Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ares
Meja makan itu terasa seperti panggung sandiwara di mana Claire adalah pemain tunggal yang dikelilingi oleh juri-juri kejam. Keluarga Lergan menatapnya seolah ia adalah debu yang mengotori permadani mahal mereka, menganggap kehadirannya sebagai kutukan bagi masa depan Julian.
Namun, di balik topeng ketenangannya, Claire menyimpan api. Ia adalah sang Antagonis yang baru, memahami bahwa rasa hormat tidak diminta melalui air mata, melainkan direbut melalui keberanian untuk tetap berdiri tegak di tengah badai penghinaan.
Ia tidak merasa perlu untuk membela diri dengan kata-kata yang memelas--- ia justru menikmati setiap inci kebencian yang diarahkan kepadanya. Claire tahu persis bahwa dalam permainan kekuasaan ini, reaksi terbaik terhadap mereka yang memandang rendah adalah dengan menunjukkan bahwa racun mereka sama sekali tidak mampu menembus pertahanannya yang sedingin es.
Kakek Carlos meletakkan garpunya, beralih menatap Maxime dengan tatapan ragu. "Tuan Maxime, sebagai seseorang yang memiliki koneksi luas, apakah kau mengetahui sesuatu tentang pemimpin Global Raksasa yang saat ini menguasai pasar bisnis? Pergerakannya terlalu agresif untuk diabaikan."
Maxime Winston tersenyum tipis, menyesap wine-nya perlahan. "Tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya, Ayah. Dia tidak pernah muncul di publik. Sekalinya dia muncul dalam pertemuan rahasia, dia selalu menggunakan topeng. Dunia mengenalnya hanya dengan satu sebutan: MR. A."
Kakek Carlos menghela napas berat, melirik Julian yang duduk kaku. "Julian gagal mendapatkan kerja sama dengan perusahaan itu. Proyek itu vital bagi ekspansi kita. Mungkin... kau bisa membantunya sedikit, Maxime? Sebagai keluarga."
Maxime Winston tersenyum sinis, nada suaranya mendingin. "Aku sudah cukup banyak membantu keluarga ini, Ayah. Lagi pula, aku tidak mengenal sosok pemimpin Global Raksasa itu. Dia bukan orang yang bisa digerakkan hanya dengan sekadar 'koneksi'."
Gelenna menyela cepat, membela suaminya dengan nada angkuh. "Suamiku benar, Ayah. Kita tidak bisa terus-menerus membebani Maxime dengan urusan internal Lergan. Lagi pula, bukankah itu tanggung jawab Julian sebagai pewaris? Jika dia tidak mampu, itu masalah kapabilitasnya."
Julian mengepalkan tangan di bawah meja, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Aku akan berusaha lagi. Aku akan menemukan celah untuk bertemu dengan MR. A itu."
Kakek Carlos menyahut tajam. "Tapi usahamu tetap nol, Julian! Global Raksasa bukan tempat untuk orang yang hanya tahu cara 'berusaha' tanpa hasil nyata. Kita butuh kontrak itu, bukan janji."
Wajah Amber memucat, mencoba menengahi. "Ayah, tolong jangan terlalu keras. Julian sudah melakukan yang terbaik. Persaingan di luar sana memang tidak masuk akal sejak MR. A muncul."
Suasana di meja makan yang panjang itu mendadak mencekam. Claire meletakkan pisau dan garpunya dengan suara denting logam yang halus, hampir tak terdengar, namun sanggup menghentikan perdebatan sengit antara Kakek Carlos dan Julian.
Ia menyeka sudut bibirnya dengan serbet sutra, lalu mengangkat wajahnya. Sepasang matanya yang tenang menatap langsung ke arah Kakek Carlos, sebelum beralih ke Maxime Winston dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Sangat menarik melihat bagaimana sebuah keluarga besar begitu terpaku pada sosok yang bahkan tidak kalian ketahui wajahnya," suara Claire mengalun rendah, namun memenuhi ruangan.
Semua mata tertuju padanya. Amber tampak ingin menyela, namun Claire melanjutkan sebelum mertuanya itu sempat membuka mulut.
"Kakek Carlos, Anda meminta bantuan Tuan Maxime seolah-olah MR. A adalah seseorang yang bisa dipengaruhi oleh koneksi kekuasaan. Dan Tuan Maxime..." Claire menoleh ke arahnya, " Bukankah Global Raksasa baru saja menolak proposal Winston Group kemarin sore karena dianggap 'kurang visioner'?"
Wajah Maxime mengeras. Ruangan itu seketika sunyi senyap. Bagaimana Claire bisa tahu rahasia internal Winston? Itu adalah pertanyaan besar di kepala Maxime.
"Claire! Jaga bicaramu! Apa yang kau tahu tentang bisnis?" bentak Julian, wajahnya memerah karena malu dan marah.
Claire tertawa kecil, suara tawa yang elegan namun dingin. "Aku tahu lebih banyak dari yang kau bayangkan, Julian. Kau bilang usahamu nol? Tentu saja. Kau mengirim proposal ke departemen logistik, padahal MR. A hanya menerima berkas yang masuk melalui jalur Private Alpha. Kau bermain di taman kanak-kanak sementara pemilik Global Raksasa sudah menguasai seluruh kota."
Rayden Winston yang biasanya memandang rendah padanya kini terpaku di kursinya, tak mampu mengalihkan pandangan.
"Berhentilah memohon pada orang yang sama-sama buntu," Claire menatap Kakek Carlos dengan hormat yang palsu. "Jika keluarga Lergan ingin tanda tangan itu, berhentilah memperlakukan orang-orang di meja ini seperti pion. Karena terkadang, pion yang kalian anggap benalu adalah satu-satunya orang yang memegang kunci pintu masuk menuju MR. A."
"Oh, satu lagi," lanjut Claire. "MR. A tidak memakai topeng karena dia ingin bersembunyi. Dia memakai topeng karena dia ingin melihat seberapa pantas orang yang berdiri di depan nya untuk berjabat tangan dengan nya.. dan kalian, tidak termasuk dalam kandidat nya."
Suara Glenna bergetar karena amarah yang tertahan. " Apa maksud mu, Claire?! Kau pikir dengan duduk di kursi itu kau punya hak untuk bersuara? Jangan lupa siapa dirimu. Kau hanyalah orang asing, si licik yang pintar mencari celah untuk naik pangkat di dalam keluarga ini... kau pikir, kau orang yang pantas berada di kursi itu?!"
Claire tetap tenang, menyesap air putihnya perlahan sebelum meletakkan gelas tanpa suara sedikit pun. Ia menatap Glenna dengan tatapan yang dingin namun tajam. "Naik pangkat? Itu istilah yang menarik, Bibi Glenna. Tapi setidaknya, posisiku di rumah ini memiliki landasan yang kokoh."
"Landasan apa? Manipulasi? Kau merangkak masuk ke sini seperti benalu!"
Claire tersenyum tipis, hampir tak terlihat. "Setidaknya aku tidak menjadi yang kedua. Pernikahanku sah, tercatat secara resmi, dan di mata hukum... akulah yang pertama..."
Claire menjeda sejenak, matanya berkilat saat ia condong ke depan. "Sangat berbeda dengan seseorang yang memilih menjadi duri dalam rumah tangga orang lain. Menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk menjadi yang kedua tanpa pengakuan yang layak. Bukankah itu melelahkan, Bibi Glenna? Hidup dalam status yang... menggantung?"
Maxime tiba-tiba tersedak minumannya hingga terbatuk-batuk keras. Wajahnya memerah karena kaget dan canggung.
Wajah Glenna pucat pasi, mulutnya terbuka namun tak ada kata yang keluar. Ia merasa harga dirinya ditelanjangi di depan semua orang.
Anggota keluarga lainnya melongo, tak menyangka Claire yang biasanya pendiam bisa melontarkan serangan mematikan yang begitu telak. Julian bahkan mematung, bernafas saja sekarang dia merasa takut.
Rayden yang duduk di seberang Claire, ia berhenti mengunyah. Alih-alih marah karena ibunya disindir, matanya justru berbinar. Ia menatap Claire dengan ekspresi kagum yang sulit disembunyikan. Dalam hati, ia memuji keberanian Claire untuk mengatakan kebenaran yang selama ini ditabukan di meja itu.
"Menarik..." suara itu berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang ada di meja makan ke arah pintu masuk Aula. Detik itu juga, semua orang terpaku melihat siapa yang datang. Bahkan wajah mereka menunjukkan keterkejutan.
Mata Maxime melotot, suaranya bergetar, antara ragu dan tak percaya. "Ares? Kau... benar-benar di sini? Bagaimana bisa kau bisa ada disini tanpa memberitahu Ayah?"
Ares melangkah maju, sepatunya bergema di lantai marmer dengan irama yang menekan.
"Kenapa, Ayah? Apa kehadiranku begitu mengusik ketenangan malam ini? Apa aku tidak diperbolehkan menginjakkan kaki di sini hanya untuk sekadar memberi salam pada acara makan malam keluarga... ibu tiriku?"
Ares mengalihkan pandangannya, menatap tajam Glenna hingga suasana menjadi dingin. "Ada apa, Ibu Glenna? Wajahmu pucat sekali. Kau menatapku seolah-olah aku adalah hantu dari masa lalu yang bangkit untuk membalas dendam. Apa kau begitu terkejut melihat anak tirimu ada disini?"
Glenna berusaha mengatur napas, memaksakan senyum tipis yang kaku. "Tentu saja tidak, Ares. Ibu hanya... hanya terkejut karena ini sangat mendadak. Kau datang tanpa memberitahu sebelum nya. Jika Ibu tau, Ibu pasti akan mengajak mu datang bersama."
Maxime menengahi dengan nada tegas namun bingung. "Sudahlah. Ares, kau selalu punya seribu alasan untuk menolak ajakan Ayah sebelumnya. Tapi malam ini, entah apa yang merasuki pikiranmu hingga kau memilih untuk datang. Duduklah, jangan biarkan makanan ini menjadi dingin karena ketegangan yang tidak perlu."
Rayden dalam hati berkata, sambil menyeringai tipis. " Luar biasa. Aku tidak menyangka Kakak akan menunjukkan batang hidungnya. Meja makan ini biasanya membosankan, tapi dengan kehadirannya, kurasa hidangan utamanya bukan lagi makanan, melainkan pertunjukan drama yang sangat mahal. Aku akan menikmatinya."
Rayden berusaha mencairkan suasana dengan nada ceria yang dibuat-buat. "Kakak, jujur saja aku sangat senang kau memutuskan untuk bergabung. Meja ini terasa lebih lengkap dengan kehadiranmu."
Ares hanya melirik Rayden dengan sudut mata yang dingin, tanpa minat untuk membalas keramahan itu. Rayden sedikit mengepalkan tangan, dia bukan marah karena Ares tidak pernah menganggap nya, dia tau batasan nya. Ibunya adalah perusak rumah tangga Ibunya. Namun Rayden yang memiliki sifat bertolak belakang dari Ibunya hanya ingin di akui Adek oleh Ares.
Suasana menjadi hening seketika. Kakek Carlos dan Julian hanya bisa terpaku, merasakan tekanan berat dari aura Ares, sementara Ana dan Yunda tak mampu mengalihkan pandangan mereka dari pesona pria yang penuh amarah terpendam itu.
Claire membatin sembari memperhatikan sosok Ares dengan saksama. "Pria ini... Ares Winston. Jika ingatanku tentang alur drama ini benar, dia hanyalah tokoh pendukung yang seharusnya dijodohkan dengan sang Protagonis demi menjauhkan nya dari Julian. Dia pria pemberontak yang menolak keras perjodohan konyol ayahnya. Tapi aura yang dia bawa sekarang... kenapa terasa jauh lebih mengintimidasi daripada yang digambarkan?"
Ares tiba-tiba pandangannya terkunci pada Claire. Ia terdiam sejenak, merasakan sensasi aneh yang menyengat syarafnya. " Wanita ini... ada sesuatu di matanya yang terasa tidak asing. Seolah-olah aku pernah melihat sorot mata itu di tempat yang sangat jauh dari sini. Kenapa jantungku bereaksi seperti ini?"
•
•
•
BERSAMBUNG