Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Dunia di Balik Kaca
Jumat malam tiba dengan kecepatan yang mengerikan.
Aku berdiri kaku di depan cermin full-body murah di sudut kamar kosanku. Napasku tertahan di pangkal tenggorokan.
Siang tadi, sebuah kehebohan yang disponsori oleh Arka Danadyaksa terjadi. Seorang asisten perempuan dengan setelan rapi datang mengetuk pintuku, membawakan sebuah dress box berlogo butik desainer ternama Paris, sekotak sepatu hak tinggi yang tingginya sukses membuat betisku ngilu hanya dengan melihatnya, dan... seorang makeup artist profesional yang langsung menyulap wajahku selama dua jam penuh.
Kini, perempuan yang menatap balik dari cermin itu seolah bukan diriku.
Aku mengenakan slip dress berbahan silk berwarna midnight blue biru gelap yang nyaris hitam. Kain sutra itu terasa sangat dingin di kulitku, namun jatuh dengan sangat sempurna, memeluk lekuk tubuhku tanpa terlihat berlebihan atau murahan. Rambut sebahuku yang biasanya lepek karena uap mesin espresso kini di-styling dengan model classic wave, dibiarkan tergerai elegan ke satu sisi bahu. Riasanku natural, tapi entah bagaimana berhasil memancarkan aura mahal yang tidak pernah kusadari aku miliki.
Siapa perempuan ini? batinku takjub sekaligus ngeri. Ini bukan Senja si tukang seduh kopi. Ini terlihat seperti pemeran utama drama makjang yang siap memperebutkan harta warisan.
Klakson mobil terdengar dua kali dari luar pagar kosan.
Perutku langsung melilit hebat. Aku menarik napas panjang-panjang, meraih clutch bag kecil berwarna senada, dan berjalan keluar kamar dengan sangat hati-hati. Tuhan, tolong jangan biarkan aku tersandung dan mempermalukan diriku sendiri di detik pertama.
Begitu pintu pagar besi kosanku berderit terbuka, napasku kembali tercekat.
Arka sudah berdiri menyandar di kap mobil BMW hitamnya. Pria itu tidak lagi memakai kemeja kerja biasa. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam pekat dengan potongan yang begitu pas di badan, seolah dijahit langsung di atas tubuhnya. Kemeja putihnya tak berdasi, membiarkan dua kancing teratasnya terbuka.
Pesona maskulin pria itu di bawah pendar lampu jalanan benar-benar tidak masuk akal, sukses membuat lututku mendadak selembek agar-agar.
Namun, yang membuatku mematung di tempat adalah reaksi Arka.
Pria arogan bermulut tajam itu mendadak terdiam seribu bahasa saat melihatku keluar. Tubuhnya langsung tegak. Mata kelamnya menyapu penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu heels-ku dengan gerakan lambat. Aku bisa melihat jakunnya bergerak naik turun, menelan ludah dengan susah payah.
Hening. Ia tidak mengatakan apa-apa.
Sial, dia diam saja. Kenapa dia diam? Kepanikanku meledak. Apa bajunya kelihatan aneh di badanku? Apa ritsletingku terbuka? Atau lipstikku terlalu menor sampai aku kelihatan seperti badut?
"Gue... terlalu aneh ya?" tanyaku kikuk, suaraku sedikit bergetar. Tanganku refleks meremas tali clutch untuk mengurangi rasa gugup. "Ketuaan, ya? Atau bajunya nggak cocok di gue? Kan gue udah bilang"
Arka menggeleng pelan, memotong racauanku. Perlahan, sebuah senyum terbentuk di bibirnya senyum tipis yang tulus, sangat memesona, dan luar biasa mematikan bagi kewarasanku.
Ia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara kami, lalu membukakan pintu penumpang untukku. Aroma parfum woody-nya langsung menyapaku.
"Lo luar biasa cantik, Nja," suaranya serak, rendah, dan bergetar tepat di telingaku. "Gue sampai nyesel ngajak lo ke acara malam ini. Kayaknya bakal banyak mata cowok hidung belang yang harus gue colok di ballroom nanti."
Pujian terang-terangan dan protektif itu sukses membuat pipiku terbakar sempurna. Aku buru-buru masuk ke dalam mobil, menyembunyikan wajahku yang pasti sudah semerah kepiting rebus.
Tiga puluh menit kemudian, mobil BMW Arka merayap masuk ke pelataran ballroom hotel bintang lima supermewah di kawasan Senayan.
Begitu pintu mobil dibukakan oleh valet, rentetan kilat blitz kamera dari para wartawan bisnis langsung menyambar liar, membutakan mataku sesaat. Aku nyaris mundur kembali ke dalam mobil, tapi sebuah tangan besar dan hangat tiba-tiba menggenggam tanganku erat, menuntunku keluar dengan mantap. Arka.
Begitu kami Melangkah melewati pintu kayu berukir raksasa itu, aku seolah disedot masuk ke dalam dimensi lain.
Ruangan ballroom itu luar biasa masif, diselimuti cahaya keemasan dari puluhan lampu chandelier kristal raksasa yang menggantung di langit-langit. Udara di dalam sini terasa berat, dipenuhi aroma parfum jutaan rupiah yang saling bertabrakan aroma Baccarat, kayu gaharu, dan mawar bercampur dengan aroma truffle dan champagne.
Ratusan orang berjas desainer dan gaun malam haute couture berdiri dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka memegang gelas kristal yang berkeringat, tertawa dengan desibel suara yang sangat tertata, dan saling melempar pujian yang terdengar sangat palsu di telingaku.
Ini habitat aslinya, batinku menciut. Dunia tempat dia dilahirkan. Aku cuma pendatang ilegal yang tersesat di sini.
Langkahku mendadak ragu. Tanganku yang menggenggam lengan Arka mulai berkeringat dingin. Rasa imposter syndrome mencekik leherku.
Menyadari kegugupanku, Arka menggeser posisinya menjadi lebih dekat hingga lengan kami menempel. Tanpa ragu sedikit pun di depan ratusan pasang mata yang mulai menatap ke arah kami, pria itu memindahkan tangannya dari lenganku, menyelipkannya di pinggang belakangku.
Sentuhan tangannya di punggung telanjangku yang hanya terhalang tipisnya kain sutra terasa sangat posesif namun luar biasa menenangkan. Menjadi jangkarku agar tidak terbang terbawa badai insecurity.
"Tetap di samping gue. Jangan pedulikan tatapan atau omongan orang lain," bisik Arka tepat di telingaku. Hembusan napasnya menenangkan detak jantungku yang menggila.
Sepanjang malam, Arka membuktikan ucapannya. Ia benar-benar tidak pernah membiarkanku sendirian lebih dari tiga langkah. Ia memperkenalkanku sebagai "Senja", tanpa embel-embel jabatan atau status, dan selalu memastikan tangannya menyentuh punggung atau menggenggam tanganku.
Namun, dari sudut mataku, aku bisa melihat perubahan yang sangat mengerikan pada diri Arka.
Begitu kami berhadapan dengan relasi bisnis, dewan direksi, atau menteri-menteri yang hadir, postur santai Arka menguap tak berbekas. Punggungnya menegang kaku seperti papan baja. Senyum yang ia berikan menjadi sangat terukur, matanya berubah menjadi sekalkulatif mesin penghitung uang, dan suaranya berubah menjadi sangat diplomatis.
Arka memasang 'topeng' korporatnya dengan sempurna. Sangat sempurna, hingga aku merinding melihatnya.
Jadi ini... batinku lirih, memperhatikan pria di sampingku yang sedang tertawa hambar menanggapi lelucon garing seorang investor tua. Jadi ini yang dia lakukan setiap hari. Tersenyum pada orang yang ingin menerkamnya. Menjabat tangan orang yang mungkin siap menusuknya dari belakang.
Melihat Arka berinteraksi di dunia aslinya ini, aku akhirnya menyadari betapa berat dan beracunnya beban yang dipikul pria itu setiap hari. Tidak ada yang tulus di ruangan berlapis emas ini. Setiap tawa diukur berdasarkan persentase nilai investasi. Setiap jabatan tangan adalah transaksi berdarah. Pantas saja Arka selalu terlihat begitu kosong, begitu lelah, dan mencari suaka mati-matian di kedaiku yang reot.
Tiba-tiba, tawa di kerumunan depan kami mendadak senyap. Orang-orang bergeser menepi, membelah kerumunan layaknya Laut Merah.
Seorang pria paruh baya dengan postur yang masih sangat tegap berjalan menghampiri kami. Rambutnya mulai memutih rapi, mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sangat mengintimidasi. Tatapan matanya setajam silet, menyapu sekeliling layaknya raja yang sedang memeriksa kerajaannya. Auranya luar biasa mendominasi, membuat udara di sekitar kami mendadak beku. Beberapa direktur tua bahkan sampai sedikit menundukkan kepala hormat saat ia lewat.
Itu Handoko Danadyaksa. Sang Komisaris Utama. Ayah Arka.
Jari-jari Arka di pinggangku seketika mencengkeram kain dress-ku lebih erat. Sangat erat hingga nyaris menyakitkan.
Pria tua itu berhenti tepat dua langkah di depan kami. Tatapan matanya yang sangat dingin tidak tertuju pada putranya, melainkan langsung menancap ke arahku. Menelanjangiku. Merendahkanku tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Menatap mata pria itu, bulu kudukku meremang hebat. Perutku melilit seolah diremas tangan raksasa.
Dia tahu, jerit batinku panik. Pria tua ini tahu persis siapa aku, dari mana asalku, dan kedai mana yang sedang kupertahankan.
Malam yang gemerlap ini bukan sekadar pesta perayaan. Badai yang sesungguhnya... baru saja akan dimulai.
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍