NovelToon NovelToon
Bayangkan Di Rumah Sendiri

Bayangkan Di Rumah Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cerrys_Aram

Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Catur di Tengah Badai

Badai kecil di ruang pertemuan pagi tadi rupanya belum cukup bagi The Financial Sentinel. Sore harinya, artikel kedua terbit. Kali ini lebih berani. Mereka mengutip “analis independen anonim” yang memperkirakan potensi kerugian besar bagi Talandra jika proyek CSR itu gagal.

Nada tulisannya lebih tajam. Lebih sugestif.

Julian Vane benar-benar tahu cara memainkan waktu.

Di suite hotel yang tenang dan beraroma kayu mahal, Javian berdiri menghadap jendela tinggi dengan tablet di tangan. Grafik harga saham Talandra terpampang di layar—turun 0,8 persen. Tidak dramatis. Tidak mematikan. Tapi cukup untuk menanamkan benih keraguan.

Itu tujuan sebenarnya.

Bukan menghancurkan.

Hanya mengguncang.

Ketukan pelan terdengar di pintu.

Zerya masuk tanpa banyak kata, membawa map tebal berisi laporan fisik. Rambutnya terikat rapi, wajahnya bersih dari kepanikan. Jika ada tekanan, ia menyimpannya dengan sangat baik.

“Saya sudah siapkan data mentah, laporan auditor independen, dan draf sanggahan resmi untuk Sentinel,” ucapnya, meletakkan berkas di meja. “Kita bisa menekan mereka secara hukum.”

Javian tidak langsung menjawab. Ia menurunkan tabletnya perlahan.

“Simpan tuntutannya,” katanya tenang. “Itu langkah defensif.”

Zerya menatapnya. “Investor Jerman tadi menelepon lagi. Nada suaranya berubah. Mereka mulai ragu.”

“Bagus.”

Satu kata itu membuat Zerya mengerutkan kening.

Javian akhirnya berbalik. Tatapannya tidak marah. Tidak panik. Hanya fokus.

“Julian tidak menulis artikel itu untuk menjatuhkan harga saham,” ujarnya pelan. “Dia menulisnya untuk melihat apakah saya akan bereaksi secara emosional.”

Ia berjalan mendekat, mengambil map dari tangan Zerya tanpa tergesa.

“Dia berharap kita menyerang medianya. Menggugat. Membuat ini terlihat seperti perang pribadi. Itu akan memperkuat narasinya.”

“Jadi kita diam saja?” tanya Zerya.

“Tidak,” jawabnya ringan. “Kita pindahkan medan tempurnya.”

Ia membuka salah satu dokumen dan menunjuk sebuah nama.

“Vane Capital punya eksposur besar di proyek reklamasi lama—proyek yang kita hentikan karena masalah etika. Jika CSR kita berhasil, nilai investasinya turun drastis.”

Zerya membeku sejenak, lalu memahami arah pikirannya. “Analis anonim itu…”

“Kita tidak menyerang artikelnya,” potong Javian. “Kita telusuri hubungan finansialnya. Jika ada koneksi ke Vane Capital, publikasikan datanya di forum investor internal.”

“Bukan ke media?”

“Tidak. Biarkan komunitas pasar yang membongkarnya.”

Senyum tipis hampir muncul di sudut bibir Zerya. Hampir.

“Julian akan terlihat bias. Reputasinya sebagai analis objektif akan runtuh,” gumamnya.

“Tepat.”

Malam turun perlahan di Mayfair. Di sebuah klub privat yang diterangi lampu redup dan dentingan gelas kristal, Julian Vane mengangkat wiski mahalnya dengan ekspresi puas. Artikel kedua sudah menyebar. Grafik Talandra turun. Sedikit, tapi cukup untuk menunjukkan retakan.

Ia yakin Javian akan terpancing.

Ponselnya bergetar.

Notifikasi dari forum investor elit London muncul di layar.

“Analisis Sentinel: Jurnalisme atau Konflik Kepentingan? Keterkaitan Vane Capital dengan Proyek Reklamasi.”

Alis Julian menegang.

Ia membuka tautan itu. Data mentah terpampang jelas. Struktur kepemilikan. Jejak investasi. Hubungan profesional analis anonim dengan entitas yang terhubung ke Vane Capital.

Ruang klub terasa lebih sempit.

Dalam hitungan menit, kolom komentar forum dipenuhi pertanyaan. Beberapa investor senior mulai menarik diri dari diskusi yang sebelumnya ia pimpin dengan percaya diri.

Narasi berbalik arah.

Di suite hotel, Javian menutup tabletnya. Tidak ada senyum kemenangan. Hanya keheningan yang stabil.

Zerya berdiri beberapa langkah darinya, mengamati tanpa bicara. Untuk pertama kalinya, ia melihat strategi yang tidak didorong ego, melainkan presisi.

“Apakah ini aman?” tanyanya akhirnya.

“Untuk Anda?” Javian menatapnya. Intensitasnya lebih lembut dari biasanya. “Ya.”

“Dan untuk Talandra?”

Ia terdiam sepersekian detik.

“Ini baru langkah pertama.”

Zerya merasakan sesuatu yang berbeda. Perang ini bukan sekadar bisnis lagi. Ini sudah menjadi pertarungan reputasi, kekuasaan, dan kendali narasi.

Dan Julian Vane bukan tipe pria yang menerima kekalahan publik tanpa balasan.

Javian melangkah melewatinya, mengambil jasnya dari kursi.

“Julian ingin permainan kotor,” katanya pelan. “Baik. Tapi mulai sekarang, dia harus sadar—dia tidak bermain sendirian.”

Zerya menarik napas dalam.

Perang memang belum meledak.

Tapi percikan pertama sudah jatuh ke tanah yang kering.

Dan kali ini, bukan hanya saham yang dipertaruhkan.

1
Iqlima Al Jazira
next thor, kopi & vote untukmu👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!