NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:665
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 — Gema Nama yang Terkubur

“Berapa lama kau akan berdiri di sana, Leon?”

Suara Alice memecah keheningan yang menyesakkan di dalam bunker beton itu. Di luar, hujan belum benar-benar berhenti. Rintiknya jatuh konstan di atas permukaan logam tua bangunan Sektor Nol, menciptakan irama monoton yang tidak menenangkan, namun juga tidak cukup mengganggu untuk diabaikan. Hanya ada di sana, seperti saksi bisu yang dingin.

Leon tidak segera berpaling. Ia berdiri di dekat celah pengintaian, menatap kegelapan di luar. “Sampai ancaman itu benar-benar hilang dari radar,” jawabnya datar.

Alice duduk di sudut ruangan, di atas peti kayu yang keras. Pistol pemberian Leon masih ada di tangannya. Senjata itu sudah tidak lagi panas, namun jemarinya belum benar-benar sanggup melepaskannya. Ia menatap lurus ke depan, bukan ke arah Leon, bukan pula ke arah Gray yang sibuk dengan monitornya. Alice hanya menatap ruang kosong di antara keduanya.

“Nama Foster yang kau sebutkan tadi...” Alice menggantung kalimatnya. Gema suara Leon saat menyebut nama itu masih tertinggal di udara, mengusik sesuatu yang selama ini ia jaga agar tetap terkunci rapat di dasar ingatannya.

Alice menarik napas pelan, berusaha menenangkan badai dalam pikirannya. Namun, semakin ia mencoba untuk abai, semakin jelas potongan-potongan masa lalu itu muncul ke permukaan. Nama itu. Foster. Tidak pernah benar-benar asing. Hanya saja, ia tidak pernah mengizinkan dirinya sendiri untuk memanggilnya kembali.

“Kenapa dengan nama itu?” tanya Leon tanpa menoleh.

“Bagi beberapa orang, nama bukan sekadar label,” bisik Alice. Tangannya bergerak pelan ke dalam tas medisnya, jemarinya menyentuh permukaan map cokelat tua yang kasar di sana. Ia tidak mengeluarkannya. Hanya menyentuhnya, seolah benda itu adalah sebuah jimat yang bisa memberikan jawaban atas semua kekacauan ini.

Leon akhirnya berbalik, menyandarkan punggungnya pada dinding yang lembap. “Kalau aku berhenti sekarang, mereka akan terus melakukan hal yang sama pada orang lain. Nama tidak akan mengubah fakta itu.”

Alice menutup matanya sejenak. Dan tanpa sadar, ingatan lamanya bergerak mundur. Ia mendengar sebuah suara yang lembut dan hangat, suara yang sangat kontras dengan dunia penuh mesiu yang ia tinggali sekarang.

“Nama bukan hanya identitas, Alice,” suara ayahnya terdengar tenang dalam memorinya. Owen Foster tampak tidak terburu-buru, seolah ia tahu waktunya terbatas namun tetap memilih untuk bicara pelan. “Nama adalah sebuah pilihan.”

Alice kecil yang sedang duduk di lantai laboratorium saat itu hanya mendengarkan, tidak sepenuhnya mengerti. “Kalau suatu hari kau harus menghilang, Alice... pilihlah nama yang tidak membuatmu ingin menoleh ke belakang.”

Alice membuka matanya kembali. Napasnya sempat tertahan di kerongkongan. Ia menatap ke arah Leon yang berdiri di ujung ruangan. Pria itu masih sama, dingin dan tak tersentuh. Namun sekarang, Alice menyadari sesuatu: ada silsilah penderitaan yang sama yang mengikat mereka.

Gray berbicara di belakang mereka, memecah momen itu. “Pergerakan perimeter meningkat. Gelombang berikutnya sedang menyusun formasi di sisi utara.”

Alice mengabaikan Gray. Fokusnya bukan lagi pada bahaya di luar, melainkan pada kebenaran yang mulai menampakkan taringnya di dalam ruangan itu.

“Leon.”

“Apa?” jawab Leon pendek, matanya kembali menajam.

Alice ragu sejenak, namun dorongan di dadanya terlalu kuat untuk ditahan. “Tadi... kau bilang nama itu. Foster.”

Leon tidak menjawab. Ia hanya menatap Alice dengan intensitas yang seolah bisa membaca setiap perubahan napas dan detail kecil pada wajah wanita itu.

“Itu hanya sebuah nama dari masa lalu yang harus kuhapus,” kata Leon akhirnya. Suaranya tetap datar, namun ada keraguan tipis yang melintas di matanya.

Alice menggelengkan kepala perlahan. “Tidak. Bagiku, itu bukan sekadar nama yang bisa dihapus dengan satu tarikan pelatuk.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Namun kali ini, kesunyian itu tidak terasa kosong. Ada beban sejarah yang menekan udara di sekitar mereka. Leon tidak bertanya lebih lanjut, seolah ia takut jawaban Alice akan merusak dinding pertahanan yang telah ia bangun selama sepuluh tahun.

Alice menatap ke bawah, ke arah tangannya yang masih menggenggam pistol. “Kadang... kita tidak benar-benar melupakan sesuatu, Leon. Kita hanya mengganti namanya agar rasa sakitnya tidak mudah dikenali.”

Ia mengangkat pandangannya, menatap Leon langsung ke manik matanya. “Dan sekarang, nama itu menolak untuk tetap terkubur.”

Leon tidak bergerak, namun sorot matanya berubah sedikit, hampir tidak terlihat bagi orang biasa, namun tertangkap jelas oleh mata Alice sebagai seorang dokter. Alice tidak melanjutkan kalimatnya. Ia belum siap untuk bertanya terlalu jauh, karena ia tahu jika ia melakukannya sekarang, sesuatu yang rapuh di antara mereka akan pecah berkeping-keping.

Di kejauhan, suara mesin kembali terdengar. Lebih banyak dan lebih berat dari sebelumnya. Gray menoleh ke arah pintu baja. “Mereka mendekat lagi. Kali ini dengan unit lapis baja ringan.”

Leon segera mengalihkan pandangannya, kembali ke mode perang yang ia kuasai. Namun, pikirannya tidak lagi sepenuhnya terfokus pada strategi eliminasi.

Alice berdiri perlahan, menyimpan kembali pistolnya ke dalam saku jaket. Tangannya masih sedikit gemetar, namun bukan lagi karena takut akan kematian. Itu adalah getaran kesadaran. Kesadaran bahwa dunia yang ia bangun dengan identitas "Arden" selama ini mungkin hanyalah sebuah fatamorgana.

“Bersiaplah,” ucap Leon sambil memeriksa magasin senjatanya.

Alice mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa nama yang ia pakai selama lima tahun ini mungkin bukan miliknya yang sejati. Hujan di luar masih turun dengan deras, dan setiap tetesnya kini terasa seperti hitungan mundur yang mendesak.

Bukan hitungan mundur untuk kematian, melainkan untuk sebuah kebenaran yang tidak bisa lagi ia hindari. Kebenaran yang mungkin akan membuatnya membenci pria yang sedang melindunginya, atau justru sebaliknya.

“Tetap di belakangku, Alice,” gumam Leon sebelum ia melangkah menuju ambang pintu.

Alice menarik napas panjang, menguatkan genggamannya pada tas medisnya. “Aku tidak akan ke mana-mana, Leon.”

Di tengah kegelapan Sektor Nol, mereka berdua kini bukan lagi sekadar pelindung dan target. Mereka adalah dua fragmen dari sebuah masa lalu yang sama, yang sedang dipaksa oleh maut untuk kembali menjadi satu keutuhan yang menyakitkan. Hujan di Valmere terus turun, membasuh aspal, namun gema nama Foster tetap tinggal, menolak untuk mati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!