NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.

Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.

Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.

Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.

Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ini Kutukan

Tubuh mereka jatuh bebas dalam lorong gelap yang tak berujung. Angin menderu kencang menerpa wajah tanpa ampun.

Endric Gak melepaskan genggaman tangan Ningsih. Ia tahu melepaskan berarti kehilangan selamanya.

"Rek! Pegang baju gue! Kita mau nge-hit tanah keras nih!" teriak Gandhul panik.

Sesaat kemudian, tubuh mereka mendarat dengan keras namun Gak terluka. Mereka berada di sebuah dataran luas yang penuh asap hitam.

Di sekeliling mereka, terlihat bayangan-bayangan sosok yang terikat rantai tak terlihat. Ratusan, bahkan ribuan jumlahnya.

"Di mana kita sekarang?" tanya Ningsih pelan. Suaranya terdengar cemas.

"Di lapisan terdalam desa. Di tempat di mana semua dosa dan kesalahan dikurung," jawab Endric.

Gandhul melayang turun dan mendarat di bahu Endric. Wajahnya sangat serius.

"Lo lihat tempat ini bukan? Ini bukan anugerah. Ini hukuman turun-temurun."

Endric berdiri tegak dan menatap sekeliling dengan pandangan tajam.

"Jadi selama ini yang gue rasain. Yang gue alami. Semuanya bukan kebetulan?"

"Bukan. Itu semua efek dari kutukan yang ditanamkan leluhur lo sendiri."

Endric mengepalkan tangannya kuat-kuat. Garis hitam di lengannya berdenyut nyeri.

"Jadi gue lahir bukan buat hidup normal. Gue lahir buat bayar utang masa lalu yang gue bahkan gak tau apa isinya?"

"Betul. Kutukan itu menempel di DNA lo. Di setiap tetes darah lo. Lo bawa beban ini sejak di dalam kandungan."

"Gila... sungguh gila. Mereka bikin aturan, mereka yang salah, tapi keturunannya yang disiksa?"

"Itu cara mereka menjaga kesetiaan. Mereka mau keluarga lo ingat terus asal usul dan kewajiban lo."

Ningsih maju selangkah dan berdiri di samping Endric. Ia menempelkan tubuhnya ke lengan pria itu.

"Jadi semua yang terjadi pada Mas. Kenapa Mas bisa ada di sini. Kenapa kita bisa ketemu. Itu semua karena ikatan kutukan ini?"

"Bukan cuma ikatan. Itu kontrak mati. Kalau lo putus, lo mati. Kalau lo lawan, lo hancur."

Endric menendang sebuah batu besar di depannya hingga hancur berkeping-keping. Emosinya meledak.

"Berarti selama ratusan tahun, keluarga gue hidup dalam penderitaan? Cuma karena satu kesalahan di masa lalu?"

"Kesalahan besar, Rek. Mereka coba lawan kekuatan yang jauh di atas akal manusia. Harganya mahal banget."

Gandhul menunjuk ke arah tanah yang mulai bersinar merah gelap.

"Lihat itu. Itu tanda kutukan aktif. Selama lo masih bawa darah ini, lo bakal selalu ditarik balik ke sini."

"Lo mau bilang gue gak bakal pernah bisa bebas? Gue bakal terikat sama tempat mengerikan ini selamanya?"

"Secara aturan iya. Kecuali..."

"Kecuali apa? Ngomong jangan setengah-setengah!" seru Endric tak sabar.

"Kecuali lo hancurkan sumbernya. Atau lo musnahkan orang yang bikin aturan ini pertama kali."

Endric terdiam. Pikirannya bekerja cepat menyusun semua potongan informasi yang baru didapat.

Jadi desa ini bukan tempat suci. Ini penjara raksasa yang dijaga dengan darah dan nyawa.

Jadi dia ada di sini bukan karena dipanggil sebagai pewaris, tapi karena dipanggil sebagai tumbal penyambung hidup kutukan.

"Jadi kesimpulannya simpel," ucap Endric pelan namun penuh penekanan.

"Gue ini korban. Gue ini budak dari aturan busuk yang dibuat ratusan tahun lalu."

"Sayangnya benar, Mas," sahut Ningsih lembut.

"Tapi Mas punya kelebihan. Mas satu-satunya yang punya kesempatan buat ubah semua ini."

"Karena gue keturunan terakhir? Karena gue yang dicoret dari silsilah?"

"Karena lo di luar kendali mereka, Rek. Lo punya darahnya, tapi lo gak tercatat di buku mereka. Lo celah yang bisa dipakai buat ngerusak sistem."

Endric mengangkat kepalanya tinggi-tinggi. Ia menatap langit yang hitam pekat.

"Oke. Kalau emang ini takdir yang mereka kasih. Kalau emang ini kutukan yang harus gue pikul."

"Gue terima. Tapi gue gak bakal jadi budaknya. Gue bakal jadi rajanya."

"Maksud lo?" tanya Gandhul bingung.

"Gue bakal angkut kutukan ini jadi kekuatan gue. Gue bakal pake apa yang mereka takutin buat lawan mereka balik."

"Berani banget ya lo, Rek. Itu sama aja ngajak mati muda."

"Udah mati rasa kali Gandhul. Daripada hidup tapi jadi boneka, mending mati tapi habisin mereka semua."

Tiba-tiba, tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat lagi. Suara ribuan orang meraung kesakitan terdengar bersahutan.

Sebuah rantai raksasa turun dari langit, melingkar tepat di leher Endric.

"Kamu mengakui dirimu bagian dari kutukan ini..." suara bergema dari segala arah.

"Maka terimalah hukuman dan kekuasaanmu. Mulai saat ini, Kamu bukan lagi pengunjung."

"Kamu tuan baru di neraka kecil ini."

Mata Endric membelalak. Seluruh tubuhnya terbakar rasa sakit yang luar biasa.

Garis hitam di tubuhnya mekar dan menyebar cepat menutupi seluruh kulitnya.

"Mas! Tahan diri Mas!" teriak Ningsih histeris.

Endric jatuh berlutut. Mulutnya terbuka lebar namun Gak ada suara yang keluar.

Ia melihat bayangan dirinya sendiri di tanah, tapi bayangan itu bukan lagi manusia.

Itu wujud monster dengan tanduk dan sayap gelap yang siap menerkam apa saja.

"Selamat datang, Tuan Kutukan..."

"Kini... tubuhmu sepenuhnya milik kegelapan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!