Trauma sang Letnan akan masa lalunya bersama seorang wanita untuk kesekian kalinya, membuatnya tidak ingin lagi berurusan dengan makhluk berjenis wanita.
Rasa sakit di hatinya membuatnya betah 'melajang', bahkan sampai rekan letting dan juniornya banyak yang memiliki momongan.
Namun, cara Tuhan mempertemukan manusia dengan jodohnya memang sangatlah adil. Ia sangat tidak menyukai gadis ini tapi.............
KONFLIK TINGKAT TINGGI. SKIP bagi yang tidak bisa membaca alur cerita berkonflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Tekanan.
Hari ke lima pencarian. Seluruh penumpang berdasarkan manifest sudah di temukan dan berhasil di evakuasi. Karena kondisi yang di temukan tidak lagi baik, maka upacara pelepasan di laksanakan secara simbolis.
Anye semakin bersedih karena hingga saat ini belum juga ada kabar tentang Letnan Rinto.
"Tolong cari lagi, Bang..!!!" Pinta Anye. Keadaannya pun sudah semakin memprihatinkan.
"Masih Abang usahakan, tapi kamu juga harus makan. Bang Rinto sangat menginginkan dia, jangan mengecewakan Abang lebih dalam lagi." Bujuk Bang Ali, meskipun dirinya tau pencarian itu akan segera di hentikan pada hari ke tujuh.
\=\=\=
Kali ini keadaan Anye sudah sangat parah. Sejak berita hilangnya Letnan Rinto, entah berapa puluh kali Anye tidak sadarkan diri.
Keputusan menghentikan pencarian membuat petugas medis pun angkat tangan dan akhirnya Bang Ali sendiri yang membawa Anye ke rumah sakit.
"Kamu boleh berduka, boleh terluka. Tapi kamu juga akan menjadi seorang ibu. Apa kamu tega menyakiti anakmu yang bahkan masih belum bisa menghirup nafas di dunia. Anak ini amanah Bang Rinto, beliau menginginkannya dengan caranya. Abang sudah bilang, kalau kamu tidak sanggup menanggungnya, Abang yang akan menanggungnya untukmu..!!!!!" Ucap tegas Bang Ali.
Anye kembali menangis, tapi tangisnya kini sudah tidak terdengar menyayat hati seperti sebelumnya.
"Sayangi dia, terus do'akan Papanya dimanapun berada." Bujuk Bang Ali.
\=\=\=
Pagi ini Anye menyiram tanaman di rumah kontrakan yang di pilihkan Bang Ali untuknya. Kini usia kandungan Anye sudah memasuki usia tujuh bulan.
"Makin bulat saja itu perut. Setelah ini kita jalan-jalan ke kota, yuk..!! Sekalian cek up kandunganmu." Ajak Bang Ali dengan senyum lebar dan tentengan di tangan kanannya.
"Apa Anye terlihat gendut???" Tanya Anye sambil melihat bungkus plastik di tangan Bang Ali. "Apa itu??"
Bang Ali mengusap perut Anye yang mulai membesar. Senyum ceria itu berubah menjadi sebuah senyum yang begitu dalam.
"Abang bawa nasi uduk, makanlah dulu..!!"
...
"Sayang sekali nggak kelihatan." Kata Bang Ali yang kali ini kembali menelan kekecewaan karena calon bayi kecil di perut Anye tidak mau menunjukkan jenis kelamin nya.
Anye melebarkan senyumnya. Baru kali ini Bang Ali melihat senyum dari wajah Anye.
"Senyumlah terus seperti ini. Abang rela menukar apapun asalkan kamu bisa terus tersenyum." Ujar Bang Ali.
Senyum Anye mendadak tenggelam. Bang Ali langsung menyadari ucapannya yang mungkin salah.
"Anye, maaf kalau Abang lancang. Sudah setengah tahun tidak ada kabar dari Bang Rinto. Surat pengajuan nikahmu dengan Bang Rinto juga sudah di batalkan. Kira-kira, bolehkah Abang melamarmu??" Tanya Bang Ali penuh kehati-hatian.
Anye terpaku, ia bingung harus menjawab pertanyaan Bang Ali. Tapi selama ini hanya pria inilah yang terus menjaga dan memberikan segalanya hingga dirinya mampu bertahan hingga menerima bayi kecil di dalam perutnya.
"Tidak usah di jawab sekarang. Abang hanya... Mengungkapkan apa yang ada di hati, apapun jawabanmu nanti, Insya Allah Abang menerimanya dengan lapang dada." Imbuh Bang Ali.
Anye mengangguk tapi pikirannya pun berputar mengitari isi kepala.
//
"Arrgghhhh.." Seorang pria begitu frustasi sampai membanting tongkat penyangga dari tangannya. Ia terduduk frustasi hingga menitikan air mata.
Seorang wanita sepuh segera menghampiri pria tersebut bersama suaminya.
"Sabarr.. Sabaaaarr..!! Rinto." Bujuk kakek.
"Saya kurang sabar bagaimana, kek. Saya melatih kaki untuk berjalan tapi sampai hari ini tidak ada perubahan. Istri saya sendirian di kota, pasti sekarang perutnya sudah sangat besar." Kata Bang Rinto.
Suasana pedalaman memang sudah mengurungnya berbulan-bulan. Para penduduk hampir tidak pernah keluar dari wilayah tersebut dan hanya terisolasi mengandalkan hutan untuk kehidupan mereka.
"Kamu tidak nyaman ya, disini?? Apa wanita dari kota lebih cantik daripada wanita disini?" Tanya kakek.
"Tidak begitu, Kek. Masalahnya saya sudah punya istri." Jawab Bang Rinto.
"Kamu baru punya satu istri, disini mau mengambil empat istri pun boleh. Nantinya mereka akan saling membantu dan saling menjaga anak."
Bang Rinto meraup wajahnya. "Mungkin benar aturan disini berlaku. Tapi tidak begitu dengan hukum negara apalagi dengan apa yang saya yakini. Istri saya hanya ada satu."
"Tapi.. Mauria menyelamatkan kamu bahkan selama satu bulan penuh dia merawatmu dengan sepenuh hati. Dia adalah putri disini dan dia juga mau turun tangan untukmu. Tidak kah kau mau membalas budi??" Ujar kakek.
"Banyak cara untuk membalas budi."
"Kau sanggup mengirim seperangkat alat masak keramik?? Itupun masih di tambah sepasang rusa. Apa tidak sebaiknya kau nikahi saja putri cantik itu." Bujuk kakek.
"Ijinkan saya keluar dari sini, saya akan penuhi semua..!!" Balas Bang Rinto.
"Kau ini asal bicara saja. Coba lihat keadaanmu, jika sampai satu bulan lagi kau tidak bisa jalan juga. Lebih baik kau menikah saja dengan putri Mauria." Jawab kakek.
.
.
.
.
memang rumit, percayakan kisah sesuai alur yang diinginkan othornya
semangat Thor.....sukses selalu