Jian Yi dan para rekannya gugur setelah menantang kekuatan besar Kekaisaran Pusat. Pertempuran itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya bagi mereka.
Namun saat kesadaran Jian Yi memudar, sebuah keajaiban terjadi. Berkat campur tangan Raja Naga, mereka diberi kesempatan kedua—sebuah reinkarnasi yang mengubah takdir mereka.
Terlahir kembali di dunia yang sama namun dengan kehidupan baru, Jian Yi menyimpan satu janji dalam hatinya: membalas kehancuran yang dialaminya dan melampaui semua batas kekuatan.
Kali ini, dia tidak akan jatuh lagi.
Tapi di dunia yang dipenuhi kultivator kuat, sekte kuno, dan kekaisaran yang menguasai segalanya …
Mampukah Jian Yi benar-benar bangkit, menuntut balas, dan mencapai puncak kekuatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Pertandingan A-Lang
Arena Kota Zamrud bergetar oleh sorak-sorai ribuan penonton.
Di tribun utama yang berlapis beludru merah, Jian Hong, Lu Zhao, dan Tan Xing duduk dengan wibawa, didampingi oleh Su Lin dan Mei Hua yang tampak antusias.
Di antara mereka, Tan Yin'er duduk dengan punggung tegak, matanya yang jernih tertuju pada daftar peserta, mencari satu nama: A-Lang.
Namun, jauh di barisan paling atas, di sudut tersembunyi yang tertutup bayangan pilar raksasa, dua bocah laki-laki duduk dengan santai.
Jian Yi sedang mengupas kacang dengan tenang, sementara Lu Feng sibuk mengunyah sate kambing yang bumbunya berceceran di sudut bibirnya.
"Berapa detik menurutmu?" tanya Lu Feng dengan suara rendah.
"Tergantung apakah dia ingin pamer di depan tunangannya atau tidak," jawab Jian Yi datar sambil melemparkan kulit kacang ke bawah.
Gong raksasa berdentang. Di tengah arena batu yang luas, A-Lang berjalan masuk.
Ia mengenakan seragam tempur abu-abu sederhana, sangat kontras dengan lawannya, Wei Kun, sepupu dari Wei Yan.
Wei Kun mengenakan zirah ringan yang berkilau, memegang sebilah tombak perak dengan rumbai merah yang gagah.
"Seorang gelandangan tidak pantas mengotori arena ini dengan kaki kotornya!" teriak Wei Kun, memutar tombaknya hingga menciptakan siulan angin.
A-Lang tidak menyahut. Ia hanya menarik napas dalam, membiarkan Qi dari teknik pernapasan kuno yang diajarkan Jian Yi mengalir ke setiap sarafnya.
Ia sedikit merendahkan kuda-kudanya, posisi Akar Bumi yang telah ia latih jutaan kali di bawah rintik hujan dan panas terik.
Di tribun VIP, Tan Yin'er sedikit memajukan tubuhnya, jemarinya meremas sapu tangan sutranya.
Ia ingin melihat, apa yang membuat ayahnya begitu yakin menyerahkan masa depannya pada pemuda ini.
Wei Kun melesat. Tombaknya bergerak bagaikan ular perak yang mematuk, mengincar tenggorokan A-Lang.
Kecepatannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang Pendekar Terlatih tahap Menengah.
Sret!
A-Lang bergeser hanya beberapa sentimeter. Ujung tombak itu hanya melewati udara kosong di samping lehernya.
Tanpa membuang momentum, A-Lang melangkah maju, masuk ke dalam jarak jangkau lawan.
Wei Kun terkejut. Ia menarik kembali tombaknya dan menyapu secara horizontal dengan kekuatan penuh.
A-Lang melompat kecil, membiarkan bilah tombak lewat di bawah kakinya, lalu mendarat dengan dentuman berat yang meretakkan lantai batu arena.
BUM!
A-Lang melancarkan pukulan lurus. Ini bukan pukulan biasa; ini adalah hasil dari ribuan jam memukul batang bambu hingga hancur.
Lengan A-Lang tampak membengkak seketika akibat aliran Qi yang terkonsentrasi.
Wei Kun dengan panik menggunakan gagang tombaknya untuk menangkis. Benturan itu menghasilkan suara logam yang memekakkan telinga.
Tubuh Wei Kun terdorong mundur lima langkah, kakinya meninggalkan bekas seretan yang dalam di tanah.
A-Lang tidak memberi napas. Ia bergerak seperti bayangan—teknik gerak kaki yang dipinjam dari Jian Yi, namun dilakukan dengan berat dan tenaga yang dipinjam dari gaya Lu Feng.
Ia berputar, mengirimkan tendangan tumit ke arah dada Wei Kun.
Wei Kun berteriak, mengerahkan seluruh Qi-nya ke pelindung dada. Namun, saat kaki A-Lang mendarat, terdengar suara Krak! yang mengerikan.
Pelindung dada perunggu itu melesak ke dalam. Wei Kun terlempar ke udara, memuntahkan darah sebelum akhirnya jatuh terjerembap di tepi arena.
Hanya dalam tiga gerakan, seorang jenius dari Keluarga Wei tumbang.
Arena yang tadinya riuh mendadak hening. Para juri terbelalak.
Jian Hong dan Lu Zhao saling pandang dengan senyum tertahan, sementara Tan Xing mengelus jenggotnya dengan puas.
Tan Yin'er terpaku, matanya tidak lepas dari sosok A-Lang yang kini berdiri tegak di tengah debu arena, napasnya tetap teratur seolah ia hanya baru saja melakukan jalan santai.
Di pojok tribun atas, Lu Feng menusukkan tusukan satenya yang terakhir ke mulut. "Dia terlalu lembut. Seharusnya dia bisa mematahkan tombak itu juga."
"Dia menjaga sopan santun di depan mertuanya," sahut Jian Yi sambil bangkit berdiri. "Ayo pergi. Setelah ini giliran kelompok umur kita. Aku tidak ingin Wei Yan mencari-cari kita di barisan penonton."
A-Lang mendongak ke arah tribun VIP. Ia memberikan penghormatan singkat kepada orang tua angkatnya, lalu tatapannya beralih sebentar ke arah Tan Yin'er.
Gadis itu memberikan anggukan kecil, sebuah pengakuan yang membuat jantung A-Lang berdegup lebih kencang daripada saat bertarung tadi.
Sementara itu, di sisi lain arena, Wei Yan berdiri dengan wajah yang nyaris membiru karena marah.
Ia menatap A-Lang dengan kebencian yang mendalam, lalu menatap ke arah kerumunan, mencari dua sosok yang ia tahu adalah otak di balik kekuatan A-Lang.
"Kalian boleh bersembunyi hari ini," desis Wei Yan. "Tapi saat namaku dan nama kalian dipanggil ke atas panggung nanti, aku akan memastikan kalian menyesal telah hidup ... ah tidak, menyesal telah lahir ke dunia ini!"
Jian Yi dan Lu Feng menghilang di keramaian, meninggalkan aroma sate dan kulit kacang, siap untuk babak selanjutnya yang akan jauh lebih brutal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
𝗝𝗔𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗨𝗣𝗔 𝗧𝗜𝗡𝗚𝗚𝗔𝗟𝗞𝗔𝗡 𝗝𝗘𝗝𝗔𝗞 𝗗𝗘𝗡𝗚𝗔𝗡 𝗟𝗜𝗞𝗘 ... 𝗛𝗘𝗛𝗘🏁