Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sinar matahari pagi yang pucat berusaha menembus celah-celah daun rimbun di Zona Selatan. Udara terasa sangat lembap dan dingin, meninggalkan butiran embun di permukaan tenda portabel milik kelompok Xiao Yan.
Xiao Yan membuka matanya perlahan. Dia menarik masker tidurnya ke atas dahi. Wajahnya tetap datar, menatap langit-langit kayu dari akar pohon pinus yang menjadi atap mereka.
"Hah..."
Xiao Yan menghela napas pendek. Dia duduk tegak dan meregangkan otot-ototnya dengan sangat hati-hati agar tidak membuat getaran yang merusak tanah sekitarnya.
Di luar ceruk akar, Lin Fan terlihat masih duduk bersila dengan kepala yang terkantuk-kantuk. Pedang Angin Puyuh miliknya dipeluk erat di dada. Di depannya, sisa api unggun kecil yang mereka buat semalam hanya menyisakan abu yang dingin.
"Pahlawan, kau tertidur?" tanya Xiao Yan dengan suara yang datar.
Lin Fan tersentak kaget. Dia hampir saja menjatuhkan pedangnya ke tanah.
"Ugh! Aku tidak tidur! Aku sedang... melakukan meditasi tingkat tinggi untuk menjaga keamanan kita!" bantah Lin Fan sambil mengucek matanya yang merah. Dia segera berdiri dan mencoba terlihat gagah, meskipun rambutnya acak-acakan.
"Ya, meditasi yang melibatkan dengkuran keras," balas Xiao Yan sambil merangkak keluar dari ceruk akar.
"Hah? Aku mendengkur? Itu pasti suara angin di antara pepohonan!" Lin Fan mengelak dengan wajah memerah. "Ngomong-ngomong, kau tidur nyenyak sekali ya? Bahkan setelah kejadian beruang semalam, kau seperti tidak punya beban pikiran."
"Aku hanya percaya pada pahlawan kelompok kita," ucap Xiao Yan tanpa ekspresi.
"Hehe, tentu saja! Serahkan semuanya padaku," Lin Fan membusungkan dadanya dengan bangga.
Tak lama kemudian, Chen Ping dan Song Jia keluar dari dalam tenda. Wajah mereka masih terlihat pucat, sisa dari ketakutan semalam. Chen Ping segera menyesuaikan letak kacamatanya dan mengeluarkan peta serta kompasnya.
"Pagi semuanya," sapa Song Jia pelan. Dia mulai mengeluarkan kompor kecil untuk memasak air.
"Pagi," jawab Chen Ping singkat. Dia menatap kompas di tangannya dengan dahi berkerut. "Ugh... Ini aneh."
"Apanya yang aneh?" tanya Lin Fan sambil mendekat.
"Kompas ini... jarumnya berputar terus. Tidak mau diam menunjuk arah utara," jelas Chen Ping. Dia menggoyang-goyangkan alat itu berkali-kali.
"Klak. Klak. Klak."
Suara jarum kompas yang berputar cepat itu terdengar jelas di tengah kesunyian hutan.
Xiao Yan yang sedang berdiri membelakangi mereka tiba-tiba menajamkan pendengarannya. Bukan pada suara kompas, melainkan pada keheningan hutan itu sendiri.
"Hah..."
"Ada apa, Xiao Yan?" tanya Song Jia yang menyadari perubahan atmosfer tubuh Xiao Yan.
"Tidak ada suara burung pagi ini," jawab Xiao Yan datar.
Song Jia terdiam sejenak, mencoba mendengarkan. Benar saja. Biasanya di hutan seperti ini, suara kicauan burung akan sangat bising di pagi hari. Namun sekarang, hanya ada kesunyian yang mati. Seolah-olah seluruh makhluk hidup di hutan ini sedang menahan napas mereka.
Xiao Yan segera mengaktifkan kemampuan sensorik pasifnya. Dia tidak menggunakan energi Qi agar tidak terdeteksi, melainkan menggunakan sensitivitas saraf dan kecerdasannya yang berada di angka 9999. Dia memproses gelombang elektromagnetik dan frekuensi suara di sekitarnya.
"Analisis lingkungan Tekanan udara naik 5 persen secara tidak alami. Frekuensi gelombang radio sekolah menghilang. Sinyal Gelang Darurat terputus," batin Xiao Yan.
Xiao Yan melirik pergelangan tangan kirinya. Gelang Darurat yang seharusnya memancarkan lampu hijau kecil setiap lima detik sebagai tanda terhubung dengan server pusat, sekarang hanya menampilkan lampu merah yang berkedip cepat.
"Bip. Bip. Bip."
"Ugh! Gelangku berwarna merah!" teriak Lin Fan panik. "Gelang kalian juga merah tidak?"
Chen Ping dan Song Jia segera memeriksa pergelangan tangan mereka.
"Punya kami juga merah!" seru Chen Ping. "Apa sistemnya rusak karena hujan semalam?"
"Sepertinya tidak seperti itu. Aku rasa kita sedang diisolasi," ucap Xiao Yan pelan.
"Diisolasi? Apa maksudmu?" tanya Lin Fan bingung.
Xiao Yan menunjuk ke arah langit di atas kanopi pohon. Jauh di atas sana, terlihat sebuah distorsi cahaya yang sangat tipis, seperti riak air di permukaan kolam. Distorsi itu perlahan turun dan membungkus area hutan dalam sebuah kubah transparan yang hampir tak kasat mata.
"Itu Formasi Penghalang Suara dan Isolasi Ruang tingkat tinggi," batin Xiao Yan menganalisis struktur energi tersebut. "Ini bukan bagian dari sistem akademi. Seseorang telah menimpa sistem keamanan sekolah dengan formasi ini."
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara ledakan yang sangat keras.
"BOOOM!"
Getaran ledakan itu terasa sampai ke bawah kaki mereka. Burung-burung yang tadinya diam tiba-tiba terbang berhamburan menjauh dari pusat ledakan, tetapi mereka langsung terjatuh saat menabrak dinding penghalang tak kasat mata di langit.
"Uwaaa! Apa itu tadi?!" teriak Lin Fan. Dia segera menghunus pedangnya.
"Suaranya berasal dari Zona Timur, tempat kelas unggulan berada," kata Chen Ping sambil melihat petanya dengan tangan gemetar.
"Guru Li dan tim pengawas seharusnya datang dalam hitungan menit jika ada ledakan sebesar itu," gumam Song Jia. Dia memeluk tas medisnya.
"Mereka tidak akan datang," potong Xiao Yan. "Formasi ini memutus semua komunikasi keluar. Bagi orang-orang di luar gerbang, hutan ini mungkin terlihat tenang-tenang saja melalui kamera pengawas yang sudah diretas."
"Ugh... Berarti kita terjebak di sini bersama apa pun yang meledakkan tempat itu?" Lin Fan menelan ludah. "Xiao Yan, apa yang harus kita lakukan? Kita harus lari ke gerbang masuk!"
"Gerbang masuk adalah tempat pertama yang akan dijaga oleh mereka," jawab Xiao Yan.
"Mereka? Siapa mereka?" tanya Chen Ping panik.