Khusus Dewasa 📌
"Menikahlah denganku dan akan kupastikan semua kebutuhanmu kupenuhi tanpa terkecuali."
Sebuah tawaran yang tentu saja tidak akan bisa ditolak oleh Calista mengingat ia butuh uang untuk pengobatan Ibunya yang sudah lama menderita penyakit jantung.
Rupanya tawaran dari Dennis Satrya memiliki syarat yang cukup sulit. Yaitu, membuat Calista harus dibenci oleh keluarga Dennis.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti dan simak cerita mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Pagi itu, suasana di ruang makan kediaman Satrya terasa lebih berat dari biasanya. Denis duduk di kursi kepalanya dengan ekspresi yang sangat datar, meskipun sisa-sisa kelelahan dari kejadian semalam masih samar terlihat di wajahnya. Calista berada di sampingnya, tetap dengan keanggunan yang tenang, meski ia tahu bahwa sepasang mata di seberangnya sedang bersiap untuk melancarkan serangan verbal yang melelahkan. Udara di ruangan itu terasa statis, seolah-olah setiap tarikan napas tertahan oleh kebencian yang mendidih di balik senyum sinis yang dipaksakan oleh dua wanita di depannya.
Susi dan Puput sejak tadi tidak berhenti melontarkan pandangan sinis. Mereka merasa terhina karena Denis tidak keluar kamar hingga matahari tinggi, dan mereka menyalahkan Calista atas hilangnya kendali mereka terhadap putra dan kakak mereka tersebut. Mereka merasa posisi mereka sebagai pemilik sah nama Satrya mulai tergeser oleh kehadiran wanita yang mereka anggap tidak selevel, menciptakan kecemburuan yang meluap-luap dalam setiap lirikan mata.
"Sepertinya ada yang merasa sudah menjadi pemenang di rumah ini hanya karena berhasil mengunci diri di kamar semalaman," sindir Susi sembari memotong omeletnya dengan gerakan yang kasar, menimbulkan bunyi denting logam yang menyakitkan telinga. "Memang ya, wanita dari kalangan entah-berantah itu senjatanya hanya satu: menjual kemolekan tubuh untuk mengikat pria agar tetap betah di tempat tidur."
Puput tertawa mengejek, suaranya melengking memenuhi ruangan yang luas itu. "Betul, Ma. Mungkin dia takut kalau Mas Denis sadar sebentar saja, dia bakal langsung ditendang keluar. Makanya, mumpung masih laku, dia pakai cara-cara murahan buat bikin Mas Denis nggak berkutik. Dasar wanita penjilat, nggak malu apa ya hidup menumpang dari kekayaan orang lain?"
Calista tetap diam, namun jemarinya yang memegang sendok perak tampak memutih karena tekanan. Ia mencoba menghormati Denis yang ada di sana, tetapi ucapan Puput berikutnya benar-benar melewati batas kesopanan yang bisa ia toleransi. Ada kemarahan yang mulai membakar di balik sikap dinginnya, sebuah pertahanan diri yang selama ini ia tekan rapat demi kelangsungan tujuannya di rumah itu. Ia menyadari bahwa membiarkan penghinaan ini terus berlanjut hanya akan membuat martabatnya hancur berkeping-keping.
"Lagipula, siapa sih yang tahu asal-usulnya? Bisa jadi dia itu cuma wanita simpanan yang beruntung, atau mungkin dibesarkan di lingkungan yang memang mengajarkannya untuk menggoda pria kaya," lanjut Puput dengan nada merendahkan yang sangat menjijikkan. "Melihat caramu berpakaian dan bersikap, aku yakin kau bukan dari keluarga baik-baik. Pasti orang tuamu malu punya anak yang kerjanya cuma mengejar harta dengan cara seperti ini. Atau mungkin, mereka memang yang mengajarimu untuk menjadi parasit?"
PLAK!
Suara tamparan keras menggema di seluruh penjuru ruang makan, menghentikan segala aktivitas pelayan yang sedang bertugas di sudut ruangan. Puput terjerembap ke samping, memegangi pipinya yang dalam sekejap berubah menjadi merah padam. Matanya membelalak kaget, tidak percaya bahwa wanita itu berani melayangkan tangan secara fisik di depan semua orang tanpa ragu sedikit pun.
Calista berdiri dengan napas yang memburu namun tatapan mata yang setajam belati. "Kau boleh menghinaku sepuas hatimu, Puput. Tapi sekali lagi kau menghina orang tuaku dengan mulut kotormu itu, aku pastikan kau akan menyesal telah lahir di keluarga ini," desis Calista dengan suara rendah yang sangat mengancam, memancarkan aura otoritas yang bahkan membuat para pelayan menundukkan kepala karena ketakutan.
Susi menjerit histeris melihat putrinya ditampar. "Denis! Kau lihat itu?! Istrimu sudah gila! Dia berani memukul adikmu di depan matamu sendiri! Usir dia, Denis! Usir wanita kasar yang tidak punya tata krama ini sekarang juga!"
Susi beralih menatap Denis, menuntut pembelaan mutlak agar Calista segera disingkirkan dari kediaman mereka. Namun, Denis tetap tenang. Ia perlahan meletakkan cangkir kopinya ke atas lepek, menyeka bibirnya dengan serbet kain putih, dan menatap Puput yang masih terisak di lantai dengan pandangan yang sangat dingin bahkan lebih dingin dari biasanya. Tidak ada sedikit pun kilat simpati atau kepedulian di mata pria itu terhadap adiknya sendiri.
"Mas... dia menamparku... kau lihat kan?" adu Puput sesenggukan, berharap sang kakak akan membela dirinya dan mengembalikan harga dirinya yang hancur di depan para pelayan rumah.
"Kau pantas mendapatkan lebih dari sekadar tamparan," jawab Denis singkat dan tajam, memutus harapan Puput dalam sekejap.
Ruangan itu mendadak senyap. Susi ternganga, sementara Puput seolah lupa cara menangis. Denis bangkit dari kursinya, berdiri tegak dengan aura yang sangat mengintimidasi, membuat Susi pun menciut di kursinya.
"Aku sudah berkali-kali memperingatkanmu untuk menjaga bicaramu, Puput. Menghina keluarga seseorang adalah tindakan yang sangat rendah dan pengecut," ucap Denis sembari menatap tajam ke arah adiknya. "Calista adalah istriku. Menghinanya sama saja dengan merendahkan pilihanku dan meludahi wajahku sendiri. Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu di meja makan ini, silakan angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga. Aku tidak butuh penghuni yang tidak tahu cara menghargai nyonya rumah dan terus-menerus memancing keributan tidak berguna."
Denis kemudian menoleh ke arah Calista, yang masih berdiri dengan tangan yang sedikit bergetar akibat gejolak emosi yang meluap. Ia meraih tangan yang baru saja digunakan Calista untuk menampar Puput, menggenggamnya dengan erat di depan mata Susi yang menyala karena amarah yang tak tersampaikan.
"Ayo berangkat. Aku tidak ingin seleraku rusak lebih jauh karena kebisingan yang tidak perlu di sini," ajak Denis dengan suara yang berat namun terdengar menenangkan bagi Calista.
Tanpa menoleh lagi pada Susi dan Puput yang terpaku dalam kebencian dan rasa malu, Denis menuntun Calista keluar dari ruang makan. Bagi Calista, tamparan itu bukan sekadar pelampiasan amarah, melainkan sebuah pernyataan bahwa ia tidak lagi bisa ditindas oleh siapapun. Ia telah menetapkan garis batas yang tidak boleh dilintasi. Dan bagi Denis, diamnya adalah dukungan mutlak; ia lebih menghargai kehormatan istrinya daripada ego adiknya yang manja dan bermulut tajam.
Pagi itu, tatanan kekuasaan di istana Satrya telah bergeser secara permanen. Susi dan Puput menyadari satu hal yang sangat pahit: di mata Denis, Calista bukan lagi sekadar pajangan atau mitra bayaran yang bisa mereka maki, melainkan sosok yang akan ia lindungi habis-habisan, meski harus berdiri melawan keluarganya sendiri. Perang ini baru saja dimulai, dan kali ini, Calista telah memenangkan babak pertama dengan gemilang, mengukuhkan posisinya sebagai wanita yang benar-benar memegang kendali di balik nama besar Satrya. Keberaniannya hari ini membuktikan bahwa ia bukan lawan yang bisa dianggap remeh, melainkan permaisuri yang siap mempertahankan takhtanya dengan cara apa pun yang diperlukan.
Bagaimana? Penasaran dengan cerita selanjutnya? Mohon dukungannya ya ❤🥰🙏