Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan paginya, suasana mess masih diselimuti kesunyian yang tenang.
Cahaya fajar yang tipis mulai menyelinap masuk melalui celah ventilasi, menyinari debu-debu halus yang menari di udara kamar.
Prita terbangun lebih awal, tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah malam yang penuh keintiman dan rekonsiliasi.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Abraham masih tertidur sangat pulas.
Napas suaminya teratur, wajahnya tampak begitu damai tanpa beban—pemandangan yang kontras dengan wajah tegang dan penuh luka yang ia lihat dua hari lalu.
Prita tersenyum tipis, jemarinya hampir saja menyentuh rambut Abraham, namun ia mengurungkan niatnya agar sang suami bisa beristirahat lebih lama.
Dengan langkah berjinjit yang sangat hati-hati, Prita turun dari ranjang.
Ia segera menyambar handuk dan perlengkapan mandinya.
Ia tahu betul ritme di mess ini; jika ia terlambat sedikit saja, ia harus mengantre dengan belasan teknisi pria yang mulai berebut kamar mandi sejak pukul enam pagi.
Prita keluar kamar dan mendapati lorong mess masih sepi.
Hanya terdengar dengkur halus dari beberapa kamar sebelah.
Udara pagi Malang yang dingin menusuk kulit, membuatnya sedikit menggigil saat ia melangkah menuju kamar mandi umum di ujung lorong.
Setelah selesai mandi dan merasa segar, Prita kembali ke kamar.
Ia mendapati Abraham sudah mulai menggeliat.
"Eh, sudah bangun, Mas?" sapa Prita lembut sambil menyisir rambutnya yang basah.
Abraham membuka mata perlahan, mengumpulkan kesadarannya.
Ia meregangkan otot-otot lengannya dan menatap Prita dengan tatapan memuja.
"Pagi, Sayang. Rajin sekali istrinya Mas ini."
"Harus dong, Mas. Kalau nggak duluan, nanti aku kalah saing sama Mas Deddy yang kalau mandi lamanya minta ampun," canda Prita.
Abraham tertawa kecil, suara seraknya terdengar seksi di telinga Prita.
Ia bangkit duduk dan melirik ke arah meja, tempat ponsel baru pemberian Prita diletakkan.
"Mas mau langsung mandi? Biar aku siapkan baju kerjanya," tawar Prita.
"Boleh. Tapi sebelum mandi, Mas mau cek 'alat tempur' baru dulu," sahut Abraham sambil meraih ponselnya.
Ia terlihat sangat antusias, persis seperti anak kecil yang baru mendapat mainan baru, namun dengan binar tanggung jawab di matanya.
Prita memperhatikan suaminya dari cermin. Ia merasa keputusan mereka untuk tetap di mess dan menolak jabatan supervisor adalah hal yang tepat untuk saat ini.
Kedekatan mereka dengan rekan-rekan di mess dan kenyamanan Abraham dengan dunianya adalah fondasi yang ingin Prita jaga.
"Mas," panggil Prita tiba-tiba.
"Ya, Dik?"
"Hari ini Mas Deddy pasti bakal pamer soal jabatan barunya ke semua orang. Mas jangan menyesal ya?"
Abraham meletakkan ponselnya, lalu berdiri mendekati Prita.
Ia memeluk istrinya dari belakang, menumpukan dagunya di bahu Prita sambil menatap pantulan mereka di cermin.
"Sama sekali tidak, Prita. Mas justru senang bisa melihat teman Mas maju, sementara Mas tetap bisa melakukan apa yang Mas cintai. Dan yang paling penting..." Abraham mengecup pipi Prita singkat,
"Mas tetap punya kamu yang selalu mendukung Mas, apa pun posisi Mas di kantor."
Prita tersipu, hatinya menghangat. "Ya sudah, sana mandi. Nanti airnya habis dipakai Mas-Mas yang lain!"
Sambil bersiul kecil, Abraham mengambil handuknya dan bersiap menghadapi hari pertama dengan semangat baru—sebagai teknisi lapangan senior yang lebih tangguh, dengan istri yang kini sepenuh hati memercayainya.
Sambil menyampirkan handuk di bahunya, Abraham kembali ke kamar dengan wajah segar.
Uap hangat masih mengepul dari tubuhnya, kontras dengan udara pagi Malang yang menggigit.
Di atas meja kayu kecil, secangkir kopi hitam panas buatan Prita sudah menanti, aromanya yang kuat memenuhi ruangan sempit itu.
"Ini kopinya, Mas. Gula sedikit saja, kan?" tanya Prita sambil merapikan saku seragam kerja Abraham.
"Pas, Dik. Terima kasih ya," sahut Abraham.
Ia duduk di tepi ranjang, menyesap kopi itu perlahan.
Rasa pahit dan hangatnya seolah menjadi bahan bakar instan untuk memulai hari.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari balik pintu kamar, suara gaduh mulai terdengar di lorong mess.
"Woy, Ded! Gantian dong, ini sudah jam berapa? Kamu mandi apa semedi?" teriak salah satu teknisi, dibarengi suara gedoran pintu kamar mandi yang cukup keras.
"Sabar! Ini lagi sabunan, sebentar lagi kelar!" sahut suara Deddy yang agak teredam dari dalam kamar mandi.
Abraham terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Tuh kan, benar kata kamu tadi. Kalau kita nggak bangun duluan, pasti sudah ikut antre panjang begitu."
Prita yang sedang melipat kain juga ikut tertawa kecil.
"Makanya, Mas. Besok-besok aku bangunkan lebih pagi lagi ya, biar Mas nggak perlu rebutan air sama mereka."
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan sapaan-sapaan khas orang lapangan yang baru bangun tidur.
Suasana mess yang tadinya sunyi kini berubah menjadi pasar.
Ada yang sibuk mencari kaos kaki, ada yang sudah memanaskan mesin motor di halaman, dan ada yang masih menguap lebar sambil membawa gayung.
Deddy akhirnya keluar dari kamar mandi dengan rambut basah kuyup, hanya mengenakan celana pendek dan kaos kutang.
Begitu melewati kamar Abraham yang pintunya sedikit terbuka, ia berhenti sejenak.
"Pagi, Bos Lapangan! Waduh, sudah ngopi enak saja ya yang punya HP baru," ledek Deddy sambil menyugar rambutnya.
"Pagi, Pak Supervisor!" balas Abraham dengan nada bercanda yang menekankan jabatan baru sahabatnya itu.
Deddy langsung menyeringai lebar. "Ingat ya, hari ini traktirannya bukan cuma bakso gratisan kemarin, tapi kopi buat orang se-mess! Saya mau siap-siap dulu buat rapat pengangkatan nanti. Jangan iri ya!"
Deddy berlalu sambil bersiul kencang, meninggalkan tawa di kamar Abraham dan Prita.
"Mas Deddy itu memang nggak bisa kalau nggak pamer ya, Mas?" ucap Prita sambil memberikan kemeja kerja yang sudah rapi kepada suaminya.
Abraham berdiri, meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong, lalu mulai mengenakan seragamnya.
"Biarkan saja, Dik. Dia memang pantas dapat itu. Yang penting, hari ini Mas kerja tenang karena tahu kamu aman di sini dan komunikasi kita nggak akan putus lagi."
Ia memasukkan ponsel baru pemberian Prita ke dalam saku celananya yang paling aman, menepuknya pelan seolah memastikan benda itu tidak akan jatuh.
"Ayo sarapan. Biasanya kalau jam begini, di depan sudah ada yang bawa nasi bungkus," ajak
Abraham sambil menggandeng tangan Prita menuju ruang tengah yang sudah ramai dengan rekan-rekan teknisi lainnya.
Suasana di ruang tengah mess pagi itu sangat meriah.
Beberapa bungkus nasi pecel dan kopi instan berjajar di atas meja panjang, menjadi saksi bisu tawa para teknisi yang sedang mengisi tenaga sebelum berjibaku dengan kabel dan menara.
Abraham duduk berdampingan dengan Prita, menikmati sarapan sederhana namun terasa mewah karena ketenangan hati mereka.
Sesekali, rekan teknisi lain menggoda mereka tentang kemesraan "pengantin baru" itu, yang hanya dibalas senyum simpul oleh Abraham dan rona merah di pipi Prita.
Setelah sarapan usai dan jam menunjukkan pukul delapan, suasana berubah sedikit lebih formal.
"Sudah jamnya, ayo semuanya merapat ke ruangan Pak Gio," ajak salah satu teknisi senior.
Abraham berdiri, merapikan kerah seragamnya, lalu menatap Prita yang juga ikut berdiri untuk mengantarnya sampai ke depan pintu kamar.
"Mas ke ruangan Pak Gio dulu ya, Dik. Kamu di sini saja, istirahat atau ngobrol sama ibu kantin kalau bosan," pamit Abraham sambil mengusap lembut puncak kepala istrinya.
"Iya, Mas. Hati-hati ya. Selamat buat Mas Deddy juga," jawab Prita tulus.
Abraham mengangguk, lalu melangkah keluar bergabung dengan gerombolan teknisi lainnya.
Deddy berjalan paling depan dengan gaya yang dibuat-buat gagah, meski rambutnya masih sedikit acak-acakan karena terburu-buru.
"Ayo, pasukan! Hari ini sejarah mencatat, Deddy sang penakluk tower naik kasta jadi penakluk meja kantor!" seru Deddy yang disambut sorakan
"Huuu!" dari teman-temannya.
Mereka semua berjalan menuju ruangan Pak Gio yang terletak di bagian depan area mess.
Ruangan itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk menampung belasan orang yang ingin menyaksikan momen penting tersebut.
Di dalam ruangan, Pak Gio sudah menunggu dengan beberapa berkas di atas mejanya.
Wajahnya tampak berwibawa namun tetap ramah.
Begitu Abraham, Deddy, dan yang lainnya masuk, Pak Gio berdiri menyambut mereka.
"Silakan masuk, silakan. Nah, ini dia calon 'komandan' baru kita," ujar Pak Gio sambil menunjuk Deddy.
Deddy mendadak salah tingkah dan berdiri tegak seperti sedang upacara bendera.
Sementara itu, Abraham berdiri di barisan paling belakang, menyandarkan bahunya di kusen pintu sambil melipat tangan di dada.
Matanya menatap Deddy dengan binar bangga yang tulus.
Tidak ada sedikit pun rasa iri di hatinya karena telah melepas jabatan itu.
Bagi Abraham, melihat sahabatnya sukses dan dirinya tetap bisa memanjat tinggi di bawah langit biru adalah kombinasi kebahagiaan yang sempurna.
Pak Gio mulai membuka map berwarna biru. "Sebelum saya resmikan, sekali lagi saya tanya... Bram, kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu memberikan posisi ini pada Deddy?"
Pandangan semua orang tertuju pada Abraham yang berada di pojok ruangan.