NovelToon NovelToon
Kejar Tenggat

Kejar Tenggat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Honey Brezee

Gwen baru sadar bahwa menjadi dewasa itu tidak seasyik telenovela favoritnya. Tagihan menumpuk, kopi tidak pernah cukup, dan setiap pertemuan keluarga selalu berakhir dengan satu pertanyaan maut: “Kapan nikah?” Bisakah Gwen bertahan, menghindari pertanyaan itu, dan tetap mempertahankan kebebasannya—tanpa menyerah pada “dunia dewasa” yang penuh aturan absurd?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Honey Brezee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01 - Pertanyaan Keramat

Gwen memandangi ruangan luas yang penuh dengan dekorasi heboh itu. Terutama pasangan pengantin berbahagia di depan sana, yang sejak pagi resmi dinyatakan sebagai suami istri. Mereka tak berhenti menyunggingkan senyum, memamerkan deretan gigi yang—Gwen akui—lumayan putih. Lumayan loh ya. Masih putihan juga cat dinding kamarnya.

Wajar sih. Sepupunya, Mega, memang menikah dengan seorang dokter gigi. Jadi ya… lumayanlah. Perawatan gratis.

Tapi serius deh, apa mereka nggak pegel? Tarik urat buat pasang senyum, jemur gigi dari pagi sampai sekarang begitu?

Tiba-tiba punggung Gwen ditepuk. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita yang sudah berdiri di sampingnya—seorang wanita yang meski tak lagi muda, masih terlihat segar dan terawat. Siapa lagi kalau bukan Ibu Negara—ibunya sendiri.

"lho, ngapain masih disini cari makan sana. Sekalian cari jodoh. Siapa tahu ada laki yang nyantol."

Gwen mendesah. Omongan sang ibu memang kalau keluar sering kali tanpa filter. Sejak kandasnya hubungannya dengan Ben, wanita itu seperti menjadikan misi hidup baru: menjodohkan Gwen dengan setiap pria yang dikenalnya.

Seolah-olah nasib putrinya adalah proyek darurat nasional yang harus segera diselesaikan. Memang sih… tidak punya pacar dan tidak punya pekerjaan di usia tiga puluh tahun adalah sebuah pencapaian yang luar biasa.

Luar biasa menyedihkan, maksudnya.

Gwen menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Matanya kembali menyapu ruangan. Tak mau terpancing emosi dalam jiwa, ia memutuskan untuk mengikuti saran sang Ibu, Cari makan bukan cari jodoh!

Setelah cukup lama mengantri di barisan makanan, dan harus berebut ayam asam manis dengan seorang tamu, akhirnya Gwen menuju kursi kosong di antara barisan keluarga cemara berkumpul. Saat berjalan ke sana, matanya menyipit menatap satu sosok yang paling ingin ia hindari disaat seperti ini.

Dengan cepat Gwen memutar haluan. Namun belum sempat benar-benar menjauh, sebuah seruan sudah lebih dulu memanggilnya.

“Gwen, ayo sini… sini…”

Gwen memasang senyum manis yang jelas-jelas terpaksa. Ia berbalik lalu melangkah mendekat, bergabung dengan barisan keluarga cemara yang berkumpul di sana. Di lingkaran kecil itu sudah duduk beberapa sesepuh keluarga dan saudara lainnya. Orang-orang yang, entah kenapa, selalu punya radar khusus untuk mendeteksi kehadiran Gwen.

Dan makhluk yang tadi memanggilnya—sumber bencana sosial malam ini—adalah salah satu dari sekian banyak sesepuh yang paling ingin ia hindari di acara keluarga seperti ini.

Bude Dewi.

Kakak ayahnya, dengan mulut keramat yang sebentar lagi—Gwen yakin seratus persen—akan melontarkan pertanyaan paling keramat di setiap pertemuan keluarga. Pertanyaan yang bahkan lebih konsisten daripada menu opor ayam setiap Lebaran.

Gwen bahkan sudah bisa menebak kalimatnya.

Tiga…

Dua…

Satu…

“Gwen,” Bude Dewi menatapnya penuh minat, “sekarang kerja di mana?”

Ah.

Ternyata bukan pertanyaan itu dulu.

Ini lebih parah.

Gwen berkedip sekali. Otaknya langsung bekerja keras, seperti komputer tua yang dipaksa membuka terlalu banyak tab sekaligus.

“Eee…” Gwen terkekeh kecil, tawa yang bahkan di telinganya sendiri terdengar mencurigakan. “Lagi… istirahat dulu, Bude.”

“Istirahat?” alis Bude Dewi terangkat tinggi. “Istirahat dari apa?”

Pertanyaan itu meluncur ringan, tapi entah kenapa rasanya seperti peluru yang tepat mengenai sasaran.

Gwen membuka mulut. Menutupnya lagi. Istirahat dari apa, ya?

Kalau dijawab jujur: dari patah hati, dari kehilangan arah hidup, dari kenyataan bahwa di usia tiga puluh ia masih belum tahu harus jadi apa. Tapi tentu saja itu bukan jawaban yang cocok untuk obrolan kondangan.

“Ya… istirahat saja Bude,” ulang Gwen akhirnya, sambil tersenyum tipis.

Beberapa sepupu yang duduk di sana saling melirik. Sementara Bude Dewi tampak belum puas. Tatapannya seperti detektif yang baru menemukan petunjuk mencurigakan.

“Kamu kapan nikah? Lihat tuh, Mega saja yang lebih muda dari kamu sudah nikah. Kamu nggak pengin seperti Mega? Nikah, berkeluarga, punya anak?”

Clurit… mana clurit…

Serius. Mana clurit?

Boleh nggak sih Gwen menyambit Bude sendiri? Bukan yang serius-serius amat sih, cukup buat membuat beliau berhenti bertanya selama lima menit saja.

Sudah Gwen duga. Cepat atau lambat, pertanyaan keramat itu pasti akan muncul juga. Pertanyaan yang selalu berhasil muncul di setiap acara keluarga, seolah-olah itu adalah agenda wajib setelah makan dan sebelum pulang.

Akhirnya sampai juga.

Gwen menatap langit-langit gedung sejenak, pura-pura sibuk mengamati lampu kristal yang menggantung di atas sana. Lampu itu berkilau indah, tapi tetap tidak cukup menarik untuk menyelamatkannya dari situasi ini.

Kalau saja menatap lampu bisa membuat seseorang menghilang dari percakapan keluarga, Gwen sudah melakukannya sejak tadi.

Sayangnya, dunia tidak bekerja sebaik itu.

Dengan berat hati, Gwen menurunkan kembali pandangannya. Dan seperti yang ia duga, seluruh meja sekarang menatapnya. Seolah mereka semua sedang menunggu jawaban yang sangat penting untuk masa depan bangsa.

Gwen menarik napas pelan, mencoba mengulur waktu beberapa detik lagi.

“Mmm…,” gumamnya, seolah sedang memikirkan jawaban yang sangat serius.

Padahal sebenarnya ia hanya sedang berusaha mencari cara agar tidak menjawab sama sekali.

“Belum kepikiran, Bude,” jawabnya akhirnya dengan senyum tipis.

Bude Dewi langsung mendecak pelan, ekspresinya seperti seseorang yang baru saja mendengar keputusan yang sangat tidak bijak.

“Lho kok belum kepikiran? Umur kamu kan sudah…”

Beliau berhenti sebentar, tapi Gwen tahu betul angka apa yang sedang berputar di kepala budenya.

Tiga puluh.

Angka yang, entah sejak kapan, dianggap seperti alarm darurat oleh sebagian besar keluarga besar.

“Kalau nunggu terlalu lama nanti keburu tua, lho,” lanjut Bude Dewi dengan nada penuh nasihat.

Gwen mengangguk-angguk kecil, seolah benar-benar menyimak. Padahal di dalam kepalanya, ia sedang berkomentar sendiri.

Oh, jadi selama ini aku masih muda ya? Syukurlah.

“Lagian perempuan itu enaknya cepat nikah,” tambah Bude Dewi lagi. “Ada yang mengurus, ada yang menjaga.”

Gwen menahan diri agar tidak langsung menyahut.

Bude, aku ini manusia, bukan tanaman hias yang akan mati kalau tidak ada yang menyiram dan merawat, gerutunya dalam hati.

Namun tentu saja kalimat itu hanya berani ia ucapkan di dalam kepala. Di dunia nyata, Gwen hanya tersenyum lagi. Senyum sopan yang sudah mulai terasa seperti otot wajahnya dipaksa bekerja lembur.

Sementara itu di seberang meja, beberapa sepupu terlihat pura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Jelas-jelas menghindari kontak mata.

Pengkhianat.

Gwen melirik ke arah pintu keluar ruangan sekali lagi. Jaraknya tidak terlalu jauh. Kalau ia berjalan cepat sekarang… mungkin masih bisa kabur sebelum sesi ceramah keluarga ini masuk bab kedua. Atau minimal sebelum Bude Dewi mengeluarkan kandidat jodoh cadangan berikutnya. Namun sebelum Gwen sempat berdiri, suara Bude Dewi kembali terdengar.

“Bukannya dulu kamu sama siapa itu… Ben?” Wanita tua itu memiringkan kepala sedikit, berusaha mengingat. “Bude dengar dari ayahmu katanya kalian akan segera menikah.”

Nama itu jatuh begitu saja di tengah meja, seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan air yang sudah lama tenang.

Beberapa orang yang tadi pura-pura sibuk dengan ponsel mereka kini diam-diam mengangkat kepala.

Tentu saja.

Topik lama yang selalu berhasil membuat suasana sedikit lebih… canggung.

Gwen menahan napas sebentar. Lalu memaksakan senyum tipis di wajahnya. “Sudah putus, Bude.”

“Oh…” Bude Dewi mengangguk, tapi ekspresinya justru semakin bersemangat. Seperti seseorang yang baru saja mendapat alasan kuat untuk melanjutkan misi.

“Nah kalau begitu pas!” katanya cerah.

Gwen langsung merasa firasat buruk merayap di tengkuknya.

“Pas apa, Bude?” tanya Gwen hati-hati.

Bude Dewi menoleh ke seseorang yang berdiri tidak jauh dari sana.

“Rudi! Sini sebentar!”

Gwen memejamkan mata.

Selesai sudah hidupnya.

Beberapa detik kemudian seorang pria berjalan mendekat. Kemejanya rapi, rambutnya disisir klimis, dan senyumnya terlalu sopan.

“Ini loh, keponakanku,” kata Bude Dewi dengan bangga. “Namanya Gwen. Cantik kan?”

Gwen tersenyum kaku. Sangat kaku.

“Dan ini Rudi,” lanjut Bude Dewi tanpa jeda, “kerjanya di bank. Masih lajang juga.”

Gwen menatap pria di depannya sekali lagi. Dalam hati ia mengernyit.

Pria itu terlihat… seumuran ayahnya.

Senyumnya masih ramah, tapi di dalam kepala Gwen alarm sudah berbunyi keras. Ia benar-benar ingin kabur dari lingkaran Setan ini.

Gwen tidak suka situasi seperti ini—terjebak, dipertontonkan, lalu diperkenalkan seperti barang pajangan yang sedang dipromosikan. Ia menarik napas pelan, mencoba tetap memasang senyum sopan meski dalam hati ia sudah menghitung berbagai kemungkinan untuk melarikan diri.

1
mitha
Lanjut kak
lilyrose
syuukkurin 🤣
Honey Brezee: hihi 🤭
total 1 replies
lilyrose
to the point aman sih si hilman 😂😂😂
Honey Brezee: iy, hahaha 🤣
total 1 replies
Patrish
nyambung amat Bang
Honey Brezee: nyambung di next kak 🤣
total 2 replies
mitha
Ceritanya gak ngebosenin 😍
Anita
Ibu tiri 😭
Anita
Seruuuuuu 😍
Patrish
hati hayi anak muda jangan sampai kebablasan
Honey Brezee: tenang ada penjaga nya si pandji 🤣🤣
total 1 replies
Patrish
ini ibu kandung apa ibu tiri sih...
Patrish: 🤣🤣🤣🤣pokoknya dibuat sakit tapi jangan sampai menyusahkan anaknya🤣🤣🤣
total 4 replies
Patrish
setiap keputusan membawa resiko..(baik maupun buruk)..setiap pilihan menuntut keberanian
inilah inti perjalanan ke depan
Honey Brezee: makasih kak ❤
total 1 replies
Patrish
ini ceritanya mereka hidup di Bali...sedang ayah Gwen di jakarta....nadine tinggal di mana?
Honey Brezee: gwen di Bali kak, ayah gwen bolak balik ke jakarta karna ada kerjaan
total 1 replies
Patrish
aku gagal focus di sini..Pikirku Panji nganter Nadine ke luar kota...
Honey Brezee: nanti aku revisi 🙏
total 1 replies
Patrish
Panji....pinter ya
Patrish
mulai....ada bara menyala...
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "Pacar Melamar Mantan Menggoda" ✨️✨️
Silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata. Kudu baca kalau kalian suka drama yang deep dan dewasa 🤌
total 1 replies
lilyrose
keren banget..ga muter muter ceritanya
good job thor
lanjuttt
Honey Brezee: huhuhu..Thankyou 😭🙏❤
total 1 replies
lilyrose
baru nemu novel sebagus ini..keren banget
ga berasa baca marathon dari bab 1 - 15 tiba2 habis... 👍
Honey Brezee: makasih kak 🥺😭🙏❤
total 1 replies
Patrish
novel bagus gini...belum ada yang nemu....🤭🤭🤭🤭aku juga baru kemarin😀😀😀
Patrish: semoga segera banyak yang baca
total 2 replies
Patrish
sampai di sini...kalimatnya enak dinikmati....lanjuut aku...👍🏻👍🏻
Honey Brezee: terimakasih kak 🥺🙏❤
total 1 replies
Patrish
tapi kamu keren Gwen....seharusnya sejak kemarin kamu begitu...
Patrish
yoookkkk...lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!