NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:837
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buronan dan skenario umpan lambung

Berita di televisi ruang tamu rumah Laras menunjukkan kekacauan di depan Lapas. Asap membubung, dan narasi pembawa berita membuat bulu kuduk berdiri: "Narapidana kasus korupsi dan penipuan, Gunawan, dinyatakan melarikan diri di tengah kerusuhan yang diduga telah direncanakan sebelumnya."

Suasana di dalam rumah yang tadinya penuh haru berubah menjadi mencekam. Pak Surya sibuk dengan radio panggilnya, memberikan instruksi pada tim kepolisian untuk memperketat penjagaan di perbatasan kota.

"Dia nggak akan kabur jauh-jauh tanpa bawa sesuatu yang berharga," gumam Bagas Putra sambil menatap Dewi Laras. "Dan buat dia, 'sesuatu' itu adalah bukti yang ada di tangan kita, atau lo, Ras."

Laras tampak pucat, tapi matanya menunjukkan ketegaran yang baru. "Dia nggak anggep gue anak, Gas. Gue cuma aset. Dia kabur karena dia tahu kalau bukti di kartu memori itu sampai ke pengadilan agung, dia nggak bakal pernah bisa keluar lagi."

Tiba-tiba, ponsel Laras bergetar. Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan pesan singkat:

"Teras belakang. Sendiri. Atau teman-temanmu tidak akan pernah bisa ikut ujian akhir."

Laras menunjukkan pesan itu pada Bagas dan Pak Surya.

"Jangan gila, dia pasti bawa senjata," cegat Eno Surya yang langsung berdiri siaga.

"Nggak," sela Gia Kirana melalui sambungan telepon yang masih terhubung. "Dia nggak akan berani nembak di lingkungan yang udah dijaga polisi. Dia mau negosiasi. Pak Gunawan itu narsis, dia ngerasa selalu bisa menang kalau udah ngomong tatap muka."

"Gue punya rencana," kata Bagas, suaranya rendah dan mantap. "Kita pake strategi 'Umpan Lambung'. Laras bakal keluar, tapi kita semua ada di posisi."

Teras belakang rumah Laras berbatasan langsung dengan kebun jati yang gelap. Suara jangkrik mendadak senyap saat Laras melangkah keluar. Di bawah pohon jati besar, sesosok pria dengan jaket kulit hitam dan topi rendah berdiri diam. Itu adalah Pak Gunawan. Wajahnya tidak lagi terlihat seperti pengusaha sukses; dia tampak kotor, lelah, namun matanya tetap liar.

"Laras," suaranya serak. "Berikan kartu memori itu. Papa punya pesawat yang nunggu di bandara kecil sejam lagi. Ikut Papa, kita mulai hidup baru di luar negeri. Kamu bisa kuliah di mana pun yang kamu mau."

"Hidup baru pakai uang hasil nipu orang?" Laras melangkah maju, tangannya menggenggam sebuah benda kecil. "Udah cukup, Pa. Berhenti nyeret aku ke kegilaan Papa."

"Kamu nggak tahu apa-apa soal dunia ini, Laras! Dunia ini nggak butuh mesin pengolah sampahmu! Dunia ini butuh kekuasaan!" Pak Gunawan mendekat, tangannya meraba sesuatu di balik jaketnya. "Berikan kartunya!"

"Ambil kalau Papa bisa," tantang Laras.

Tepat saat Pak Gunawan hendak menerjang Laras, lampu sorot dari empat arah mendadak menyala, membutakan pandangannya.

"DIAM DI TEMPAT! POLISI!" teriak Pak Surya dari balik barisan pohon.

Pak Gunawan kaget dan mencoba lari ke arah samping, tapi di sana sudah ada Bagas yang langsung melakukan tackle keras ke arah kakinya. Pak Gunawan tersungkur ke tanah.

"Ini buat semua orang yang lo injek-injek!" bentak Bagas sambil menekan punggung Pak Gunawan ke tanah.

Eno dan Juna keluar dari kegelapan sambil membawa ponsel yang sedang menyiarkan kejadian itu secara langsung. "Lagi-lagi live, Pak! Kali ini beneran ditonton sejuta orang!" seru Eno.

Pak Gunawan mengerang, wajahnya mencium tanah. Di detik-detik terakhir sebelum tangannya diborgol, dia menatap Laras dengan tatapan hancur. "Kamu... kamu beneran tega sama orang tuamu sendiri?"

"Papa yang ngajarin aku kalau kita harus buang sampah supaya nggak bau, kan?" jawab Laras dingin. "Sekarang, aku cuma lagi ngebersihin hidup aku dari sampah masa lalu."

Begitu Pak Gunawan dibawa pergi dengan mobil tahanan yang lebih ketat, ketegangan yang selama ini mengikat dada mereka seolah lepas.

Pagi mulai menyingsing di ufuk timur. Enam Serangkai duduk berjajar di pinggir jalan depan rumah Laras, kelelahan namun puas.

"Jadi," Rhea Amara menyandarkan kepalanya di bahu Eno, yang kali ini tidak protes sama sekali. "Masalah kita beneran selesai? UKT aman, penjahat masuk kotak, keluarga selamat?"

"Hampir," sahut Juna. "Kita masih punya satu masalah besar."

"Apa lagi, Jun?!" tanya semuanya serempak dengan nada panik.

"Besok jam delapan pagi ada ujian Statistika, dan kita belum belajar sama sekali selama seminggu di Jakarta," kata Juna sambil menunjukkan kalender di ponselnya.

Semuanya terdiam sejenak, lalu tawa pecah di keheningan pagi itu. Tawa yang paling tulus yang pernah mereka miliki.

"Gila ya," gumam Bagas sambil merangkul Laras. "Kita bisa ngalahin buronan internasional, tapi kita masih takut sama dosen Statistika."

"Yah, itulah hidup mahasiswa, Gas," sahut Eno sambil berdiri dan meregangkan ototnya. "Ayo balik ke kostan! Gue butuh kopi, buku catatan, dan mungkin... pelukan dari seseorang biar semangat belajarnya."

Rhea langsung melempar sandal jepitnya ke arah Eno. "Gue bilang jangan banyak gerak, tangan lo masih sakit!"

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!