cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
5 tahun yang lalu seharusnya menjadi lembaran baru. Mama sudah berkali-kali membujukku untuk melanjutkan sekolah di luar kota, di sebuah SMA elit berasrama yang menjanjikan masa depan terjamin. Tapi, egoku menang. Aku memilih tetap di kabupaten ini, di SMA yang sama dengan tempat di mana "hantu" masa laluku berada. Sebuah keputusan yang selamanya akan kusesali, karena ternyata, melupakan wangi bubble gum tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Aku kini adalah Jelita annatasya versi baru. Rambutku lebih rapi, caraku berjalan lebih tegak, dan aku tidak lagi menjadi gadis pendiam yang hanya menunduk di perpustakaan. Aku sedikit lebih "barbar", lebih berani bersuara, dan mendadak menjadi pusat perhatian. Bahkan, satu sekolah tahu ada seorang cowok di kelasku yang mati-matian mengejarku. Kami sering duduk berdua, sekadar membahas tugas, tapi rumor menyebar seolah kami punya hubungan spesial.
Namun, di antara riuhnya masa SMA, mataku tetap punya magnetnya sendiri.
Yayan. Dia sekarang kelas dua. Dia penghuni Gedung B, sementara aku di Gedung C. Secara logika, tidak ada alasan baginya untuk sering berada di areaku. Tapi entah kenapa, sosok jangkung itu selalu terlihat nongkrong di lorong Gedung C. Lagi dan lagi, semesta memaksa kami masuk ke dalam permainan lama: perang mata tanpa kata. Ribuan kali mata kami bertemu, tapi bibir kami tetap terkunci rapat oleh gengsi yang menjulang tinggi.
Hingga suatu hari, dia lewat di depan kelasku. Tidak sendiri. Dia membawa "pasukan": dua cewek dan satu teman cowoknya. Aku memperhatikannya dari balik jendela kaca, menduga dia hanya ingin flexing atau memamerkan eksistensinya padaku.
"Jee, itu Bang Yayan nyariin lo!" teriak Eva, temanku, memecah fokusku.
Jantungku yang kupikir sudah tenang, mendadak berulah lagi. Aku segera bangkit, berlari ke depan kelas dengan napas memburu. Tapi nihil. Lorong itu kosong. Yayan sudah hilang, seolah dia hanya fatamorgana yang sengaja dikirim untuk menguji ketenanganku.
Hanya butuh tiga hari. Tiga hari sejak dia mencariku dan aku tidak ada, Yayan resmi menggandeng gadis lain.
Dunia seolah mengejekku. Tatapan Yayan yang biasanya hangat dan dalam, kini berubah menjadi sedingin es. Dia tidak lagi nongkrong di lorong C sendirian; sekarang dia membawa pacarnya ke sana. Lucunya, kelas pacarnya itu ada di Gedung A, tapi mereka selalu memilih memamerkan kemesraan di depan mataku, di lorong kelasku sendiri.
Puncaknya terjadi saat jam olahraga. Karena ada jadwal tambahan di luar jam pelajaran normal, suasana sekolah sangat sepi. Hanya ada suara gesekan sepatu di lapangan basket dan angin sore yang kering. Aku izin ke toilet, mencoba membasuh wajahku yang terasa panas.
Saat aku membuka pintu toilet, pemandangan itu menghantamku telak. Tepat di depanku, Yayan dan ceweknya yang kukenal punya reputasi agak gila sedang berciuman.
Aku tertegun sesaat. Rasanya seperti ada oksigen yang ditarik paksa dari paru-paruku. Tapi Jelita yang sekarang tidak akan menunjukkan kelemahannya. Aku memasang wajah datar, berjalan melewati mereka seolah mereka hanya sepasang patung pajangan. Aku tidak sakit hati, sungguh. Yang kurasakan justru muak. Apalagi saat kulihat cewek itu melempar senyum mengejek ke arahku.
Esoknya, drama itu berlanjut. Cewek itu dan gerombolannya mulai menyindirku setiap kali aku lewat.
"Duh, panas ya hari ini? Ada yang terbakar api cemburu nih kayaknya," sindirnya keras-keras.
Aku tidak membalas dengan kata-kata. Aku hanya berhenti, menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan merendahkan—tatapan yang seolah berkata, 'Kamu cuma pelarian, jangan bangga"
Satu bulan berlalu dengan tensi yang terus meninggi. Hingga suatu sore, si cewek 'gila' itu benar-benar melabrakku. Dia datang bersama empat temannya, mengepungku di depan kelas yang kebetulan posisinya berada tepat di tepi jalan dengan jendela kaca tembus pandang.
Aku sedang dalam mode badass. Aku menjawab setiap makiannya dengan tenang tapi menusuk. Aku tidak takut. Tapi kemudian, Yayan datang.
Dia muncul dari arah belakang, lalu menarik pacarnya tepat di hadapanku. Jarak kami tidak sampai satu meter. Di sana, di depan semua teman sekelasku yang menonton dari balik kaca, Yayan tidak membelaku. Dia hanya diam, membiarkan situasi itu menjadi tontonan publik.
Saat itulah, pertahananku hancur berkeping-keping. Sifat barbar yang kubanggakan luruh seketika. Aku, Jelita AnnaTasya, menangis sesenggukan di depan kelas. Aku menangis karena marah, karena kecewa, dan karena menyadari bahwa laki-laki yang kucintai diam-diam selama bertahun-tahun ini membiarkanku dihina.
Tiga puluh menit aku tenggelam dalam tangis, sampai Windi menyentuh bahuku.
"Udahan nangisnya, Jee. Yayan ngeliatin lo dari tadi, tuh di seberang jalan," bisiknya.
Aku mendongak. Benar saja, di seberang jalan, Yayan berdiri mematung. Matanya menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan .. entah apa itu, tapi juga ada jarak yang lebar.
Saat bel pulang berbunyi, kami berpapasan di gerbang. Dia menatapku lagi. Kali ini aku tidak kabur. Aku tidak menunduk. Dengan mata yang bengkak dan sembab, aku menatap balik tepat ke bola matanya. Itu adalah tatapan perlawanan, sekaligus tatapan perpisahan.
Seminggu kemudian, kabar mengejutkan datang: Yayan putus dengan cewek gila itu. Dia tidak pernah lagi terlihat nongkrong di lorong Gedung C. Lorong itu mendadak terasa hampa, meski lebih tenang.
Hingga tibalah jam olahraga berikutnya. Kami bertemu lagi di lapangan. Aku sedang asyik bermain basket dengan Chen, teman cowokku yang selalu ada untukku. Aku tertawa keras, berlari ke sana kemari, dan sama sekali tidak melirik ke arah Yayan yang duduk di pinggir lapangan. Aku ingin dia tahu bahwa duniaku tidak berhenti hanya karena dia.
Dan ternyata, itu adalah strategi terakhirku sebelum dia benar-benar hilang. Seminggu setelah hari itu, Yayan pindah sekolah. Tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa satu pun kata "maaf" atau "selamat tinggal". semua nya selesai tampa kejelasan yang pasti.
Dia pergi membawa aroma permen karet yang dulu kupuja, meninggalkanku dengan sebuah pelajaran mahal: bahwa terkadang, cinta pertama memang diciptakan hanya untuk menjadi kenangan paling menyesakkan di sudut lorong sekolah.
dan saat itu, aku masih merasa baik baik saja hingga perlahan hati yang tak benar benar pulih dan semakin segar di ingatan ku.. entah mengapa rasanya seperti penyesalan masa SMP ku karena pemalu atau penyesalan aku yang tidak mengikuti mau ibu ku.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣