Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Pertama Dimulai
Jam di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul dua siang. Gwen tahu ia tidak bisa terus mengurung diri di kamar seharian. Tapi tetap saja, ia belum sanggup keluar dan menghadapi Raymon setelah kejadian pagi tadi.
Pria itu pasti menganggapnya gila.
Ya Tuhan, bahkan setelah dua tahun, kepalanya masih kacau.
Padahal Gwen sudah merasa membaik. Ia sudah sampai di titik di mana ia bisa berada di dekat pria bertubuh besar tanpa panik. Ia bahkan bisa mengobrol normal, selama mereka tidak menyentuhnya.
Memang, kebanyakan orang, terutama pria, lebih tinggi darinya. Tapi tidak semuanya memicu serangan panik.
Ia hanya bereaksi pada pria yang setinggi Hayes dan punya tubuh besar berotot.
Raymon tidak mirip Hayes yang berambut pirang dan berpenampilan seperti peselancar, tapi tinggi dan posturnya hampir sama.
Mungkin kalau ia sudah diperingatkan sebelumnya, atau tahu apa yang akan dihadapi, ia tidak akan bereaksi separah itu. Tapi tadi ia masih mengantuk, dan saat Raymon tiba-tiba berdiri menjulang di depannya, ia langsung kehilangan kendali.
Ia harus keluar dari kamar ini.
Masih ada yang harus dilakukan.
Masih ada orang yang harus ia tipu.
Dengan semangat, Gwen bangkit dari tempat tidur. Dengan kepala tegak, ia melangkah keluar kamar.
Raymon duduk di meja makan, garpu di satu tangan dan ponsel di telinga. Dari ekspresi gelap di wajahnya, jelas itu bukan kabar baik.
Gwen berusaha mengendalikan ekspresinya, lalu berjalan mendekat dan sengaja memilih kursi di sampingnya.
Raymon masih menelepon saat Gwen duduk, tapi matanya mengikuti setiap gerakannya.
Dengan gerakan setenang mungkin, Gwen menuang air ke dalam gelas dan memusatkan perhatian pada makanan di tengah meja. Ada semangkuk kentang, berbagai macam ikan, dan beberapa salad. Ia mengambil piring dan mulai mengisinya.
Ia juga mengambil sepotong roti dan mulai makan.
“Aku bakal turun dua puluh menit lagi,” kata Raymon ke telepon, lalu menutupnya dan kembali makan.
Mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok dan garpu yang terdengar.
Aneh.
Terasa… seperti kehidupan rumah tangga.
Gwen sempat mengira Raymon akan menyinggung kejadian pagi tadi, tapi pria itu sama sekali tidak membahasnya. Ia pun merasa lega.
“Aku suruh Dottie ambil beberapa pakaian kamu,” kata Raymon akhirnya. “Ada di tas di ruang tamu.”
“Bagus.”
Gwen mengambil tomat ceri dari piringnya dan memasukkannya ke mulut.
Raymon bersandar ke belakang, menyilangkan tangan di dada, lalu menatapnya beberapa detik.
Gwen berusaha fokus pada makanan, bukan pada lengan berotot Raymon yang membuat kain kemejanya tertarik.
Raymon memiringkan kepala dan menyipitkan mata. “Tahu nggak, menurut aku menarik... kamu bisa menghadapi situasi ini jauh lebih baik dari yang aku kira.”
“Situasi apa?”
Gwen mengambil mangkuk salad dan menambahkan selada serta tomat ceri ke piringnya.
“Ini. Dipaksa menikah sama orang kayak aku. Harus menunda hidup kamu selama enam bulan. Aku kira kamu bakal hati-hati. Enggan. Takut. Tapi kamu keliatan… santai aja ... Aneh!”
“Kamu pikir aku nggak waras?”
Gwen mengambil selembar selada, membungkus tomat ceri di dalamnya, lalu mencelupkannya ke mayones saat Raymon menatapnya penuh minat.
“Emang iya?” tanya Raymon. “Nggak waras?”
“Jelas nggak. Aku ini perwujudan kestabilan mental.” Gwen mengangkat selada gulungnya. “Mau?”
Dari ekspresi wajah Raymon, jelas dia tidak terhibur.
Gwen menghela napas, lalu menatapnya langsung. “Iya, menurut aku situasi ini kacau. Tapi ya udah. Emang gitu adanya. aku punya pilihan? Nggak. Bisa aku ubah? Juga nggak. Mau aku lawan atau nggak, hasilnya tetap sama. Jadi menurut aku, mending diterima aja dan jalani.”
“Kamu gila, kamu tahu itu kan?”
“Hidup emang gila. Tinggal kamu terima aja.”
Gwen mengangkat bahu, lalu mengangguk ke arah kruk di samping Raymon.
“Kenapa masih pakai kursi roda kalau kamu bisa jalan?”
“Aku lebih suka nyebutnya nyeret badan. Dan aku belum bisa seharian pakai kruk. Aku rencananya bakal berhenti pakai kursi roda, tapi sebelum aku bisa jalan total, aku nggak mau ada yang tahu.”
“Kenapa?”
“Ada alasanku sendiri. Cuma Troy, Carolina, sama fisioterapisku yang tahu. Sekarang kamu juga. Aku mau tetap kayak gitu, Gwen.”
“Nggak ada yang pernah lihat kamu jalan? Pembantu? Atau orang yang masuk ke kamar kamu tanpa izin?”
“Cuma Carolina yang boleh masuk ke sini. Dia yang bersih-bersih. Yang lain nggak akan bisa masuk kecuali diundang.”
“Kalau sampai ada yang lihat gimana?”
Raymon menatapnya datar. “Sebenernya nggak akan jadi masalah. Karena aku bakal langsung bunuh dia.”
Awalnya Gwen mengira itu bercanda. Tapi saat Raymon menatapnya, ia melihatnya jelas.
Pria itu serius.
“Kamu serem juga ya, Tuan Frost.”
“Itu bagian dari pekerjaan, Gwen,” jawab Raymon. “Di dunia aku cuma ada tiga hal yang orang pahami... loyalitas, uang, dan kematian. Ingat itu.”
Raymon meraih kruknya. “Aku harus bahas sesuatu sama Troy. Aku balik satu jam lagi.”
Gwen langsung berdiri, menarik napas dalam, dan memaksa kakinya tetap diam di tempat. Ia tidak akan membiarkan kejadian pagi tadi terulang.
Raymon bukan Hayes. Ia tidak akan membiarkan ketakutan itu menguasainya.
Raymon memposisikan kruk di kedua sisinya dan berdiri di depannya.
Ya Tuhan, pria itu tinggi sekali.
Detak jantung Gwen meningkat, tapi ia berhasil tetap tegak. Ia bisa melakukan ini. Ia akan tinggal bersama pria ini selama enam bulan ke depan. Ia harus mengendalikan diri.
Perlahan, Gwen mengangkat kepala dan menatap mata Raymon tanpa berkedip. Ia yakin tangannya yang gemetar tersembunyi di balik punggungnya.
“Aku penasaran kamu dikasih makan apa waktu kecil,” katanya, bahkan berhasil menyunggingkan senyum kecil.
Raymon hanya menatapnya beberapa detik, lalu mengangkat tangan dan mengusap pipinya dengan ibu jari. “Kamu aktris yang luar biasa, Babby.”
Tangannya menjauh, dan ia berjalan perlahan kembali ke kamarnya.
Gwen berdiri diam, bertanya-tanya apa maksudnya.