Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obat Perangsang
Evan menatap Raisa yang mulai panik. Wajah wanita itu pucat, matanya penuh ketakutan.
"Raisa… aku cuma mau tanggung jawab," ucap Evan pelan. "Semalam… aku memang nggak sepenuhnya sadar. Aku dikasih obat perangsang sama klienku…"
Raisa langsung menggeleng cepat, berusaha menepis kemungkinan yang lebih jauh.
"Baru sekali, mas… nggak mungkin langsung hamil," katanya buru-buru. "Sebaiknya mas pulang aja… harusnya mas juga nggak datang semalam. Kalau nggak… semua ini nggak bakal terjadi."
Evan menunduk sesaat, lalu menghela napas panjang.
"Rumah kamu kan dekat dari tempat meeting ku semalam… jadi aku ke sini," jawabnya lirih. "Maafin aku, Raisa… kalau begitu aku pamit."
Ia berhenti sejenak di ambang pintu.
"Kalau ada apa-apa… hubungi aku."
Tanpa menunggu jawaban, Evan turun dari ranjang, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai, lalu ia ganti pakaian dan keluar dari kamar meninggalkan Raisa sendirian.
Hening.
Raisa terduduk lemas di atas ranjang.
"Bener kata mas Evan…" gumamnya dalam hati. "Nggak mungkin… selama ini mas Aditya nggak pernah menyentuh aku… hanya karena takut menyakiti…"
Pikirannya mulai kacau.
"Ada yang aneh…" bisiknya pelan. "Apalagi dengan kematian Mas Aditya…"
Dengan langkah tertatih, Raisa turun dari ranjang. Ia masih membungkus tubuhnya dengan selimut, berjalan pelan menuju kamar mandi.
Begitu sampai di depan cermin, ia menarik napas, lalu perlahan membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Astaga…" matanya membesar. "Banyak banget… bekas kissmarknya…"
Wajahnya langsung memerah, campur aduk antara malu dan tidak percaya.
"Jangan sampai mami tahu…" bisiknya cemas. "Aku nggak bisa jelasin apa-apa…"
Raisa segera menyalakan shower, membiarkan air mengguyur tubuhnya seolah ingin menghapus semua yang terjadi semalam.
Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan tubuh yang sudah bersih. Ia mengenakan pakaian rapi, lalu berdiri di depan cermin lagi.
Dengan teliti, ia mengambil concealer, menutupi bekas-bekas di lehernya.
"Nggak boleh kelihatan…" gumamnya pelan.
Setelah memastikan semuanya tertutup, Raisa menarik napas dalam.
Namun di dalam hatinya, kegelisahan itu masih ada bahkan semakin besar.
"Aku harus ke rumah sakit… pasang KB," gumam Raisa sambil meraih tasnya. Wajahnya masih terlihat tegang. "Jangan sampai aku hamil tanpa suami… apalagi mas Evan itu kakak iparku, dia sudah punya istri. Aku nggak mau jadi perusak rumah tangga orang lain."
Ia menarik napas dalam, mencoba menguatkan diri.
"Dan… aku juga harus cari tahu," lanjutnya dalam hati. "Penyebab kematian mas Aditya… sama kenapa selama ini dia nggak pernah menyentuh aku…"
Raisa membuka pintu kamar, lalu berjalan turun ke ruang tamu.
Namun langkahnya langsung terhenti.
"Mas…?" Raisa terkejut. "Ngapain masih di sini?"
Evan duduk santai di sofa, menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.
"Kamu kelihatan banget pengen ngusir aku sejak bangun tadi…" ucapnya pelan. "Padahal semalam—"
"Cukup, mas!" potong Raisa cepat, wajahnya langsung memerah. "Jangan bahas semalam lagi. Itu cuma kesalahan."
Ia memalingkan wajah, berusaha terlihat tegar.
"Lagian… mas juga sudah punya istri."
Evan terdiam sesaat, lalu menatap Raisa lebih serius.
"Aku sudah bercerai dari Mona."
Raisa langsung menoleh cepat, kaget.
"Apa…?" suaranya lirih, tak percaya.
"Iya," lanjut Evan datar. "Sudah selesai… sejak beberapa waktu lalu."
Raisa terdiam, pikirannya kembali kacau.
"Tapi tetap aja…" gumamnya pelan. "Ini semua salah…"
Ia menggenggam tasnya erat.
"Aku mau ke rumah sakit," katanya singkat, berusaha menghindari pembicaraan lebih jauh.
Evan mengernyit.
"Rumah sakit? Buat apa?"
Raisa menatapnya sekilas, lalu menjawab pelan tapi tegas,
"Itu bukan urusan mas."
"Aku anterin," ucap Evan tanpa memberi kesempatan Raisa menolak.
Ia langsung mengikuti Raisa keluar, berjalan lebih dulu menuju mobil. Mesin dinyalakan, lalu pintu penumpang dibukanya.
"Masuk."
Raisa sempat ragu, tapi akhirnya tetap masuk tanpa banyak bicara.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa tegang.
Evan melirik sekilas ke arah Raisa, lalu berkata dengan nada curiga,
"Kamu… jangan bilang mau menggugurkan anakku."
Raisa langsung menoleh tajam.
"Aku belum hamil, mas," balasnya dingin. "Apa yang mau digugurkan?"
Evan terdiam sejenak, lalu kembali bertanya,
"Kalau gitu… buat apa kamu ke rumah sakit?"
Raisa menarik napas dalam, mencoba tetap tenang.
"Itu urusan aku," jawabnya singkat.
Evan menghela napas, sedikit kesal.
"Kamu keras kepala banget, ya…"
Raisa menatap lurus ke depan.
"Dan mas terlalu ikut campur."
Evan menghela napas panjang, lalu menatap Raisa dengan serius, suaranya berubah lebih dalam dan penuh tekanan.
"Aku bakal ikut campur kalau itu menyangkut benihku, Raisa," ucapnya tegas. "Kamu harus ngerti itu."
Raisa langsung menoleh, matanya tajam menatap Evan.
"Mas jangan ngomong seolah-olah semuanya sudah pasti terjadi," balasnya dingin.
Evan menggeleng pelan, tetap fokus pada jalan di depannya.
"Dengerin aku dulu," lanjutnya. "Aku sekarang cuma sendiri. Aku sudah bercerai dari Mona… dan di keluarga aku, satu-satunya harapan penerus itu ya aku."
Ia melirik Raisa sekilas.
"Kalau memang… ada kemungkinan itu terjadi, anak itu bakal jadi satu-satunya penerus keluargaku."
Raisa terdiam, rahangnya mengeras.
"Mas terlalu jauh mikirnya," katanya pelan tapi penuh tekanan. "Aku aja belum tentu hamil."
Evan sedikit mengangguk.
"Aku tahu… tapi aku tetap harus siap dengan kemungkinan terburuk atau terbaiknya."
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣
Cuma Raisa yang disini gak tau kelakuan Aditya