NovelToon NovelToon
PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

PESONA BRONDONG UGAL-UGALAN

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27. Modus Brondong

Suasana di dalam lift yang membawa mereka turun ke parkiran terasa begitu sempit, padahal hanya ada mereka berdua di sana.

Cantik berdiri mematung di pojok, menatap angka lantai yang turun dengan detak jantung yang masih berantakan. Napasnya masih pendek-pendek, sementara bibirnya terasa sedikit bengkak dan panas.

Ia melirik Juna melalui pantulan dinding lift yang mengkilap. Pria itu berdiri santai, memasukkan kedua tangannya ke saku jaket, namun seringai nakal di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.

"Kak..." panggil Juna pelan, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.

"Jangan ngomong apa-apa, Juna. Anggep aja tadi itu... tindakan darurat," potong Cantik cepat, wajahnya memerah sampai ke telinga.

Ia malu setengah mati karena baru sadar betapa brutalnya mereka tadi di tengah kerumunan.

Juna tertawa kecil, langkahnya bergeser mendekati Cantik hingga bahu mereka bersentuhan.

"Tindakan darurat ya? Tapi kok kayaknya tadi lu menikmati banget? Sampai-sampai Bang Satria mukanya berubah jadi ungu begitu."

"Juna! Gue bilang diem!" Cantik melotot, tapi nyalinya ciut saat Juna justru mengunci posisinya dengan menaruh satu tangan di dinding lift, tepat di samping kepala Cantik.

"Dunia harus tahu, Kak. Bahwa segel yang lu jaga bertahun-tahun itu kuncinya ada di gue. Bukan di Bang Sat yang hobinya nilep barang orang," Juna merendahkan wajahnya, menatap bibir Cantik yang masih sedikit basah.

"Lu tahu nggak? Gara-gara aksi lu tadi, gue mendadak lupa caranya ugal-ugalan di jalan. Gue cuma mau ugal-ugalan di sini, sama lu."

TING.

Pintu lift terbuka. Cantik segera mendorong dada Juna dan melangkah keluar dengan cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang sudah compang-camping.

Juna tertawa lepas dan mengekor di belakangnya seperti anak anjing yang baru saja mendapat tulang emas.

Begitu sampai di dalam mobil, keheningan kembali menyerbu. Cantik sibuk memasang sabuk pengaman dengan tangan yang sedikit gemetar.

Juna tidak langsung menyalakan mesin. Ia justru memutar tubuhnya, menatap Cantik dengan tatapan yang sangat dalam—tatapan pria dewasa, bukan bocah ingusan yang hobi pamer knalpot brong.

"Jun, ayo jalan. Gue capek," gumam Cantik tanpa berani menatap Juna.

"Gue nggak bisa jalan kalau jantung gue masih ketinggalan di bibir lu, Kak," goda Juna.

Tanpa aba-aba, Juna menarik dagu Cantik, memaksa wanita itu menoleh. Sebelum Cantik sempat memprotes, Juna sudah kembali menyatukan bibir mereka.

Kali ini tidak ada amarah, tidak ada penonton, dan tidak ada gangguan dari Satria. Ciuman ini murni karena Juna ingin menuntut lebih.

"Mmpff... Ju-jun..." Cantik mencoba protes, namun tangannya justru berakhir meremas kerah jaket Juna.

Juna semakin berani. Ia melepaskan sabuk pengaman Cantik agar bisa menarik tubuh wanita itu lebih dekat.

Ciumannya kali ini lebih lembut tapi menuntut, seolah ia sedang mengklaim setiap inci dari apa yang baru saja Cantik akui sebagai "orisinal" di depan umum tadi.

Juna tidak butuh izin kali ini; ia merasa sudah memegang "lisensi" resmi dari sang pemilik hati.

"Jun... stop... ini di parkiran," bisik Cantik saat Juna mulai beralih mencium rahang dan lehernya, membuat bulu kuduk Cantik meremang hebat.

Juna berhenti sejenak, napasnya memburu di ceruk leher Cantik.

"Gue nggak peduli ini di mana, Kak. Lu yang mulai perang ini duluan di depan Bang Sat. Sekarang, lu harus tanggung jawab sama efek yang lu timbulkan ke gue."

Juna menatap mata Cantik yang sayu.

"Barang mahal ya? Lu bener, Kak. Lu terlalu mahal buat pria pengecut kayak abang gue. Dan gue bakal pastiin, mulai detik ini, nggak akan ada orang lain yang boleh dapet 'servis' spesial kayak gini selain gue."

Juna kembali mencium bibir Cantik dengan singkat namun penuh penekanan sebelum akhirnya kembali ke posisi duduknya dan menyalakan mesin mobil.

Ia bersiul kecil, tampak sangat puas dan penuh kemenangan.

"Gila lu ya," desis Cantik sambil merapikan rambutnya yang berantakan.

"Gue beneran bakal laporin lu ke Mama Maya kalau lu makin berani begini."

"Laporin aja, Kak. Mama pasti malah seneng dapet kabar kalau anaknya sudah 'buka segel' secara halal sebentar lagi," sahut Juna santai sambil mulai memutar setir.

"Lagian, lu tadi bilang kan kalau lu itu wanita mahal? Tenang aja, tabungan Juna Modifikasi sudah cukup kok buat beli mahar yang paling mahal sedunia buat lu."

Cantik tidak bisa menahan senyumnya lagi. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, menatap lampu-lampu jalanan Jakarta yang tampak lebih indah malam itu.

Meskipun Juna Raksa sangat ugal-ugalan dan sering membuatnya malu, tapi di dalam mobil ini, Cantik menyadari satu hal: ia lebih baik "tersesat" bersama brondong nekat ini daripada berada di pelukan pria yang penuh dengan kepalsuan.

"Jun?" panggil Cantik pelan.

"Ya, Sayang?"

"Sekali lagi lu cium gue tanpa izin di tempat umum... gue bakal minta Papa Sudirjo buat sita semua motor sport lu."

Juna tertawa renyah, suaranya memenuhi ruang mobil yang hangat.

"Siap, Nyonya! Aku bakal cium lu di tempat privat aja kalau gitu. Lebih puas, kan?"

Cantik memukul lengan Juna gemas, sementara Juna hanya tertawa sambil memacu mobilnya membelah malam, membawa bidadarinya pulang menuju masa depan yang—meskipun berisik karena suara knalpot—terasa jauh lebih nyata dari apa pun.

1
Yasa
Ceritanya kocagggg, konfliknya pas, ga bertele-tele, sat set kaya Juna. wkwk
D_wiwied
langsung serangan balik ya Jun, gaskeun Jun tunjukkan ke mereka mumpung ada penonton gratis di depan mata, sirik2 dah mereka biar sekalian kejang2 🤭😆🤣🤣
D_wiwied
ga ada kapok2 nya ya mereka ini, udah dipermalukan koq ya ttp ga sadar
D_wiwied
kan emang bang Sat kakakmu satu itu Jun 🤭🤣🤣
Dian Fitriana
update
Ganis
idih najong. PD banget sampean
Senja_Puan: Juna dong🤣
total 1 replies
Ganis
Kalah itu sama seblak juga
Ganis
Juna bener-bener bikin senyum-senyum 😄
Senja_Puan: iya kan kak🤭
total 1 replies
Ganis
Good Thor, ngakak🤣
Anisa675
Ya tuhan, masih mikirin rendang🤣 Bangke banget
Senja_Puan: Alasan Juna itu kak🤭
total 1 replies
Anisa675
bengek Juna🤣
Anisa675
anjay lngsung live stream🤣
Senja_Puan: Mantap ga tuh😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!