Hao Qi hanyalah seorang mahasiswa yatim piatu miskin yang tercekik hutang rentenir dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya.
Namun, nasibnya berubah drastis ketika ia tanpa sengaja mengaktifkan Sistem Toko Sepuluh Ribu Alam di ponsel bututnya. Melalui sistem rahasia ini, Hao Qi bisa menjual barang-barang murah sehari-hari seperti mi instan dan korek api gas ke berbagai dimensi lain dengan bayaran selangit berupa koin sistem, emas batangan, pil penempa tubuh, hingga teknik bela diri kuno.
Sambil menyembunyikan identitas dan kekuatan barunya, Hao Qi mulai melunasi hutangnya, menyadari keberadaan energi Qi di dunia modern, dan melangkah naik untuk menghancurkan para orang sombong yang dulu meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Itu adalah konsol game portable jadul, Gameboy berisi permainan Tetris.
"Brak."
Hao Qi meletakkan benda plastik murah itu di atas meja kasir tepat di depan wajah sang Dewa Perang.
Dewa itu menatap Gameboy tersebut dengan dahi berkerut. Ia tidak merasakan adanya sihir, energi Qi, atau fluktuasi kehidupan dari benda itu.
"Apa ini? Kotak abu-abu yang jelek. Kau mau aku bermain lempar batu dengan ini?"
"Tentu saja tidak, Yang Mulia. Ini adalah Artefak Penakluk Waktu. Di dalamnya terdapat sebuah ujian mental yang belum pernah bisa diselesaikan oleh Dewa mana pun dalam sejarah,"
Hao Qi berbicara dengan nada dramatis dan penuh tantangan.
"Sistem," Hao Qi membatin dengan cepat. "Gunakan Peningkatan Atribut pada benda ini. Buat bodinya tidak bisa dihancurkan oleh tenaga fisik, dan buat baterainya menyerap energi alam sehingga tidak akan pernah habis. Berapa biayanya?"
"Menghitung... Biaya modifikasi Ketahanan Mutlak (Batas Dewa) dan Energi Abadi adalah 30 Koin Sistem. Saldo Host saat ini mencukupi. Apakah Host ingin memproses?"
"Proses sekarang!"
"Sring!"
Cahaya keemasan setipis rambut menyelimuti Gameboy tersebut selama sepersekian detik sebelum menghilang kembali ke dalam plastik abu-abunya. Secara kasat mata tidak ada yang berubah, namun benda itu kini telah menjadi artefak abadi.
"Klik."
Hao Qi menekan tombol Power. Layar kecil hitam putih itu langsung menyala, menampilkan deretan balok-balok kecil yang jatuh dari atas.
"Teng! Teng! Teng~ Teng~"
Suara musik 8-bit klasik Tetris langsung berbunyi melengking dari speaker kecilnya.
Dewa Perang itu tersentak kaget mendengarnya. Matanya yang malas kini sedikit terbuka lebar.
"Suara apa itu? Irama musiknya sangat aneh tapi entah kenapa membuatku ingin mendengarnya lagi..."
"Perhatikan layarnya, Yang Mulia,"
Hao Qi menunjuk layar.
"Tugas Anda sangat sederhana. Anda hanya perlu menyusun balok-balok yang jatuh ini agar menjadi satu garis lurus tanpa celah. Jika penuh sampai ke atas, Anda kalah. Anda bisa menggerakkannya dengan tombol-tombol ini."
Hao Qi memberikan contoh selama beberapa detik, menyusun dua baris balok lalu menghancurkannya.
"Puf!"
Dewa Perang mendengus meremehkan.
"Hanya menyusun kotak? Permainan anak balita macam apa ini?! Aku ini Dewa Perang! Membelah lautan saja bisa kulakukan dengan satu jari!"
"Kalau begitu, silakan dicoba, Yang Mulia. Level satu sangat lambat. Mungkin Anda akan merasa kesulitan di level sepuluh." Hao Qi menggeser Gameboy itu ke arah tangan sang Dewa.
Dewa Perang itu mendengus lagi, namun tangannya yang besar dan kekar tetap mengambil konsol kecil itu. Jari telunjuknya yang besar menekan tombol panah dengan hati-hati.
"Bip! Bip!"
Balok pertama jatuh. Sang Dewa memutarnya dan meletakkannya dengan pas.
"Hah, mudah sekali."
"Bip! Bip! Bip!"
Dua menit berlalu. Layar menunjukkan perpindahan ke Level 3. Balok-balok jatuh sedikit lebih cepat.
"Cih, balok lurusnya lama sekali keluarnya!" Dewa Perang mulai menggerutu. Postur tubuhnya yang tadinya loyo kini mulai menegang. Ia berdiri tegak, kedua matanya terpaku pada layar kecil tersebut.
Lima menit berlalu. Level 6.
"Teng~ Teng~ Teng~"
Musik 8-bit itu berputar semakin cepat.
"Argh!"
"Kenapa kotak persegi ini keluar terus?! Aku butuh bentuk L! Sialan!"
Dewa Perang itu mulai berkeringat. Ibu jarinya menekan tombol-tombol plastik itu dengan sangat keras. Jika Hao Qi tidak menggunakan Peningkatan Atribut, konsol itu pasti sudah hancur menjadi debu di tangan sang Dewa.
Sepuluh menit berlalu. Level 9. Balok-balok jatuh seperti kilat.
"Kiri! Kiri! Putar! Ah, keparat! Jangan nyangkut di situ!"
Dewa Perang Surgawi yang agung itu kini mengumpat dengan keras di dalam toko kayu antik Hao Qi. Tanduk emas di kepalanya bahkan sedikit memancarkan kilatan petir kecil karena emosinya yang memuncak. Matanya tidak berkedip sedikit pun menatap layar Gameboy.
"Teng! Tong! Teng! Tong... Tettt!"
"Game Over."
Layar dipenuhi oleh tumpukan balok yang berantakan sampai menyentuh batas atas.
Dewa Perang itu membeku. Napasnya terengah-engah. Matanya menatap tulisan Game Over dengan ketidakpercayaan yang sangat mendalam.
"A-aku... kalah? Aku, yang telah menaklukkan Seratus Ribu Pasukan Iblis... kalah menyusun kotak?!"
"Hahaha!"
Hao Qi tertawa lepas. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Bagaimana, Yang Mulia? Apakah sepuluh menit terakhir Anda terasa membosankan?"
Dewa Perang itu perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang tadinya sayu dan malas kini berkobar dengan api semangat yang sudah ribuan tahun padam. Rasa penasaran dan jiwa kompetitifnya meledak tak terkendali.
"Pemilik Toko... berapa harga Artefak Penakluk Waktu ini? Sebutkan hargamu! Aku harus membawa benda ini kembali ke kuilku! Aku bersumpah demi langit, aku akan mencapai level tertinggi dari benda laknat ini!" teriak sang Dewa dengan suara menggelegar.
Hao Qi tersenyum penuh kemenangan.
"Benda ini sangat langka, Yang Mulia. Dan saya melihat Anda adalah sosok yang berkuasa. Saya tidak butuh emas biasa. Apakah Anda memiliki sesuatu yang bisa membantu saya, seorang pedagang fana, untuk memperkuat pikiran saya dalam berbisnis?"
Dewa Perang itu mendengus puas. Ia sama sekali tidak ragu. Ia mengayunkan tangan kirinya di atas meja kasir.
"Wush!"
Seketika, sebuah kotak kayu kecil berukiran naga muncul di atas meja, bersama dengan tumpukan koin emas murni yang bercahaya menyilaukan.
"Itu adalah Pil Pencerahan Akal Budi. Pil itu akan meningkatkan kapasitas otakmu hingga ratusan kali lipat. Kau tidak akan pernah melupakan apa yang kau lihat, dan kau bisa memproses informasi sekilat petir. Sangat cocok untuk pedagang licik sepertimu! Dan emas ini... anggap saja sebagai tip dariku!"
"Sistem, pindai barang-barang ini!"
"Memindai... Pil Pencerahan Akal Budi (Sangat Aman untuk Manusia Biasa). Meningkatkan IQ, daya ingat, dan kecepatan proses analitis Host. Tumpukan Emas Dewa bernilai 500 Koin Sistem."
Jantung Hao Qi melompat kegirangan. Kecerdasan super dan 500 koin sistem dalam satu kali transaksi?! Konsol Tetris seharga lima puluh Yuan ini benar-benar senjata mematikan bagi orang yang bosan!
"Saya terima transaksinya dengan senang hati, Yang Mulia."
Hao Qi menggeser kotak kayu dan tumpukan emas itu. Sementara sang Dewa memeluk Gameboy tersebut dengan erat seperti memeluk harta karun paling berharga di alam semesta.
"Bagus! Aku akan kembali untuk menantang artefak lain darimu!"
"Tentu saja. Dan agar Anda mudah kembali, maka terimalah ini."
Hao Qi menjentikkan jarinya. Sebuah Kartu VIP berwarna emas hitam melayang dan mendarat di saku jubah sang Dewa.
"Swosh!"
Cahaya putih menelan Dewa Perang yang masih sibuk memencet tombol Gameboy-nya, mengirimnya kembali ke Alam Surgawi.
Hao Qi berdiri sendirian di dalam tokonya. Ia menatap kotak kayu berisi Pil Pencerahan Akal Budi dan Giok Penenang Hati di sakunya.
"Sistem, keluarkan aku."
"Mengembalikan Host ke dunia asal."
Pandangan Hao Qi memutih sesaat. Ketika ia membuka matanya, ia telah kembali ke dalam truk boks putihnya yang terparkir di lahan kosong yang gelap.
Hao Qi segera mengambil Giok Penenang Hati yang berbentuk daun hijau itu. Ia mengalungkan tali sutranya ke lehernya.
Seketika, hawa dingin yang sangat menenangkan menjalar ke seluruh tubuhnya. Jika sebelumnya tubuhnya memancarkan aura samar yang tajam layaknya seorang ahli bela diri tingkat rendah akibat Pil Penempa Tubuh, kini aura itu lenyap tak berbekas. Detak jantungnya, aliran darahnya, dan energi Qi di lengannya tersembunyi dengan sempurna.
Di mata siapa pun, ia hanyalah mahasiswa miskin yang tak punya tenaga.
"Hahaha! Sempurna. Besok pagi, mari kita lihat siapa yang akan datang mencariku dari pusat sana."
Hao Qi menghidupkan mesin truknya dan melaju menembus malam Jiangjing, siap menghadapi badai baru dengan senyum yang semakin lebar.