Di dunia di mana energi gaib dan iblis berkeliaran, Nam Ling adalah pemburu iblis yang telah hidup lebih dari seratus tahun berkat kekuatan pedang abadi yang menyatu dengan dirinya. Dulu seorang prajurit kerajaan yang terhormat, dia kehilangan segalanya ketika iblis membanjiri daratan dan membunuh orang tersayangnya.
Setelah menghabiskan abad untuk memburu makhluk kegelapan, Nam Ling tiba di Desa Hua—tempat yang dikabarkan menjadi sarang energi jahat baru yang lebih kuat dari iblis biasa. Di sana, dia bertemu dengan Yue Xin, seorang gadis muda yang memiliki kemampuan melihat jalur energi gaib dan menyimpan rahasia besar tentang asal-usul kekuatan pedang Nam Ling.
Saat makhluk kegelapan yang lebih kuat mulai muncul dan mengancam keselamatan seluruh daratan, Nam Ling harus memilih antara melanjutkan dendam pribadi atau bekerja sama dengan Yue Xin dan penduduk desa untuk menghentikan bahaya yang akan menghancurkan dunia. Di balik pertempuran yang tak berkesudahan, tersembunyi rahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keiro_ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 – RAHASIA DAN UJIAN DI SEKTE VALERIUS
Matahari pagi baru saja menembus celah-celah atap bangunan batu kuno milik Sekte Valerius ketika Nam Ling membuka matanya. Udara di ruang tamunya terasa berat namun menenangkan, penuh dengan energi bumi yang kental dan stabil – sangat berbeda dengan energi yang ia kenal di sekte asalnya. Semalam, ia hanya sempat berkenalan singkat, namun hari ini adalah hari di mana ia benar-benar akan menyelami kedalaman pengetahuan yang dijaga ketat oleh sekte ini selama berabad-abad.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang lebih rapi, Nam Ling berjalan menuju aula utama. Di sana, Pemimpin Sekte Valerius, yang dikenal sebagai Tetua Orion, sudah menunggu bersama dengan beberapa pengajar utama. Tetua Orion duduk dengan sikap tenang, janggut putih panjangnya terurai hingga ke dada, dan matanya tampak seolah menyimpan sejarah ribuan tahun. Di sampingnya berdiri seorang wanita muda bernama Elara, murid terbaik sekte yang dikenal memiliki kepekaan energi tertinggi dalam satu abad terakhir.
“Selamat pagi, Nam Ling,” sapa Tetua Orion dengan suara yang terdengar seperti gemuruh tanah yang tenang. “Kamu bilang kamu datang untuk belajar, tapi belajar di sini bukan hanya soal mendengarkan atau menyalin mantra. Di Sekte Valerius, kita percaya bahwa kekuatan sejati hanya bisa didapatkan jika tubuh dan jiwa kamu siap menerimanya. Sebelum kami membukakan semua rahasia, kamu harus melewati beberapa ujian.”
Nam Ling mengangguk dengan sungguh-sungguh. “Aku siap menghadapi apa pun, Tetua. Aku datang bukan untuk pamer kekuatan, tapi untuk mencari cara agar bisa melindungi apa yang menjadi tanggung jawabku dengan lebih baik.”
“Bagus,” ucap Elara yang tiba-tiba berbicara. Suaranya tajam namun jelas. “Ikut aku. Ujian pertamamu ada di Ruang Keseimbangan.”
Nam Ling mengikuti Elara menyusuri lorong-lorong panjang yang diukir dengan gambar-gambar alam: gunung yang menjulang, sungai yang mengalir, dan angin yang berputar. Semakin jauh mereka berjalan, semakin terasa bahwa bangunan ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah alat raksasa untuk mengalirkan energi bumi itu sendiri. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan bundar tanpa atap, di mana tanah di tengahnya tampak berbeda warnanya – berwarna abu-abu perak yang berkilau lembut.
“Di ruang ini, energi tidak bisa dipaksa atau dikuasai,” jelaskan Elara sambil berdiri di pinggir ruangan. “Kamu harus masuk ke tengah dan mencoba berkomunikasi dengan tanah di bawah kakimu. Jika kamu mencoba mengambil paksa atau menggunakannya untuk kekerasan, tanah ini akan menolakmu dan kamu akan terlempar keluar. Tugasmu sederhana: buatlah energi di sini merespons dan menyala sesuai keinginanmu, tapi dengan cara kita.”
Nam Ling melangkah masuk ke tengah. Saat kakinya menyentuh tanah perak itu, ia langsung merasakan getaran yang luar biasa. Energi di sana besar sekali, seperti jantung dunia yang berdetak. Secara naluri, tangan kanannya meraba gagang Pedang Abadi, hampir saja ia mengeluarkan cahaya merah untuk menarik energi itu, tapi ia teringat kata-kata Tetua Orion dan juga pengajaran Master Liya: Energi bukan untuk dikuasai, tapi untuk bersatu.
Ia menarik napas panjang, menenangkan pikirannya, dan melepaskan genggamannya dari pedang. Ia tidak mencoba menarik energi, melainkan mencoba merasakan alirannya. Ia membayangkan dirinya sendiri sebagai bagian dari tanah itu, seperti akar pohon yang menembus dalam ke perut bumi. Perlahan-lahan, ia mulai memahami ritme yang ada. Tanah di bawah kakinya mulai bergetar lembut, dan perlahan cahaya kebiruan pucat mulai menyebar dari titik di mana ia berdiri, menyelimuti seluruh ruangan dengan cahaya yang lembut namun kokoh.
Elara yang melihatnya sedikit terkejut. Jarang ada orang dari luar yang bisa beradaptasi secepat ini. “Kamu berhasil,” ucapnya dengan nada yang sedikit lebih lunak. “Kamu paham konsep dasarnya. Tapi ini baru permulaan.”
Siang harinya, pelajaran berlanjut ke teknik bertarung. Namun cara bertarung di Sekte Valerius sangat berbeda dengan apa yang biasa dilakukan Nam Ling. Di sana, tidak ada gerakan yang berlebihan atau serangan yang bertujuan menghancurkan. Semua gerakan berputar dan mengalir, memanfaatkan kekuatan lawan untuk melawan dirinya sendiri.
“Lihat ini,” ucap Elara saat mereka berada di lapangan latihan. Ia mengambil sebuah tongkat kayu dan memberi isyarat pada Nam Ling untuk menyerangnya dengan pedang.
Nam Ling melangkah maju, mengayunkan Pedang Abadi dengan kecepatan tinggi. Namun begitu pedang hampir menyentuh tubuh Elara, wanita itu hanya bergerak sedikit ke samping dengan gerakan sehalus air yang mengalir, dan menyentuh sisi tubuh Nam Ling dengan ujung tongkatnya. Dalam sekejap, Nam Ling merasakan keseimbangannya hilang dan ia hampir terjatuh, seolah kekuatannya sendiri yang mendorongnya.
“Kekuatan itu seperti sungai besar,” jelaskan Elara sambil membantu Nam Ling bangkit. “Jika kamu mencoba membendungnya dengan tembok, ia akan meluap dan menghancurkan segalanya. Tapi jika kamu membuat saluran yang tepat, kamu bisa mengarahkannya ke mana pun kamu mau. Dalam bertarung, kita tidak memukul kekuatan dengan kekuatan. Kita menuntunnya.”
Selama berhari-hari, Nam Ling berlatih keras. Ia belajar cara mengubah serangan yang mematikan menjadi gerakan pengalihan, cara membaca pergerakan udara untuk mengetahui langkah lawan sebelum mereka bergerak, dan cara menyimpan energi di dalam tulang dan otot agar bisa dikeluarkan dalam sekejap saat dibutuhkan. Tubuhnya yang dulu terbiasa dengan ledakan kekuatan kini mulai belajar arti ketahanan dan efisiensi. Setiap kali ia lelah dan duduk beristirahat, ia melihat anggota sekte lain yang juga berlatih dengan disiplin tinggi, dan ia menyadari bahwa kedamaian yang mereka miliki bukanlah hadiah, melainkan hasil dari kerja keras dan pengendalian diri yang luar biasa.
Namun, ketenangan latihan itu terganggu pada malam hari kelima. Saat Nam Ling sedang duduk di teras bangunan tinggi merenungi apa yang ia pelajari, ia melihat sekelompok orang berpakaian gelap menyelinap masuk dari sisi barat markas, tempat tebing curam biasanya dianggap tidak bisa dilewati. Energi yang mereka bawa sangat familiar – bau hangus dan dingin yang sama dengan energi milik pengikut Raja Iblis yang pernah ia hadapi di arena.
“Mereka ada di sini juga…” bisik Nam Ling dengan kening berkerut. Ia segera menyusul dengan gerakan senyap, memanfaatkan teknik menyatu dengan lingkungan yang baru saja ia pelajari.
Dari balik bayangan batu besar, Nam Ling mendengar percakapan mereka. Ternyata, pemimpin kelompok penyusup itu adalah orang yang pernah ia temui sebelumnya – seorang komandan pasukan iblis yang lolos saat pertempuran di markasnya dulu.
“Sekte Valerius ini menyimpan Peta Sumber Energi,” ucap komandan itu dengan suara serak. “Raja Iblis membutuhkannya untuk menemukan semua titik lemah di seluruh wilayah dan menghancurkan segel-segel kuno sekaligus. Cari dan ambil, lalu kita bunuh semua orang di sini agar tidak ada yang bisa melapor.”
Nam Ling mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa membiarkan mereka mengambil apa yang dijaga sekte ini, dan ia juga tidak bisa membiarkan pertumpahan darah terjadi di tempat yang baru saja ia anggap sebagai guru baginya. Namun jumlah musuh ada sepuluh orang, dan mereka semua terlihat kuat. Jika ia menyerang secara terang-terangan, ia mungkin bisa kewalahan, apalagi ia masih ingin mempraktikkan apa yang baru saja ia pelajari dari Elara dan Tetua Orion.
Ia menarik napas dalam, menenangkan detak jantungnya, dan membiarkan dirinya menyatu dengan energi batu di sekitarnya. Ia tidak mengeluarkan cahaya merah yang menyilaukan dari Pedang Abadi seperti biasanya. Sebaliknya, ia membiarkan pedang itu tetap dalam sarungnya atau hanya dikeluarkan sedikit, menggunakan ujungnya sebagai penuntun energi.
Saat salah satu pengawal berjalan melewati tempat persembunyiannya, Nam Ling tidak memukul keras. Ia hanya menyentuh bahu musuh dengan sisi tumpul pedang dan mengarahkan sedikit energi bumi yang ia serap tadi. Musuh itu seolah tersandung oleh tanah yang bergerak sendiri, jatuh pingsan tanpa suara sebelum sempat berteriak. Satu per satu, Nam Ling menangani mereka dengan cara yang sama – menuntun gerakan mereka agar melawan diri sendiri, mengalihkan serangan mereka ke dinding batu, dan menggunakan berat tubuh mereka sendiri untuk menjatuhkan mereka.
Namun, komandan utama itu lebih waspada. Ia menyadari kehadiran Nam Ling saat teman-temannya mulai jatuh. “Kau! Pemburu iblis itu!” teriaknya, mengangkat senjata berupa cambuk yang terbuat dari tulang dan api hitam. “Kenapa kau selalu ada di mana-mana?”
“Karena kalian selalu berbuat salah di tempat yang tidak seharusnya,” jawab Nam Ling dengan tenang. Kali ini, ia tidak langsung menyerang. Ia berdiri dengan sikap yang diajarkan di Sekte Valerius, tubuhnya rileks namun siap bergerak ke segala arah.
Pertarungan pun meletus. Cambuk api hitam itu menyambar dengan kecepatan tinggi, menghantam batu-batu besar hingga hancur berkeping-keping. Namun setiap kali serangan itu datang, Nam Ling hanya bergerak sedikit, seolah sedang menari mengikuti aliran sungai. Ia tidak menahan serangan itu, tapi membiarkannya lewat begitu saja di samping tubuhnya, lalu membalas dengan serangan yang tepat dan terukur.
“Ini bukan kekuatanmu yang biasa!” seru komandan itu mulai panik, karena setiap serangannya selalu meleset atau justru membuatnya kehilangan keseimbangan.
“Aku belajar hal baru,” jawab Nam Ling dingin. Saat komandan itu mengayunkan cambuk dengan kekuatan penuh hingga tubuhnya terbuka, Nam Ling melihat celah itu. Ia tidak memotong atau membunuh, melainkan menggunakan tumit kakinya untuk memukul titik energi di lantai, membuat tanah bergetar dan menjatuhkan kaki musuh, lalu diikuti dengan pukulan datar dari gagang pedang tepat ke pelipis musuh. Komandan itu pun jatuh tak sadarkan diri.
Suara langkah kaki berderap mendekat. Ternyata Tetua Orion, Elara, dan para pengawal sudah datang setelah mendengar getaran pertarungan. Mereka melihat tumpukan tubuh musuh yang terikat dan diamankan, serta Nam Ling yang berdiri dengan napas sedikit terengah namun tetap tegak.
“Kamu menggunakan teknik kita dengan sangat baik, bahkan untuk melawan musuh yang sesungguhnya,” ucap Tetua Orion dengan mata berbinar kagum. “Biasanya butuh bertahun-tahun untuk bisa menguasainya dalam pertempuran nyata.”
“Aku hanya menerapkan apa yang diajarkan,” jawab Nam Ling rendah hati. “Ternyata benar, cara ini jauh lebih kuat dan tidak menghabiskan energi sia-sia.”
Elara mendekat, membawa sebuah kotak kayu berukir yang tampak sangat tua. “Karena kamu sudah membuktikan kesetiaan dan kemampuanmu, dan juga karena kamu sudah menyelamatkan rahasia terbesar kita, kami akan memberimu apa yang pantas kamu dapatkan.”
Tetua Orion membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah gulungan perkamen kuno dan sebuah manik kristal kecil yang berisi cahaya yang berputar-putar seperti galaksi mini.
“Ini adalah salinan dari Peta Sumber Energi yang mereka cari,” ucap Tetua Orion. “Tapi kami memberikannya padamu agar kamu bisa mengetahui di mana letak titik-titik kekuatan di seluruh dunia, sehingga kamu bisa menjaganya sebelum musuh menemukannya. Dan manik ini adalah Inti Bumi, benda yang akan membantumu menyambungkan energi dengan tanah di mana pun kamu berada, sama seperti yang kamu rasakan di sini.”
Nam Ling menerima pemberian itu dengan kedua tangan dan rasa hormat yang mendalam. “Terima kasih. Aku berjanji akan menggunakan ilmu dan benda ini hanya untuk melindungi, bukan untuk menguasai.”
Malam itu, perayaan kecil diadakan untuk menghormati tamu yang kini telah menjadi saudara. Nam Ling menceritakan tentang sekte asalnya, tentang Master Liya yang cantik dan bijaksana, serta tentang Desa Hua yang menjadi rumah baginya. Mendengar itu, Tetua Orion tersenyum lebar.
“Ternyata sekte yang kami dengar sudah hilang itu masih ada dan berkembang dengan baik. Kirimkan salam kami untuk Master Liya. Katakan padanya bahwa Sekte Valerius siap menjadi sekutu dan teman diskusi kapan saja.”
Keesokan harinya, saat embun pagi masih menempel di daun-daun, Nam Ling bersiap untuk pulang. Perjalanan ini telah mengubahnya secara drastis. Ia bukan lagi hanya seorang pemburu iblis yang mengandalkan kekuatan pedang dan kemarahan. Ia kini memiliki wawasan yang lebih luas, teknik bertarung yang lebih dalam, dan pemahaman bahwa kekuatan sejati bukanlah seberapa keras kamu bisa memukul, tapi seberapa baik kamu bisa mengendalikan diri dan beradaptasi dengan dunia di sekitarmu.
Elara mengantarnya sampai ke gerbang batu besar. “Hati-hati di jalan, Nam Ling. Dunia ini luas, dan masih banyak rahasia serta bahaya yang menanti. Tapi dengan apa yang kamu miliki sekarang, aku yakin kamu akan mampu menghadapinya.”
Nam Ling mengangguk, lalu berbalik dan melangkah pergi. Punggungnya tampak lebih kokoh dan tenang dibanding saat ia datang. Di sakunya tersimpan ilmu baru, dan di tangannya tersimpan harapan untuk persatuan yang lebih besar antar sekte. Perjalanan kembali ke markasnya masih jauh, namun ia tidak merasa takut. Ia tahu bahwa di mana pun ia berada, ia kini terhubung dengan kekuatan bumi yang tak terhingga, dan ia memiliki teman di tempat yang jauh seperti di rumah sendiri.