NovelToon NovelToon
Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Trading Thrones (Bertukar Tahta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
​Namun, setiap baja memiliki titik retak.
​Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mekar di Tengah Kebohongan

​Hari-hari di kediaman Thorne berubah menjadi sebuah rutinitas yang tampak manis di permukaan, namun menyimpan racun yang perlahan merayap di bawahnya. Taman samping yang dulunya gersang kini telah bertransformasi menjadi oase kecil yang hidup. Nora menghabiskan sebagian besar paginya di sana, berlutut di atas tanah dengan topi lebar dan sarung tangan, merawat tunas-tunas hijau yang mulai menyembul dengan penuh kasih sayang.

​Terkadang, Martha akan datang membawa air atau sekadar berdiri di sampingnya, memberikan saran tentang cara memangkas daun yang layu. Dan yang paling mengejutkan bagi seluruh penghuni mansion, Adrian pun sering kali terlihat bergabung. Pria penguasa kegelapan itu tak lagi segan mengotori tangan mahalnya dengan pupuk atau membantu Nora mengangkat pot-pot besar. Di mata para pengawal yang berjaga di kejauhan, pemandangan itu terasa absurd; sang singa California sedang menjinakkan diri di antara kelopak bunga demi seorang wanita.

​Namun, kedamaian di bawah sinar matahari itu hanyalah separuh dari kebenaran. Separuh lainnya terjadi ketika malam tiba dan lampu-lampu mansion meredup.

​Di dalam kamar utama, ritual keintiman mereka menjadi semakin intens, namun juga semakin gelap. Nora, yang kini telah benar-benar jatuh dalam lubang cinta yang dalam, tidak pernah menolak ketika Adrian meraih kain sutra hitam itu. Baginya, penutup mata itu adalah simbol dari penyerahan diri yang total—sebuah cara untuk menajamkan indra perabaannya hingga ia bisa merasakan setiap detak jantung Adrian di atas kulitnya.

​"Percayalah padaku, Nora," bisik Adrian setiap kali ia mengikat simpul kain itu di belakang kepala Nora.

​Dan Nora percaya. Ia membiarkan kegelapan menguasainya, menikmati setiap cumbuan panas yang mendarat di lehernya, di bahunya, dan di atas tato mawar tersembunyinya. Ia mendesah memanggil nama Adrian, mengira bahwa gairah yang ia rasakan adalah balasan dari cinta yang sama besarnya.

​Ia tidak tahu bahwa di balik kegelapan kain sutra itu, mata Adrian tetap terbuka lebar.

​Dengan tangan yang gemetar oleh konflik batin, Adrian akan menyalakan ponselnya, menyembunyikannya di balik bantal atau di sisi kepala Nora. Cahaya redup dari layar itu menampilkan wajah Stella—putri pirang yang ia yakini sebagai malaikat penyelamatnya tujuh tahun lalu. Sembari mencumbu Nora, mata Adrian terpaku pada potret Stella. Ia memaksakan pikirannya untuk melakukan sebuah proyeksi yang kejam. Ia membayangkan bahwa rambut yang ia belai adalah pirang, bukan cokelat. Ia membayangkan bahwa tubuh yang bergerak di bawahnya adalah tubuh Stella yang mungil, bukan lekuk tubuh Nora yang padat dan menggoda.

​Adrian menggunakan Nora sebagai bejana untuk menyalurkan obsesinya pada Stella. Setiap kali ia mencapai puncak gairah, nama yang tertahan di tenggorokannya bukanlah nama wanita yang sedang memeluknya erat, melainkan nama adiknya. Rasa bersalah terkadang menusuk dadanya seperti belati, terutama ketika ia melihat tato mawar Nora, namun ia segera menepisnya. Ia meyakinkan dirinya bahwa ini adalah pengorbanan yang diperlukan demi menjaga martabat dan janji setianya pada Stella.

​Waktu terus bergulir, dan alam memiliki caranya sendiri untuk merayakan kehidupan. Suatu pagi, saat Nora melangkah keluar ke taman samping, ia terhenti dengan napas tertahan.

​Bunga-bunga mawar yang mereka tanam bersama telah mekar.

​Warna merah merekah, merah muda yang lembut, dan putih yang suci menghiasi petak tanah itu. Wangi harum semerbak mawar dan lili memenuhi udara pagi yang sejuk. Itu adalah sebuah kemenangan kecil bagi Nora. Ia merasa bahwa cintanya pada Adrian, seperti halnya bunga-bunga ini, telah berakar kuat dan akhirnya menunjukkan keindahannya pada dunia.

​Dengan perasaan bangga, Nora mengambil gunting tanaman. Ia memotong beberapa tangkai mawar terbaik yang masih berhiaskan tetesan embun. Ia membawanya masuk ke dalam mansion, tempat di mana dinding-dindingnya biasanya terasa kaku dan bernuansa gelap.

​Mansion Thorne, yang selama ini didominasi oleh cat berwarna maskulin yang cenderung kusam—abu-abu tua, hitam, dan kayu mahoni gelap—tiba-tiba mulai berubah. Nora meletakkan vas kaca berisi mawar merah di atas meja konsol di lobi utama. Ia meletakkan vas berisi lili putih di atas bufet di ruang makan, dan satu vas kecil dengan mawar merah muda di meja kerja Adrian.

​"Mansion ini jadi jauh lebih hidup, Nona Nora," ujar Martha saat melihat Nora sedang menata vas terakhir di ruang tengah. "Warna-warna ini... mereka memberikan nyawa pada ruangan yang dingin ini."

​Nora tersenyum lebar, menyentuh salah satu kelopak mawar yang lembut. "Aku ingin Adrian merasa senang saat dia pulang. Aku ingin dia tahu bahwa tempat ini adalah rumah, bukan sekadar benteng."

​Memang benar, mansion itu kini menjadi lebih berwarna. Kehadiran bunga-bunga itu seolah-olah mengusir aura kematian yang biasanya melekat pada kediaman seorang bos mafia. Ruang tamu yang tadinya hanya berisi furnitur antik yang angkuh, kini tampak lebih ramah dengan sentuhan alam di sudut-sudutnya.

​Sore harinya, Adrian pulang. Ia masuk melalui pintu depan dengan wajah yang tampak tegang setelah seharian berurusan dengan faksi-faksi pemberontak di pelabuhan. Namun, langkahnya terhenti di lobi. Aroma wangi mawar segera menyergapnya, menggantikan bau mesiu dan cerutu yang menempel pada pakaiannya.

​Matanya tertuju pada vas mawar merah di atas meja konsol. Ia berjalan mendekat, menyentuh salah satu kelopak bunga itu.

​"Ini bunga dari taman?" suara Adrian terdengar rendah saat Nora muncul dari balik pilar, menyambutnya dengan senyuman.

​"Ya. Mereka mekar sempurna hari ini, Adrian. Persis seperti yang aku harapkan," ujar Nora sambil berjalan mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggang Adrian. "Bagaimana menurutmu? Mansion ini jadi lebih cantik, bukan?"

​Adrian menatap bunga-bunga itu, lalu menatap wajah Nora yang berseri-seri. Untuk sesaat, ia merasa tercekik. Mawar-mawar ini adalah hasil kerja keras mereka berdua. Mawar-mawar ini tumbuh dari tanah yang ia gali sendiri. Namun, setiap kali ia melihat warna merah yang menyala itu, ia teringat pada tato di lengan Nora—tato yang mulai menghantui pikirannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin ia temukan jawabannya.

​"Ini... sangat berwarna," jawab Adrian singkat. Ia melepaskan tangan Nora dari pinggangnya dengan lembut namun pasti. "Aku harus mandi dan segera menelepon ayahmu. Ada urusan mendadak."

​Senyum Nora sedikit memudar. "Tapi kau akan makan malam bersamaku, kan?"

​"Tentu," sahut Adrian tanpa menoleh, ia mulai menaiki tangga.

​Adrian masuk ke ruang kerjanya terlebih dahulu sebelum ke kamar mandi. Di sana, di atas meja jati besarnya, terdapat vas bunga mawar merah muda yang diletakkan Nora di samping foto keluarga Thorne yang lama. Adrian menatap bunga itu dengan pandangan benci sekaligus rindu.

​Mawar-mawar ini nyata. Harumnya nyata. Dan cinta Nora padanya pun nyata.

​Namun, di dalam laci mejanya, Adrian menyimpan berkas-berkas rahasia tentang aliansi dengan keluarga Sullivan di New York. Ia tahu bahwa keindahan bunga-bunga ini hanya akan bertahan sementara. Sama seperti kehadiran Nora di hidupnya, bunga-bunga ini ditakdirkan untuk layu atau digantikan.

​Ia duduk di kursi kebesarannya, menyalakan ponselnya, dan kembali menatap foto Stella.

​"Maafkan aku, Stella," bisiknya pada layar yang dingin. "Hanya sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan semua ini dan membawamu ke sini, ke taman yang sudah disiapkan untukmu."

​Di luar ruangan, Nora sedang bersenandung kecil sambil menyiapkan meja makan, masih merasa bahagia karena telah berhasil memberi "warna" pada hidup Adrian. Ia tidak menyadari bahwa mawar-mawar merah yang ia petik dengan penuh cinta itu sebenarnya adalah simbol dari pengorbanannya yang akan datang—sebuah mahkota berduri yang sedang dipersiapkan Adrian untuk diletakkan di kepalanya sebelum ia dikirim ke New York untuk selamanya.

​Mansion itu memang lebih berwarna sekarang, namun warna merah yang mendominasi bukan hanya warna mawar, melainkan warna peringatan akan luka yang akan segera terbuka.

1
Arieee
tetep goblok di Adrian 🤣
Arieee
wow👍👍👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!