Perjodohan itu bukan untuknya. Hanya saja, dia terpaksa pergi ke desa untuk menikah dengan pria desa yang sama sekali tidak ia kenali sebelumnya. Semua gara-gara adiknya kabur karena tidak ingin dinikahkan dengan pria desa tersebut. Dan yang paling menyakitkan adalah, sang adik kabur bersama pacar yang seharusnya akan menjadi tunangan Airin dalam waktu dekat.
Akan kah kepergian Rin bisa menciptakan kebahagiaan setelah badai besar itu datang padanya? Lalu, bagaimana dengan sambutan Mbayung atas kehadiran Rin yang datang untuk menikah dengannya? Bagaimana pula kehidupan adik dan mantan pacar yang telah mengkhianati Rin selanjutnya? Ayok! Ikuti kisah mereka di KETIKA KOTA BERTEMU DESA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KKBD Part *16
Bayu memperlambat gerak mengunyah tangan yang sedang menyuap makanan. Matanya kini ia alihkan ke istri yang sedang menatapnya.
"Rin."
"Airin. Kok bengong?"
"Ah, nggak. Gak papa."
"Ayo makan!"
"Iy-- iya."
Rin langsung mengalihkan pandangan. Sementara Bayu, masih tetap memperhatikan tingkah Rin. Pria yang cukup peka itu tahu ada yang sedang dipikirkan oleh Rin. Dia pun mempertimbangkan kata yang mana yang paling cocok untuk memulai pertanyaan.
Hingga akhirnya, tanpa Rin minta, Bayu langsung bicara prihal Mela. "Kamu, masih penasaran sama kemunculan Mela, Rin?"
"Ha?"
"Selama ini, dia bertugas di luar desa. Kami berteman sejak kecil. Tapi, pertemanan secara murni yang benar-benar hanya berteman. Aku menganggapnya begitu. Jadi, aku tidak pernah merasakan hal asing yang aneh-aneh selain hubungan sebagai teman."
Rin yang bingung hanya bisa terdiam. Jujur, penjelasan itu membuatnya merasa sangat lega. Tapi, juga ada rasa sedikit tidak nyaman.
Suaminya menjelaskan prihal kedekatan antara dia dengan lawan jenis. Itu rasanya seperti, Bayu yang menjelaskan untuk meyakinkan pada Rin, kalau dia sungguh-sungguh tidak mendua. Padahal, pernikahan mereka adalah pernikahan yang dipaksakan.
"Rin."
"Eh, iy-- iya."
"Ada yang ingin ditanyakan sekarang?"
"Ti-- tidak."
'Ya Tuhan, kenapa aku jadi gugup gini?' Hati Rin bertanya pada dirinya sendiri.
"Kamu yakin?"
"Ten-- tentu saja."
"Hm, syukurlah kalau gitu. Ah, ayo makan."
"Iya."
Makan siang itupun berlalu. Sementara itu, di tempat yang lain. Mela sedang memperhatikan gubuk Bayu dengan perasaan sangat tidak nyaman. Meskipun hanya gubuk saja yang terlihat secara samar-samar, tapi Mela terus memandang tempat tersebut dengan hati yang bercampur aduk.
"Istri Bayu, benar-benar orang kota?"
"Iya. Kenapa kamu bertanya begitu?"
"Kok mau ke sawah?"
"Kenapa memangnya? Apa yang salah dengan dia ke sawah?"
"Tidak ada. Aku hanya bertanya."
Beberapa ibu-ibu lewat di depan tempat yang Mela duduki bersama bu Sri. Ibu-ibu itu malah berhenti hanya untuk menyapa Mela. Bagi mereka, Mela adalah gadis desa yang sangat membanggakan. Bisa lulus dengan nilai yang tinggi. Terus mengabdi sebagai guru di desa lain. Itu prestasi yang sangat bagus.
"Eh, Mela. Kapan pulang?"
"Kemarin, Bu."
"Ya ampun. Makan cantik aja sekarang ya."
"Gimana kabarnya, Mela?" Si ibu yang lain angkat bicara.
"Baik, Bu."
"Oh iya, Mela. Sudah bertemu Bayu belum, La?"
"Bayu ... sudah."
"Lah, kenapa malah bertanya soal ketemu Bayu atau belum sih, Buk? Apa masalahnya Mela ketemu Bayu atau tidak?" Ibu Sri tidak bisa tinggal diam lagi.
Mela keponakannya. Tapi dia yakin, takdir itu yang maha kuasa lah yang mengaturnya. Sejak lama juga dia sudah menyarankan Mela agar tidak terlalu dekat dengan Bayu. Karena dia tahu, perjodohan Bayu dengan orang kota tidak akan pernah bisa dielakkan.
"Lah, bu Sri ini ngomongnya kok gitu. Kita juga tahu kalau yang paling cocok untuk Bayu itukan Mela. Secara, Bayu pria baik-baik. Ganteng dan pekerja keras. Cocok dengan Mela yang cantik dan baik."
"Lagian, mereka juga kan sudah bersama sejak lama. Bagus kalau mereka bersama sebagai pasangan."
"Ah, sudahlah. Jangan menjodohkan hal yang tidak bisa kita atur. Bayu dan Mela tidak berjodoh. Karena kita juga tahu, bukan? Sejak kecil, keluarga Bayu sudah menyiapkan pasangan untuk anak itu. Dan sekarang, anak itu sudah menikah dengan gadis yang keluarganya siapkan saat dia masih kecil."
"Tapi, Bu Sri. Katanya, yang dijodohkan sama Bayu sebenarnya bukan istrinya yang sekarang. Kalau gak salah, entah adik entah kakak. Saya juga tidak terlalu mengerti."
Memang mulut manusia. Informasi sekecil itupun bisa mereka dengar, lalu mereka sebarkan. Entah dari mana asalnya, entah bagaimana pula caranya dia tahu, tapi, inilah kenyataannya. Sekecil apapun rahasia, pasti akan terbongkar. Singkatnya, ada yang mengatakan, tembok juga punya telinga. Jadi bisa mendengarkan apa yang dibisikkan.
"Apa? Maksudnya bagaimana?" Mela penasaran.
"Iya ... gitulah. Yang dijodohkan dengan Bayu bukan istrinya yang sekarang. Tapi ada wanita yang lainnya lagi. Tapi yang dinikahkan malah yang ini."
"Ibu tahu dari mana?" Sedikit kesal yang bu Sri tahan. "Jangan bicara sembarangan, Bu. Lagian, kalaupun bukan yang istrinya saat ini yang dijodohkan. Tapi sekarang, mereka juga sudah menikah. Jangan lupa apa yang Bayu katakan waktu itu. Dia tidak ingin mendengar gosip yang bisa membuat istrinya terganggu."
Obrolan itu akhirnya usai juga. Dua ibu-ibu yang tadinya mengajak Mela bicara, kini sudah beranjak pergi. Suasana hening kembali karena hanya tinggal Mela dan bu Sri saja di sana.
"Bibi."
"Hm?"
"Bayu .... "
"Mela. Dia sudah punya istri. Dan dia terlihat sayang sama istrinya. Walau pernikahan mereka berawal dari sebuah perjodohan, tapi bibi lihat, Bayu sangat menghormatinya."
"Bayu hanya menghormatinya, Bi. Tidak mencintainya."
"Tahu dari mana kamu kalau Bayu tidak cinta Rin?"
"Bibi .... "
"Mela. Dengarkan bibi! Tolong, jangan berharap. Jangan merusak. Kamu cukup mengerti akan hal itu, bukan?"
Mela terdiam. Hatinya ingin memberontak. Tapi bibirnya tidak lagi bisa bicara. Sesaat lamanya dia termenung. Hingga akhirnya, wanita itu kembali mengangkat wajah.
"Bayu pernah membelanya di depan umum, Bi?"
"Iya."
Bu Sri menjelaskan prihal Bayu yang bicara tanpa segan untuk Rin di depan orang-orang desa. Meminta agar tidak bicara sembarangan yang menganggu istrinya. Saat itulah, desa itu jadi hening dari gosip tentang istri Bayu yang datang dari kota.
Walau sebenarnya, gosip itu tidak sepenuhnya lenyap. Tapi setidaknya, setelah peneguran Bayu waktu itu, bibir yang sering berbisik-bisik saat melihat gadis kota itu muncul langsung bisa bungkam seketika. Singkatnya, gosip yang dibicarakan secara langsung itu sudah tidak terdengar lagi.
Sore harinya, saat kaki Mela ingin membawa tubuhnya menuju sawah milik Bayu. Kaki itu langsung terhenti sesaat setelah melihat Bayu ngobrol sambil berjalan pulang dengan Rin. Pria itu dengan penuh perhatian memperingatkan Rin agar berjalan dengan hati-hati melewati jalan setapak pembatas sawah.
Bibir Mela berucap pelan. "Bayu, bisa seperhatian itu?"
Pertanyaan yang membuat Mela terus memperhatikan Bayu. Sedang orang yang Mela perhatikan, dunianya hanya ada Rin. Bahkan, Rin yang duluan menyadari kehadiran Mela dari pada Bayu.
"Bay, ada teman mu di sana?"
"Hm? Mela."
Karena Mela yang berdiri di jalan yang akan mereka lewati, jadinya, mereka kembali bertemu. "Mau ke mana, La?"
Hening sejenak, setelahnya, barulah Mela angkat bicara. "Aku ... mau ke sana," ucap gadis itu sambil menunjuk asal.
"Oh."
Singkat, padat, dan menyakitkan untuk hati Mela. Dunia Bayu benar-benar tidak ada tempat untuk Mela menapakkan kaki sedikitpun.
"Rin, jalan lebih cepat. Sudah sangat sore ini."
"Ah, iy-- iya."