Lamaran Raditya di tolak oleh yuni calon ibu mertua nya karena tidak menyanggupi hantaran yang di minta. Yuni bahkan menghina Raditya dan mempengaruhi anak nya agar mencari laki laki yang kaya, karena anak nya Melinda adalah seorang sekretaris di perusahaan ibu nya. terpengaruh oleh ibu nya, Melinda sebagai kekasih Raditya akhir nya ikut merendah kan
karena emosional tiba tiba Raditya melamar seorang gadis yang bernama Dahlia, pembantu di rumah Melinda dengan cincin Berlian.
Namun siapa sangka, Raditya yang di kenal sebagai pegawai admistrasi di tempat Melinda bekerja, sebenar nya adalah anak sulung pewaris perusahaan itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 10
Dahlia tertegun melihat ekspresi ibu nya. Sebegitu bahagia wanita yang sudah melahirkan nya melihat uang dan cincin berlian.
Ia memaklumi, kehidupan nya yang miskin membuat mereka hanya melihat uang beberapa lembar lalu dengan cepat menghilang untuk membayar hutang warung, bulan yang lalu. Lalu bulan ini mereka kembali berhutang lagi dengan harapan bulan depan bisa di bayar dengan gaji Dahlia sebagai pembantu
Ibu nya juga bekerja sebagai tukang cuci. Itu sebelum Nadia bayi datang di kehidupan mereka.
"Ini bagus sekali nak, ibu sampai tak berkedip melihat nya" ucap Marni sambil memutar mutar cincin itu. Dahlia tersenyum melihat ibu nya yang ingin memasuk kan ke jari nya namun tidak muat
"Uang ini banyak sekali Dahlia, bagaimana ini?" tanya Marni bingung melihat uang yang bertumpuk
Belum sempat Dahlia menjawab, terdengar suara pagar bambu sedang di buka. Tarno, ayah Dahlia terlihat sedang memasuki rumah berdinding kayu itu.
"Bu, cepat sembunyikan uang itu, jangan sampai ketahuan sama bapak bu!" seru Dahlia panik.
Marni mengangguk cepat, ia segera menarik beberapa lembar dari satu uang gepok di tangan nya itu, lalu di selip kan di bawah karpet meja kayu di depan nya. Segera ia menuju tempat rahasia nya menyimpan uang, tepat di bawah ember tempat ia menyimpan beras. Seolah sedang mengambil air, ia segera keluar membawa segelas air.
"Minum dulu pak" kata Marni
Tarno sedang menatap tajam ke arah Dahlia
"Kamu mulai banyak tingkah jadi perempuan! Tadi bapak ketemu sama Bu Yuni dan anak nya di jalan. Besok kamu harus balik kerja kalau enggak, bapak pasung kamu sekalian"
Dahlia mengangguk pelan, ia merasa Lega seperti nya Bu Yuni belum mengatakan kronologis kejadian pada bapak nya. Laki laki yang selalu bau alkohol itu masuk, meninggal kan istri dan anak nya
Esok nya, karena tak mau mendapat kan masalah karena ancaman bapak nya yang temperamental, Dahlia mau tidak mau kembali ke rumah Melinda.
Selang berapa lama, Marni yang sedang fokus membersihkan beras di halaman rumah kayu itu terkejut dengan suara dari seseorang yang tak di kenal nya.
Marni langsung bergegas menuju pagar bambu dan perlahan membuka pintu pintu halaman itu
"Maaf Bu, saya Raditya, teman nya Dahlia, Dahlia nya ada Bu?"
"Di,,, dia,," Marni gelagapan, belum habis rasa kaget nya pada sosok tampan dan harum itu tiba tiba di depan nya. Ia makin bingung, bagaimana menyampaikan pada pemuda di depan nya itu kalau Dahlia kembali bekerja di rumah Melinda
"Dahlia,,, Dahlia lagi kerja di rumah majikan nya nak" Jawab marmi akhir nya
Jelas terlihat dari wajah nya kalau Radit terkejut, tapi ia coba untuk tersenyum
"Baik Bu, saya susul Dahlia ke sana sekarang". Kata Radit sambil menyembunyikan rasa kesal nya
"Perempuan bodoh itu, awal aja" batin nya kesal
*********
Yuni mengangkat kaki nya di atas sofa sambil memandang sinis ke arah dahlia yang sedang membersih kan beberapa hiasan dinding. Dahlia pun seolah tak peduli dengan majikan nya yang sedang memperhatikan nya dari tadi. kedua mata Yuni menelisik kearah jari tangan Dahlia, tidak ada cincin? sejak gadis itu sampai, tak ada ucapan apapun dari Yuni dan Dahlia juga
"Mel,! sudah jam delapan ini, gak takut telat kamu,!" yuni menegur Melinda yang baru saja keluar dari dalam kamar nya dan masih mengenakan baju tidur
"Santai, Ma. Hari ini aku hanya nemenin bos meeting jam10." sahut Melinda
Dahlia tidak menoleh sama sekali apa lagi menyapa majikan nya itu seperti biasa. Ingin rasa nya dia mengumpat dua majikan nya itu. Hati Dahlia semakin dongkol, bagaimana bisa cangkir bekas kemaren masih ada di atas meja? Sekedar membawa kembali ke dapur, masa mereka tidak bisa?
"Eh datang juga dia" kata Melinda sambil Melinda ke arah Dahlia yang Sedang membereskan cangkir bekas tamu kemarin.
"Kan nyonya dan nona datangi rumah saya kemarin dan mengadu kepada orang tua saya, bisa apa saya kalau sudah begitu"
Tanpa melihat lawan bicara nya, Dahlia terus melangkah ke belakang membawa cangkir. Saat ia kembali, Melinda sudah duduk di sofa menatap nya bengis.
"Permisi nya" kata Dahlia saat menggosok meja di dekat yuni duduk
"Tahu diri, gak punya apa apa. Jangan sok maka nya.!" ketus Melinda
Dahlia hanya diam saja. Melinda adalah teman satu sekolah waktu di sekolah dasar. Usia mereka sama, 28 tahun. Akan tetapi semakin tumbuh dewasa, Melinda membatasi diri pada Dahlia, bahkan tak sungkan menghina nya.
"Biasa lah, baru di rayu pakai cincin imitasi aja langsung luluh. Heran, harga diri mu jadi perempuan kok rendah sekali" ucap Yuni
Gagang pel di tangan Dahlia semakin erat di genggam nya. Dia menahan segala rasa sakit hati dari setiap ucapan yang keluar dari mulut kedua majikan nya itu. Orang tak akan tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum mengalami nya langsung.
"Pel yang bersih" kata Melinda, ia sengaja menuangkan susu yang di minum nya di lantai, sambil tersenyum puas.
Dahlia tak punya pilihan kecuali melanjut kan pekerjaan nya. Bahkan saat kotak susu itu di letakkan begitu saja, Dahlia dengan sabar memungut nya.
"Berhenti!" perintah Melinda saat Dahlia menerus kan kegiatan ngepel nya
"Beritahu aku, kemaren kamu kemana saja sama Raditya?"
Dahlia Tidak menjawab
"Kenapa diam aja? wajar kalau aku nanya, kalian kan berangkat nya dari rumah ku"
"Kami hanya pergi ke toko jam" jawab Dahlia
"Buat apa kalian kesana?" tanya Yuni
"Jual jam tangan laki laki itu"
Sontak ibu dan anak itu tertawa terbahak bahak. Dahlia memalingkan wajah nya, dia sangat tidak suka dengan kedua orang sombong itu
"Ma, gila sih ini. Benar kata mama, cowok itu tak bermodal sekali sampai harus jual jam tangan murahan nya, ya ampun, sakit perut ku ketawa" Melinda memegang perut nya dan mendongak ke atas.
Ia masih ingat jam tangan yang ada di atas meja kerja Raditya. Jam itu selalu terpajang di sana, menggantung di antara banyak memo, pastilah jam itu yang di jual nya, pikir Melinda
"Hahahaha,,, iya Mel, gak bisa di bayangkan kalau kamu sampai nikah sama dia, lama lama juga kolor nya di jual"
"Pakai mengkhayal lagi kalau bilang diri nya adalah pemimpin perusahaan. kalau dia pemimpin, aku owner founder nya, ma" kata Melinda terus memegangi perut nya.
Dahlia tidak mempedulikan kedua majikan nya itu. Ia pun tak ingin Melinda tahu kalau Raditya menjual jam itu seharga 40 juta
"Bisa jadi ucapan laki laki itu benar Mel. Lalu kamu akan memasukkan diri mu sendiri ke lubang yang paling dalam, karena menyesal menolak nya" batin Dahlia