NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Penebusan di Atas Luka Lama

Hujan turun menderu-deru di luar jendela, seolah-olah langit ikut merasakan sesak yang menghimpit dada Aisyah. Di dalam kamar yang luas namun terasa seperti sel isolasi itu, Aisyah bersujud di atas sajadahnya. Bukan untuk berdoa seperti biasanya, melainkan untuk menumpahkan tangis yang tak kunjung usai.

Setiap inci ruangan ini—marmer yang mahal, tempat tidur yang empuk, bahkan musala yang disiapkan dengan penuh perhatian—kini terasa seperti penghinaan. Bagaimana mungkin ia bisa merasa aman di rumah putra dari pria yang menghancurkan hidup ayahnya? Bagaimana mungkin ia mulai merasa simpati pada pria yang darahnya mengalir dari seorang pengkhianat?

Tiga hari telah berlalu sejak rahasia kelam itu meledak di ruang makan. Selama itu pula, Aisyah mengurung diri. Ia menolak menyentuh makanan yang diantar Bi Inah. Ia tidak lagi datang ke kamar Arkan untuk memeriksa lukanya. Ia memutus semua komunikasi, bahkan dengan kakaknya, Hamdan, yang ia anggap telah membohonginya selama puluhan tahun.

Di sisi lain mansion, kondisi Arkan Xavier kian memburuk. Bukan hanya karena luka fisiknya yang belum sembuh total, tapi karena jiwanya yang hancur. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap monitor CCTV yang menunjukkan pintu kamar Aisyah yang tertutup rapat.

"Tuan, Anda harus makan. Demam Anda naik lagi," ucap Leo dengan nada khawatir yang jarang ia tunjukkan.

Arkan tidak bergeming. Matanya cekung, rambutnya berantakan. "Bagaimana aku bisa makan, Leo, saat wanita yang menyelamatkan nyawaku merasa jijik hanya dengan mendengar namaku?"

Arkan memutar-mutar sebuah kalung tasbih kayu yang ia beli secara sembunyi-sembunyi lewat anak buahnya. Ia ingin memberikannya pada Aisyah sebagai tanda permintaan maaf, namun ia sadar, tasbih tidak akan cukup untuk menghapus dosa ayahnya.

"Leo," suara Arkan tiba-tiba menjadi dingin dan penuh tekad. "Pindahkan seluruh aset perusahaan Xavier Logistics yang dulu disita dari Rahman Malik atas nama Aisyah dan Hamdan. Kembalikan setiap rupiahnya, lengkap dengan bunganya selama dua puluh tahun. Lakukan sekarang."

"Tuan, itu hampir separuh dari kekayaan bersih Anda di jalur legal. Dewan direksi akan mengamuk," protes Leo.

"Aku tidak peduli! Aku ingin dia tahu bahwa aku bukan ayahku. Aku tidak butuh uang yang dicuri dari air mata seorang anak yatim!" bentak Arkan.

Tiba-tiba, interkom di meja Arkan berbunyi. Kali ini bukan suara Luciano, melainkan laporan dari intelijen lapangan.

"Tuan! Panti Asuhan Kasih Bunda di pinggiran kota... mereka diserang. Anak buah Luciano membakar gudang makanan mereka dan menyandera ibu panti. Mereka meninggalkan pesan: 'Bawa dokter bercadar itu ke sini, atau panti ini rata dengan tanah'.

Mendengar itu, Arkan bangkit dengan kasar hingga kursinya terjungkal. Luka di bahunya berdenyut hebat, namun ia tidak peduli. Ia menyambar jaketnya dan pistol dari laci.

"Jangan beritahu Aisyah," perintah Arkan pada Leo. "Aku akan menyelesaikannya sendiri."

Namun, Arkan tidak tahu bahwa Aisyah telah memasang interkom di kamarnya untuk memantau keadaan luar karena rasa cemasnya.

Aisyah mendengar semuanya. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu kamarnya dan berlari menuju lorong, berpapasan tepat dengan Arkan yang hendak menuju lift.

"Jangan pergi sendiri!" teriak Aisyah. Wajahnya pucat, matanya sembab, namun ada api keberanian di sana.

Arkan berhenti, menatap Aisyah dengan rasa bersalah yang teramat dalam. "Aisyah... masuk ke dalam. Ini urusanku. Aku akan membawa mereka kembali dengan selamat."

"Panti itu adalah hidup saya, Tuan Arkan! Anak-anak itu tidak tahu apa-apa tentang dosa ayah Anda atau dosa Luciano!" Aisyah mendekat, napasnya memburu. "Jika Anda pergi untuk menebus dosa, maka biarkan saya ikut untuk memastikan tidak ada lagi nyawa yang hilang."

Arkan terdiam. Ia melihat tekad yang luar biasa di mata Aisyah. Ia tahu, ia tidak akan bisa menghentikan wanita ini. "Leo, siapkan tim Alpha. Kita berangkat sekarang. Dan pastikan Nona Aisyah memakai rompi antipeluru di balik gamisnya."

Perjalanan menuju panti asuhan terasa sangat panjang. Di dalam mobil, keheningan mencekam menyelimuti mereka. Arkan terus menggenggam senjatanya, sementara Aisyah tak henti-hentinya menggerakkan jemarinya di atas tas medisnya, merapalkan doa-doa pelindung.

Saat mereka tiba, api sudah melalap bagian gudang panti. Suara tangis anak-anak terdengar memilukan dari dalam gedung utama. Beberapa pria berseragam hitam dengan lambang kalajengking berjaga di depan pintu.

"Turunkan senjata kalian!" teriak Arkan saat ia melangkah keluar dari mobil, sendirian, membiarkan dirinya menjadi sasaran empuk untuk memancing perhatian.

Luciano muncul dari balik bayang-bayang gedung. Ia mengenakan setelan putih yang tampak kontras dengan kegelapan malam. Di tangannya, ia memegang sebuah pemantik api, memainkannya dengan santai.

"Ah, sang pahlawan sudah datang," ejek Luciano. "Bersama malaikat kecilnya. Romantis sekali, Arkan. Menyelamatkan panti asuhan yang dulu dihancurkan oleh ayahmu sendiri. Apakah ini yang kau sebut pertobatan?"

"Lepaskan mereka, Luciano. Urusanmu denganku, bukan dengan anak-anak yatim ini!" suara Arkan menggelegar.

"Aku akan melepaskan mereka," Luciano tersenyum licik. "Tapi dengan satu syarat. Biarkan wanita itu memilih. Ikut denganku dan aku akan memadamkan api ini, atau tetap bersamamu dan saksikan panti ini menjadi kuburan massal."

Aisyah hendak melangkah maju, namun tangan Arkan menahannya dengan kuat. "Jangan berani-berani," bisik Arkan.

"Tapi mereka akan mati, Tuan Arkan!" isak Aisyah.

Arkan menatap Aisyah, lalu ia menoleh kembali pada Luciano. Arkan menjatuhkan senjatanya ke aspal. Ia berlutut di depan Luciano, sebuah tindakan yang menghancurkan seluruh harga diri seorang raja mafia.

"Ambil nyawaku," ucap Arkan tenang. "Ambil seluruh aset Xavier yang tersisa. Tapi biarkan wanita ini dan anak-anak itu pergi. Aku menyerah, Luciano. Kau menang."

Luciano tertawa terbahak-bahak. "Seorang Xavier berlutut? Ini adalah pemandangan terindah tahun ini!"

Namun, Luciano meremehkan satu hal: kesetiaan anak buah Arkan dan kecerdasan strategi Aisyah. Saat Luciano sedang menikmati kemenangannya, Aisyah secara diam-diam melemparkan sebuah botol kecil berisi gas air mata medis yang ia modifikasi dari tasnya ke arah kerumunan sandera.

BOOM!

Asap putih pekat memenuhi area tersebut. Tim Alpha pimpinan Leo bergerak dengan kecepatan kilat, melumpuhkan para penjaga dalam hitungan detik. Arkan, meski terluka, segera menyambar senjatanya kembali dan melepaskan tembakan ke arah kaki Luciano sebelum pria itu sempat menekan pemicu bom di tangannya.

"Aisyah! Amankan anak-anak!" teriak Arkan.

Aisyah berlari menembus asap. Ia tidak peduli pada peluru yang berdesing di sekitarnya. Ia masuk ke dalam panti yang mulai terbakar, menggendong satu per satu anak kecil ke tempat yang aman. Napasnya sesak oleh asap, namun ia terus bergerak.

Di luar, Arkan berduel satu lawan satu dengan Luciano di tengah hujan yang kembali turun. Itu bukan lagi soal bisnis, tapi soal kehormatan. Arkan berhasil memojokkan Luciano di dinding panti yang terbakar.

"Ayahku mungkin seorang bajingan," desis Arkan sambil menekan moncong senjatanya ke dagu Luciano. "Tapi aku tidak akan membiarkan bajingan sepertimu menyentuh cahaya yang sudah menyucikan hidupku."

Arkan tidak membunuh Luciano. Ia menghantam kepala pria itu hingga pingsan. "Bawa dia ke polisi. Serahkan semua bukti korupsi ayahnya yang selama ini kita simpan. Aku ingin dia membusuk di penjara, bukan mati sebagai martir."

Dua jam kemudian, api berhasil dipadamkan. Anak-anak panti aman, meskipun beberapa harus mendapatkan perawatan karena menghirup asap. Aisyah duduk di kursi taman panti yang basah, membantu memberikan oksigen pada seorang anak kecil.

Arkan mendekat dengan langkah tertatih. Bajunya compang-camping, darah mengalir dari dahi dan bahunya. Ia berdiri di depan Aisyah, menunduk penuh penyesalan.

"Aset ayahmu sudah kukembalikan seluruhnya atas nama Hamdan," ucap Arkan lirih. "Jet pribadiku sudah siap di bandara. Kau dan kakakmu bisa pergi ke mana pun malam ini. Aku tidak akan mengejarmu lagi. Aku sadar... mencintaimu berarti membebaskanmu dari bayang-bayang keluargaku."

Aisyah mendongak. Ia melihat Arkan yang hancur, namun di matanya ada ketenangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Rasa benci itu masih ada, namun tertutup oleh rasa kagum atas pengorbanan Arkan malam ini.

Aisyah berdiri, ia melepaskan sarung tangan medisnya yang kotor. Secara mengejutkan, ia tidak berjalan menjauh. Ia justru mendekat dan memperbaiki letak perban di dahi Arkan yang miring.

"Tuan Arkan," suara Aisyah lembut namun tegas. "Ayah Anda mungkin berhutang pada Ayah saya. Tapi malam ini, Anda sudah membayar hutang itu dengan nyawa Anda sendiri."

"Jadi... kau memaafkanku?" tanya Arkan dengan harapan yang rapuh.

Aisyah menatap langit malam yang mulai cerah. "Memaafkan adalah proses yang panjang, Tuan Arkan. Tapi saya tidak akan pergi malam ini. Saya akan tetap di sini sampai semua anak panti ini benar-benar pulih. Dan setelah itu... mungkin kita bisa bicara tentang bagaimana Anda bisa belajar mengaji dengan benar, bukan hanya menguping dari balik pintu."

Arkan tertegun. Sebuah senyuman kecil namun tulus muncul di wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa benar-benar bebas—bukan dari hukum, tapi dari beban dosa masa lalunya.

Di kejauhan, Hamdan melihat mereka berdua. Ia mendesah panjang, menyimpan foto ayahnya ke dalam saku. Ia menyadari satu hal: terkadang, takdir mempertemukan dua orang bukan untuk saling menghancurkan, tapi untuk saling menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!