NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Penipuan di Paviliun Seribu Herbal

Matahari sore melemparkan bayangan panjang berwarna jingga di jalanan batu Kota Ironforge. Di Distrik Selatan, udara terasa lebih berat dan menyengat. Aroma dupa, belerang, dan berbagai macam tanaman kering menggantung tebal, menekan bau keringat dan kotoran kuda yang mendominasi bagian kota lainnya.

Ini adalah Distrik Pengrajin dan Tabib. Di sinilah uang dan nyawa dipertukarkan.

Yang Chen, terbungkus dalam jubah hitam barunya yang kedodoran, berjalan pelan menyusuri trotoar. Tudung kepalanya ditarik rendah, hanya memperlihatkan dagu dan bibirnya yang pucat. Langkahnya tidak lagi pincang parah, berkat pijatan brutalnya tadi pagi dan asupan nutrisi siang ini, tapi dia masih berjalan dengan kehati-hatian seorang pria tua.

Dia berhenti di depan sebuah bangunan kayu tiga lantai yang megah.

Papan nama besar berwarna merah tua tergantung di atas pintu masuknya, bertuliskan huruf emas kaligrafi yang mencolok: "Paviliun Seribu Herbal".

Ini adalah apotek terbesar di kota ini, cabang dari sekte alkimia kecil di ibukota provinsi. Menurut ingatan Zhao Wei, tempat ini adalah tempat para bangsawan membeli pil penguat stamina dan tempat para prajurit membeli salep luka. Tempat yang haram dimasuki oleh rakyat jelata miskin.

Yang Chen tidak langsung masuk. Dia berdiri di depan pintu yang terbuka lebar, memejamkan matanya di balik tudung, dan menarik napas dalam-dalam.

Hhhmm...

Dia membedah udara itu. Hidungnya bukan lagi hidung manusia biasa, melainkan spektrometer biologis yang dikalibrasi oleh pengalaman ribuan tahun.

"Ginseng Liar berusia 10 tahun... kualitas rendah. Terlalu banyak kandungan air." "Jamur Lingzhi Merah... dikeringkan dengan api buatan, bukan matahari. Potensinya hilang 30%." "Bubuk Tanduk Rusa... amis. Kemungkinan dicampur dengan tulang sapi."

Analisis itu berjalan di otaknya dalam hitungan detik.

"Menyedihkan," gumamnya. "Standar dunia fana ini benar-benar di bawah garis kemiskinan."

Di kehidupan sebelumnya, bahan-bahan seperti ini bahkan tidak layak dijadikan pupuk kebun obatnya. Tapi sekarang, sampah-sampah ini adalah satu-satunya harapan untuk menyelamatkan tubuhnya yang hancur.

Dia melangkah masuk.

Lantai kayu bangunan itu dipoles mengkilap. Rak-rak tinggi menjulang sampai ke langit-langit, dipenuhi ratusan laci kecil dengan label kertas. Ada aroma lilin lebah dan kertas tua yang menenangkan.

Di belakang meja konter panjang yang terbuat dari kayu mahoni, berdiri seorang pelayan toko. Pria itu berusia tiga puluhan, mengenakan jubah sutra biru muda yang rapi, dengan kumis tipis yang terawat. Dia sedang menimbang sesuatu dengan timbangan emas kecil, wajahnya tampak bosan.

Saat Yang Chen masuk, lonceng kecil di pintu berbunyi. Kling.

Pelayan itu mendongak. Matanya menyapu penampilan Yang Chen. Jubah hitam murahan. Sepatu penuh lumpur kering. Aura suram.

Tidak ada sambutan hangat.

"Kami tidak memberikan sedekah di sini," kata pelayan itu datar, kembali fokus pada timbangannya. "Kuil Dewi Welas Asih ada dua blok dari sini."

Yang Chen berjalan mendekat ke meja konter. Dia tidak tersinggung. Di mata pedagang, pelanggan adalah uang. Jika kau tidak terlihat punya uang, kau bukan manusia.

Yang Chen meletakkan tangannya di atas meja kayu yang dingin itu. Jari-jarinya yang kurus mengetuk permukaan meja dua kali.

Tuk. Tuk.

"Aku mencari bahan," suara Yang Chen serak dan rendah, disamarkan agar terdengar lebih tua dari usia aslinya.

Pelayan itu menghela napas panjang, meletakkan pinsetnya dengan kasar. "Dengar, Pengelana. Bahan di sini mahal. Satu ons akar Licorice biasa saja harganya 50 tembaga. Kalau kau cuma mau beli obat sakit gigi atau salep gatal, pergi ke pedagang kaki lima di pasar."

Yang Chen mengabaikan ocehan itu. Dia menyebutkan daftar belanjaannya dengan intonasi yang presisi.

"Tiga batang Rumput Tulang Besi (Iron Bone Grass). Harus yang akarnya masih utuh, tidak boleh patah." "Dua ons Bubuk Belerang Merah. Murni, tanpa campuran pasir." "Dan satu kantong empedu Ular Tanah kering."

Pelayan itu terdiam. Alisnya terangkat sebelah.

Itu bukan daftar belanjaan orang sakit biasa. Rumput Tulang Besi adalah bahan keras yang bisa merusak usus jika dimakan langsung. Belerang Merah adalah racun api ringan. Dan Empedu Ular Tanah sangat pahit dan bersifat dingin.

Kombinasi ini... aneh.

"Kau mau meracuni siapa?" tanya pelayan itu curiga. "Atau kau mencoba membuat ramuan Body Tempering (Penempaan Tubuh) sendiri?"

Pelayan itu tertawa mengejek. "Hanya Alkemis bersertifikat yang bisa meramu bahan-bahan itu. Kalau kau merebusnya sembarangan, kau akan mati muntah darah. Aku tidak mau bertanggung jawab kalau ada mayat ditemukan besok pagi."

"Apakah kau menjual obat atau menjual nasihat?" potong Yang Chen dingin. "Kalau kau menjual nasihat, aku tidak tertarik. Kalau kau menjual obat, sebutkan harganya."

Pelayan itu mendengus kesal. "Baik. Kalau kau mau mati, silakan. Tapi jangan bilang aku tidak memperingatkanmu."

Dia berbalik badan, memanjat tangga geser untuk mencapai laci-laci di rak atas.

"Rumput Tulang Besi... Belerang... Empedu Ular..." gumamnya sambil membuka laci-laci itu dengan kasar.

Dia mengambil beberapa bahan, membungkusnya dengan kertas cokelat, lalu turun kembali. Dia melemparkan tiga bungkusan itu ke atas meja di depan Yang Chen.

"Totalnya 80 Keping Perak," kata pelayan itu. "Barang bagus semua. Bayar dulu, baru boleh buka."

80 Perak. Itu hampir setara 1 Keping Emas. Harga yang sangat mahal, dua kali lipat dari harga pasar wajar menurut ingatan Zhao Wei. Pelayan ini jelas mencoba memeras "orang asing" yang tidak tahu harga.

Tapi bukan harganya yang membuat Yang Chen marah.

Itu adalah baunya.

Bahkan sebelum dia membuka bungkusan kertas itu, Yang Chen sudah mencium sesuatu yang salah.

Bau Rumput Tulang Besi seharusnya tajam seperti logam berkarat. Tapi bau yang keluar dari bungkusan pertama... apek. Seperti jerami basah yang disimpan di gudang lembap selama setahun.

Yang Chen tidak mengeluarkan uangnya. Tangannya bergerak menyentuh bungkusan pertama.

"Kau bilang bayar dulu baru buka?" tanya Yang Chen pelan.

"Itu aturannya. Kalau kau pegang-pegang, nanti khasiatnya hilang," jawab pelayan itu malas. "Kalau tidak punya uang, keluar sana."

1
saniscara patriawuha.
lumayannnn....
Muh Hafidz
bagus thor pertahankan terus ritme cerita seperti ini, biar kita semakin mendalam menikmati alur ceritanya 👍👍👍
Muh Hafidz
saya suka ceritanya, runut, runtut gak cepat melompat, apalagi melompat lompat, saya setuju dg Thor ttp konsisten menceritakan adegan dg detil dan bertahap Krn itu membuat kita semakin bisa mendalami alur cerita, bravo buat Thor
saniscara patriawuha.
gassssssd deuiiiiii...
saniscara patriawuha.
gasssss pollllll.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttt....
saniscara patriawuha.
mantappp..
saniscara patriawuha.
gasssd polllll manggg chennnn
saniscara patriawuha.
ojo kesuwen mang otor moso sampe 6 episode hanya untuk menceritakan,,, cukup 3 bab,, langsung sat set sat set....
saniscara patriawuha.
lanjoootttttkannnnn.....
saniscara patriawuha.
lanjutttttkannnnn....
saniscara patriawuha.
gasssdd polllll ojoo kesuwennnn manggg otorrrrr
saniscara patriawuha.
gassssd pollllllll...
saniscara patriawuha.
gassssss pollllll manggg weuiuiii
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!