Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
PUNCAK YANG DIKHIANATI TAKDIR -
Dingin itu bukan lagi sekadar suhu bagi tubuhku. Di ketinggian delapan ribu meter di atas permukaan laut dingin adalah sesosok mahluk yang mencoba mencuri nyawaku di setiap embusan napas. Aku berdiri di sebuah celah sempit menempel pada dinding granit Gunung Kanchenjunga yang membeku total. Jari jemariku yang terbungkus sarung tangan tipis sudah tidak lagi memiliki rasa namun ingatanku tentang bagaimana otot ototku bekerja tetap terjaga dengan sangat tajam. Aku bisa merasakan setiap serat otot di lengan bawahku menegang saat aku menarik beban tubuhku ke atas melawan gravitasi yang terus mencoba menyeretku ke dasar jurang yang tidak berdasar.
Namaku Goma dan di dunia yang kutinggalkan ini aku dikenal sebagai orang gila yang tidak tahu cara berhenti.
Kenapa aku melakukan ini adalah pertanyaan yang selalu muncul di setiap pendakianku. Apakah demi ketenaran atau apakah demi medali emas. Jawabannya jauh lebih sederhana serta jauh lebih berat dari itu semua. Di dalam kantong jaketku ada sebuah foto kusam yang terlipat rapi. Foto itu memperlihatkan sebuah bangunan tua dengan cat yang sudah mengelupas di pinggiran kota. Panti Asuhan Kasih Abadi adalah tempat aku tumbuh besar. Di sana ada Ibu Widya yang matanya mulai rabun karena katarak serta ada para anak yatim yang hanya memiliki satu sama lain sebagai keluarga. Setiap meter yang kudaki adalah paku yang kupasang untuk memperbaiki atap mereka yang bocor. Setiap puncak yang kutaklukkan adalah sepiring nasi hangat bagi mereka semua. Aku bukan sekadar memanjat batu namun aku sedang memanjat harapan untuk masa depan mereka yang tidak pasti.
Satu langkah lagi Goma jangan pernah menyerah bisikku pada diri sendiri di tengah deru badai yang mengamuk.
Pandanganku mulai mengabur karena oksigen di tabung punggungku sudah mencapai batas kritis. Aku bisa merasakan kesadaranku mulai bergetar seperti api lilin yang ditiup angin kencang secara terus menerus. Halusinasi mulai berdatangan ke dalam kepalaku. Aku seolah melihat Ibu Widya sedang berdiri di puncak gunung melambaikan tangan padaku dengan senyum lembutnya yang sangat menenangkan. Namun realitas kembali menghantamku saat tanganku menyentuh lapisan es yang licin.
Suara kecil terdengar sangat nyaring di telingaku. Itu adalah suara logam yang bergesekan dengan batu.
Aku menunduk sedikit ke bawah dan jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Salah satu pasak besi yang kutanamkan di celah batu sebagai pengaman utama mulai bergerak karena retakan pada granit yang membeku. Beban tubuhku terlalu berat bagi celah batu yang sudah mulai rapuh karena suhu ekstrem yang menyiksa. Retakan kecil itu mulai menjalar ke mana mana di permukaan dinding es yang sangat licin.
Detak jantungku berpacu sangat hebat di dalam dada. Adrenalin mencoba mendorong sisa tenaga di tubuhku yang sudah sangat kelelahan ini. Aku segera merogoh kantong kapur di pinggangku mencoba mencari pegangan lain yang lebih stabil di atasku namun es yang melapisi dinding batu membuatnya selicin kaca.
Lalu semuanya terjadi begitu saja.
Tali pengaman yang menghubungkan tubuhku dengan pasak itu putus secara tiba tiba. Sentakannya begitu hebat hingga aku merasa bahuku hampir lepas dari sendinya. Selama satu detik aku merasa melayang tanpa beban di udara. Gravitasi yang selama ini kuhindari dengan susah payah akhirnya berhasil menangkapku kembali ke pelukannya.
Aku jatuh ke bawah.
Rasanya sangat aneh karena saat itu aku tidak merasa takut. Kau mungkin berpikir bahwa jatuh dari ketinggian ribuan meter akan sangat mengerikan serta penuh dengan teriakan histeris. Namun yang kurasakan justru adalah kesunyian yang sangat damai. Suara badai salju tiba tiba menghilang dari pendengaranku. Yang ada hanya suara napasku yang tersengal kemudian suara gesekan kain jaket dengan udara dingin yang menusuk. Puncak gunung yang tadinya hanya berjarak beberapa meter kini menjauh dengan sangat cepat dari pandanganku. Ia mengecil menjadi titik putih di langit biru gelap kemudian menghilang sepenuhnya di balik gumpalan awan.
Maafkan aku Ibu Widya batin kesadaranku yang terakhir saat itu. Aku gagal membawa pulang uang untuk perbaikan atap panti asuhan kita. Aku gagal menjaga anak anak yang lain.
Lalu kegelapan datang menjemputku dengan sangat cepat. Sebuah kegelapan yang sangat padat seolah seluruh dunia baru saja menutup matanya padaku selamanya. Tidak ada rasa sakit saat tubuhku menghantam dasar jurang. Mungkin sarafku sudah mati sebelum aku menyentuh tanah atau mungkin takdir memang ingin aku mati dalam keadaan yang tenang. Hanya ada rasa hampa yang luar biasa seolah jiwaku baru saja ditarik keluar dari wadah dagingnya yang hancur berkeping keping di atas bebatuan es.
Kegelapan itu seharusnya bersifat kekal namun entah berapa lama waktu telah berlalu dalam kehampaan itu aku mulai merasakan sesuatu kembali.
Itu bukan rasa hangat serta bukan pula rasa dingin yang biasa kurasakan di gunung tinggi. Itu adalah rasa gatal yang sangat mengganggu. Rasa gatal yang menjalar di sepanjang sesuatu yang seharusnya menjadi tulang belakangku. Aku mencoba membuka mata namun sensasinya sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada kelopak mata yang bergerak. Pandanganku terbuka begitu saja seolah sebuah tirai baru saja disingkapkan secara paksa oleh kekuatan yang tidak terlihat.
Pemandangan pertama yang kulihat adalah langit yang sangat asing. Itu jelas bukan langit Bumi yang kukenal.
Langit di atas sana berwarna ungu tembaga sangat keruh serta penuh dengan pusaran asap hitam yang terus bergejolak. Tidak ada matahari serta tidak ada bintang sama sekali. Hanya ada kilatan petir merah yang sesekali menyambar di kejauhan memberikan cahaya remang remang pada daratan di bawahnya yang tampak sangat gersang.
Aku mencoba menggerakkan tanganku untuk menyentuh kepalaku yang terasa sangat berat.
Suara gesekan benda keras terdengar sangat jelas di telingaku. Aku tertegun membeku. Aku menatap tanganku sendiri dan rasa ngeri yang belum pernah kurasakan sebelumnya menyergap jiwaku dengan sangat kuat. Tidak ada kulit yang menyelimuti tanganku. Tidak ada daging yang kuat hasil latihan daki tebing bertahun tahun. Tidak ada urat nadi yang berdenyut dengan darah hangat. Yang kulihat hanyalah tulang belulang putih yang kusam penuh dengan debu serta retakan kecil di sana sini. Jari jemariku adalah rangkaian tulang yang sangat rapuh. Lengan bawahku hanyalah dua batang tulang yang kaku tanpa ada daging sedikit pun.
Apa yang terjadi padaku sebenarnya tanya jiwaku dalam kebingungan yang sangat dalam.
Suaraku tidak keluar dari mulut karena memang aku tidak lagi memiliki bibir. Suara itu keluar dari suatu tempat di dalam rongga tengkorakku sendiri. Bunyinya seperti gesekan amplas kasar pada sepotong kayu tua yang sudah melapuk. Aku mencoba bangkit berdiri dan suara gesekan tulang di pinggul serta lututku bergema sangat nyaring di keheningan tempat itu.
Aku berdiri atau lebih tepatnya aku mencoba berdiri dengan sisa sisa kesadaranku. Tanpa otot tubuhku terasa sangat ringan namun sekaligus sangat sulit dikendalikan dengan benar. Aku merasa seperti boneka kayu yang baru belajar bergerak untuk pertama kalinya. Aku menoleh ke sekeliling dan pemandangan di depanku membuat jiwaku bergetar hebat.
Lembah ini penuh dengan tulang belulang yang berserakan. Sejauh mata memandang hanya ada tumpukan kerangka dari berbagai bentuk yang aneh. Ada yang menyerupai manusia namun ada pula yang memiliki empat tangan serta ada yang berukuran raksasa setinggi bangunan. Semuanya berserakan di atas pasir berwarna abu abu yang berbau sangat busuk seperti perpaduan belerang serta kematian yang sudah lama tersimpan.
Di mana sebenarnya aku sekarang tanyaku pada kesunyian yang mencekam.
Tiba tiba sebuah suara yang tidak memiliki emosi bergema di dalam kepalaku. Itu bukan suara mahluk hidup melainkan sebuah pesan yang seolah tertanam langsung ke dalam pusat jiwaku yang terdalam.
Selamat Datang di Gehenna wahai Pendaki yang Terbuang. Takdirmu telah diputuskan oleh penguasa dunia atas. Karena kematianmu yang dianggap sebagai kegagalan takdir kau diberikan kesempatan kedua sebagai kasta terendah di Dunia Bawah ini. Kau adalah sesosok Skeleton yang tidak memiliki apa apa selain sisa jiwa yang hampir padam.
Pesan itu berulang terus di dalam pikiranku seolah ingin menghancurkan mental yang masih tersisa.
Kesempatan kedua macam apa ini yang mereka berikan padaku. Kemarahan yang sangat murni meledak di dalam rongga dadaku yang kosong melompong. Kemarahan ini jauh lebih panas daripada lava yang pernah kulihat. Para Dewa atau siapa pun yang mengatur permainan gila ini telah merenggut hidupku saat aku sedang berjuang untuk orang lain. Mereka merenggut kemampuanku untuk membantu panti asuhan tempatku bernaung dan sekarang mereka melempar jiwaku ke dalam wadah tulang sampah yang bisa hancur kapan saja ini.
Kalian menyebutku kasta terendah geramku dengan penuh kebencian. Kalian memberikan aku tubuh yang bahkan tidak bisa memegang sebatang kayu dengan benar sebagai penghinaan. Kalian menyebut ini sebuah kesempatan hidup yang baru.
Aku teringat pada semua penderitaanku di dunia lama. Aku teringat pada setiap tetes keringat serta darah yang kukeluarkan demi memberi makan adik adik kecilku di panti asuhan. Aku selalu jujur serta bekerja keras dalam hidupku namun inilah imbalan yang diberikan oleh langit kepadaku. Menjadi mahluk sampah di dasar neraka yang paling dalam.
Jika kalian berpikir aku akan menyerah kemudian hancur menjadi debu di tempat ini kalian salah besar ucapku sambil menatap langit ungu yang tak berujung itu dengan api biru yang mulai menyala di lubang mataku. Aku adalah seorang pendaki tebing profesional yang sudah menaklukkan ribuan rintangan mustahil. Aku telah menghabiskan seluruh hidupku untuk terus naik ke atas dari titik terendah yang bisa dibayangkan manusia.
Aku mengepalkan jari jari tulangku dengan sangat erat. Meskipun tidak ada otot di sana aku bisa merasakan keinginan kuat yang menggerakkan kalsium kaku ini. Keinginan itu adalah tekad yang melampaui kematian itu sendiri. Aku melihat sebuah tulang rusuk yang patah namun ujungnya sangat tajam tergeletak di dekat kakiku yang telanjang. Aku membungkuk pelan meski setiap gerakanku menimbulkan suara retakan tulang yang menyakitkan untuk didengar. Aku mengambil tulang rusuk tajam itu sebagai senjata pertamaku.
Kalian menyebut tempat ini neraka yang abadi bagi jiwa jiwa yang gagal. Bagiku tempat ini hanyalah satu lagi tebing raksasa yang harus kupanjat dengan tangan kosong bisikku dengan suara yang penuh dengan dendam membara kepada para penguasa langit. Aku tidak akan berhenti merangkak serta aku tidak akan berhenti memangsa mahluk apa pun di sini sampai aku berhasil membangun kembali dagingku sepotong demi sepotong. Aku akan mendaki sampai ke singgasana kalian yang mewah hanya untuk menagih janji keadilan yang telah kalian rampas dariku.
Di bawah langit tembaga Gehenna yang terkutuk seorang mahluk tulang yang seharusnya sudah menyerah pada takdir justru berdiri tegak dengan aura yang mengerikan. Dia tidak lagi memanjat demi harapan anak anak panti asuhan saja namun kini dia memanjat demi sebuah dendam yang akan mengguncang dunia atas serta dunia bawah.
Pendakian terakhir Goma baru saja dimulai dari titik yang paling mustahil di alam semesta. Dan kali ini dia tidak akan membawa tali pengaman atau bantuan dari siapa pun. Dia hanya membawa rasa lapar yang tiada tara serta keinginan untuk melihat para Dewa berlutut di bawah kakinya yang penuh dengan darah iblis.
Ini adalah awal dari legenda mahluk yang akan dikenal sebagai Raja dari Segala Raja Iblis. Mahluk yang lahir dari sisa sisa tulang manusia yang dikhianati oleh takdir surgawi. Goma tidak akan pernah melupakan rumahnya serta dia tidak akan pernah memaafkan langit yang telah membuangnya ke jurang terdalam ini.
Jalan yang akan ia tempuh sangatlah panjang serta penuh dengan bau anyir darah. Setiap langkah yang ia ambil akan diiringi oleh jeritan para iblis yang ia mangsa. Ia akan menumbuhkan otot dari daging lawannya. Ia akan menumbuhkan kulit dari nyawa korbannya. Ia akan menjadi mahluk yang paling mengerikan yang pernah ada hanya untuk bisa pulang kembali ke Bumi serta memeluk kembali orang orang yang ia sayangi dalam bentuk yang sempurna.
Bersiaplah wahai dunia karena Goma telah kembali dari kematian dengan cara yang paling tidak terduga.