Seorang wanita yang bernama Karamel, di detik-detik kematiannya, sebelum menutup mata, dia melihat sosok pria berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya dari api yang berkobar.
Pria itu adalah mantan suaminya yang dia ceraikan, pria yang sudah dia sakiti. Tapi pria itu masih datang untuk menolongnya, tapi sayang sekali, Karamel sudah tidak bisa bertahan, nafasnya sudah sudah berat dan matanya sudah mulai tertutup.
Tapi, ada suatu hal yang terjadi dan sulit dimengerti. Karamel kembali hidup di masa lalu, di mana dia masih menjadi seorang Istri.
Dengan kesempatan kedua yang dia dapatkan, tentu Karamel tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Mampukah Karamel membalas semua luka yang dia dapat kan di kehidupan pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Sahabat Tama
Di dalam kamar Kara mengajak Tama untuk berbicara. Dia ingin menanyakan, apa maksud dari perkataan Tama sebelumnya.
Kara sedikit gelisah, dia berpikir Tama belum mempercayainya. "Apa maksudnya?"
Tama tidak langsung menjawab, dia menyusun kembali kata-katanya, agar tidak ada kalimat yang menyinggung Kara.
"Kar! Kita sudah kenal sejak kecil, bahkan kita tinggal seatap! Aku mengenalmu luar dalam. Aku tau bagaimana kamu sebenarnya, jadi aku bertahan sampai sekarang!" Ujar Tama.
Dia terdiam sejenak, lalu melanjutkan. "Tapi Kar, aku juga manusi biasa, punya hati dan perasaan. Jika suatu hari nanti kamu kembali sama mereka, aku takut tidak bisa bertahan lagi."
"Raaaf.. Berhenti, jangan lanjut lagi!" pinta Kara dengan suara serak.
"Aku akan pergi jika aku benar-benar lelah. Jadi aku mohon, jangan biarkan aku pergi..!" Tama ingin Kara benar-benar kembali, jika dia tidak menggunakan kesempatannya dengan baik dan membuat Tama lelah, maka pergi dari hidupnya adalah pilihan terbaik.
Kara mengusap air matanya. "Terima kasih sudah bertahan selama ini! Terima kasih sudah begitu kuat menghadapi sikapku!"
"Terima kasih sudah memberiku kesempatan. Jika aku tidak menggunakan kesempatan ini dengan baik, mungkin aku bukan jodoh yang baik untukmu!"
"Tidak, Kamu hanya tersesat di jalan. Dan sekarang sudah menemukan jalan kembali untuk pulang."
"Ya. Aku tidak akan tersesat lagi, karena mulai sekarang aku mengikuti jalanmu! Dan aku tidak akan pernah memberimu kesempatan untuk pergi!"
Tama menarik Kara dalam dekapannya, Keduanya berpelukan dengan perasaan yang lega, seakan beban yang menghimpit di dada telah hancur berkeping-keping.
...----------------...
Keesokan harinya, setelah Tama berangkat bekerja Kara menerima kabar jika Sara masuk Rumah Sakit karena kecelakaan.
Ada banyak panggilan yang masuk dari teman-temannya itu, termasuk Arka yang memintanya untuk segera datang menjenguk Sara di Rumah Sakit.
"Kayaknya akan ada pertunjukan lagi!" kata Kata sambil beranjak. Dia ingin pergi lihat bagian mana yang terluka.
Di masa lalu, Kara juga pernah mengalami hal serupa. Saat pulang dari Restoran ada yang menabrak mobilnya dari belakang, membuat kepalanya terluka sampai geger otak.
Sarah yang menjaga dan merawatnya di Rumah Sakit. Tentu Kara sangat bahagia memiliki seorang sahabat yang begitu perhatian.
Karena sudah dijaga sampai sembuh, Kara memberikan banyak hadiah dan uang puluhan juta sebagai ucapan terima kasih.
Dan Kara baru menyadarinya bahwa semua itu sudah direncanakan, setelah dia mengetahui hubungan Sara dengan Arka.
"Dasar bego!" kata Kara mencela dirinya sendiri.
***
Di Perusahaan, di ruang kerja Tama. Dia kedatangan dua sahabatnya yang bernama Dion dan Bintang.
Mereka sudah bersahabat sejak duduk di bangku SMP. Dan keduanya tentu mengenal Kara, bahkan mereka tau bagaiman kara sangat membenci Tama Karena perjodohan itu.
Dion juga sudah menikah dan punya seorang anak yang berumur dua tahun. Sedangkan Bintang, masih setia melajang.
"Kau serius kan?"
"Hei brow, kamu tidak jadi gila kan?"
Keduanya langsung tidak percaya dengan apa yang Tama ceritakan. Kara tiba-tiba berubah menjadi Versi yang mereka kenal, Kara tidak lagi membenci Tama dan sudah menerima pernikahan mereka.
Tama sudah menduga dengan jawaban keduanya, karena dia sendiri pada awalnya tidak percaya, tapi setelah melihat kesungguhan Kara dia akhirnya yakin, jika Kara benar-benar berubah.
"Hmm percuma aku jelasin, kalian bisa datang ke rumah untuk bertemu dengannya, dan kalian berdua bisa menilainya sendiri!"
Keduanya mengangguk setuju, mereka juga akan bahagia jika Kara sudah sadar dari kesalahannya, keduanya sudah menganggap Kara sebagai adik perempuan kecil mereka.
Setelah mereka pergi, Tama melanjutkan pekerjaannya. Tak lupa membalas pesan VN kara, yang meminta izin untuk pergi ke rumah sakit.
Meski tidak bisa melihat, Tama bisa mendengar semua laporan menggunakan audio book, laporan yang dikirim mengunakan aplikasi khusus.
...----------------...
Kara sudah tiba di Rumah Sakit, ternyata di dalam ruangan ada Arka yang sedang menyuapi Sarah, mereka terlihat begitu romantis.
Namun kedatangan Kara membuat mereka langsung salah tingkah, seperti orang yang ketahuan selingkuh.
"Kenapa berhenti? lanjutkan saja!" pinta Kara dengan santai sambil meletakkan bunga di atas meja.
"Eh Kar, akhirnya kamu datang juga. Sarah sudah menghubungimu sejak pagi, tapi kamu tidak menjawabnya. Jadi aku yang datang, kamu tidak marah kan?" tanya Arka dengan lembut.
Kara menatapnya dengan jijik, "Kayaknya kamu lupa dengan perkataanku beberapa hari yang lalu! Aku tidak ingin mengejarmu lagi."
Arka menatap Kara dengan tatapan tak percaya. "Kar, aku ada salah? Kenapa kamu tiba-tiba menyerah? Atau ada seseorang yang mengancam mu?"
"Kara, siapa orang itu? Apa suami yang buta itu?" tanya Sarah dengan lugas.
Braaakkk
Kara melempar bunga yang dia bawa tepat di wajahnya yang luka. "Aku sudah memperingatimu untuk tidak menghina Tama lagi!"
"Aarrgghh.. Tidaaakk Wajahku!" teriak Sarah dengan panik merasakan sakit di wajahnya, dokter sudah mengatakan bahwa lukanya pasti meninggalkan bekas.
"Kar apa yang kau lakukan?" tanya Arka dengan marah.
"Aku melemparnya! Karena sudah menghina suamiku.!" kata Kara dengan tatapan tajam. "Dan kamu, aku katakan sekali lagi, aku tidak akan mengejarmu lagi!"
"Tapi kenapa?"
"Emang kau siapa ha? Kau tidak punya apa-apa. Sedangkan suamiku punya segalanya, dia bisa mewujudkan semua yang aku inginkan."
Arka sangat tersinggung dengan ucapan Kara "Sekarang aku memang tidak punya apa-apa. Tapi suatu hari nanti aku pasti berhasil!"
"Makanya aku memilih yang sudah pasti! Ngapain ngejar-ngejar yang belum tentu ada kepastian!"
"Tapi Kar, bukannya kau sudah janji untuk meminta saham di perusahaan Tama, dan memberikannya kepadaku?"
"Hai bangun dari tidurmu! Untuk apa aku berikan padamu. Mending untuk diriku sendiri." Kata Kara dengan nada mengejek. "Sudahlah, aku pulang dulu. Oh ngomong-ngomong waktu bayar utang tinggal beberapa hari lagi."
"Kar jangan pergi dulu! Biaya Rumah Sakit belum dibayar!" Seru Sarah dengan panik saat melihat Kara pergi begitu saja.
Kara menoleh menatapnya dengan bingung, "Kenapa lapor ke aku? Lapor sama orang tuamu lah..!"
"Kar aku mohon, bantu aku. Orang tuaku belum tau aku di Rumah Sakit, aku tidak berani memberi tahu mereka, karena mobilnya masuk bengkel." nada suaranya penuh keluhan.
Kara tersenyum licik, "Baiklah, kamu tenang saja, aku akan meminta seseorang untuk datang membayar tagihannya!"
Sarah tersenyum puas, ternyata Kara masih sama yang dulu. Mungkin beberapa hari yang lalu dia ada masalah dengan Tama, pikirnya.
Kara segera pergi dari Rumah Sakit, dan mengirim beberapa foto dan video pendek pada orang tua Sarah.
"Hemm, aku baik hati kan Karena sudah membantumu,?" orang tuanya pasti datang, dan mau tidak mau mereka pasti membayar tagihannya.
.
.
.
Sebelum UP sdah dibaca berulang-ulang kok. Tapi masih ada juga yang lolos dari pandangan..😭
sering2 yaa kalau ada typo😍😍