NovelToon NovelToon
Cincin Di Balik Almamater

Cincin Di Balik Almamater

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Nikahmuda
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
​Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
​Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pecahnya Embargo dan Sumpah di Bawah Langit Manhattan

​Suara klakson kuning taksi New York yang bersahutan seolah menjadi musik latar yang ironis bagi kehancuran mental Ziva. Di pelukan Arkan, ia tidak merasa aman; ia merasa terjebak. Terjebak antara cinta yang protektif namun manipulatif, dan ambisi yang kini ternoda oleh permainan kekuasaan mertuanya.

​Arkan melepaskan pelukannya, menatap mata Ziva yang sembab. "Ziv, dengerin aku. Pengacara Papa sudah di jalan ke kantor dewan etik. Rekaman CCTV asli dari LSE sudah dikirim. Foto-foto itu... itu editan angle kamera, Ziva. Aku nggak pernah masuk ke mobil Elena, aku cuma bukain pintu karena dia bawa tumpukan dokumen tim kita."

​"Tapi lo tetep pake cara Papa, Ar!" suara Ziva meninggi, menarik perhatian beberapa pejalan kaki di depan gedung Columbia. "Lo janji di Makassar kalau kita bakal mandiri. Tapi begitu ada masalah, lo lari ke ketiak Papa lo. Lo beli keadilan buat gue, Ar. Dan itu bikin tulisan gue nggak ada harganya lagi!"

Sang Peretas Jarak Jauh

​Di Sydney, malam sudah melarut, namun Revan masih terjaga di depan laptopnya. Sebagai atlet, ia punya banyak kenalan di dunia digital, termasuk beberapa peretas etis yang sering membantunya mengelola keamanan akun media sosialnya.

​"Dapet," gumam Revan.

​Ia menemukan jejak digital pengiriman foto editan tersebut. Alamat IP-nya berasal dari sebuah apartemen mewah di London—milik Elena—namun instruksi pengirimannya berasal dari sebuah akun anonim yang sering berkomunikasi dengan Julian di New York.

​Revan tidak mengirimkan bukti itu ke Arkan. Ia tahu Arkan sedang diawasi ketat oleh ayahnya. Revan justru mengirimkan bukti tersebut langsung ke Gibran di Jakarta.

​"Gib, lo sebarin ini ke grup alumni dan media partner di Jakarta. Biar publik tahu kalau 'skandal' Arkan itu hoax. Jangan lewat jalur Wijaya Group, biar Arkan nggak makin tertekan karena ngerasa berutang budi sama bokapnya," instruksi Revan lewat telepon.

​"Lo bener-bener malaikat pelindung mereka ya, Van?" tanya Gibran di seberang sana.

​Revan tersenyum pahit. "Gue cuma pengen mereka bahagia tanpa harus jadi pion orang tua mereka sendiri."

​Pertarungan di Ruang Dekanat

​Satu jam kemudian, Arkan dan Ziva duduk di dalam ruang dekanat yang kaku. Di sana sudah ada pengacara keluarga Wijaya, seorang pria paruh baya bernama Pak Baskoro yang terkenal dingin dan efisien.

​"Kami memiliki bukti forensik digital bahwa foto-foto tersebut telah dimanipulasi secara teknis," ucap Pak Baskoro sambil menyodorkan tablet ke arah dewan etik. "Dan mengenai tuduhan tekanan eksternal, klien kami, Saudara Arkan, melakukan audit independen sebagai bagian dari tugas magangnya di London. Jika pihak universitas membekukan beasiswa Nona Ziva tanpa bukti hukum yang sah, kami akan mengajukan gugatan pencemaran nama baik sebesar 50 juta dolar."

​Ziva menunduk, meremas jemarinya. Ia merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar harganya. Ia melihat Arkan; suaminya itu duduk tegak, kembali ke mode "Ketua OSIS" yang paling dingin.

​"Cukup," potong Ziva tiba-tiba, membuat semua orang di ruangan itu menoleh.

​"Ziva, biarkan Pak Baskoro bicara—" sela Arkan.

​"Nggak, Ar. Cukup." Ziva berdiri, menatap dewan etik dengan berani. "Saya tidak butuh pengacara mahal atau ancaman gugatan untuk membuktikan integritas saya. Saya punya rekaman wawancara asli dengan narasumber Julian sebelum Arkan melakukan audit. Saya punya catatan investigasi saya sendiri yang dilakukan jauh sebelum ada campur tangan keluarga Wijaya."

​Ziva meletakkan sebuah flashdisk kecil di meja dewan. "Di sini ada bukti bahwa saya sudah mencurigai Julian sejak bulan kedua saya di New York. Saya jurnalis, saya punya metode sendiri. Tolong periksa ini, dan ambil keputusan berdasarkan fakta jurnalistik saya, bukan berdasarkan gertakan uang suami saya."

​Arkan tertegun. Ia melihat sisi Ziva yang sangat kuat—sisi yang ia coba "lindungi" namun justru hampir ia matikan dengan dominasinya.

​Resolusi di Tengah Dinginnya Malam

​Keluar dari gedung dekanat, beasiswa Ziva dipulihkan setelah dewan memeriksa bukti mandiri dari Ziva. Namun, hubungan Arkan dan Ziva berada di titik nadir.

​Mereka berjalan di sepanjang Riverside Park. Angin sungai Hudson bertiup kencang, menerbangkan helai rambut Ziva.

​"Kamu marah karena aku mencoba bantu?" tanya Arkan pelan.

​"Gue marah karena lo nggak percaya kalau gue bisa nyelametin diri gue sendiri, Ar," jawab Ziva, menatap aliran sungai yang gelap. "Lo terlalu sibuk jadi pahlawan sampai lo lupa kalau istri lo ini bukan lagi cewek SMA yang perlu lo belain pas dipalak Clarissa. Gue jurnalis, Ar. Senjata gue adalah fakta, bukan kuasa."

​Arkan berhenti melangkah. Ia menunduk, menyadari bahwa ketakutannya kehilangan Ziva telah membuatnya bertindak seperti diktator kecil.

​"Maafin aku, Ziv. Aku... aku cuma takut kalau kamu hancur, aku nggak punya apa-apa lagi di dunia ini."

​Ziva berbalik, memegang pipi Arkan. "Gue nggak akan hancur secepat itu. Tapi gue bakal hancur kalau suami gue berubah jadi orang asing yang cuma bisa nyelesein masalah pake uang."

​Tiba-tiba, ponsel Arkan berbunyi. Pesan dari Gibran masuk, menyertakan bukti yang dikirim Revan. Arkan membacanya, lalu terdiam.

​"Ada apa?" tanya Ziva.

​"Revan," gumam Arkan. "Dia yang sebarin bukti kalau foto itu hoax di Indonesia tanpa bantuan Papa. Dia bersihin nama kita lewat jalur publik, bukan jalur hukum tertutup."

​Ziva tersenyum tipis. "Liat? Kadang bantuan yang kita butuhin itu dateng dari kejujuran teman, bukan dari kuasa."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!