Ribuan tahun setelah Kaisar Primordial Wang Tian menghilang ke dalam keheningan dimensi untuk menjaga keseimbangan alam, silsilah darahnya telah bercabang menjadi klan-klan besar yang menguasai berbagai penjuru dunia.
Istri pertama, Lin Xuelan, melahirkan garis keturunan Penjaga Samudra. Istri ketiga, Mora, melahirkan klan Bayangan Langit. Istri keempat, Lin Xia (setelah menjadi manusia sepenuhnya), melahirkan garis Pedang Dewa. Namun, cerita kita kali ini bermula dari garis keturunan istri kedua, Sui Ren, Sang Permaisuri Angin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Kota Karat dan Perjanjian Darah di Kedalaman Tanah
Kendaraan raksasa milik Suku Garis Darah Besi menderu membelah badai pasir, namun kini bendera mereka telah digantikan oleh kain hitam polos yang melambai garang. Di atas kursi kemudi, **Wang Jian** menatap cakrawala di mana siluet **Kota Karat** mulai terlihat. Kota itu adalah tumpukan logam raksasa yang saling mengunci, dibangun dari bangkai-bangkai kapal dimensi dan reruntuhan teknologi kuno yang jatuh dari langit selama ribuan tahun.
Bau karat, oli, dan belerang menyengat indra penciuman Jian saat gerbang logam besar kota itu terbuka dengan suara derit yang memekakkan telinga. Di sini, tidak ada hukum selain hukum pertukaran; nyawa adalah mata uang yang paling murah.
### **Pertemuan dengan Sang "Arsitek"**
Didampingi oleh sisa-sisa anggota suku yang kini menjadi pengikutnya yang gemetar, Jian dibawa menuju distrik terdalam kota—wilayah bawah tanah yang dikenal sebagai **Rahim Besi**. Di sana, ia bertemu dengan penguasa kota tersebut, seorang pria kecil yang duduk di dalam kursi mekanis laba-laba raksasa. Namanya adalah **Vaxen sang Arsitek**.
Vaxen menatap Jian melalui kacamata pembesar mekanisnya. "Seorang penguasa badai dari Benua Tengah yang terdampar di pasir merah? Menarik. Kau menghancurkan Suku Tarkas hanya untuk sampai ke sini. Apa yang kau inginkan, Pengembara?"
"Akses ke **Perpustakaan Dimensi**," jawab Jian tanpa basa-basi. "Aku harus melacak koordinat retakan dimensi yang membawa seorang gadis ke wilayah ini."
Vaxen tertawa, suara tawa yang menyerupai gesekan logam. "Perpustakaan itu adalah jantung kota ini. Hanya mereka yang menyumbangkan 'Esensi Pertempuran' yang cukup tinggi yang diizinkan masuk. Dan kebetulan, **Turnamen Maut Gerbang Langit** akan dimulai malam ini."
Vaxen mencondongkan kursinya. "Menangkan turnamen itu, bawakan aku kepala **Golgotha Sang Penjagal**, dan aku akan membukakan pintu perpustakaan untukmu. Gagal... dan jantungmu akan menjadi suku cadang untuk mesin-mesinku."
### **Turnamen Maut: Arena Lubang Hitam**
Arena pertempuran Kota Karat bukanlah panggung biasa. Ia adalah lubang raksasa di bawah tanah dengan lantai yang terbuat dari magnet kuat yang bisa berubah bentuk setiap detik. Ribuan penonton dari berbagai klan haus darah berteriak liar di tribun, melemparkan kepingan logam sebagai taruhan.
"Petarung pertama kita, Sang Iblis Rambut Perak dari Gurun!" teriak pembawa acara.
Jian melangkah masuk. Di hadapannya berdiri tiga petarung pertama: **Trio Algojo Rantai**. Mereka adalah praktisi **Ranah Pemurnian Qi Bintang 5** yang menggunakan rantai berduri yang terhubung dengan energi gravitasi.
"Mati kau, Pendatang!"
Ketiga algojo itu menyerang serentak. Rantai mereka berputar, menciptakan medan gravitasi yang mencoba menekan Jian ke lantai magnetik.
Jian menyeringai. Meskipun energinya belum pulih 100%, **Meridian Badai Abadi**-nya telah beradaptasi dengan energi pasir merah yang ganas. Ia mengaktifkan **Langkah Kilat Merah**.
*SYUT!*
Jian menghilang, menyisakan jejak panas di udara. Ia muncul di belakang algojo pertama dan menghantamkan telapak tangannya. **"Putaran 4: Kompresi Atmosfer - Ledakan Pasir!"**
*BOOM!*
Algojo itu terlempar, dadanya hancur oleh tekanan udara yang bercampur panas pasir. Namun, dua algojo lainnya segera mengunci kaki Jian dengan rantai mereka. Magnet di lantai tiba-tiba aktif, menarik Jian ke bawah dengan kekuatan jutaan ton.
"Sekarang!" teriak mereka.
### **Kehancuran dan Kekalahan: Puncak Keputusasaan**
Tiba-tiba, sesosok bayangan raksasa melompat dari balkon atas. Itu adalah **Golgotha Sang Penjagal**. Tingginya tiga meter, kulitnya dilapisi oleh lempengan baja yang ditanam langsung ke ototnya. Ia adalah praktisi **Ranah Kristalisasi Inti Bintang 1**—lawan yang jauh di atas ranah Jian saat ini.
Golgotha tidak menunggu. Ia mengayunkan gada raksasanya yang memiliki inti nuklir *Qi*.
*DHUAAARRRRRR!*
Jian yang sedang terikat rantai tidak mampu menghindar sepenuhnya. Gada itu menghantam bahu kirinya. Suara tulang hancur bergema di seluruh arena. Jian terkapar, darah peraknya menyembur ke pasir merah.
"Lemah!" raung Golgotha. Ia menginjak dada Jian, membuat paru-paru Jian hampir meledak. "Di Benua Pasir Merah, teknik anginmu tidak ada artinya. Di sini, hanya kekerasan yang abadi!"
Golgotha mengangkat gadanya untuk serangan terakhir. Jian menatap ke atas, pandangannya mulai kabur. Di ambang kematiannya, ia seolah-olah melihat bayangan Meiling yang sedang menangis di sebuah dunia yang jauh.
*Apakah aku akan berakhir di sini? Di tempat berkarat ini?*
### **Kebangkitan: Penyatuan Tiga Inti**
Saat gada Golgotha mulai turun, sesuatu di dalam Dantian Jian meledak. Itu bukan ledakan energi biasa, melainkan **Reaksi Fusi** antara sisa energi Petir Surgawi, Angin Primordial, dan energi Api Pasir Merah yang ia serap selama perjalanan.
Tiga energi yang awalnya saling tolak menolak itu kini dipaksa menyatu oleh tekanan dari injakan Golgotha.
"Aku... tidak akan... berhenti!"
Mata Jian terbuka lebar, memancarkan cahaya putih yang membutakan. Sebuah ledakan aura meledak dari tubuhnya, melemparkan Golgotha dan ketiga algojo lainnya ke dinding arena.
**[EVOLUSI HIDUP DAN MATI]:**
* **Ranah:** Melompat dari Pemurnian Qi Bintang 4 ke **Pemurnian Qi Bintang 6!**
* **Kekuatan Baru:** **Qi Badai Plasma** (Kombinasi Petir, Angin, dan Panas Ekstrem).
Jian berdiri perlahan. Bahu kirinya yang hancur mulai berekonstruksi dengan suara otot yang menjalin kembali secara paksa, dilapisi oleh energi plasma berwarna putih keunguan.
### **Pembalasan Epik: Pembantaian Sang Penjagal**
Golgotha bangkit dengan amarah yang meluap. "Trik apa ini?! Mati kau!" ia melancarkan serangkaian serangan gada yang mampu menghancurkan gunung kecil.
Namun kali ini, Jian tidak menghindar. Ia menangkap gada nuklir itu dengan satu tangan.
*KREEEEK—*
Logam padat pada gada itu mulai meleleh di bawah genggaman Jian. "Kau bilang teknikku tidak ada artinya? Mari kita lihat bagaimana kau menahan ini."
Jian mengaktifkan **Putaran 6: Pelahap Badai** yang ditingkatkan menjadi **Pusaran Plasma**. Ia menarik seluruh energi panas dari lantai magnetik arena dan menggabungkannya dengan kekuatannya.
Ia melepaskan satu pukulan lurus ke arah dada baja Golgotha.
**"Seni Pemungkas: Tinju Matahari Merah - Penghancur Inti!"**
Pukulan itu menembus lapisan baja, menembus otot, dan menghancurkan Inti Kristalisasi milik Golgotha dalam sekejap. Energi plasma masuk ke dalam tubuh raksasa itu dan meledakkannya dari dalam.
*BOOOOOOMMMMMMM!*
Seluruh arena Rahim Besi bergetar hebat. Saat asap plasma menghilang, yang tersisa dari Golgotha hanyalah abu yang beterbangan. Wang Jian berdiri di tengah kawah, auranya begitu menekan hingga para penonton di tribun terdiam dalam ketakutan yang murni.
Vaxen sang Arsitek berdiri dari kursinya, bertepuk tangan perlahan. "Luar biasa. Seekor naga yang jatuh ke lumpur tetaplah seekor naga. Selamat, Wang Jian. Kau telah memenangkan tiketmu menuju rahasia dimensi."
### **Status Kultivasi Akhir - Bab 21:**
* **Nama:** Wang Jian
* **Ranah Kultivasi:** **Pemurnian Qi Bintang 6** (Kenaikan drastis akibat fusi energi di ambang kematian).
* **Fisik:** Tubuh Dewa Plasma (Evolusi Tahap 2 - Tulang dan Meridian mengandung energi plasma).
* **Kondisi:** Pulih sepenuhnya, energi stabil namun sangat panas.
* **Tujuan:** Memasuki Perpustakaan Dimensi untuk melacak Lin Meiling.
adalah bacaan wajib bagi penggemar genre kultivasi yang mencari cerita dengan kedalaman emosional dan aksi yang memukau. Meskipun memiliki beberapa kiasan (tropes) klasik genre Xianxia, eksekusinya tetap terasa segar dan membuat ketagihan.