NovelToon NovelToon
Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Target Transmigrasi: Berhenti Jadi Istri Durhaka Sang CEO Bucin!

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Anak Genius / Fantasi Wanita / Balas Dendam
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
​Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
​Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
​Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
​Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
​Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Makan Malam yang Beradu Racun

"Jadi, kau benar-benar berpikir aku akan membiarkanmu pergi berkencan berdua saja dengan wanita ini, Ralph?"

Langkahku dan Liam terhenti tepat di ambang pintu besar mansion. Lily berdiri di sana, mengenakan gaun malam berwarna hitam pekat yang tampak seperti pakaian berkabung, namun dengan aura kemarahan yang membara. Di sampingnya, Adeline berdiri menunduk, namun matanya yang sembab sengaja diperlihatkan seolah-olah dia baru saja disiksa selama berjam-jam.

Liam menghela napas panjang, genggaman tangannya di jemariku mengerat hingga buku jarinya memutih.

[Kenapa lagi?! Aku baru saja memesan seluruh restoran di atap gedung tertinggi hanya untuk kami berdua! Aku ingin merayakan kemenangan Blair! Mama, kenapa kau harus muncul di saat seperti ini? Kenapa kau tidak membiarkanku bahagia satu jam saja bersama istriku?]

"Mama, aku sudah bilang. Adeline harus pergi. Kenapa dia masih ada di sini?" suara Liam rendah, menahan amarah yang hampir meledak.

"Dia baru akan pergi besok pagi karena supirnya sakit! Dan sebagai gantinya, kau harus menemaniku makan malam di rumah. Aku merasa sesak napas sejak tadi sore, Ralph," Lily menyentuh dadanya dengan dramatis. "Apakah kau tega membiarkan ibumu yang baru kembali dari kematian ini mati lagi karena kesepian?"

Aku menatap Lily dengan tatapan datar. Akting yang sangat kuno, Nyonya Lily.

"Jika Nyonya Lily merasa sesak napas, saya bisa memanggilkan ambulans sekarang juga. Dokter jantung terbaik Alexander Group bisa sampai dalam lima menit," sahutku tenang.

"Kau! Tutup mulutmu!" Lily menatapku tajam. "Kau tidak punya hak bicara di sini! Ralph, pilih. Makan malam bersama ibumu, atau pergi dengan wanita yang bahkan tidak peduli jika kau mati kelelahan bekerja demi kemewahannya?"

Liam menatapku dengan mata yang penuh permohonan maaf. Keraguan mulai muncul di wajahnya. Ketakutan akan kehilangan ibunya (lagi) adalah titik lemah yang dieksploitasi dengan sempurna oleh Elodie lewat karakter Lily ini.

[Sial... aku tidak bisa membiarkan Mama sakit. Tapi aku sudah berjanji pada Blair. Jika aku membatalkannya, Blair akan semakin menjauh dariku. Aku benci situasi ini! Aku ingin membelah diriku menjadi dua!]

"Liam," panggilku lembut, membuat Liam menoleh. "Masuklah. Makan malam dengan ibumu. Aku akan pergi sendiri."

"Apa? Tidak, Blair! Aku tidak bisa membiarkanmu—"

"Aku tidak bilang aku akan membatalkan makan malamku," aku tersenyum manis, senyuman yang membuat bulu kuduk Adeline berdiri. "Aku akan pergi makan malam dengan Axelle. Kebetulan dia bilang ingin merayakan keberhasilannya meretas... maksudku, keberhasilannya membantuku hari ini."

Liam mematung. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi.

[Dia mau pergi dengan Axelle? Tanpaku?! Mereka berdua akan bersenang-senang dan aku akan terjebak di sini mendengarkan keluhan Mama tentang dietnya? Tidak! Ini hukuman mati! Blair, kumohon, marahlah padaku, tapi jangan tinggalkan aku sendirian di sini!]

"Tapi Blair, restoran itu sudah kupesan atas namamu juga—"

"Ganti saja namanya menjadi namamu dan Adeline. Bukankah dia 'tamu' kesayangan ibumu?" aku menepuk bahu Liam pelan, lalu berbalik menuju tangga untuk memanggil Axelle.

"Blair!" seru Liam, namun Lily segera menarik lengannya.

"Sudahlah, Ralph! Biarkan saja dia pergi dengan anak nakal itu! Mari kita makan, Mama sudah menyuruh koki memasak sup jagung favoritmu," ucap Lily dengan nada kemenangan.

...****************...

Satu jam kemudian, di ruang makan mansion.

Suasana makan malam itu jauh dari kata hangat. Liam duduk di kursi utamanya, namun matanya terus-menerus melirik ke arah pintu, berharap aku dan Axelle tiba-tiba muncul. Di depannya, mangkuk sup jagung itu bahkan tidak disentuh sedikit pun.

Adeline mencoba menyendokkan lauk ke piring Liam. "Kak Ralph, ini udang saus mentega kegemaran Kakak. Cobalah sedikit agar Kakak lebih bertenaga."

Liam menggeser piringnya dengan kasar. "Aku tidak lapar, Adeline."

[Mana mungkin aku bisa makan! Blair pasti sedang tertawa bersama Axelle sekarang. Mereka pasti sedang membicarakan betapa payahnya aku karena tidak bisa melawan Mama. Sial! Sup ini rasanya hambar seperti air keran! Aku ingin menyusul mereka!]

"Ralph, jaga sikapmu di depan Adeline," tegur Lily. "Kenapa kau terlihat seperti orang yang kehilangan nyawa? Hanya karena wanita itu tidak ada di sini?"

Liam mendongak, matanya berkilat tajam. "Wanita itu adalah istriku, Ma. Dan dia tidak hanya pergi makan malam. Dia membawa Axelle pergi. Mama tahu apa artinya itu? Dia menunjukkan padaku bahwa dia bisa mengambil segalanya dariku jika aku terus-menerus membiarkan Mama menginjak-injak harga dirinya."

"Kau membela dia lagi?!" Lily membanting sendoknya.

"Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya menyatakan fakta," Liam berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan dingin. "Makanlah supmu, Ma. Adeline, pastikan kau pergi sebelum fajar. Jika tidak, aku sendiri yang akan membuang kopermu ke jalan raya."

Liam melangkah pergi meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.

[Aku harus menemukan mereka. Aku harus minta maaf. Aku tidak peduli jika harus berlutut di tengah restoran sekalipun! Blair, jangan tinggalkan aku... kumohon, beri aku satu kesempatan lagi untuk membuktikan bahwa kau adalah prioritasku!]

Liam segera merogoh ponselnya, menghubungi nomor pelacak di mobil yang aku bawa. Begitu tahu lokasinya, dia langsung berlari menuju garasi seperti orang gila.

Sementara itu, di sebuah restoran sederhana namun nyaman di pinggiran kota, aku dan Axelle sedang menikmati sate ayam dan es jeruk.

"Ma, apa Papa akan menyusul kita?" tanya Axelle sambil mengunyah daging sate dengan lahap.

"Kenapa? Kau merindukannya?" godaku.

"Tidak juga. Aku hanya ingin melihat wajahnya yang menderita karena ditinggal kita berdua," Axelle menyeringai nakal.

Aku tertawa renyah. "Tenang saja, Axelle. Papamu itu sedang belajar bahwa berlian paling mahal sekalipun tidak akan bisa membeli kehadiran kita jika dia tidak punya keberanian."

Tepat saat aku selesai bicara, suara rem mobil yang berdecit keras terdengar di depan kedai sate. Pintu mobil terbanting, dan sosok Liam yang masih mengenakan jas kantor masuk dengan napas terengah-engah, matanya liar mencari keberadaan kami.

Saat matanya bertemu denganku, wajah sang CEO yang ditakuti dunia itu seketika runtuh. Ia tampak seperti anak kecil yang baru saja menemukan ibunya yang hilang di pasar.

[Dapat! Akhirnya ketemu! Dia sedang makan sate? Di pinggir jalan? Dan dia terlihat sangat bahagia tanpa aku? Ya Tuhan, rasa cemburuku pada anakku sendiri sudah mencapai level akut! Aku harus masuk ke sana sekarang!]

Liam berjalan mendekati meja kami, mengabaikan tatapan heran orang-orang di kedai sate itu. Ia berdiri tegak di depan meja kayu kami yang sederhana.

"Blair," suaranya parau.

Aku mendongak, menyuapkan sepotong daging sate terakhir ke mulutku. "Oh, Tuan Alexander. Sup jagungnya kurang enak ya?"

1
umie chaby_ba
jadi mau Lo apa heh maxim??? kudu nya si Blair Sama Liam gituan didepan mata Lo?
Ariska Kamisa: oopsss.. 🤭🤭🤭🤭
sabar kak.. maxim lagi menguji kesabaran Blair dan Liam 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
kan ga jadi cerai iiihh... Maxim ngeselin!
Ariska Kamisa: iyah Maxim ini resek yaa 🤭🤭🤭
total 1 replies
Ariska Kamisa
ceritanya ini tentang transmigrasi gitu yaa...
semoga bisa menghibur semuanya...
umie chaby_ba
waduh... ada LG aja nih musuhnya /Shy/
umie chaby_ba
kasian banget nasib penulis 🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
good job Axelle👍👍👍👍👍
umie chaby_ba
Elodie pengen banget si Blair mati kayanya 🫣
umie chaby_ba
Axelle lucu nih pembela mama nya banget
umie chaby_ba
ngeselin Liam /Panic/
umie chaby_ba
sweet banget🤭🤭🤭
umie chaby_ba
bagus Blair....
umie chaby_ba
bagus Axelle 👍👍👍
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/
umie chaby_ba
Adeline pelakor
umie chaby_ba
dih bimbang sih Liam /Sleep/
umie chaby_ba
penulis emang seenaknya sih 🤣🤣🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: aku dong....🤭
total 1 replies
umie chaby_ba
wow ada karakter baru nih
umie chaby_ba
sang penulis dibuat ketar-ketir 🫣
Ariska Kamisa: iyah hehehe
total 1 replies
umie chaby_ba
so sweet😍
umie chaby_ba
penulisnya kewalahan
Ariska Kamisa: terimakasih kak 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
wwiihh keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!