"Turun dari langit bukan untuk jadi Dewi, tapi untuk jadi istrimu!"
Demi kabur dari perjodohan Dewa Matahari, Alurra—bidadari cantik yang sedikit "gesrek"—nekat terjun ke bumi. Bukannya mendarat di istana, ia malah menemukan Nael Gianluca Ryker, pewaris tunggal yang sekarat dan kehilangan suaranya akibat trauma masa lalu.
Bagi Alurra, Nael adalah mangsa sempurna. Tampan, kaya, dan yang paling penting: tidak bisa protes saat dipaksa jadi pangerannya!
Nael yang dingin dan bisu mendadak pusing tujuh keliling. Bagaimana bisa bidadari penyelamatnya justru lebih agresif dari pembunuh bayaran? Ditolak malah makin menempel, diusir malah makin cinta.
Dapatkah sihir bidadari bar-bar ini menyembuhkan luka bisu di hati Nael? Atau justru Nael yang akan menyerah pada "teror" cinta dari langit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: PENYATUAN DI BAWAH TANGISAN LANGIT
Gerimis halus mulai menggantikan amukan badai di kawasan bisnis Jakarta, namun aspal masih terasa panas oleh sisa-sisa amarah alam. Di tengah jalanan yang macet total, Nael Ryker bersimpuh. Tubuhnya menggigil hebat, kemeja putihnya sudah berubah warna menjadi abu-abu karena lumpur dan air selokan.
Tangannya yang gemetar menggenggam erat Kalung Akar Perak itu. Darah segar merembes dari sela- jari-jarinya yang teriris besi selokan, namun Nael tidak merasakannya. Ia hanya merasakan detak jantungnya yang seolah ingin meledak keluar dari dadanya.
"Alurra... lihat... aku menemukannya..." bisik Nael, suaranya parau, nyaris habis. "Jangan pergi... kumohon, lihat aku..."
Di sekelilingnya, suara klakson mobil bersahutan. Orang-orang keluar dari kendaraan mereka, memandang heran pada CEO ternama yang kini tampak seperti gelandangan hancur di tengah jalan.
"Tuan Nael! Bangun! Anda bisa kena hipotermia!" Bram, asistennya, berlari mendekat dengan napas tersengal-sengal. "Mari kita kembali ke kantor, tim medis sudah menunggu!"
Nael tidak bergeming. Ia menepis tangan Bram dengan sisa tenaganya. Matanya yang merah menatap lurus ke atas, ke arah awan yang mulai menipis.
Tiba-tiba, sebuah keajaiban terjadi. Dari balik awan kelabu, sebuah pilar cahaya emas yang lembut meluncur turun. Cahaya itu tidak meledak seperti sebelumnya, melainkan turun sehalus sutra, tepat di depan Nael.
Kerumunan orang di jalanan mendadak bungkam. Waktu seolah berhenti berputar.
Dari dalam cahaya itu, Alurra melangkah keluar. Ia tidak lagi mengenakan gaun megah surga. Tubuhnya dibalut cahaya tipis yang transparan, memperlihatkan betapa lemahnya ia sebenarnya. Sayapnya tidak terlihat, namun auranya memenuhi jalanan dengan aroma bunga melati dan embun pagi.
Alurra berlutut di depan Nael, tepat di atas genangan air hujan yang kotor. Air mata emas menetes dari matanya, jatuh ke aspal dan berubah menjadi butiran mutiara kecil.
"Bodoh..." bisik Alurra, suaranya bergetar hebat karena haru. "Kenapa kau merangkak di tempat kotor ini, Nael? Kau bisa mati tersambar petir kakakku."
Nael terpaku. Ia tidak percaya pada penglihatannya. Dengan tangan yang gemetar dan berdarah, ia mengangkat kalung perak itu ke hadapan Alurra.
"Dia... dia yang merebutnya..." suara Nael keluar, serak dan menyayat hati. "Aku tidak menyerah... aku tidak pernah berpaling darimu, Alurra. Jangan percaya padanya... jangan pergi lagi."
Alurra menangis sesenggukan, ia meraih tangan Nael yang berdarah dan menciumnya tanpa peduli pada kotoran yang menempel. "Aku tahu... aku melihat semuanya dari atas sana. Maafkan aku... maafkan aku karena meragukan sauhku sendiri."
Alurra mengambil kalung itu dari tangan Nael. Ajaibnya, saat menyentuh jemari Alurra, akar perak yang tadinya kusam dan penuh lumpur mendadak bersinar terang, mengeluarkan kotoran bumi dan kembali menjadi perak suci yang murni.
Alurra melingkarkan kembali kalung itu ke leher Nael. "Ini janjiku, Nael. Tidak ada manusia, tidak ada dewa, dan tidak ada iblis yang bisa memutusnya lagi."
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat. Stella, yang mengejar Nael dari kantor bersama para pengawalnya, berdiri terpaku beberapa meter dari mereka. Wajah cantiknya kini pucat pasi melihat sosok bercahaya yang memeluk Nael.
"Nael! Apa-apaan ini?! Siapa wanita ini?!" jerit Stella, suaranya melengking di tengah keheningan. "Kau gila? Kau bersujud di jalanan untuk pengemis bercahaya ini? Ingat reputasimu! Ingat kontrak kita!"
Nael perlahan bangkit berdiri dengan bantuan Alurra. Ia membalikkan badannya, menatap Stella dengan tatapan yang sangat dingin—tatapan yang kini didukung oleh kehadiran bidadari di sampingnya.
"Reputasi?" Nael bicara, suaranya kini terdengar jelas dan menggelegar meski badannya menggigil. "Kontrak? Ambillah semuanya, Stella. Ambil sahamnya, ambil gedungnya, ambil kekayaannya jika itu yang kau inginkan."
Nael merangkul bahu Alurra yang rapuh, mendekapnya di depan semua orang, di depan kamera ponsel yang kini merekam mereka.
"Tapi jangan pernah sekali lagi kau menyebutnya pengemis. Dia adalah cahayaku. Dan kau... kau hanyalah sepotong kaca yang mencoba meniru berlian. Pergilah dari hidupku sebelum aku memintanya untuk menghapus keberadaanmu dari ingatanku."
Stella ternganga, ia mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh. Ia melihat orang-orang di sekitar mulai berbisik-bisik, memandangnya dengan hina. Rencana kotornya hancur seketika di bawah kaki seorang bidadari yang terluka.
"Ayo pulang, Nael," bisik Alurra, kepalanya bersandar di bahu Nael. "Aku tidak punya kekuatan lagi untuk berdiri... aku ingin tidur di kamarmu."
Nael mengangguk. Tanpa mempedulikan mobil-mobil yang masih terjepit macet, ia menggendong Alurra dalam dekapan posesifnya. Ia berjalan menembus kerumunan, membiarkan gerimis membasuh sisa luka di hatinya.
...****************...
Di langit, Dewa Matahari yang mengamati dari balik awan hanya bisa mendengus pelan. "Manusia itu... dia benar-benar merusak seluruh naskah takdir yang kubuat."
"Biarkan mereka, Saudaraku," sahut Dewa Langit dengan senyum bangga yang tersembunyi. "Cinta manusia itu baru saja membuktikan bahwa Bumi tidak seburuk yang kita kira."
...****************...
aku suka namanya Nael ....