Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8—Berlatih l
“Ah, lamban sekali kau!" Wuxu berkata dengan nada mengejek. Ia terlihat duduk di sebuah batang kayu yang cukup besar, dimana batang kayu tersebut sedang dipanggul oleh Yuofan seraya menaiki sebuah bukit.
“Berisik!” balas Yuofan dengan wajah dipenuhi oleh keringat.
Hari ini Yuofan mengikuti saran yang diberikan oleh Wuxu untuk melatih fisiknya terlebih dahulu. Menurut Wuxu, seseorang yang ingin menjadi praktisi tidak bisa hanya mengandalkan energi atau teknik saja. Tetapi tubuhnya juga harus cukup kuat untuk menahan dan mengalirkan energi tersebut. Jika tubuh terlalu lemah, proses kultivasi justru bisa berbahaya bagi dirinya sendiri. Karena itu, latihan fisik menjadi langkah awal yang harus dilakukan.
Selain memperkuat tubuh, latihan seperti ini juga berfungsi sebagai rangsangan awal untuk membuka dantiannya. Karena tingkatan dari tanah kultivasi sendiri dimulai dari tingkat kekuatan fisik, yaitu Penguatan Fisik. Lebih dari itu, untuk tingkat lainnya ada Pengumpulan Qi, Pembentukan Fondasi, Pembentukan Inti, Penguatan Tulang, Penyucian Roh, Roh Suci, Setengah Dewa, dan terakhir adalah Dewa. Setiap ranah terbagi kembali menjadi 9, yaitu 1 sebagai yang terendah dan 9 sebagai yang tertinggi. Terkecuali ranah roh suci dan setengah dewa hanya terbagi menjadi 3 yaitu rendah, menengah, dan tinggi.
Berbeda dengan ranah lainnya, ranah ini juga sangatlah spesial. Karena jika seseorang sudah memasuki ranah ini maka ia bisa diartikan sudah lebih kuat dari dunia tempatnya tinggal. Maka dari itu langit akan memberikan mereka ujian yang disebut sebagai ujian guntur. Ujian ini terbagi menjadi beberapa tingkatan, tergantung seberapa kuat praktisi yang akan menjalani ujian tersebut.
Pertama, dari ranah Roh Suci dimulai dari tribulasi 3 sampai 6 guntur, lebih dari itu maka kualifikasi mereka diatas rata-rata. Selanjutnya untuk setengah dewa paling rendahnya adalah tribulasi 18 sampai 36, sedangkan untuk dewa harus bisa menahan 49 guntur dan bisa saja lebih jika memang orang itu memiliki kekuatan yang cukup. Jika gagal dalam ujian ada dua faktor yang akan di dapat, pertama akan kehilangan dantian serta kerusakan pada jiwa atau bisa di bilang menjadi cacat, kedua akan langsung kehilangan nyawa ditempat. Tetapi dibalik kesulitan itu, akan ada timbal balik besar yang didepat, seperti bertambah kuatnya jiwa, fisik, dan inti didalam tubuh.
Yuofan menaruh dengan kasar batang kayu yang ia panggul ke tanah, “HAH!!” ia langsung segera duduk untuk mengatur nafasnya dan mengistirahatkan tubuhnya.
“Keluarkan istana sunyi.” ucap Wuxu membuat Yuofan sedikit heran, tetapi ia tetap melakukannya dan mengambil Istana sunyi yang sebelumnya ia simpan didalam tas.
[ “Urkrena-Formazh]
Wujud asal
Istana yang sebelumnya hanya seukuran genggamannya tangannya, kini perlahan membesar hingga hampir memenuhi seluruh puncak bukit. Dinding, bentuk, dan gerbangnya tidak mengalami perubahan apapun, tetapi pola-pola aneh sebelumnya tidak muncul yang menandakan bahwa artefak tersebut tidak aktif sepenuhnya. Karena memang fungsi utamanya adalah untuk menyegel dan mengurung sebuah target.
Yuofan kemudian memasuki istana itu dengan langkah lelah. Dari dalam ia bisa melihat ada sedikit perubahan yang terjadi, bukan hanya pola diluar menghilang tetapi didalam pun begitu adanya. Dan istana ini kini hanya seonggok artefak yang dijadikan tempat penyimpanan oleh Wuxu sekaligus Yuofan sebagai pemiliknya.
“Ha… pemandangan indah ini sangat membantu menghilangkan lelah ku.” Yuofan tersenyum lebar saat memasuki ruangan pertama yang berisikan tumpukan harta-harta, seperti koin-koin, bebatuan berharga, dan benda-benda lainnya.
Wuxu ikut melirik kearah hartanya. “Ini adalah barang dari dunia iblis, beberapa juga berasal dari dunia dewa. Aku tidak tahu apakah di dunia mu akan berlaku atau memiliki harga.” ucapnya seraya mengangkat kedua bahu dengan santai.
Mendengar itu Yuofan berhenti sejenak lalu mendekati tumpukan tersebut. Ia mengambil beberapa barang disana dan memeriksanya.
“Seharusnya ini memiliki harga, apalagi beberapa diantaranya dilapisi oleh emas.” ucap Yuofan seraya melemparkan kembali barang itu kedalam tumpukan.
“Ah sudahlah, jika kau memang memerlukannya pakai saja. Sekarang cepatlah masuk keruangan berikutnya,” ucap Wuxu yang merasa mereka hanya membuang-buang waktu disana.
“Aku malas untuk menjelaskan, jadi kau baca saja sendiri. Aku rasa kau tidak terlalu bodoh juga." Lanjut Wuxu yang kemudian terbang dan bertengkar diatas kepala Yuofan.
“Sebenarnya kau mengejek atau memuji?" Balas Yuofan yang merasa kesal mendengar ucapan Wuxu. Sedangkan Wuxu sendiri hanya tertawa kecil. “Menghina.” balasnya dengan santai.
Yuofan terbatuk, merasa terkejut dengan balasannya. “Sialan kau.”
Ketika sampai diruangan kedua, yang merupakan tempat penyimpanan gulungan serta buku-buku yang disusun rapih dalam rak, Yuofan melihat-lihat beberapa diantara buku itu.
“Mulailah dari rak paling kiri, itu yang paling mudah dan cocok untuk pemula seperti mu.” ujar Wuxu menunjuk rak yang disimpan di paling kiri ruangan.
Yuofan pun mengerti dan berjalan kesana, disana ia langsung mengambil sebuah buku yang menarik perhatian nya. Buku itu memiliki sampul berwarna coklat dengan sebuah lingkaran hitam ditengahnya, ia kemudian membawa buku itu ke altar dan membukanya disana.
“Pilihan yang bagus.” ucap Wuxu yang melihat buku pilihan Yuofan.
Pada bab pertama Yuofan melihat judulnya yang bertuliskan “Dasar-dasar pernafasan iblis.”, dengan tenang Yuofan mulai mempelajari isi dari bab tersebut. Ia juga menyenderkan tubuhnya pada tiang penyangganya yang saat ini hanyalah tiang biasa.
Sembari menunggu Yuofan mempelajari buku tersebut, Wuxu menutup kedua matanya dan terlelap diatas kepala Yuofan. Sedangkan anak yang kepalanya dijadikan tempat tidur hanya fokus pada urusannya, menghiraukan sosok yang menurduri kepalanya.
Lembaran demi lembaran mulai ia pahami, mulai dari cara penarikan energi, pengelolaan nya, serta cara penggunaannya sudah masuk kedalam kepalanya. Karena penasaran Yuofan langsung mempraktekkan nya, ia mengubah posisi duduk nya yang sebelumnya menyender pada tiang menjadi bersila dengan kedua tangan di ujung dengkul kakinya. Ia menutup kedua matanya untuk fokus merasakan sekitarnya, bersamaan dengan itu ia menarik nafasnya perlahan dan merasakan setiap hembusan nafasnya.
Wuxu membuka matanya, merasakan keanehan disekitarnya. Ia pun menyadari bahwa saat ini Yuofan tengah mempraktekkan langsung apa yang sudah ia baca. Ia pun terbang menjauh dari sana, tatapan meneliti dengan tajam setiap proses yang dilakukan Yuofan. Tidak ada yang salah, bahkan bisa dibilang semua itu sudah sempurna. Tetapi, ia tetap menatap dengan tatapan heran dan dahi yang mengerut.
“Bukankah dia belum membuka dantiannya?” gumamnya seraya bertolak pinggang.
Kembali Wuxu mencoba mencari tahu kemana energi itu akan pergi setelah memasuki tubuh Yuofan, karena seharusnya energi itu masuk kedalam dantian, tetapi karena Yuofan belum membukanya pasti itu tidak akan terjadi. Tetapi sebelum ia sempat mencari tahu, tiba-tiba Yuofan menghentikan kegiatan nya.
“Apakah ini tidak berhasil?” ucapnya seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Wuxu menatapnya dengan datar, “Bukan tidak berhasil, tetapi kau belum membuka dantian mu bodoh!” ucapnya seraya memukul kepala Yuofan.