"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Saat ingin keluar dari rumah untuk mendatangi rumah Hutama, Nadira bertemu dengan Nyonya Saskia dan juga Nyonya Amira. Yang mungkin dari luar.
"Nona Nadira mau kemana ?" Tanya Nyonya Saskia. Sedangkan Nyonya Amira melihat ke Nadira sekilas saja.
"Wanita ini. kenapa sama sekali nggak menganggap ku ?" Ujar Nyonya Saskia dalam hati.
"Nona Nadira, kenapa kau nggak ada sopan santunnya sama sekali ? Kau itu sudah begitu lama merepotkan keluargaku. Kenapa ? Bertemu denganku, bahkan nggak menyapaku." Kata Nyonya Amira kepada Nadira, sedangkan Nadira hanya diam saja tak menjawab.
"Hahahaha.... Nggak tahu apakah Nona Nadira nggak dididik dengan baik dirumah atau memang itu sifat turun-temurun. Tetua mu itu, dan suamiku. Dia mengingat orang itu sepanjang hidupnya, dan dia juga memiliki sifat seperti itu." Sambung Nyonya Amira sambil menatap remeh ke arah Nadira.
"Arman, pada akhirnya, dia membuatku jadi bahan tertawaan. Dia sudah meninggal, jadi kau harus membayarnya." Ujar Nyonya Amira dalam hati.
Pada saat Nyonya Amira berbicara, dia terus menerus terdiam dan terus menerus melihat ke arah Nyonya Amira
"Nona Nadira, ibu mertuaku sedang bertanya padamu." Kata Nyonya Saskia.
Hingga pada akhirnya, muncul Tuan Rendi dari dalam menghampiri sang ibu.
"Ibu... " Panggil Tuan Rendi.
"ibu.... kenapa anda keluar ?" Tanya Tuan Rendi.
"Hehhh." Nyonya Amira hanya melengos.
Hingga pada akhirnya, pandangan Tuan Rendi berakhir pada Nadira yang masih saja terus diam tanpa berbicara.
"Nona Nadira, ibuku sudah tua, kepribadiannya agak keras kepala. Mohon anda jangan tersinggung. Aku dengar anda akan pergi, jadi aku sudah menyiapkan mobil khusus untuk anda." Kata Tuan Rendi.
Nyonya Amira dan juga Nyonya Saskia yang mendengarnya begitu syok, jika Nadira punya mobil khusus untuknya yang mana mobil itu akan digunakan untuk keluar.
Saat Nadira ingin melangkah keluar dia di cegah oleh Nyonya Amira.
"Berhenti." Tukas Nyonya Amira, tapi Nadira tetap pergi begitu saja.
"Ibu. Anda jangan bertingkah lagi." Cegah Tuan Rendi kepada sang ibu.
"Aku bertingkah ?" Sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Sepertinya kau nggak tahu siapa ibumu. Bukan hanya kau, tapi juga istri dan anakmu." Sambil memukul Tuan Rendi menggunakan tongkat yang selalu dia pakai.
"Kalian semua selalu berusaha untuk menyenangkan hatinya. Kenapa ? Ayahmu itu sudah meninggal. Apa kalian masih mau berusaha membuat ayahmu senang ?" Kata Nyonya Amira yang masih terus saja marah-marah.
"Ibu, anda jangan pernah berpikir berlebihan, oke ?" Kata Tuan Rendi.
"Aku berpikir berlebihan ?" Sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Menurutku, kau sama saja seperti ayahmu itu. Nggak ada hati nurani. Dia menipuku seumur hidup. Tahukah kau ?" Kata Nyonya Amira, sedangkan Tuan Rendi hanya diam membisu.
"Aku. Aku akan membuatnya nggak tenang bahkan setelah dia mati." Kata Nyonya Amira sambil menoleh kebelakang.
Sedangkan Tuan Rendi hanya melirik ke arah adik iparnya itu.
"Humph.... Dengan kekejaman ibu, dia bisa melakukan apa saja. Aku ingin tahu bagaimana gadis kecil ini bisa bertahan." Ujar Nyonya Saskia di dalam hati sambil tersenyum senang.
"Ibu, jangan marah. Kita kembali ke kamar saja." Ajak Nyonya Saskia sambil tersenyum senang.
"Ayo."
Setelah kedua Nyonya itu masuk, muncullah Adrian dari dalam karena ingin menyusul Nadira. Dan diapun berpapasan dengan sang Ayah yang kelihatan sangat marah, Adrian pun sempat menunjuk ke arah dua Nyonya tersebut yang sudah masuk ke dalam.
"Kau. Kau cepat kejar Nona Nadira. Aku bilang padamu. Agar lebih berhati-hati belakangan ini. Entah apa yang akan dilakukan oleh Nenekmu itu." Kata Tuan Rendi.
Sementara Adrian, hanya menghela nafas pasrah jika dia dimarahi oleh Ayahnya, tetapi dia tidak tahu akan kesalahannya itu.
"Kenapa masih diam saja ? Cepat pergi ?" Sentak Tuan Rendi hingga membuat Adrian kaget dan langsung kocar-kacir meninggalkan Ayahnya itu.
Sementara Tuan Rendi masih diam di tempat, sambil mengatur nafasnya yang memburu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ditempat lain, yaitu ditempat Keluarga Hutama. Mereka, masih melakukan sebuah ritual untuk mengetahui keberadaan jenazah tersebut yang katanya telah hilang.
"Kira-kira kapan masalah ini bisa diselesaikan ?" Tanya Nyonya Rania.
Si Pendeta pun bangkit, dari duduknya hingga melakukan sebuah aksi tapi tidak lama setelah itu, dia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Merekapun menjadi kaget dengan apa yang mereka lihat.
"Kenapa ? Masih nggak bisa. ?"Tanya Nyonya Rania.
Sementara Pendeta Axel, hanya diam sambil menyeka darah di mulutnya sambil menutup mata.
"Lalu bagaimana ini ? Aku membayar mahal untuk meminta kalian menyelesaikannya. Bagaimanapun, kalian harus menyelesaikannya untukku. Pendeta Axel, katakan yang sebenarnya padaku. Apa kau bisa menyelesaikan masalah ini ?" Kata Nyonya Rania.
Pendeta Axel terus menyeka darahnya yang keluar dari mulutnya itu dan berkata.
"Sebenarnya ada cara. Tapi, jika cara itu digunakan, cara itu akan merusak praktik spiritual ku." Kata pendeta Axel kepada Nyonya Rania dengan menahan darah yang terus keluar.
"Mohon bantuannya Pendeta Axel. Berapapun biayanya, aku bersedia untuk membayarnya." Kata Nyonya Rania sambil menelungkupkan tangannya di dada.
"Jangan ungkit masalah uang. Kasar." Marah Pendeta Axel.
"Baik. baik. Baik." Kata Nyonya Rania sambil mengangguk.
"Karena, kau begitu tulus, aku nggak masalah kehilangan kekuatan spiritual ku." Kata Pendeta Axel.
Nyonya Rania yang mendengarnya pun terlihat begitu senang sekali.
Saat sang pendeta ingin memulai ritualnya kembali, Adrian dan Nadira pun muncul disitu.
"Pendeta, apa kau sedang melakukan ritual atau hanya berpura-pura ?" Tanya Adrian kepada Pendeta tersebut.
"Ini adalah kerabat keluargamu ?" Tanya Pendeta Axel ke Nyonya Rania.
"Bukan. Kau adalah......" Tanya Nyonya Rania kepada Adrian.
"Keluarga Hutama cari orang lakukan ritual, 'Kan ? Kami datang mau melakukan ini." Kata Adrian.
"Kau ?" Pendeta Axel marah.
"Tentu saja. Bukan aku. Tapi, Nona kami." Kata Adrian sambil menunjuk ke arah Nadira, yang mana Nadira berada di belakang Adrian.
"Dia ? Bisa lakukan ritual ?" Tanya Pendeta Axel tertawa.
"Benar." Jawab Adrian dengan gaya sombongnya.
Sementara yang lain, menjadi tertawa karena dianggap sebuah lelucon. Mereka tidak percaya jika Nadira bisa melakukan ritual tersebut.
"Humph..... Wajahnya memang cantik, tapi sayang hanya pajangan. Bisa lakukan ritual ?" Ujar Pendeta Axel.
"Hey. Pendeta sialan, kau omong kosong apa ? Nona Nadira lebih cantik dari pajangan." Kata Adrian sambil menunjuk ke arah Pendeta Axel.
"Humph.... Apapun yang terjadi upacara ritual ini cukup aku sendiri yang lakukan." Kata Pendeta Axel.
"Nyonya Rania, lebih baik yang lain keluar saja." Suruh Pendeta Axel kepada Nyonya Rania.
"Pendeta Axel bilang dia bisa menyelesaikan hal ini. Kalian lebih baik cepat pergi." Usir Nyonya Rania kepada Nadira dan Adrian.
"Kalau dia punya kemampuan, nggak mungkin nggak lihat, ada dua gumpalan energi jahat yang menempel di bahumu." Kata Nadira kepada Nyonya Rania.
Setelah Nadira selesai berkata seperti itu, Nyonya Rania pun refleks mencari-cari apa yang dimaksud oleh Nadira. Karena dalam penglihatan Nadira, memang benar Nyonya Rania ditempeli oleh dua gumpalan jahat di bahunya.
"Kau bilang apa ?" Marah Nyonya Rania.
"Ucapan yang menakut-nakuti. Aku juga ahli dalam energi jahat. Bagaimana mungkin aku nggak bisa melihat apa yang kau katakan. Nyonya Rania, kau baik-baik saja ?" Kata Pendeta Axel, saat Pendeta Axel memanggil Nyonya Rania langsung terkejut.
Pada saat Pendeta Axel menanyakan apa dia baik-baik saja, sebenarnya Nyonya Rania sangat ketakutan, hingga pada akhirnya dia melihat ke arah bahunya itu, sambil ketakutan dan badannya menjadi gemetar.