Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Karma
Mobil melaju mulus meninggalkan kawasan mansion. Ge duduk santai di kursi penumpang, satu tangan menopang dagu, sementara matanya memperhatikan jalanan.
“Om,” katanya tiba-tiba.
Arif tetap fokus menyetir. “Apa?”
Ge menoleh. “Yang tadi aku bilang… soal nyokapnya mereka.”
Arif terdiam sejenak. Lalu dia menghela napas pelan. “Zara belum tahu.”
Ge langsung menoleh. “Serius?”
Arif mengangguk. “Dia masih terlalu polos untuk hal seperti itu.”
Ge meringis kecil. “Kasihan juga ya…”
Arif melanjutkan, “Kalau Naya… dia tahu.”
Ge terdiam sejenak. “Pantesan dia tadi langsung diem.”
Arif mengangguk tipis. “Dia memilih diam daripada membuka aib ibunya sendiri.”
Ge menyandarkan punggungnya. “Ribet juga ya keluarga kaya.”
Arif tersenyum tipis. “Setiap keluarga punya masalah. Hanya bentuknya saja yang berbeda.”
Ge menghela napas. “Iya sih…”
Beberapa detik suasana kembali hening. Lalu Ge menyeringai kecil.
“Berarti sekarang… Tante Clara lagi sendirian ya?”
Arif tidak langsung menjawab. Tapi tatapannya sedikit berubah.
...***...
Clara berdiri di depan sebuah apartemen mewah. Wajahnya masih terlihat tegang. Tangannya menggenggam ponsel erat.
“Kenapa nggak diangkat…” gumamnya pelan.
Sejak kemarin, dia terus mencoba menghubungi seseorang. Tapi tidak ada jawaban. Dengan langkah cepat, dia masuk ke dalam gedung. Naik lift. Jantungnya berdegup lebih cepat.
TING!
Pintu lift terbuka. Clara berjalan cepat menuju sebuah unit. Dia berhenti di depan pintu. Tangannya terangkat, lalu mengetuk. Tidak ada jawaban. Dia mencoba lagi. Kali ini lebih keras.
“Bastian!” panggilnya.
Tetap tidak ada jawaban. Clara mengernyit. Lalu dengan nekat, dia mencoba membuka pintu. Tidak terkunci.
Pintu terbuka perlahan. Clara melangkah masuk dan langsung membeku. Di dalam ruangan, seorang pria sedang bersama wanita lain. Duduk santai dan tertawa.
Pria itu menoleh. Itu Bastian.
Wajah Clara langsung berubah. “Apa… ini?”
Wanita di samping Bastian langsung bangkit, kaget.
Bastian hanya menghela napas kesal. “Kau ngapain ke sini?”
Clara menatapnya tidak percaya. “Kamu… selingkuh?”
Bastian tertawa kecil. “Selingkuh? Lucu juga.”
Clara mengepalkan tangan. “Jadi selama ini—”
“Udahlah,” potong Bastian malas. “Nggak usah drama.”
Clara membelalak. “Apa?!”
Bastian berdiri. Tatapannya dingin. “Aku udah capek sama kau!”
Clara seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Capek? Setelah semua yang aku kasih?!”
Bastian menyeringai sinis. “Itu dulu.”
Clara terdiam.
Bastian melanjutkan, “Sekarang kau udah nggak punya apa-apa kan?”
Kalimat itu seperti tamparan keras.
“Aku udah tahu soal warisan itu,” lanjutnya santai. “Semua jatuh ke anaknya, bahkan bukan anakmu sendiri.”
Clara mundur selangkah. “Jadi… selama ini kamu—”
“Iya,” potong Bastian tanpa ragu. “Uang adalah segalanya bagiku."
Hening, Clara benar-benar terpukul.
“Dan sekarang,” lanjut Bastian, “Kau udah nggak berguna.”
Wanita di sampingnya hanya diam, tapi jelas menikmati situasi.
Clara menatap Bastian dengan mata berkaca-kaca. “Kamu… jahat banget…”
Bastian mendengus. “Realistis.”
Clara mengepalkan tangan, tubuhnya gemetar. “Aku ninggalin semuanya demi kamu…”
Bastian tertawa kecil. “Ya itu salahmu.”
Semua yang Clara bangun runtuh dalam sekejap.
“Sekarang keluar,” kata Bastian dingin.
Clara tidak bergerak.
“Aku bilang keluar!” bentak Bastian.
Clara akhirnya berbalik. Langkahnya goyah saat keluar dari apartemen itu. Pintu tertutup di belakangnya.
Clara mengepalkan kedua tangannya. Apa yang terjadi padanya sekarang seperti karma dari Romy Armansyah.
Sementara itu, mobil Arif berhenti di depan sebuah gedung tinggi.
Ge menoleh ke luar. “Wah…”
Gedung itu besar dan megah. Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya siang.
“Ini salah satu perusahaan ayahmu,” kata Arif.
Ge mengangguk pelan. “Gila… banyak juga ya.”
Mereka turun dari mobil.
Ge masih melihat ke atas. “Kalau jatuh dari sini… langsung tamat sih.”
Arif menghela napas. “Fokus!”
Ge nyengir. “Iya, Om.”
Mereka berjalan masuk ke dalam gedung. Lobby luas, orang-orang berpakaian rapi berlalu-lalang.
Ge langsung merasa beda. “Anjir… aura orang sukses semua.”
Arif memimpin jalan menuju lift.
Belum sempat mereka masuk…
DRRTT…
Ponsel Ge bergetar. Ge mengeluarkan ponselnya. Melihat layar.
“Mamak!”
Ge langsung mengangkat. “Halo, Mak?”
Suara di seberang terdengar panik.
“GE!”
Ge langsung serius. “Kenapa, Mak?”
“Lu di mana sekarang?!”
Ge mengernyit. “Menuju kaya, Mak… kenapa?”
Suara Marni terdengar gemetar. “Bokap lu… pergi!”
Ge langsung menegang. “Pergi ke mana?”
“Nyari Johan!” jawab Marni cepat.
Jantung Ge langsung berdegup lebih kencang.
“Apa?!” katanya.
Arif langsung menoleh ke arah Ge.
Di seberang sana, suara Marni hampir menangis. “Gue takut dia kenapa-kenapa, Ge…”
Ge mengepalkan ponselnya. Wajah santainya hilang. “Aku ke sana sekarang,” katanya cemas.