"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu kayak Macan
“Serena…!” Cya melambaikan tangannya ke arah Serena begitu ia turun dari ojek online yang ditumpanginya.
Cya memang anak orang kaya, tapi ia tidak pernah malu naik ojek online.
Di sisi lain, Serena yang juga baru tiba di kampus ikut melambaikan tangan. “Cya…!”
Cya langsung berlari menghampiri sahabatnya itu. “Gue kangen!” serunya sambil memeluk Serena erat.
“Apaan sih? Baru juga beberapa hari enggak ketemu,” protes Serena, meski tetap membalas pelukan itu.
Cya cekikikan. Ia memang bercanda… tapi tidak sepenuhnya.
Begitu mereka melepas pelukan, Serena menatap Cya dari atas sampai bawah. “Cantik banget lo hari ini!”
Cya tersenyum lebar. “Harus dong… biar kakak tingkat naksir.”
Plak!
Serena mencipak pelan kepala Cya. “Baru masuk kuliah udah mikirin kakak tingkat. Fokus kuliah, bukan cinta-cintaan.”
Cya meringis, lalu memberi hormat bercanda. “Siap, Bu Negara!”
Serena mendengus. “Masuk yuk.”
Namun langkah Cya mendadak melambat. Ia meremas ujung roknya. “Kok gue jadi gugup, ya?”
“Sama, gue juga,” sahut Serena. “Vibes-nya beda banget sama SMA.”
Cya langsung menggandeng tangan Serena erat. “Pokoknya lo jangan pisah dari gue.”
Serena meliriknya geli. “Lo kayak anak ayam.”
“Udah, jangan banyak protes. Gue makin gugup.”
“Iya, iya…”
Namun belum jauh mereka melangkah, tatapan orang-orang mulai terasa.
Bisik-bisik terdengar jelas. “Wah, cantik banget tuh MABA…”
“Iya, bening banget…”
“Andai jadi cewek gue…”
Cya dan Serena saling pandang sekilas.
Tidak nyaman. Tapi mereka memilih tetap berjalan.
Hingga—di ujung lorong, seseorang tiba-tiba menabrak Cya.
Bruk!
Buku-buku yang dibawa laki-laki itu jatuh berserakan.
“Aduh, maaf!” ucap Cya refleks, langsung melepas tangan Serena.
Padahal jelas-jelas bukan dia yang salah.
Laki-laki itu berjongkok, memunguti bukunya.
Ia mendongak saat Cya masih berdiri canggung di depannya.
“Gapapa kok… malah gue yang salah. Harusnya gue yang minta maaf.”
Cya mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mengingat. “Kayak… kenal,” gumamnya pelan.
Laki-laki itu tersenyum tipis. “Memang kenal.”
Cya mengernyit. “Oh iya? Kamu siapa?”
Ia benar-benar tidak ingat.
Daripada memaksa, ia memilih bertanya.
“Gue Brian. Kita pernah ketemu di toko perhiasan.”
Cya langsung menepuk keningnya. “Oh! Iya, gue ingat!”
Brian tertawa kecil. “Gapapa. Orang jelek emang gampang dilupakan.”
“Kamu ganteng kok,” ceplos Cya polos.
Hening.
Sepersekian detik—lalu suasana berubah.
“Sialan…” Tanpa Cya sadari, seseorang mengumpat pelan dari kejauhan. Seseorang yang melihat semuanya. Seseorang yang… tidak suka.
Sementara itu, Brian justru tersenyum lebih lebar.
Dipuja oleh gadis yang sejak pertama dilihat sudah berhasil mencuri perhatiannya—jelas membuat hatinya berbunga-bunga.
“Gue gak nyangka lo kuliah di sini juga,” ucap Brian sambil tersenyum, mengalihkan salah tingkahnya.
“Gue maba di sini bareng temen gue.” Cya melirik ke samping. “Kenalin, ini sahabat gue, Serena.”
Brian langsung mengulurkan tangannya dengan ramah. “Gue Brian.”
Serena menyambut uluran tangan itu dengan senyum manis. “Gue Serena. Lo maba juga?”
Brian menggeleng. “Nggak. Gue udah semester tiga di sini.”
“Ohh…” Serena mengangguk-angguk. “Berarti kakak tingkat kita dong. Harusnya kita manggil kakak, ya.”
Brian terkekeh pelan. “Nggak usah. Panggil nama aja.”
Serena menyipitkan matanya, pura-pura berpikir. “Tapi kesannya nggak sopan, dong.”
“Santai aja,” jawab Brian ringan. “Gue juga gak terlalu suka dipanggil kakak.”
Cya yang dari tadi hanya memperhatikan akhirnya ikut tersenyum kecil.
Entah kenapa, suasana di antara mereka terasa cepat akrab.
Baru beberapa menit kenal—tapi Serena dan Brian sudah seperti teman lama yang nyambung satu sama lain.
“Kalian kayaknya cocok, deh,” ucap Cya sambil menangkup pipinya, membuat ekspresinya terlihat menggemaskan.
Brian dan Serena saling pandang.
Keduanya sama-sama mengernyit.
“Cocok… apa maksudnya?” tanya Brian bingung.
“Cocok anu…” Cya menggantung ucapannya.
Alih-alih melanjutkan, ia malah menyatukan kedua tangannya lalu menggerakkannya seperti orang berciuman.
Serena langsung membelalakkan mata.
Ya ampun… ini anak!
Dengan cepat, ia menurunkan tangan Cya. “Enggak usah diambil hati, Kak,” ucap Serena buru-buru, wajahnya sudah memerah. “Cya kadang-kadang emang… rada-rada.”
“Gapapa kok,” balas Brian santai, malah tersenyum. “Lagian gue tau kalau dia cuma bercanda.”
“Enggak kok, gue nggak ber—”
Belum sempat Cya menyelesaikan kalimatnya, Serena sudah membekap mulutnya. “Iya, dia emang cuma bercanda,” potong Serena cepat. “Kalau gitu kita pamit duluan ya, Kak.”
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Serena langsung menarik Cya menjauh.
“Iya, sampai ketemu lagi,” ucap Brian sambil melambaikan tangan.
***
Usai mengikuti kelas pertama, Cya dan Serena langsung ngacir ke kantin.
Begitu sampai—lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian.
“Eh, itu dua cewek yang tadi bikin Brian senyum, kan?” bisik seseorang.
“Iya, yang itu!”
“Gila, nggak nyangka sih… Brian yang dingin bisa jadi ramah begitu.”
Cya menyenggol lengan Serena pelan. “Lo denger nggak?”
“Iya, gue belum budek,” sahut Serena santai.
“Kok mereka ngomongnya gitu, ya?”
Serena mengangkat bahu. “Nggak tau. Mungkin dia terkenal… dan mungkin juga dia emang biasanya nggak ramah.”
“Padahal tadi ramah banget sama kita.”
“Iya sih… tapi kalau dari omongan mereka, kayaknya dia bukan tipe yang gampang deket sama orang.”
Akhirnya mereka memilih duduk di kursi paling pojok.
Harapannya biar nggak terlalu disorot.
Sayangnya—percuma. Tatapan orang-orang tetap saja mengarah ke mereka.
“Hai… gue boleh gabung gak?”
Sebuah suara lembut membuat mereka berdua mendongak bersamaan. Seorang gadis cantik berdiri di depan mereka.
“Boleh,” jawab Serena lebih dulu.
Gadis itu tersenyum manis, lalu duduk di samping Cya. “Gue Miska,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Cya langsung menyambutnya. “Cya.”
Begitu tangan mereka terlepas, Miska beralih ke Serena. “Kalau lo?”
“Serena.”
“Seneng banget bisa kenal kalian,” ucap Miska tulus.
Lalu tanpa basa-basi, ia menambahkan, “Kalian mau kan jadi sahabat gue?”
Cya dan Serena langsung saling pandang.
Cepat. Singkat. Tapi penuh arti.
“Please…” Miska langsung menyatukan kedua tangannya di depan dada, memasang puppy eyes. “Gue gak punya sahabat. Nggak ada yang tahan sama mulut cerewet gue.”
Serena melirik Cya. “Gimana?”
Cya mendekat sedikit, berbisik, “Kayaknya beneran nggak punya temen deh.”
Serena menahan tawa. “Oke deh,” akhirnya Serena mengangguk.
“Mulai sekarang lo sahabat kita.”
“SERIOUS?!” Miska langsung heboh.
Tanpa aba-aba, ia memeluk leher Cya erat-erat. “Gue seneng banget!”
“Eh—eh—” Cya langsung megap-megap. “Napas gue… woi…!”
Pelukan itu makin kencang.
Hingga tiba-tiba—“Lepasin Cya!"
Suara dingin dan tegas itu memotong suasana.
Seketika Miska langsung melepas pelukannya.
Cya langsung menarik napas dalam-dalam.
Tiga gadis itu menoleh bersamaan.
Dan—mereka membeku.
“Pak Rajendra…!” pekik Miska dengan mata berbinar, kedua tangannya menempel di pipi.
Namun Rajendra sama sekali tidak menatapnya.
Fokusnya hanya satu.
Cya.
Tanpa banyak bicara, Rajendra menarik tangan Cya hingga gadis itu berdiri. “Ikut aku.” Nada suaranya tidak bisa dibantah.
Cya bahkan tidak sempat protes.
Tangannya sudah digenggam kuat.
Dan tubuhnya dipaksa mengikuti langkah Rajendra.
Sementara Serena dan Miska hanya bisa saling pandang…bingung. Dan penasaran.
***
“Om ngapain bawa saya ke sini?” tanya Cya begitu mereka berada di dalam sebuah ruangan yang ia yakini milik dosen.
“Duduk!” titah Rajendra singkat, tanpa menjawab.
“Enggak mau. Nanti dosennya marah kalau saya duduk di ruangannya."
“Ini ruangan saya, Cya.”
Cya mengerjap. “Hah? Kirain Om kerjanya di kantor, bukan di kampus.”
“Kamu lupa, saya juga dosen.”
“Oh… iya ya,” gumam Cya pelan. “Mami pernah bilang…”
Rajendra berjalan ke mejanya, membuka laci, lalu mengambil sesuatu. Setelah itu ia kembali menghampiri Cya yang kini duduk di sofa kecil. “Pakai ini.”
Cya menatap benda yang diberikan. “Apa ini?”
“Celana panjang.”
Mata Cya langsung membulat. “Jadi… Om ngikutin saya ke kampus cuma buat nyuruh saya ganti baju?”
“Aku memang ada kelas hari ini. Sekalian.”
Cya menggeleng. “Enggak ah, saya gak mau ganti.”
Rajendra menatapnya tajam. “Kalau kamu gak mau ganti, aku yang akan gantikan.”
Cya justru berdiri, menantang. “Ya sudah, sini gantiin aja.”
Rajendra melangkah mendekat.
Jarak mereka menipis.
Tatapan mereka bertemu… dan terkunci.
Tanpa disadari—
Ganteng banget…
Cantik banget…
Keduanya sama-sama terdiam dalam pikirannya masing-masing.
“Aku kasih kamu kesempatan terakhir,” ucap Rajendra rendah. “Mau ganti sendiri, atau aku yang bantu?”
Cya tersenyum tipis, nakal. “Kayaknya… kalau dibantu lebih enak.”
Kalimat itu membuat napas Rajendra sedikit berubah. Namun ia tetap menahan diri. “Oke… kalau itu maunya kamu.”
Rajendra semakin mendekat, tangannya terangkat—membuat Cya refleks mundur satu langkah.
Matanya membesar.
Ia tidak menyangka Rajendra benar-benar akan melangkah sejauh itu. “Gila… seriusan? Dia beneran buka rok gue” batin Cya.
Rajendra menyeringai tipis, menatapnya dalam. “Masih mau nantang?”
Pipi Cya memerah.
Baru kali ini ia benar-benar merasa—Rajendra bukan seseorang yang bisa ia anggap enteng.
Jujur saja, Cya merasa sedikit malu, meski di balik roknya masih ada hotpants yang menutupi pahanya.
“Cepat pakai celananya, Cya.”
“Iya, iya… ini juga mau dipakai,” sungutnya.
Daripada benar-benar dipakaikan oleh Rajendra, lebih baik ia mengalah.
Tanpa membuang waktu, Cya langsung membawa paper bag itu ke kamar mandi.
Sementara itu Rajendra menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Sabar, Jendra…” gumamnya pelan. “Menghadapi gadis polos tapi keras kepala kayak dia memang butuh ekstra sabar.”
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.
Cya keluar dengan celana panjang yang sudah terpasang rapi, sementara hotpants-nya ia pegang di tangan.
Rajendra mendongak.
Tatapannya langsung menilai dari atas sampai bawah. “Itu lebih baik,” ucapnya singkat. “Lebih sopan.”
Cya mengerucutkan bibir, lalu berjongkok mengambil rok yang tadi sempat dilepas. “Sekarang Om udah gak punya urusan lagi, kan?” tanyanya. “Saya mau balik ke kantin.”
“Enggak usah.”
Cya mengernyit. “Kenapa?”
“Di sana banyak laki-laki hidung belang.”
Cya makin bingung. “Hidung belang? Kayak singa?”
Rajendra menahan napas. “Lebih berbahaya dari itu. Makanya kamu harus pinter-pinter jaga diri di kampus ini. Kamu jangan berteman dengan sembarangan cowok."
"Tapi saya jadi penasaran gimana muka laki-laki berhidung belang itu." Alih-alih takut seperti harapan Rajendra, Cya justru merasa penasaran.
"Ya ampun," Rajendra memijat pelipisnya.
"Om, kenalin saya dong sama salah satu laki-laki hidung belang yang ada di kampus ini." Cya mendekati Rajendra lalu menggoyangkan lengan Rajendra.
"Salah satunya adalah laki-laki yang tadi kamu bilang ganteng" ucap Rajendra. Rahang laki-laki itu mengeras begitu ia membahas hal tersebut.
"Siapa?" Cya tidak merasa dirinya pernah mengatakan seseorang ganteng.
"Kamu lupa? Tadi kamu sempat bilang loh kalau Brian ganteng." Seketika Cya langsung teringat kejadian saat Brian menabraknya.
"Om tau dari mana?"
"Enggak penting aku tau dari mana, yang penting itu kamu harus menjaga jarak dari cowok itu." "Kenapa saya harus menjaga jarak dengan dia? Dia kan orangnya baik."
"Sudah aku bilang barusan kalau dia itu adalah laki-laki hidung belang, Cya. Saya tidak mau kamu dipermainkan oleh dia."
"Tapi tadi hidungnya mulus-mulus aja kok mancung lagi."
"Pokoknya kamu harus menjauhi dia."
“Om jangan maksa. Saya gak mau jauhin orang tanpa alasan.”
Rajendra menghela napas berat. “Dasar pembangkang.”
Cya manyun. “Dari awal juga Om tau, kan? Kenapa masih dinikahi?"
Rajendra menatapnya lama..“Mungkin… karena kita berjodoh.”
Cya terdiam sesaat.
Tapi sebelum ia sempat membalas, Rajendra sudah berdiri dan mengambil sesuatu dari meja.
Ia kembali, lalu meletakkan satu kotak makanan di depan Cya. “Makan ini.”
“Saya mau makan di kantin sama teman saya, Om.”
“Enggak usah.”
“Tapi—”
“Enggak ada tapi.” Nada suara Rajendra berubah lebih tegas. Kalimat berikutnya membuat Cya langsung diam. “Kalau kamu gak nurut… aku akan umumkan ke semua orang kalau kamu istri aku.”
Mata Cya langsung membesar. “Jangan, Om!”
Ia benar-benar tidak mau hubungan mereka jadi bahan pembicaraan di kampus.
Rajendra menatapnya tenang. “Ya sudah. Makan.”
Cya mendengus pelan, tapi akhirnya duduk.
Dengan wajah kesal—ia membuka kotak makan itu.
Dan tanpa sadar…sudut bibir Rajendra sedikit terangkat melihatnya menurut.
***
Saat Cya baru saja tiba di rumah, tiba-tiba kakinya terpeleset.
“Ahh—!” Tubuhnya jatuh tepat di depan pintu. “Aduh… sakit banget…” ringisnya sambil meringis menahan nyeri di bagian pinggang dan bokongnya.
“Cya, kamu kenapa?” Bu Riska buru-buru menghampiri dengan wajah panik.
Namun Cya hanya menatapnya curiga.
“Kamu bisa berdiri nggak?” tanya Bu Riska lagi, seolah benar-benar khawatir.
Cya malah menyipitkan mata. “Nggak usah sok baik deh. Pasti nyonya yang sengaja nyiram air di sini biar saya jatuh.”
“Ya ampun, Cya…” Bu Riska menghela napas, tampak tersinggung. “Saya ini mau nolong kamu, tapi kamu malah nuduh saya?”
Cya masih menatap tajam, jelas tidak percaya.
Namun—tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar.
“Ada apa ini?” Rajendra muncul.
Cya langsung paham. Pantas aja tiba-tiba jadi baik…
“Ini, Cya jatuh,” ujar Bu Riska dengan nada lembut. “Dan dia malah menuduh mama yang bikin dia jatuh. Padahal mama mau nolong dia.”
Cya mendengus. “Kalau bukan nyonya, siapa lagi? Di rumah ini cuma ada kalian berdua. Masa airnya jalan sendiri?”
Rajendra menatap Cya sejenak, lalu berkata lebih tenang, “Mungkin saja memang bukan mama, Cya.”
Ia sebenarnya sempat melihat dari kejauhan—Bu Riska terlihat baru mendekat saat Cya jatuh.
“Terus menurut Om siapa? Airnya muncul sendiri gitu?” balas Cya kesal.
“Hal kecil kayak gini nggak usah dibesar-besarkan,” ucap Rajendra. “Yang penting kamu nggak apa-apa.”
Cya langsung menatapnya tidak percaya.
Dibilang nggak apa-apa?
Padahal dari tadi ia masih meringis menahan sakit.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Cya menggerakkan bibirnya mengejek—tanpa suara.
Lalu dengan susah payah, ia bangkit.
Meski tubuhnya masih nyeri, ia tetap berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.
Rajendra memperhatikan kepergiannya sebentar, lalu beralih ke Bu Riska. “Ma, aku minta maaf atas sikap Cya.”
Bu Riska mengelus dadanya, memasang wajah sedih. “Istri kamu memang gak suka sama mama. Jadi wajar kalau dia nuduh mama seperti itu.”
“Enggak kok, Ma… mungkin dia belum bisa menerima mama saja.”
“Seharusnya mama yang gak bisa menerima dia,” balas Bu Riska pelan, “bukan dia yang gak bisa menerima mama.”
Rajendra menghela napas berat.
Rasanya… rumah ini tidak pernah benar-benar tenang.
“Mungkin… mama lebih baik pulang saja,” lanjut Bu Riska lirih.
“Jangan, Ma,” cepat Rajendra menahan. “Mama bisa tinggal di sini selama mama mau.”
“Tapi istri kamu?”
“Mama nggak usah pikirin Cya. Aku yang akan nasihati dia.”
Di balik wajah sendunya—Bu Riska tersenyum tipis.
Keinginannya untuk tetap tinggal di rumah itu… berhasil.
Bagus… Pelan-pelan saja. Saya akan buat kalian berdua berpisah.
***
“Masakan kamu enak sekali, Jendra,” puji Bu Riska saat mereka semua berkumpul di meja makan.
“Terima kasih, Ma,” jawab Rajendra singkat.
“Jendra ini memang laki-laki idaman,” sambung Pak Sammy. “Kaya, ganteng, jago masak lagi.”
Rajendra hanya mengangguk tipis.
Wajahnya tetap datar.
“Papa bisa saja,” balasnya.
“Memang betul,” timpal Bu Riska sambil melirik ke arah Cya. “Pantas dulu anak kita tergila-gila sama kamu… dan kamu juga sama dia.”
Cya yang duduk di samping Rajendra langsung terdiam.
Dadanya terasa sesak.
“Tidak begitu juga, Ma,” ucap Rajendra pelan.
“Ah, kamu ini,” lanjut Bu Riska. “Mama sama Papa tau kok… kalian saling mencintai.”
“Hm… iya, Ma,” jawab Rajendra akhirnya.
Seketika—ceklek!
Sendok dan garpu Cya jatuh agak keras ke piring.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Nafsu makannya hilang seketika.
“Cya, kamu kenapa?” tanya Rajendra.
Namun Cya tidak menjawab.
Ia hanya mengambil gelas, meneguk air putih, lalu berdiri.
Tanpa sepatah kata—ia pergi meninggalkan meja makan.
“Ya ampun, nggak sopan banget,” gumam Bu Riska. “Ditanya suami malah pergi.”
“Gapapa, Ma. Mungkin dia sudah kenyang,” bela Rajendra.
Bu Riska langsung menggerutu dalam hati.
Pak Sammy ikut menimpali, “Sesekali kamu harus tegas sama dia, Jendra.”
“Iya, Pa… tapi orang tuanya bilang dia gak suka dikerasi.”
“Tegas itu beda dengan keras.”
Rajendra mengangguk pelan. “Aku akan coba.”
Di dalam kamar—Cya benar-benar meluapkan emosinya.
“Awas ya kalian bertiga…” geramnya sambil berjalan mondar-mandir. “Bahas Aurel di depan gue lagi…”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia sendiri tidak mengerti—kenapa hatinya terasa sakit seperti ini. “Kenapa juga gue harus iri…” gumamnya pelan. “Sadar, Cya… lo itu gak ada artinya buat dia.”
Bukti nyatanya jelas—Rajendra selalu membela orang lain, bukan dirinya.
“Ih, kesel banget!” Cya langsung melempar bantal satu per satu ke lantai.
Bruk! Bruk!
“Awas ya, Om… saya bakal bikin Om nyesel.” Tangannya mengepal.
Beberapa saat kemudian, setelah emosinya sedikit reda—
pintu kamar terbuka.
Rajendra masuk.
Dan langsung terpaku. “Ya ampun… ini kamar kenapa jadi kayak kapal pecah?”
Cya yang sedang fokus pada ponselnya hanya melirik sekilas.
Diam.
“Saya lagi ngomong sama kamu.”
Tetap diam.
Rajendra mendekat, lalu merebut ponsel dari tangan Cya.
“Balikin HP saya, Om!”
“Kalau suami ngomong itu dijawab, jangan dicuekin,” tegurnya.
Ia mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi.
Cya manyun.
Sekarang baru ingat jadi suami… batinnya kesal.
“Kamu habis ngapain?” tanya Rajendra..“Kenapa kamar berantakan begini?”
“Nggak ngapa-ngapain.”
Rajendra menghela napas. “Kalau nggak ngapa-ngapain, bantal itu nggak mungkin jatuh sendiri.”
“Habis saya lempar.”
“Kenapa?”
Cya mengangkat bahu. “Kesel aja.”
“Sama bantal?”
“Iya. Pengen saya injak-injak.”
Rajendra mengernyit. “Aneh.”
Alih-alih merasa bersalah—ia justru menganggap Cya aneh.
“Om jangan banyak ngomong deh kalau gak mau saya injak juga,” balas Cya ketus.
Namun ekspresinya—bukannya menyeramkan—justru terlihat menggemaskan.
Tanpa sadar, tangan Rajendra terangkat.
Ia mencubit pipi Cya pelan.
“Ih, Om! Aku bukan boneka!” protes Cya sambil menepis tangannya.
“Saya juga gak bilang kamu boneka.”
“Terus apa?”
Rajendra tersenyum tipis. “Kamu kayak macan lagi ngamuk.”
Mendengar itu—mata Cya langsung membulat. “Ya udah! Saya memang macan!”
Ia mendekat, menggertakkan gigi pura-pura galak.
Rajendra malah tertawa. “Hahaha…”
Namun, tanpa diduga—Cya langsung menggigit lengannya.
“Auh!” Tawa Rajendra berubah jadi pekikan.
“Rasakan!”
“Ya ampun, Cya! Kamu ngapain gigit aku?”
Rajendra mengusap lengannya yang kini memerah, bekas gigitan terlihat jelas.
“Katanya aku macan. Macan kan suka gigit,” balas Cya puas.
Rajendra menggeleng sambil meringis. “Kalau tau gitu… aku bilang aja kamu kayak kelinci.”
Cya mengernyit. “Kenapa kelinci?”
Rajendra menatapnya dengan senyum tipis—yang entah kenapa terasa berbeda. "Karena kerinci itu suka dioles-oles dan gampang diatur."
apa Bela itu sebenarnya Aurel