NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:765
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Yang Tidak Lagi Mengikuti

Dan sesuatu…

sudah ikut bersama mereka.

Dinda mundur perlahan, matanya tak lepas dari Raka.

Atau… sosok yang sekarang berdiri di hadapannya.

“Rak… kamu masih Raka, kan?”

suaranya hampir tak terdengar.

Raka tidak langsung menjawab.

Ia masih menatap cermin.

Pantulan dirinya tampak normal—terlalu normal.

Senyumnya perlahan memudar, tapi bayangan di cermin itu… tetap

tersenyum.

Selisih beberapa detik.

Cukup untuk membuat dada Dinda sesak.

“Aku Raka,” jawabnya akhirnya.

Namun nada suaranya datar. Kosong. Seperti tidak benar-benar meyakinkan.

Dinda menggeleng pelan.

“Enggak… ada yang beda.”

Tiba-tiba—

Cermin itu retak.

Garis tipis muncul dari tengah, menyebar seperti urat hitam ke

seluruh permukaan.

Raka tidak bergerak.

Pantulannya juga tidak.

Namun dari dalam retakan itu…

sesuatu tampak bergerak.

Seperti mata.

Mengintip.

“Dia masih di sana…” bisik Raka pelan.

Dinda merinding. “Siapa?”

Raka mengangkat tangan… perlahan.

Kali ini bayangannya mengikuti.

Namun… terlalu cepat.

Seolah sudah tahu gerakan itu sebelum Raka melakukannya.

“Yang dari tadi bicara…”

lanjutnya. “Dia gak keluar.”

Dinda merasa napasnya berat.

“Terus… yang masuk ke kamu

itu siapa?”

Hening.

Raka menurunkan tangannya.

Lampu kembali berkedip.

Dan suara itu… muncul lagi.

Bukan dari luar.

Bukan dari cermin.

Tapi—

Dari dalam tubuh Raka.

“Aku hanya… meminjam

tempat.”

Dinda membeku.

“Rak… kamu denger itu?”

Raka tersenyum.

Namun kali ini… jelas bukan dia.

“Dia dengar,” jawab suara itu melalui mulut Raka. “Tapi dia tidak bisa menghentikanku.”

Dinda mundur hingga punggungnya menabrak dinding.

“Keluar dari tubuh dia!”

Suara itu tertawa pelan.

Serak.

Panjang.

“Mengapa harus keluar… jika pintunya sudah terbuka?”

Raka tiba-tiba memegang

kepalanya.

Wajahnya menegang.

Seolah ada dua hal yang saling berebut di dalam dirinya.

“Dinda… pergi…” ucapnya dengan suara asli Raka, lemah.

Namun sesaat kemudian—

Wajahnya berubah lagi.

“Jangan dengarkan dia.”

Dinda menangis. “Aku gak akan ninggalin kamu!”

Tiba-tiba, buku 10 Cara Melihat Hantu yang tergeletak di lantai

terbuka sendiri.

Halamannya berputar cepat.

Berhenti di halaman terakhir.

Cara ke sepuluh.

Tulisan di sana… berubah.

Tinta hitamnya merembes.

Seperti hidup.

Dan kalimat baru muncul perlahan:

Yang telah melihatmu… akan mencari jalan masuk.

Jika sudah masuk… hanya ada satu cara untuk mengeluarkannya.

Dinda gemetar. “Cara apa…?”

Halaman itu kembali berubah.

Buka pintu sepenuhnya.

Raka tertawa kecil.

“Atau… biarkan aku tetap di sini.”

Dinda menatapnya, air mata mengalir deras.

“Kalau aku lakukan itu… kamu bakal hilang, kan?”

Raka tidak menjawab.

Namun dari matanya… terlihat ketakutan.

Masih ada Raka di sana.

Masih terjebak.

Dinda menguatkan diri.

“Kalau itu satu-satunya cara…”

Ia menutup buku itu.

Tangannya gemetar, tapi tatapannya tegas.

“Kita selesaikan ini.”

Raka menatapnya.

Dan untuk sesaat—

Senyum itu hilang.

Digantikan oleh ekspresi panik.

“Jangan…” suara lain itu berbisik tajam. “Kamu tidak tahu apa yang akan kamu lepaskan.”

Dinda menarik napas dalam.

“Aku lebih takut kehilangan Raka.”

Hening.

Lalu—

Lampu mati lagi.

Dan kali ini…

Tidak menyala kembali.

Dari dalam gelap, suara langkah

mulai terdengar.

Banyak.

Mendekat.

Mengelilingi mereka.

Dan suara terakhir yang terdengar sebelum semuanya tenggelam dalam kegelapan adalah—

“Bagus…”

“Pintunya… akan benar-benar terbuka sekarang.”

Bab ini belum berakhir.

Karena yang akan datang… bukan lagi sekadar bayangan.

Melainkan sesuatu yang sudah lama menunggu untuk masuk sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!