NovelToon NovelToon
Putri Pengganti

Putri Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:298.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lunoxs

Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.

Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.

Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.

"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PP Bab 32 - Di Tangan Davion

Davion tidak langsung menanggapi keputusan Aluna.

Pria itu hanya duduk diam dengan tubuh bersandar, namun sorot matanya tertuju lurus pada Aluna.

Tatapan itu tidak hanya sekadar tatapan dingin melainkan penuh selidik, penuh kecurigaan yang tak lagi ia sembunyikan.

Dalam benaknya, apa yang dilakukan Aluna barusan bukanlah ketulusan.

Itu adalah strategi yang rapi. Strategi yang bahkan mampu memengaruhi keputusan Daddy Aston.

Senyum tipis nyaris tak terlihat, muncul di sudut bibir Davion. Senyum yang lebih menyerupai sindiran daripada rasa kagum.

Sementara itu Daddy Aston yang sempat terdiam cukup lama akhirnya menghela napas panjang. Wajahnya tampak sedikit lelah, seolah harus menerima keputusan yang sebenarnya tidak sepenuhnya ia setujui. Namun tatapannya saat kembali mengarah pada Aluna justru melembut.

Ia melihat gadis itu bukan sebagai seseorang yang sedang bermain peran. Melainkan seseorang anak yang sedang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri.

“Kalau itu memang keinginanmu, Aluna...” ucap Aston perlahan “Daddy tidak akan memaksakan.”

Aluna mengangkat wajahnya sedikit, menatap sang Daddy dengan tersenyum lalu ia mengangguk pelan.

“Iya, Dad,” jawabnya lembut.

Keputusan itu akhirnya diambil. Dan meskipun terasa ganjil di hati Aston, ia memilih untuk menghormatinya.

Namun di sisi lain, keputusan itu justru semakin memperkuat keyakinan Davion. Bahwa Aluna memang bukan wanita biasa. Bahwa ia tahu betul bagaimana mengatur langkahnya. Bagaimana mengambil posisi yang membuatnya terlihat benar.

Makan malam kemudian berlangsung.

Meja makan dipenuhi aroma hangat dari masakan Mommy Ivana membuat suasana terasa sangat harmonis, setidaknya bagi siapa pun yang melihat dari luar. Ivana terus bergerak aktif, mengambilkan makanan untuk Aluna, sesekali mengusap tangan sang menantu dengan penuh kasih, bahkan memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin tak pernah diperhatikan orang lain.

“Aluna, kamu harus coba yang ini,” ucap Ivana sambil menambahkan lauk ke piring menantunya. “Mommy buat khusus, rasanya pasti cocok di lidahmu.”

Aluna tersenyum, kali ini senyum itu tidak sepenuhnya dibuat-buat. Ada kehangatan yang benar-benar ia rasakan, sesuatu yang begitu begitu menenangkan.

“Terima kasih, Mom,” balasnya pelan.

Setiap perhatian kecil itu terasa seperti sesuatu yang mahal bagi Aluna. Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari rumahnya sendiri.

Daddy Aston pun sesekali ikut mengobrol, menjaga suasana tetap ringan. Ia menanyakan hal-hal sederhana, memastikan Aluna merasa nyaman, bahkan sesekali tertawa kecil saat Ivana terlalu bersemangat.

Namun di antara semua itu Davion tetap diam. Ia makan dengan tenang, tapi tidak benar-benar hadir dalam suasana tersebut. Tatapannya beberapa kali terarah pada Aluna, bukan dengan kehangatan melainkan dengan penilaian yang dingin dan terus mengamati.

Dan setiap kali mata mereka bertemu, Aluna langsung menunduk. Seolah tak berani bertahan terlalu lama di bawah tatapan tajam Davion.

Setelah semuanya selesai, Mommy Ivana dan Daddy Aston akhirnya pamit untuk pulang.

Ivana memeluk Aluna sebentar sebelum pergi, tangannya mengusap punggung gadis itu dengan lembut, layaknya seorang ibu yang benar-benar menyayangi anaknya.

“Jaga dirimu baik-baik, ya,” ucapnya hangat.

Aluna mengangguk dengan senyum kecil, meskipun ada sesuatu yang kembali terasa berat di dalam dadanya. Setelah mom Ivana pergi, apartemen akan kembali mencekam. “Iya, Mom. Hati-hati di jalan.”

Aston pun sempat menepuk bahu Davion sebelum keluar, tatapannya dalam namun tidak berkata apa-apa.

Pintu apartemen pun tertutup.

Dan dalam sekejap suasana benar-benar berubah. Tidak ada lagi suara hangat apalagi tawa. Hanya tersisa keheningan yang terasa menakutkan.

Davion berdiri tak jauh dari pintu, lalu perlahan menoleh ke arah Aluna yang masih berdiri di ruang tengah.

Tatapan pria itu berubah sepenuhnya jadi dingin. Dan tiba-tiba Davion bertepuk tangan kecil.

“Bagus,” ucap Davion datar, satu kata yang terasa lebih menyakitkan daripada teriakan. “Sungguh sangat bagus.”

Aluna membeku.

“Kamu berhasil membuat Daddy mengubah keputusannya,” lanjut Davion dengan langkah perlahan mendekat. “Berhasil terlihat seperti orang yang tidak serakah. Dan tentu saja berhasil membuat Mommy semakin menyayangimu.”

Setiap kalimat itu seperti pisau yang diselipkan dengan tenang, menusuk tanpa suara.

“Aku tidak bersandiwara, Dav…” suara Aluna akhirnya keluar, pelan, hampir seperti bisikan.

Namun Davion langsung memotongnya tanpa memberi ruang sedikit pun. “Aku tidak peduli.”

“Aku tidak peduli apa alasanmu,” lanjutnya, kini berdiri cukup dekat hingga jarak di antara mereka terasa menyesakkan. “Karena bagiku, kamu tetap sama.”

Tatapan mereka bertemu.

Dan di mata Davion, Aluna tidak menemukan apa pun yang bisa ia pegang. Tidak ada kepercayaan ataupun empati. Hanya kecurigaan yang tak tergoyahkan.

“Lanjutkan saja semua itu,” ucapnya kemudian,“Tapi jangan berharap aku akan percaya.”

Dan tanpa menunggu jawaban, Davion pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Aluna yang manis terdiam dalam kehancuran hatinya.

Aluna tidak langsung bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap kosong ke arah lorong yang baru saja dilalui Davion.

Setelah beberapa saat Aluna akhirnya berjalan menuju kamarnya sendiri. Pintu tertutup pelan di belakangnya.

Dan barulah ia membiarkan dirinya duduk di tepi ranjang, tubuhnya sedikit membungkuk dan tangannya menggenggam ponsel dengan erat.

Layar menyala dan Aluna langsung membuka kontak, Nama-nama itu kembali muncul di bagian paling depan.

Mama Sarah.

Papa Pieter.

Vincent.

Dan satu kakaknya yang lain.

Orang-orang yang ia pikir sangat menyayanginya, tapi justru terus memberinya tekanan.

Yang terus menuntut.

Yang selalu menginginkan sesuatu darinya tanpa pernah benar-benar melihatnya.

Jari Aluna bergetar, namun kali ini dia tak ingin ragu lagi. Satu per satu nomor itu Aluna blokir. Pelan-pelan memutus semua ikatan.

Waktu bergulir tanpa terasa.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang nyaris sama, namun perlahan membawa perubahan yang tidak bisa diabaikan.

Hampir satu bulan telah terlewati sejak malam ketika Aluna memblokir seluruh kontak keluarganya, sebuah keputusan yang mungkin terlihat sederhana, namun bagi dirinya adalah langkah paling berani yang pernah ia ambil sepanjang hidup.

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi panggilan. Tidak ada lagi pesan, tak ada pula suara yang menuntut, memaksa, atau menyalahkannya.

Aluna mulai menjalani harinya dengan lebih terarah. fokus untuk membangun relasi dengan lebih serius. Tawaran menjadi guru tetap masih ia simpan, belum ia jawab, namun kini bukan lagi karena ragu melainkan karena ia sedang menyusun langkah yang lebih besar untuk dirinya sendiri.

Sementara itu keadaan keluarga Myles justru semakin memburuk.

Ruang rapat utama perusahaan kini terasa lebih tegang. Berkas-berkas menumpuk di meja, laporan keuangan menunjukkan angka-angka yang semakin tidak masuk akal, dan tekanan dari pihak bank terus datang tanpa henti.

Vincent berdiri di depan meja dengan wajah gelap, ponselnya masih tergenggam erat di tangan. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi Aluna selama beberapa minggu terakhir.

Namun hasilnya sama, tidak pernah terhubung.

“Sepertinya dia memblokir kita,” ucap Vincent akhirnya dengan suara berat, memecah keheningan ruangan.

Pieter yang duduk di kursinya langsung mengangkat wajah dengan ekspresi tak percaya. “Tidak mungkin.”

“Faktanya begitu,” balas Vincent dingin. “Semua nomor keluarga tidak bisa menghubunginya.”

Wajah Pieter perlahan memerah karena marah. Anak yang selama ini telah ia besarkan ternyata tumbuh jadi manusia yang tak tahu diri.

“Anak itu…” desisnya pelan. “Berani sekali dia.”

Namun di balik amarah itu, terselip kegelisahan. Karena untuk pertama kalinya Aluna tidak bisa mereka kendalikan.

Upaya berikutnya pun dilakukan.

Pieter mencoba menghubungi Aston. Namun jawaban yang ia terima justru membuatnya semakin terdiam.

“Aku sudah tidak lagi mengurus perusahaan, Pieter,” ucap Aston di seberang telepon. “Semua keputusan sekarang ada di tangan Davion.”

1
Alexa Juliana
Kau sdh keluar dr rumah org tua angkatmu dan tdk akan menyetirmu Aluna, jd keluarkan saja apa yg kau pendam selama ini yaaah wlw bertahap..Kau sdh bebas dr belenggu orang tua angkatmu Aluna sejak mrk menerima uang dr Dad Aston..
Dew666
🔥🔥🔥🔥
imel
lagi bayangin ini kayak guguk jemput majikan sambil kibas kibas ekornya 🤣🤣🤣🤣🤣
olyv
big no 😂😂
MoonNew 🌿
ini kan dlu yg dav mau dri Aluna 😆 sekarang gimana dav ?
nano nano kan😆
Dini Rachmawati
Butuh perjuangan Dav, untuk bisa mendapatkan kesempatan kedua itu .. tunjukkan dan berubahnya demi meraih cinta dari Aluna lagi ...
Naufal Affiq
lanjut kak
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
abimasta
tidak semudah itu memaafkan davion,aluna sudah sakit hati atas kata2mu
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
🍁 Fidh 🍁☘☘☘☘☘
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
💥💚 Sany ❤💕
Yang kamu cari kesalahan tapi yang kamu dapat adalah kebenarannya Dav, kamu benar-benar kalah Dav
yulianaAVF
ceritanya menatik
💥💚 Sany ❤💕
Waduh Dav.... ngapain kamu datang dan jadi penguntit?. Dulu aja kamu abai ma Luna
💥💚 Sany ❤💕
Sekarang Mom Sarah mulai menyesal kan?. Makanya Mom....., anak itu ya tetap disayang meskipun bukan darah daging sendiri, kalo gak.... ngapain juga dulu diangkat jadi anak
💥💚 Sany ❤💕
Syukurin, makanya Mom Sarah jangan suka ngatur dan menganggap Luna cuma numpang. Sekarang liat tu kelakuan anak kesayangan mu
💥💚 Sany ❤💕
Disaat Aluna dah pergi baru dech kamu ketar ketir Dav.
💥💚 Sany ❤💕
So Clara ini kayak kompor meleduk aja, suka banget komporin orang. Ingat Clara, sirik itu tanda tak mampu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!