Update setiap hari
"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."
Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.
Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.
Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: GAUN PENUTUP LUKA
Pagi hari di kediaman Baskara berubah menjadi medan tempur yang sunyi namun mencekam. Di ruang tamu, beberapa kotak besar bertuliskan nama desainer ternama berjejer rapi. Baskara sengaja memanggil penjahit pribadi dan penata busana ke rumah untuk mempersiapkan penampilan kedua istrinya di pesta ulang tahun perusahaan yang ke-20.
Maya berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam berwarna merah marun dengan belahan tinggi yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Ia terlihat seperti ratu yang tak tergoyahkan. Namun, matanya terus melirik tajam ke arah sudut ruangan, di mana Gendis sedang berdiri mematung sambil memegang gaun sutra berwarna soft champagne yang dipilihkan langsung oleh Baskara.
"Warna itu terlalu pucat untukmu, Gendis," cetus Maya sambil membetulkan anting berliannya. "Kamu akan terlihat seperti pelayan yang tersesat di tengah pesta mewah. Seharusnya kamu tahu diri, kulitmu yang kusam itu tidak cocok dengan sutra mahal."
Gendis hanya menunduk, membelai kain sutra yang sangat halus itu dengan jemarinya. Di dalam hati, ia mencibir. Kulitnya tidak kusam; ia hanya sengaja tidak menggunakan riasan berlebih agar terlihat rapuh.
"Maaf, Mbak Maya... saya hanya mengikuti pilihan Mas Baskara. Jika Mbak merasa saya tidak pantas, saya bisa memakai baju lama saya saja," jawab Gendis dengan nada suara yang bergetar, seolah hampir menangis.
"Jangan berlagak pemaaf!" bentak Maya. "Mas Baskara hanya merasa kasihan padamu. Jangan harap kamu bisa bersinar di sampingnya malam itu. Panggung itu milikku, dan selamanya akan tetap menjadi milikku."
Tiba-tiba, suara dehaman berat terdengar dari arah pintu. Baskara berdiri di sana dengan setelan jas kerjanya, menatap kedua istrinya dengan raut wajah lelah.
"Maya, cukup. Aku ingin Gendis tampil cantik malam ini. Dia adalah istriku, dan aku ingin rekan bisnisku melihat bahwa keluarga kita harmonis," ucap Baskara tegas. Ia melangkah mendekati Gendis, mengusap bahu wanita itu dengan lembut. "Gendis, pakai gaun itu. Kamu akan terlihat sangat anggun."
Gendis mendongak, memberikan senyum kecil yang tampak tulus namun penuh kesedihan. "Terima kasih, Mas. Aku akan berusaha tidak mempermalukanmu."
Maya mendengus keras, menyambar tas tangannya, dan melesat pergi keluar rumah. Ia tidak tahan melihat perhatian Baskara yang kini terbagi—atau mungkin sudah sepenuhnya beralih.
Begitu mobil Maya menderu meninggalkan halaman, Gendis meletakkan gaunnya di sofa. Ia menatap Baskara yang tampak termenung.
"Mas... apa sebaiknya aku benar-benar tidak ikut? Aku tidak ingin Mbak Maya terus-terusan marah padamu karena aku," ucap Gendis sambil memegang tangan Baskara.
Baskara menarik napas panjang, lalu memeluk Gendis erat. "Tidak, Gendis. Kamu adalah ketenanganku. Di kantor aku menghadapi banyak masalah, dan di rumah aku menghadapi amarah Maya. Hanya bersamamu aku merasa bisa bernapas. Kamu harus ada di sana, di sampingku."
Gendis menyandarkan kepalanya di dada Baskara. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang tidak beraturan. Bagus, Mas. Jadikan aku satu-satunya tempat bersandarmu. Semakin kamu bergantung padaku, semakin mudah bagiku untuk menjatuhkanmu nanti.
Di sebuah kafe tersembunyi di sudut kota, Maya bertemu dengan seorang pria berpakaian serba hitam yang mengenakan topi pet. Pria itu adalah detektif swasta yang ia sewa.
"Apa yang kamu temukan?" tanya Maya tanpa basa-basi.
Pria itu menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. "Identitasnya sangat bersih, Nyonya. Terlalu bersih untuk ukuran orang yang mengaku berasal dari desa terpencil. Nama ayahnya memang Budiman, tapi ada satu hal yang aneh."
Maya membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Ia melihat beberapa foto lama Gendis saat masih remaja. "Apa yang aneh?"
"Ada catatan bahwa sepuluh tahun lalu, seorang gadis dengan ciri-ciri yang sama pernah terlihat di pemakaman Tuan Hardianto—mantan pemilik perusahaan yang dulu bangkrut karena kasus korupsi. Nama gadis itu bukan Gendis, tapi... Larasati."
Mata Maya membelalak. Nama Hardianto adalah nama yang dilarang disebut di keluarganya. Ia tahu ayahnya terlibat dalam kejatuhan pria itu, tapi ia tidak pernah tahu detailnya.
"Larasati?" bisik Maya. "Jadi dia mengganti namanya? Tapi untuk apa? Apakah dia ingin membalas dendam?"
"Saya masih menyelidiki hubungan darahnya secara pasti, Nyonya. Dokumen kependudukannya di desa tersebut sepertinya telah dipalsukan dengan sangat rapi. Seseorang dengan pengaruh besar atau kecerdasan tinggi telah membantu mengaburkan jejaknya," jelas sang detektif.
Maya mengepalkan tinjunya. Rasa takut mulai menjalar di punggungnya, namun ia menutupinya dengan kemarahan. "Cari tahu semuanya! Aku ingin bukti fisik bahwa dia adalah anak Hardianto sebelum malam pesta itu tiba. Aku akan menghancurkannya di depan semua orang!"
Kembali di rumah, Gendis sedang berada di dapur bersama Bi Sumi. Ia sedang membantu memotong sayuran untuk makan malam. Namun, pikirannya melayang ke pesta minggu depan. Ia tahu Maya pasti sedang menyelidikinya. Ia tahu identitas "Gendis" yang ia bangun tidak akan bertahan selamanya jika Maya menggunakan detektif yang ahli.
"Non Gendis... kenapa melamun? Hati-hati jarinya kena pisau," tegur Bi Sumi lembut.
Gendis tersentak, lalu tersenyum manis. "Eh, iya Bi. Cuma kepikiran soal pesta nanti. Saya agak gugup."
"Non tenang saja. Non itu orang baik, pasti semua orang suka. Apalagi Ibu Rahayu sudah sangat sayang pada Non," ucap Bi Sumi tulus.
Gendis menatap Bi Sumi. Wanita tua ini adalah salah satu dari sedikit orang di rumah ini yang tulus padanya. Kadang, ada rasa bersalah yang menusuk hati Gendis karena harus melibatkan orang-orang tidak bersalah dalam dendamnya. Namun, bayangan wajah ayahnya yang terbujur kaku dengan seutas tali di lehernya sepuluh tahun lalu langsung menghapus rasa kasihan itu.
"Bi... apa Bibi ingat Tuan Hardianto?" tanya Gendis pelan, mencoba memancing informasi.
Bi Sumi terdiam sejenak, wajahnya berubah pucat. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada orang lain. "Ssttt... Non, jangan sebut nama itu di rumah ini. Itu nama keramat. Tuan Baskara dan Nyonya Maya bisa sangat marah jika mendengarnya."
"Kenapa, Bi?"
"Dulu... ada kejadian besar. Perusahaan ini dulunya milik beliau. Tapi katanya beliau korupsi dan bunuh diri. Setelah itu, keluarga Nyonya Maya yang mengambil alih semuanya. Tapi banyak rumor beredar kalau Tuan Hardianto itu sebenarnya dijebak. Tapi ya itu, Non... orang kecil seperti kita tidak tahu apa-apa," bisik Bi Sumi sedih.
Gendis merasakan air mata panas menggenang di matanya. Ia berpura-pura terkena pedasnya bawang merah untuk menutupi tangisnya. Dijebak. Bahkan seorang pelayan pun tahu Ayah dijebak, sementara hukum menutup mata.
Malam itu, Gendis masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Ia menyalakan keran air dengan kencang agar suaranya tidak terdengar keluar. Ia menangis tersedu-sedu, memeluk dirinya sendiri.
"Ayah... sebentar lagi. Sebentar lagi keadilan itu akan datang lewat tanganku sendiri," isaknya.
Setelah merasa tenang, ia membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mata yang tadinya penuh air mata kini berubah menjadi sedingin baja. Ia merias wajahnya kembali agar terlihat segar, lalu keluar kamar untuk menemui Ibu Rahayu.
Ia membawakan wedang jahe kesukaan mertuanya itu. Di ruang tengah, Ibu Rahayu sedang membaca majalah.
"Bu... ini minumannya," ucap Gendis lembut.
Ibu Rahayu tersenyum, sesuatu yang sangat langka. "Sini, Gendis. Duduk dekat Ibu. Ibu ingin bicara soal gaunmu. Ibu sudah memesankan perhiasan kalung mutiara untuk kamu pakai nanti. Ibu ingin kamu terlihat lebih bersinar dari Maya."
Gendis tertegun. "Tapi Bu... itu terlalu berlebihan. Saya tidak ingin membuat Mbak Maya semakin marah."
"Biarkan saja dia marah. Dia harus tahu kalau posisi istri pertama tidak berarti dia bisa seenaknya," sahut Ibu Rahayu tegas. "Kamu sudah mengurus Ibu dengan sangat baik. Ini adalah hadiah dari Ibu."
Gendis mencium tangan Ibu Rahayu. "Terima kasih, Bu. Ibu sangat baik pada saya."
Di balik pintu yang sedikit terbuka, Maya berdiri membeku mendengar percakapan itu. Kalung mutiara itu adalah kalung turun-temurun keluarga yang seharusnya menjadi miliknya. Giginya bergelatuk menahan amarah.
"Nikmatilah selagi bisa, Gendis," bisik Maya dengan suara parau. "Karena di malam pesta itu, aku akan membuka topeng manis kamu di depan semua kolega Baskara. Kamu tidak akan pernah mendapatkan mutiara itu, karena tempatmu yang sebenarnya adalah di penjara atau di jalanan!"
Gendis yang sedang memijat pundak Ibu Rahayu, melirik ke arah pintu yang sedikit bergoyang. Ia tahu Maya ada di sana. Ia justru semakin menunjukkan kemesraannya dengan sang mertua, sengaja memancing emosi Maya hingga ke titik didih.