NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Pengganti

Menjadi Istri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
​Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Antara Gudeg, Gizi, dan Kontraksi Pertama

Kehadiran Baskoro dan Ratna di rumah baru itu menciptakan dinamika unik yang belum pernah dirasakan Adrian sebelumnya. Rumah yang biasanya tertata rapi sesuai standar estetika minimalis modern, kini berubah menjadi medan tempur antara ilmu gizi medis dan kearifan lokal.

Adrian, dengan tabletnya, selalu memantau asupan kalori dan nutrisi Arumi melalui aplikasi kesehatan tercanggih. Sementara itu, Ratna, dengan ulekan batu dan kuali tanah liatnya, percaya bahwa kekuatan seorang ibu hamil berasal dari masakan yang dibuat dengan "rasa".

"Ibu, Dokter Maya bilang Arumi harus membatasi asupan gula dan santan berlebih untuk mencegah diabetes gestasional," ujar Adrian dengan nada sangat sopan namun tegas saat melihat mertuanya sedang mengaduk nangka muda dalam santan kental yang harum.

Ratna tersenyum, menyodorkan sendok kayu berisi kuah gudeg ke arah menantunya. "Coba cicipi dulu, Le. Ini santannya dari kelapa pilihan, gulanya pakai gula aren asli dari Kulon Progo. Ini bukan cuma makanan, ini penguat kandungan.

Arumi dari kecil kalau sakit obatnya cuma masakan Ibu, bukan vitamin botolan."

Adrian mencicipinya, dan mau tidak mau, ia harus mengakui bahwa rasanya luar biasa. Namun, egonya sebagai suami "Siaga" tetap membuatnya sedikit khawatir. Ia pun berkompromi dengan menambah porsi sayuran hijau di piring Arumi, menciptakan pemandangan kontras: nasi merah dan brokoli rebus di sebelah gudeg manggar yang legit.

Arumi hanya bisa tertawa melihat dua pria dan satu wanita paling berpengaruh dalam hidupnya itu saling beradu argumen demi kebaikannya. "Mas, Ibu... aku merasa seperti proyek besar yang sedang direbutkan oleh dua perusahaan raksasa," canda Arumi.

Setelah dua minggu menetap, Baskoro dan Ratna memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta.

Mereka merasa tugas mereka memberikan "akar" sudah cukup, dan kini saatnya memberikan ruang bagi Adrian dan Arumi untuk mempersiapkan diri secara mandiri menjelang persalinan yang diprediksi tinggal tiga minggu lagi.

Malam itu, mereka mengadakan makan malam perpisahan yang sederhana di teras belakang. Udara Jakarta terasa cukup sejuk. Siska dan Bayu ikut bergabung melalui panggilan video dari Jogja, menciptakan suasana keluarga besar yang hangat.

"Jaga diri baik-baik, Rum. Kalau sudah ada tanda-tanda, langsung telepon Ibu. Bapak sudah siapkan mobil kalau harus langsung meluncur ke Jakarta lagi," pesan Baskoro sambil menghisap kreteknya jauh dari jangkauan Arumi.

"Iya, Pak. Arumi akan ingat semua pesan Ibu," jawab Arumi.

Namun, baru saja Arumi hendak berdiri untuk mengambil buah potong, ia mendadak terdiam. Wajahnya yang tadi berseri mendadak pucat. Ia memegangi pinggiran meja dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Rum? Ada apa?" Adrian yang selalu waspada langsung menangkap perubahan ekspresi istrinya.

"Perutku... tiba-tiba kencang sekali, Mas. Rasanya seperti diperas," rintih Arumi.

Adrian seketika panik. Ia menjatuhkan sendoknya. "Kontraksi? Tapi ini baru minggu ke-37! Masih ada waktu tiga minggu!"

"Tenang, Adrian! Jangan panik!" seru Ratna, langsung berdiri dan menghampiri Arumi. Ia memegang perut anaknya, mencoba merasakan ritme ketegangan di sana. "Ini mungkin baru Braxton Hicks atau kontraksi palsu. Ayo, Rum, atur napas. Tarik dari hidung, keluarkan pelan dari mulut."

Adrian sudah memegang kunci mobil dan tas persalinan yang sudah ia siapkan sejak bulan lalu. Wajah CEO yang biasanya dingin itu kini dipenuhi keringat dingin. "Kita ke rumah sakit sekarang! Aku tidak mau ambil risiko!"

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Jakarta sedang tidak bersahabat. Kemacetan malam hari di daerah Jakarta Selatan membuat Adrian hampir kehilangan akal sehatnya. Ia membunyikan klakson berkali-kali, sesuatu yang sangat tidak mencerminkan kelasnya.

"Mas, tenang... ini sudah mereda," bisik Arumi, mencoba menenangkan suaminya meski ia sendiri menahan nyeri yang datang setiap sepuluh menit.

"Bagaimana bisa tenang, Arumi? Jika sesuatu terjadi padamu atau Abimanyu karena macet ini, aku akan membeli seluruh jalanan ini dan mengosongkannya!" teriak Adrian frustrasi.

Baskoro yang duduk di kursi belakang bersama Ratna hanya bisa geleng-geleng kepala. "Adrian, Nak... anak itu akan lahir di waktunya sendiri. Jalanan tidak bisa dipaksa, sama seperti hidup. Fokus saja pada kemudi, biar Ibu yang menjaga Arumi di belakang."

Tiba di unit gawat darurat, Arumi segera diperiksa oleh tim medis. Dokter Maya yang sedang bertugas segera melakukan observasi. Adrian mondar-mandir di depan pintu ruang periksa seperti harimau dalam sangkar.

Setelah lima belas menit, Dokter Maya keluar dengan senyum menenangkan. "Tenang, Pak Adrian. Ini memang kontraksi, tapi pembukaannya belum ada. Istilah medisnya persalinan palsu atau fase laten yang masih sangat awal. Ibu Arumi boleh pulang, tapi harus istirahat total. Sepertinya bayi ini sedang melakukan 'latihan' untuk hari besarnya."

Adrian merosot di kursi tunggu, menghembuskan napas lega yang begitu panjang hingga bahunya bergetar. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Rasa takut kehilangan Arumi ternyata jauh lebih besar daripada ketakutannya kehilangan seluruh kerajaan bisnisnya.

Sekembalinya di rumah, suasana menjadi jauh lebih sunyi. Kejadian tadi malam memberikan pelajaran berharga bagi Adrian tentang arti kesabaran. Arumi kini berbaring di tempat tidur, sementara Adrian duduk di sampingnya, tidak melepaskan genggaman tangannya.

"Maafkan aku ya, Mas. Aku membuatmu ketakutan," ujar Arumi lembut.

"Tidak, Arumi. Aku yang minta maaf karena terlalu panik. Aku selalu berpikir bahwa dengan uang dan kekuasaan, aku bisa mengendalikan segalanya. Tapi malam ini aku sadar, aku tidak punya kuasa apa pun atas kehadiran nyawa ini," jawab Adrian jujur.

Baskoro dan Ratna menunda kepulangan mereka satu hari lagi untuk memastikan Arumi benar-benar stabil. Pagi harinya, sebelum benar-benar berangkat, Baskoro mengajak Adrian bicara empat mata di balkon.

"Adrian, kepemimpinan di perusahaan itu soal kendali. Tapi kepemimpinan dalam keluarga itu soal keikhlasan. Kamu harus ikhlas bahwa istrimu akan melewati rasa sakit yang tidak bisa kamu gantikan. Tugasmu bukan untuk menghentikan sakitnya, tapi untuk menjadi tiang yang tidak goyah saat dia bersandar," ujar Baskoro.

Adrian mengangguk, meresapi setiap kata mertuanya. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar CEO, ia sedang berlatih menjadi seorang Ayah.

Setelah orang tua Arumi benar-benar pulang, rumah itu kembali menjadi milik mereka berdua. Arumi menghabiskan waktunya dengan membaca ulang draf novelnya, namun kali ini ia merasa ceritanya sudah lengkap. Ia tidak lagi menulis tentang konflik atau pengkhianatan, melainkan tentang penantian.

Adrian pun berubah. Ia tidak lagi se-obsesif sebelumnya, namun ia menjadi jauh lebih perhatian dalam hal-hal kecil. Ia belajar memijat titik-titik akupresur untuk membantu induksi alami, ia menyiapkan daftar putar musik klasik yang menenangkan, dan ia selalu memastikan ada aroma terapi lavender di kamar mereka.

Suatu sore, saat matahari terbenam menyinari deretan buku di perpustakaan, Arumi merasakan tendangan yang sangat lembut dari dalam perutnya. Ia mengambil tangan Adrian dan meletakkannya di sana.

"Dia bilang terima kasih, Mas. Karena ayahnya sudah belajar untuk lebih tenang," bisik Arumi.

Adrian tersenyum, mencium perut Arumi dengan penuh khidmat. "Aku yang berterima kasih padanya. Karena dia, aku tahu rasanya mencintai sesuatu lebih dari nyawaku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!