"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Beku
Paris tidak pernah benar-benar menjanjikan kehangatan, terutama di bulan-bulan saat musim gugur mulai menyerahkan kekuasaannya pada musim dingin. Pagi ini, kabut tebal menggantung rendah di atas Sungai Seine, menyelimuti jembatan-jembatan batu tua dengan warna abu-abu yang muram. Aku berdiri di balkon apartemenku, membiarkan angin dingin menusuk hingga ke tulang, mencoba mencari sedikit kejernihan di antara sesak yang memenuhi dadaku.
Di tanganku, sebuah cangkir espresso sudah mendingin. Rasanya sepahit suasana hatiku. Kejadian semalam di Place de la Concorde terus berputar di kepalaku seperti film hitam-putih yang rusak. Wajah Bastian yang penuh kekecewaan, suaranya yang tenang namun tajam, dan bagaimana dia meninggalkanku sendirian di tengah kemegahan alun-alun itu.
Aku menunduk, menatap cincin berlian emerald yang masih melingkar di jariku. Kilau permatanya tampak begitu dingin di bawah cahaya pagi yang pucat. Bastian benar; aku telah memperlakukan hubungan kami seperti sebuah transaksi data. Aku membedah risiko, menghitung probabilitas, dan mengambil tindakan tanpa melibatkan emosi pria yang seharusnya menjadi pasanganku. Aku pikir aku sedang menyelamatkannya, tapi nyatanya, aku hanya sedang membuktikan bahwa aku tidak sepenuhnya mempercayainya.
"Bodoh," desisku pada diri sendiri.
Suaraku hilang ditelan deru kendaraan yang mulai memadati jalanan Paris di bawah sana. Selama tujuh tahun aku menjadi asisten Kaivan, aku belajar untuk menjadi perisai. Aku belajar untuk menyelesaikan masalah sebelum Kaivan menyadarinya. Dan sekarang, insting pelindung itu justru menjadi pedang bermata dua yang melukai pria yang paling kucintai.
Kantor pusat Adhitama Group di Arrondissement ke-8 terasa seperti sebuah kulkas raksasa pagi ini. Begitu aku melangkah masuk, atmosfernya begitu kaku. Staf Prancis yang biasanya menyapaku dengan “Bonjour, Mademoiselle” yang ramah, kini hanya memberikan anggukan formal yang singkat. Berita tentang laporan Elena ke Otoritas Bursa Prancis sudah menyebar seperti api di atas bensin.
Aku langsung menuju ruang rapat utama di lantai tiga. Pintunya tertutup rapat, namun aku bisa mendengar suara perdebatan dari dalam. Aku menarik napas panjang, merapikan setelan jas abu-abu gelapku yang kaku, dan masuk.
Di dalam, Bastian sedang duduk di depan jajaran pengacara senior Prancis. Ia mengenakan kemeja putih bersih yang kancing atasnya terbuka, wajahnya tampak sangat pucat dengan bayangan gelap di bawah matanya. Ia tidak menoleh saat aku masuk. Ia tetap fokus pada dokumen di depannya.
"Ini bukan sekadar masalah administrasi, Monsieur Adhitama," ucap Maître Lefebvre, pengacara utama kami. "Elena Aristhoteles membawa Hendra. Pria itu bukan hanya saksi; dia adalah 'operator' lapangan yang mengklaim memiliki bukti rekaman suara Anda saat memerintahkan aliran dana tersebut."
Bastian memijat pelipisnya. "Itu bohong. Aku tidak pernah bicara secara pribadi dengan Hendra selama periode 2022. Semua instruksi logistik melalui departemen riset dan pemasaran."
"Tapi tanda tangan digital di memo internal itu atas nama Anda, Bastian," sahutku, mencoba masuk ke dalam percakapan.
Bastian akhirnya menoleh. Matanya bertemu dengan mataku, dan untuk sesaat, aku merasa seolah-olah sedang menatap samudera yang membeku. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, hanya ada kekosongan yang jauh lebih menyakitkan.
"Terima kasih atas masukannya, Nona Arelia," ucapnya dengan nada yang sangat formal. "Silakan duduk. Kita sedang membahas bagaimana Hendra bisa memiliki akses ke kunci enkripsi pribadi yang seharusnya hanya dimiliki oleh analis senior."
Aku duduk di ujung meja, merasa sangat terasing. "Hendra adalah orang kepercayaan Kaivan. Saat aku masih menjadi asisten, Kaivan sering memintaku untuk memberikan akses terbatas pada Hendra untuk keperluan 'audit pemasaran'. Aku menduga Kaivan-lah yang memberikan kunci tersebut agar Hendra bisa melakukan transaksi atas namamu tanpa jejak."
Maître Lefebvre mengangguk. "Itu bisa menjadi pembelaan yang kuat, namun kita butuh bukti bahwa akses itu diberikan secara ilegal. Jika tidak, Otoritas Bursa akan menganggap Anda melakukan kelalaian yang disengaja."
Rapat itu berlangsung selama tiga jam yang sangat menyiksa. Sepanjang waktu, Bastian tidak pernah lagi menatapku atau menanyakan pendapatku secara personal. Ia bicara padaku seolah-olah aku adalah konsultan luar yang baru saja ia sewa. Dingin. Beku.
Setelah rapat selesai, ruangan itu kosong, hanya tersisa aku dan Bastian. Aku berdiri di dekat jendela, sementara Bastian tetap duduk, menatap kosong ke arah deretan dokumen di meja.
"Bastian..." panggilku lembut.
"Pulanglah, Arelia. Siapkan data logistik tahun 2022 dari server cadangan yang kamu sebutkan semalam," ucapnya tanpa menoleh.
"Bastian, aku tahu kamu marah. Tapi kita harus bicara soal kita, bukan cuma soal Hendra."
Bastian berdiri dengan perlahan. Ia berjalan menghampiriku, namun ia berhenti saat jarak kami masih dua meter. Jarak itu terasa begitu absolut, seolah-olah ada dinding kaca yang tebal di antara kami.
"Tidak ada 'kita' jika tidak ada transparansi, Arelia," suaranya rendah namun bergetar. "Semalam, aku hampir melamarmu di Le Meurice. Aku ingin memberikan seluruh hidupku padamu. Tapi di saat yang sama, kamu sedang menjalankan operasi intelijen di belakangku. Kamu tahu betapa hinanya perasaanku saat menyadari bahwa pasanganku sendiri menganggapku tidak cukup kompeten untuk menjaga rahasia keluargaku?"
"Bukan begitu, Bastian! Aku hanya tidak ingin kamu terbebani di saat kita sedang memenangkan Marseille!"
"Melindungi adalah satu hal, Arelia. Menganggap orang lain lemah adalah hal lain. Kamu memperlakukanku sama seperti kamu memperlakukan Kaivan—sebagai seseorang yang harus 'dibereskan' kekacauannya. Aku bukan Kaivan!" Bastian membanting telapak tangannya ke meja, suaranya menggelegar di ruangan yang sunyi itu.
Aku terisak. "Aku tahu kamu bukan dia. Justru karena kamu bukan dia, aku takut kehilanganmu! Aku takut jika kamu tahu tentang dosa ayahmu, kamu akan membenci dirimu sendiri, atau membenci aku karena membawa berita buruk itu."
Bastian memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap jalanan Paris yang mulai diguyur hujan. "Ketakutanmu baru saja menciptakan kenyataan yang paling buruk, Arelia. Sekarang, bukan hanya masalah hukum yang menghantui kita, tapi rasa ragu setiap kali aku melihat matamu."
Ia berjalan menuju pintu. "Bawa datanya besok pagi pukul tujuh. Kita akan menghadapi Hendra di kantor Otoritas Bursa. Setelah itu... kita akan bicara apakah cincin itu masih layak berada di jarimu."
Pintu tertutup dengan bunyi dentuman pelan yang terasa seperti guntur di kepalaku. Aku jatuh terduduk di lantai, membiarkan tangisku pecah di tengah kemegahan kantor riset global yang kini terasa seperti pemakaman bagiku.
Malam harinya, Paris benar-benar membeku. Hujan berubah menjadi butiran salju tipis yang langsung mencair begitu menyentuh tanah. Aku berada di unit apartemen kerjaku, dikelilingi oleh empat layar monitor yang menyala terang. Di sampingku, dua cangkir kopi yang sudah dingin menjadi saksi bisu perjuanganku malam ini.
Aku harus menemukan "lubang" dalam kesaksian Hendra.
Aku masuk ke dalam server cadangan tahun 2022. Ini adalah wilayah yang sangat berbahaya. Data ini adalah data mentah yang belum pernah diolah oleh sistem audit pusat. Aku mulai membedah setiap log aktivitas akun Hendra.
Selama tujuh jam, aku tidak bergeming. Jari-jariku menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang hanya bisa dicapai oleh seseorang yang sedang bertaruh dengan nyawanya. Aku mencari satu hal: Timestamp (stempel waktu).
Hendra mengklaim bahwa ia menerima instruksi dari Bastian pada tanggal 14 Juni 2022 pukul 14.00 siang. Pada waktu itu, Bastian sedang berada di London untuk rapat dewan direksi, namun Hendra mengklaim instruksi itu diberikan melalui jalur telepon privat yang terenkripsi.
Aku menggali lebih dalam ke dalam log gateway komunikasi. Tiba-tiba, mataku menangkap sesuatu.
Ada anomali pada protokol enkripsinya. Jalur yang digunakan memang jalur privat Bastian, namun alamat IP asalnya bukan dari London, melainkan dari sebuah alamat IP di Jakarta—tepatnya dari kawasan perumahan elit di Menteng.
"Menteng..." gumamku.
Aku segera mencari tahu siapa pemilik alamat IP tersebut pada periode itu. Jantungku berdegup sangat kencang hingga aku bisa mendengarnya di telingaku. Setelah beberapa menit melakukan pencarian melalui database sekunder, hasilnya muncul.
Alamat IP itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang milik ayah Elena, Aristhoteles Global.
"Ya Tuhan," bisikku.
Jadi, ini bukan hanya sabotase Kaivan. Ini adalah rencana jangka panjang yang sudah disiapkan oleh keluarga Elena sejak dua tahun lalu. Mereka sudah menyusup ke dalam jalur komunikasi privat Bastian melalui Hendra dan Kaivan. Mereka sengaja menciptakan bukti-bukti palsu ini jauh-jauh hari, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan Bastian jika suatu saat Bastian mencoba melepaskan diri dari pengaruh keluarga Elena.
Artinya, Elena bukan baru saja membawa Hendra ke Paris. Hendra adalah "senjata tidur" yang sudah dia siapkan sejak lama.
Aku segera menyalin semua bukti digital itu ke dalam tiga flash drive yang berbeda. Aku juga mencetak log aktivitas tersebut dalam format fisik. Ini adalah kartu as-ku. Ini adalah kebenaran yang akan menghancurkan Elena dan membebaskan Bastian.
Namun, di tengah kegembiraan kecil itu, sebuah pikiran muncul. Jika aku membawa data ini besok, apakah Bastian akan melihatnya sebagai bentuk kepintaranku? Ataukah dia akan melihatnya sebagai bukti lain bahwa aku adalah wanita yang terlalu berbahaya karena bisa masuk ke celah-celah paling pribadi dalam hidupnya?
Aku menatap foto Bastian yang kujadikan wallpaper di laptopku. Foto yang kuambil secara diam-diam saat kami sedang makan siang di pinggir tebing Uluwatu. Dia tampak begitu lepas, begitu bahagia.
"Aku akan menyelamatkanmu sekali lagi, Bastian," bisikku pada layar monitor. "Meskipun setelah ini, kamu mungkin tidak akan pernah mau melihatku lagi."
Pukul 06.30 pagi. Paris masih gelap dan sangat dingin. Aku berdiri di depan gedung Otoritas Bursa Prancis (AMF) di Rue de la Bourse. Gedung klasik itu tampak sangat mengintimidasi dengan pilar-pilar besarnya.
Sebuah sedan hitam berhenti di depanku. Bastian keluar. Ia mengenakan mantel wol hitam panjang, tampak sangat berwibawa namun wajahnya begitu keras. Ia tidak menyapaku. Ia hanya menatapku sejenak, lalu berjalan melewatiku menuju pintu masuk.
"Datanya sudah siap?" tanya Bastian dingin saat kami berada di dalam lift.
"Sudah. Semuanya," jawabku, menggenggam tas tasku erat-erat.
Di ruang sidang internal, suasana sangat tegang. Ada tiga panelis dari otoritas keuangan Prancis. Di sisi seberang, Elena Aristhoteles duduk dengan sangat anggun. Ia mengenakan gaun sutra berwarna marun gelap, persis seperti warna gaun yang kutinggalkan di apartemen Bastian semalam. Di sampingnya, duduk Hendra.
Hendra tampak sangat berbeda dari yang kuingat di Jakarta. Ia terlihat lebih gemuk, mengenakan setelan jas mahal, namun matanya terus menghindari tatapanku. Ia tampak sangat gelisah.
"Monsieur Hendra," ketua panelis memulai dalam bahasa Prancis yang kemudian diterjemahkan oleh penerjemah resmi. "Anda menyatakan bahwa Monsieur Bastian Adhitama memerintahkan pemindahan dana ilegal sebesar lima juta Euro melalui akun Anda pada Juni 2022. Apakah Anda memiliki bukti untuk mendukung pernyataan ini?"
Hendra berdehem, suaranya sedikit bergetar. "Benar, Monsieur. Saya memiliki rekaman enkripsi dan log komunikasi dari jalur privat Bapak Bastian. Beliau mengatakan bahwa dana itu digunakan untuk 'biaya konsultasi' yang sebenarnya adalah suap untuk izin properti di Jakarta."
Elena memberikan senyum tipis padaku. Sebuah senyum kemenangan yang sangat prematur.
"Apakah ada tanggapan dari pihak Adhitama Group?" tanya panelis.
Bastian melirikku. Ini adalah momennya. Jika aku gagal sekarang, semuanya berakhir.
Aku berdiri, melangkah menuju meja presentasi. "Terima kasih, para panelis yang terhormat. Saya Arelia, Direktur Riset Global Adhitama Group. Saya ingin mempresentasikan hasil audit forensik digital atas bukti yang diajukan oleh saudara Hendra."
Aku memproyeksikan data IP asalnya ke layar besar.
"Log komunikasi yang disebut saudara Hendra memang berasal dari jalur privat Monsieur Bastian," kataku, membuat Elena semakin tersenyum lebar. Namun senyumnya langsung hilang saat aku melanjutkan. "Namun, lokasi asal pengiriman sinyal tersebut bukan dari London, tempat Monsieur Bastian berada pada saat itu. Sinyal itu berasal dari Jakarta, dari alamat IP milik Aristhoteles Global."
Seluruh ruangan mendadak gaduh. Para panelis saling berbisik dengan raut wajah terkejut.
"Ini adalah kasus spionase industri dan pemalsuan identitas digital yang sangat canggih," lanjutku, suaraku kini memenuhi ruangan dengan otoritas yang tak terbantahkan. "Saudara Hendra dan saudara Kaivan bekerja sama dengan Aristhoteles Group untuk meretas jalur privat Monsieur Bastian. Mereka menciptakan rekaman palsu ini dua tahun lalu sebagai jaminan politik. Hendra bukan saksi; dia adalah pelaku kriminal yang sedang mencoba menggunakan otoritas Prancis untuk menyelesaikan agenda pribadinya."
Aku menatap Hendra. "Hendra, apakah Anda ingin saya memutar data transaksi pribadi Anda yang menunjukkan aliran dana sebesar lima ratus ribu Euro dari Elena Aristhoteles ke rekening Anda di Singapura tepat tiga hari setelah 'instruksi' palsu itu dibuat?"
Hendra langsung pucat pasi. Ia menatap Elena dengan ketakutan yang luar biasa. Elena sendiri tampak membeku, rahangnya mengeras, dan matanya berkilat penuh kemarahan.
"Itu bohong! Dia memanipulasi datanya!" teriak Elena, kehilangan ketenangannya untuk pertama kali.
"Data ini memiliki sertifikasi blockchain dari server cadangan independen, Nona Elena," balasku tenang. "Silakan Maître Lefebvre, serahkan dokumen fisiknya kepada para panelis."
Hendra tiba-tiba berdiri. "Saya dipaksa! Elena mengancam keluarga saya di Jakarta jika saya tidak mau bersaksi! Dia yang merencanakan semuanya!"
Kekacauan pecah di ruang sidang. Penjaga keamanan segera mengamankan Hendra yang mulai histeris. Para panelis menyatakan sidang ditunda sementara tim investigasi internal melakukan verifikasi atas bukti baruku.
Satu jam kemudian, kami keluar dari gedung AMF. Elena sudah menghilang bersama tim pengacaranya melalui pintu belakang untuk menghindari wartawan. Kemenangan kami mutlak. Adhitama Group bersih, dan Elena kini terancam hukuman berat atas spionase industri di wilayah hukum Uni Eropa.
Bastian berdiri di tangga gedung, menatap ke arah kerumunan wartawan di kejauhan. Ia menarik napas panjang, seolah baru saja melepaskan beban yang sudah ia pikul selama bertahun-tahun.
"Semuanya sudah selesai, Arelia," ucapnya pelan.
"Ya. Semuanya sudah selesai," jawabku. Aku merasakan kelegaan yang luar biasa, namun di saat yang sama, rasa takut itu kembali muncul.
Bastian menoleh padaku. Ia tidak tersenyum. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat kompleks—sebuah campuran antara rasa terima kasih, kekaguman, namun tetap ada sisa-sisa kedinginan yang membeku.
"Terima kasih atas datanya, Arelia. Kamu benar-benar menyelamatkanku hari ini."
"Bastian..."
"Tapi kejayaan ini tidak mengubah fakta bahwa semalam kamu membohongiku," Bastian memotong kalimatku. Ia mendekat, menatap jariku yang masih mengenakan cincin berlian itu. "Aku butuh waktu, Arelia. Kemenangan ini memberikan kita masa depan di perusahaan, tapi aku tidak tahu apakah ini memberikan kita masa depan di rumah."
Bastian berjalan menuju mobilnya. "Kembalilah ke apartemenmu. Ambil cuti selama seminggu. Aku ingin kamu memikirkan apakah kamu mencintai Bastian sebagai seorang pria, atau mencintai Bastian sebagai sebuah proyek riset yang harus kamu selamatkan."
Mobilnya melaju pergi, meninggalkanku sendirian di tengah dinginnya pagi di Rue de la Bourse. Aku menatap butiran salju yang kini mulai turun lebih lebat.
Nyaris jadi kita?
Kalimat itu kini bukan lagi sebuah bisikan, melainkan sebuah teriakan yang memekakkan telingaku. Aku memenangkan pertempuran melawan Elena, aku menghancurkan Hendra, namun aku sedang berada di ambang kekalahan paling besar dalam hidupku.
Aku berjalan menyusuri trotoar, membiarkan salju menutupi rambutku. Di Paris ini, di kota cahaya ini, aku merasa seperti bintang yang sedang meredup. Cahayaku mungkin terlalu tajam, terlalu dingin, hingga melukai orang yang paling ingin kupeluk.
Aku menyentuh cincin di jariku. "Aku tidak akan melepaskannya, Bastian," bisikku pada angin yang beku. "Karena kamu bukan proyek bagiku. Kamu adalah alasan kenapa aku masih ingin melihat matahari esok hari."
Malam mulai turun kembali di Paris. Perang bisnis mungkin sudah berakhir, tapi perang untuk memenangkan kembali hati Bastian baru saja dimulai. Dan kali ini, aku tidak bisa menggunakan data untuk memenangkannya. Aku hanya punya hatiku yang jujur, yang baru saja mulai belajar bagaimana caranya menjadi rapuh.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain