IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Anin terus memacu motor yang di kendarainya, terpaksa ia masuk ke gang-gang sempit demi menghindari kejaran mobil Naufal.
Setelah sampai di pelataran kafe KYN tempatnya bekerja selama ini, ia tidak lansung masuk ke dalam. Ia duduk di tepi trotoar parkiran.
Anin menarik nafas panjang, kemudian ia hembuskan perlahan. Ia tengah menenangkan perasaannya.
"Coba posisinya gue ini anak orang kaya, nggak usah kaya deh asal punya orang tua bener dan keluarga bener aja, mungkin gue akan lebih pede buat deket sama cowok. Lah ini, keluarga gue aja ancur-ancuran. Apa kata cowok yang deket sama gue nanti kalau sampe dia tahu." keluhnya pada diri sendiri.
"Belum lagi, kalau berlanjut sampe pernikahan. Apa kata keluarganya? Bapak Ibunya? emang mau mereka besanan sama orang kaya orang tua gue? Kan nggak mungkin. Di mana-mana orang itu pasti lihat bibit, bebet, bobot nya. Nah gue? Apes banget dah hidup gue ini." tutur Anin yang menggerutu sendiri.
Anin kemudian melihat ponselnya yang tadi berbunyi, bunyi notif yang selama dia idam-idamkan. Yaitu bunyi nofikasi transferan masuk.
Lantas bola matanya membulat ketika ia melihat nominal satu juta masuk. Dari siapa?
Tertera di notifikasi itu atas nama Naufal Adhitama sebagai pengirim uang satu juta itu. Kemudian di bagian note, Naufal membubuhkan kata "Buka blokiran nomer aku."
Tak selang lama ada lagi notifikasi masuk dengan jumlah yang sama nama yang sama. Tapi note yang berbeda."Aku mau bicara sama kamu."
Anin terpaku, ia tidak menyangka akan mendapat uang sebanyak dua juta hanya di minta membuka blokiran nomer kontak. Selama ini jurus itu selalu ia pakai untuk menghindari cowok mana saja yang berusaha mendekatinya, dan terbukti berhasil. Tapi Naufal? Kenapa cowok ini nggak ada matinya sih, gigih amat perjuangannya.
Total lima notifikasi transferan masuk, yang kalau di hitung berarti sudah lima juta terisi di rekeningnya.
"Lima juta? Apa gue balikin aja ya?" Anin bingung dan menimbang-nimbang. "Tapi gue butuh duit sih, yaudahlah gue terima aja duitnya, lumayan tambah-tambah tabungan buat nyelesain skripsi."
Lantas Anin pun membuka blokiran nomor Naufal, kemudian mengetik pesan.
"Aku lagi mau kerja di KYN, dan maaf tadi hindarin kamu."
Pesan itu belum di buka, mungkin Naufal sedang di ruang operasi jadi belum sempat memeriksa. Anin pun maklum dengan pekerjaan seperti Naufal itu bisa di pastikan waktunya tidak bisa terus-terusan santai. Apalagi hanya sekedar menunggu notifikasi pesan darinya.
Anin pun masuk ke dalam kafe, ia menuju ruang loker untuk mengganti seragam kerja lalu siap berdiri di belakang konter kasir yang mana sudah ada beberapa orang antri di depannya.
***
Jam istirahat, tidak biasanya Anin di panggil ke ruang manajer. Dengan hari penasaran, ia pun mengetuk pintu ruang atasannya itu, lantas manajer itu pun mempersilahkannya.
"Anin, silahkan duduk" ujar sang manajer.
Anin menurut, tangannya masih menggenggam pulpen yang tadi ia bawa tanpa sadar.
"Begini Anin, ada yang ingin saya bicarakan sama kamu" lanjut pria gempal dan bermata sipit itu.
Anin mengangkat wajah."Iya Pak, kalau boleh saya tahu kira-kira mau bahas apa ya?" tanyanya sopan.
"Jadi gini, saya bakal dipindah tugaskan ke cabang baru minggu depan. Owner buka cabang baru, dan saya diminta pegang di sana." terang manajer.
"Wah… selamat ya, Pak." Anin tersenyum, tulus. Ada sedikit lega di hatinya, 'Akhirnya bos satu ini pindah' batinnya.
Manajernya ikut tersenyum tipis. "Oke terimakasih Anin." Ia lalu mendorong map di tangannya ke arah Anin. "Tapi sebelumnya… saya nggak mungkin ninggalin tempat ini tanpa orang yang tepat. Jadi saya butuh seseorang untuk menggantikan saya." lanjutnya.
Anin mengerutkan kening sedikit."Maksudnya gimana Pak?"
Manajer itu menatapnya lebih dalam. "Mulai hari ink… kamu yang menggantikan posisi saya."
Anin tercekat, "Ha? Saya? Nggak salah Pak?" Anin refleks menggeleng. "Tapi… saya kan cuma kasir—"
"Karna kamu yang paling ngerti alur di sini. Kamu yang paling bisa dipercaya."
Anin menunduk, jemarinya mulai saling menggenggam.
"Saya lihat sendiri kamu handle komplain pelanggan, ngatur shift kalau saya lagi nggak ada, bahkan bantu anak-anak lain tanpa diminta. Dan yang paling penting kamu peduli sama tempat ini."
Anin terdiam. Dadanya terasa penuh antara kaget, takut, dan… haru.
Senyum kecil muncul di wajah manajernya. "Gimana Anin? Kamu siap dengan posisi ini?"
Anin menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia cepat menunduk, dengan penuh tekad ia menjawab "Saya siap Pak!"
Map itu kembali didorong ke arah Anin. "Oke hari ini kita serah terima. Tapi sebelumnya ada hal-hal penting yang ingin saya ajarkan sama kamu."
Anin mengambil map itu dengan kedua tangan. Lantas mengangguk tegas.
Betapa, betapa bahagianya Anin dengan posisi manager yang kini di sandangnya. Karna apa? Karna itu artinya karirnya sedang menanjak, gajinya akan naik dan statusnya tidak lagi sebagai pegawai biasa. Maski ia tahu nantinya itu tidak lah mudah, tapi untuk posisi sekarang jauh membuatnya berucap Alhamdulillah berkali-kali di hatinya.
Setelah keluar dari ruang manajer yang nantinya akan menjadi ruangan untuknya semua pegawai berkumpul.
Sengaja di kumpulkan untuk memberi pengumuman.
"Semuanya, Saya akan memberi pengumuman penting. Mulai hari ini jabatan saya sebagai manajer di kafe ini akan di gantikan oleh Anin Ratri Maharani, karna saya akan di pindah tugaskan oleh owner di cabang yang baru. Jadi mulai hari ini Anin resmi sebagai manajer kalian." ucap mantan manajer tegas.
Semua yang di sana mengangguk, beberapa teman kerjanya tersenyum ikut senang dengan jabatan baru untuk Anin.
"Selamat ya Anin." ujar mereka menyalami.
"Masa iya hal baik ini nggak di rayain? Rayain dong..." ujar Bara, teman yang bisa di bilang paling dekat dengan Anin.
Anin memutar bola matanya, 'boleh juga sekali-sekali traktir temen di hari bahagia' batinnya. Lantas ia pun mengangguk
"Boleh, mau aku traktir apa?"
"Gimana kalo ke clubing, ayolah sekali-sekali kita dance-dance ala-ala" usul Deska yang juga sahabatnya.
Anin diam sebentar, bukan dia tidak mau menuruti permintaan teman-teman nya tapi ia pernah bekerja jadi pelayan di club dan tempat itu bukan opsi yang bagus menurutnya. Karna Anin sendiri tidak terlalu suka dengan suara musik yang kencang dan di sertai bau alkohol.
"Ayolah, sekali ini aja." rengek Deska yang di dukung oleh anggukan kepala Bara.
Anin pun menyerah, ya sekali saja. Hanya kali ini saja, pikirnya.
"Oke kita ke clubing!"
"Yeay!"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍