rum. Sekarang yang ada hanya keluarga kita."
Pandu mendadak menelepon Arumi, memecah ketenangan sore itu dengan suara bersemangatnya yang khas. "Arumi! Tiga rumah produksi baru mengantre di depan kantorku.
Mereka tahu kamu menarik hak film dari Lentera Media, dan sekarang mereka menawarkan kebebasan kreatif total, termasuk hak veto untukmu atas skenario dan pemilihan aktor. Kamu mau mulai menulis naskahnya lagi?"
Arumi menatap Adrian, lalu menatap Abi yang sedang tertawa renyah di pelukan ibunya. Ia tersenyum tipis ke arah ponselnya.
"Katakan pada mereka, Pandu," ujar Arumi dengan nada yang penuh kepastian. "Aku akan menulisnya. Tapi kali ini, ceritanya tidak akan berakhir di menara gading. Ceritanya akan berakhir di sebuah rumah kecil dengan tanah basah yang subur, tempat akar kami benar-benar menghujam tanpa perlu takut lagi pada badai."
pemeran utama wanita g menye2...
semangat thor💪💪