NovelToon NovelToon
GUMIHO

GUMIHO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.

Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.

Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.

Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.

Sementara Rahasia lain telah menantinya.

Bagaimana kisahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung Aman?

"'B--bisakah kau menjauh?" bisik Zoe dengan suara yang bergetar hebat.

Jarak di antara mereka telah terkikis habis--- ia bisa merasakan hawa hangat yang menguar dari tubuh Steven, sementara ekor gumiho pria itu melilit pinggangnya dengan tekstur selembut sutra yang justru membuatnya merinding hebat.

Steven, yang menangkap jelas rona merah di pipi Zoe, malah sengaja memiringkan kepalanya, memicingkan mata dengan kilat jenaka yang provokatif. "Kenapa? Aku hanya sedang menjalankan tugasku untuk melindungi wanitaku," gumam Steven dengan suara berat yang membuat wajah Zoe seketika memanas bak kepiting rebus.

"A--aku bukan wanitamu!" sanggah Zoe cepat sambil membuang muka, berusaha mencari oksigen di tengah kepungan aura Steven yang mendominasi.

Namun, tawa kecil Steven justru pecah. "Siapa bilang? Kau sudah mengambil separuh jiwaku tanpa izin... secara hukum alam, itu artinya kau adalah milikku sepenuhnya."

Di sudut ruangan, Papow dan Nindi hanya bisa menepuk jidat serentak. Mereka tidak habis pikir bagaimana bisa dalam situasi hidup dan mati seperti ini, Steven masih sempat-sempatnya menebar pesona.

Di sisi lain, ketiga siluman yang mengepung mereka tampak gemetar menahan amarah karena merasa dianggap sebagai pajangan belaka. "Kalian... benar-benar menguji kesabaran kami!" geram siluman ular saat aura membunuh mereka memuncak.

Ketiganya serentak menghunuskan senjata pusaka---- siluman ular menghentakkan cambuknya yang mengeluarkan desis beracun, siluman harimau hitam mencabut golok raksasa yang berlumur darah, dan siluman kadal mengangkat sebuah cermin antik yang permukaannya tampak bergejolak, siap menjebak jiwa siapa pun ke dalamnya.

Tatapan Steven seketika berubah sedingin es. Tanpa memalingkan wajah, ia mendorong Zoe dengan protektif ke balik punggungnya. "Tetap di belakangku. Jangan menjauh sedetik pun," perintahnya mutlak.

"Siapa mereka sebenarnya?!" tanya Zoe dengan nada panik, jemarinya meremas ujung kemeja Steven.

"Kaulah yang telah memanggil mereka ke sini," jawab Steven singkat.

"Aku"' Zoe menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. "Apa yang sudah kulakukan?!"

"Karena kau membawa setengah dari kekuatanku di dalam tubuhmu... dan energi gumiho itulah yang sangat mereka incar untuk menjadi sangat kuat," sahut Steven tepat saat ia melesat maju.

Pertarungan pecah dengan dentingan logam yang memekakkan telinga. Steven menghunus pedang peraknya, bergerak secepat kilat hingga hanya menyisakan bayangan putih.

Siluman ular mencoba melilit kaki Steven dengan ekor panjangnya yang tiba-tiba bertransformasi, menciptakan kombinasi serangan mematikan bersama siluman harimau hitam yang menerjang secara brutal.

Steven melakukan gerakan salto di udara, menghindari tebasan golok yang nyaris membelah lantai. PYAR! Perabotan mewah di ruang tamu itu hancur berkeping-keping terkena dampak benturan energi.

Steven kini melayang di udara, pedang peraknya berkilau semakin terang seiring dengan niat membunuhnya yang menguat.

Ia mengayunkan pedangnya dari kejauhan, menciptakan gelombang cahaya pemotong dimensi, namun siluman kadal dengan sigap mengangkat cerminnya, membiarkan cahaya itu tertelan dan menciptakan ribuan ilusi yang mulai mengaburkan pandangan Steven.

Steven tersentak saat gravitasi seolah menghilang, namun matanya tetap setenang telaga di tengah badai. Dalam sekejap mata, kemewahan ruang tamu itu sirna. Langit mansion yang berhias kristal berubah menjadi cakrawala jingga yang membakar, dan lantai marmer di bawah kakinya berganti menjadi pasir gurun yang sangat luas dan tak berujung. Steven berdiri tegak, ia tahu betul bahwa cakrawala gersang ini hanyalah tipu daya ilusi yang mencoba menjerat kesadarannya.

Sementara itu di dunia nyata, tubuh Steven mematung dengan tatapan kosong. Zoe mengerutkan kening, menatap sosok itu dengan cemas bercampur kesal.

"Kenapa rubah itu tiba-tiba berhenti? Apa dia menyerah di saat seperti ini?" tanya Zoe dengan nada panik yang tertahan.

Papow menghela napas panjang, matanya tetap waspada mengawasi pergerakan musuh di sekitar mereka. "Tenangkan dirimu. Saat ini, Tuan pasti sedang terjebak dalam labirin ilusi yang diciptakan cermin itu," jelas Papow dengan suara berat. Ia kemudian melirik Zoe dengan tajam, "Dan perlu kuberitahu sekali lagi... namanya adalah Tuan Steven. Berhentilah memanggilnya dengan sebutan rubah."

Zoe hanya mendengus, namun kata-katanya tertelan kembali saat ia melihat pemandangan mengerikan. Ekor ular raksasa yang dingin dan bersisik tajam telah melilit tubuh Steven yang tak berdaya di dunia nyata. Di atas mereka, siluman harimau hitam dengan taring-taring panjang yang meneteskan air liur beracun sudah bersiap menerjang untuk merobek leher Steven.

"Bukankah kita harus melakukan sesuatu? Kita tidak bisa membiarkannya dicabik-cabik begitu saja!" seru Zoe, tangannya terkepal erat.

"Tenanglah... Tuan Steven tidak akan mati semudah itu oleh makhluk-makhluk rendah seperti mereka," sahut Papow tenang, meski urat di keningnya menegang.

Di dalam dunia ilusi, Steven merasakan beban yang luar biasa. Tubuhnya seolah tertimbun ribuan ton pasir, membuatnya sulit digerakkan.

Namun, alih-alih melawan secara fisik, Steven memejamkan matanya, memusatkan seluruh sisa energinya pada inti jiwanya. Seketika, ledakan cahaya putih murni keluar dari pori-pori tubuhnya, menembus batas dimensi ilusi dan memancar ke dunia nyata. Cahaya itu meluncur deras, menyatu dengan tubuh Zoe yang berdiri tak jauh dari sana.

Zoe tersentak, napasnya memburu saat ia merasakan kehangatan yang asing menjalar di nadinya. "Zoe—tubuhmu... kau bercahaya!" teriak Nindi dengan suara bergetar karena gugup.

"Itu adalah resonansi jiwa. Ledakan energi dari tubuh Tuanku mencari pelabuhannya karena kau, Zoe, memegang setengah dari kekuatannya. Tubuh kalian memiliki ikatan yang tidak bisa diputus oleh ilusi mana pun," jawab Papow dengan nada bangga.

BUAM!

Ledakan dahsyat terjadi tepat di pusat tubuh Steven. Ekor ular yang melilitnya terputus menjadi beberapa bagian, meliuk-liuk kesakitan di atas lantai marmer yang kini berlumuran darah hitam, berusaha mencari tuannya untuk menyatu kembali. Bersamaan dengan itu, taring siluman harimau yang nyaris menyentuh kulit Steven hancur berkeping-keping, berubah menjadi abu hitam legam yang tertiup angin.

Retakan besar muncul pada permukaan kaca yang dipegang siluman kadal, memicu suara pecah yang melengking tinggi. Sihir itu patah. Pandangan gurun yang panas itu runtuh seperti kaca yang hancur, dan dalam satu tarikan napas, Steven kembali berpijak di ruang tamu mansion, matanya kini berkilat dengan amarah yang dingin.

"Cukup bermainnya! Aku tidak punya waktu untuk meladeni kalian lebih lama lagi," desis Steven, suaranya rendah namun mengancam, membelah kesunyian pasca ledakan.

Steven menghentakkan tangannya ke udara. Sebuah tekanan gravitasi yang dahsyat menyeret tubuh Zoe hingga gadis itu melayang, meluncur cepat ke arahnya. Dengan gerakan satu tangan yang presisi dan posesif, Steven menangkap pinggang Zoe, menariknya mendekat hingga tak ada celah di antara mereka.

Keduanya kini melayang di udara, terkunci dalam gravitasi mereka sendiri. Di tengah kekacauan itu, mata mereka bertemu—ada kebingungan di mata Zoe, dan ada tekad yang tak tergoyahkan di mata Steven.

"Karena kau memilih untuk terus menyimpan kekuatan ini jauh di dalam jiwamu... maka jangan salahkan aku atas apa yang terjadi setelah ini," bisik Steven tepat di telinga Zoe, mengirimkan sensasi panas yang menjalar ke seluruh saraf gadis itu.

Belum sempat Zoe mencerna kalimat itu, mata gadis itu terbelalak lebar. Steven menciumnya tepat di bibir. Bukan sekadar ciuman, melainkan sebuah transfer energi yang murni dan luar biasa. Detik itu juga, sebuah pilar cahaya emas dan perak meledak melingkari tubuh mereka, memutar seperti pusaran badai yang suci. Pedang perak di tangan Steven berdenging kencang, seolah baru saja meminum nyawa dan mendapatkan kekuatan penuh dari penyatuan dua jiwa tersebut.

Pagutan itu terlepas, menyisakan napas yang memburu, namun tangan Steven tetap melingkar protektif di pinggang Zoe. Dengan satu ayunan tunggal, Steven mengangkat pedangnya dan menggoreskan simbol silang emas raksasa di udara. Tanpa ampun, ia menghantamkan simbol itu ke arah bawah—tepat di mana tiga siluman itu berdiri dengan napas tersengal dan tubuh yang mulai goyah.

BUM!

Ledakan kedua terjadi dengan kekuatan dua kali lipat. Fondasi gedung bergetar hebat, dinding-dinding kokoh itu meretak seperti kertas yang disobek, dan lantai marmer hancur berkeping-keping. Dalam jeritan sunyi yang singkat, tubuh ketiga siluman itu menguap, berubah menjadi asap kelabu yang lenyap ditelan cahaya.

Zoe masih terdiam, tenggelam dalam pelukan Steven yang terasa asing namun mengamankan. Di bawah sana, di antara puing-puing yang berjatuhan, Papow mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membangun perisai, melindungi Nindi dari ledakan. Di balik debu yang mengepul, mata mereka bertemu dalam sebuah keheningan yang dalam.

‘Jantung... masih aman, kan?’  batin Zoe dan Nindi secara bersamaan, merasakan debaran yang tak wajar, bukan hanya karena ledakan itu, tapi karena apa yang baru saja mereka saksikan dan rasakan.

BERSAMBUNG

1
Amelya Rahmadhani
up..........up......💪💪💪💪
falea sezi
papa nya goblok uda cerai lah np masih dipertahankan ne ular apa bapak nya g bs move on dr vevek jalang
Kusii Yaati
adegan romantis di suasana yang menegangkan🤭... secara tidak langsung stev mengklaim Zoe adalah miliknya.lanjut Thor 💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
si rubah belum nyerah ternyata, semangat ya stev jangan sampai kamu yang bertekuk lutut sama Zoe ya!😁
Kusii Yaati
ternyata Zoe adalah masa lalunya Steven,wah tambah seru nih... lanjut Thor 💪😁😘
Kusii Yaati
ya ampun stev bikin aq ngakak aja sih🤣🤣🤣
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘
Rosmawaty Limbong
penyampaian cerita sangat menarik membuat pembaca ingin terus membaca kelanjutan ceritanya sampai selesai.
Kusii Yaati
alamak gimana selanjutnya, berhasil kah Steven mengambil kekuatannya kembali... lanjut Thor seru banget ini💪💪💪😘😘😘
Kusii Yaati
waduh Steven sudah datang aja, gimana nasibnya zoe😱
Kusii Yaati
keputusan bagus Zoe,buat apa pertahankan hubungan yang hanya kamu saja yang mencintai.lanjut Thor 💪💪💪😘
falea sezi
lanjut donk
Kusii Yaati
lanjut Thor ceritanya bagus banget lho...💪💪💪
Kusii Yaati
bagus Zoe sudah saatnya kau menunjukkan taring mu biar para benalu itu sadar diri
Kusii Yaati
sadar diri woyyy ibu tiri laknat, yang benalu di sini tu kamu dan buntut mu/Curse/...lah dah miskin nggak tahu diri pula
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!