NovelToon NovelToon
BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

BLIND HEIRESS: Akting Buta Sang Istri Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Di depanmu aku tetap buta, tapi di belakangmu aku sedang menggali kuburanmu!"
Gwen, sang pewaris kaya, terbangun dari kebutaannya. Namun, hal pertama yang ia lihat justru suaminya sedang bercumbu dengan sahabatnya sendiri—tepat di samping ranjangnya!
Bukannya melabrak, Gwen memilih tetap berakting buta. Ia menyusun rencana balas dendam yang rapi di bawah hidung mereka.
Keadaan makin panas saat ia menyewa Elang, bodyguard dingin yang menyimpan dendam pada keluarga Gwen. Diam-diam, Elang tahu Gwen hanya berpura-pura.
"Nona, aktingmu hebat. Tapi di depanku, matamu tidak bisa berbohong," bisik Elang.
Bisakah Gwen menghancurkan para pengkhianat itu sebelum rahasianya dibongkar oleh sang bodyguard misterius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: OPERASI DI BAWAH BAYANG-BAYANG

​Suara sirene polisi semakin mendekat, membelah keheningan malam di sekitar mansion Adiguna yang sudah porak-poranda. Namun, bagi Gwen, suara itu bukanlah pertanda bantuan, melainkan ancaman. Jika Elang dibawa ke rumah sakit umum, rahasia di dadanya akan terbongkar oleh rontgen dokter, dan Global Syndicate pasti memiliki mata-mata di setiap sudut instansi medis resmi.

​"Hendra! Jangan biarkan polisi masuk ke area taman belakang!" teriak Gwen melalui interkom yang masih menempel di telinganya. "Bawa mobil van hitam ke gerbang rahasia sekarang!"

​Gwen mengerahkan seluruh tenaganya untuk memapah tubuh Elang yang mulai mendingin. Darah pria itu membasahi gaun tidurnya, menciptakan kontras yang mengerikan.

​"Tahan, Elang... kumohon tahan sebentar lagi," bisik Gwen, suaranya gemetar namun matanya menatap tajam ke depan.

​Mereka berhasil masuk ke dalam van tepat sebelum lampu sorot polisi menyisir taman. Di dalam van, sudah menunggu seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan tas medis usang. Dia adalah Dokter Aris, mantan ahli bedah militer yang hidup dalam persembunyian karena hutang budi pada ayah Gwen.

​"Nona Gwen, luka tembaknya cukup dalam, tapi yang lebih mengkhawatirkan adalah..." Dokter Aris menggantung kalimatnya saat ia membuka kemeja Elang dan melihat bekas luka di dada kiri pria itu.

​"Saya tahu, Dok. Chip itu," potong Gwen cepat. "Elang bilang jangan biarkan dokter manapun mendekati dadanya. Apa maksudnya?"

​Dokter Aris mengeluarkan alat pemindai kecil dan mengarahkannya ke jantung Elang. Alat itu berbunyi tiiiit dengan nada tinggi dan konstan.

​"Ini bukan sekadar chip penyimpan data, Nona," wajah Dokter Aris memucat. "Ini adalah Bio-Thermal Encryptor. Alat ini terhubung langsung dengan sistem saraf jantungnya. Jika chip ini dilepas paksa tanpa kode enkripsi yang tepat, atau jika jantungnya berhenti berdetak... chip ini akan memicu arus listrik yang menghancurkan seluruh data di dalamnya sekaligus menghentikan detak jantung inangnya secara permanen."

​Gwen menutup mulutnya, air mata kembali jatuh. "Jadi... Elang adalah bom berjalan?"

​"Secara teknis, ya. Dan peluru di pinggangnya ini menyebabkan pendarahan internal. Saya harus mengoperasinya sekarang, di sini, di dalam van ini. Jika saya membawanya ke klinik, risikonya terlalu besar."

​"Lakukan, Dok. Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya!"

​Operasi darurat itu dimulai di atas mobil yang melaju kencang menuju pelabuhan tikus. Gwen duduk di pojok van, menggenggam pistol di satu tangan dan liontin perak pemberian Sarah di tangan lainnya. Dia memperhatikan setiap gerakan Dokter Aris dengan napas tertahan.

​Setiap kali monitor detak jantung Elang berbunyi tidak stabil, jantung Gwen seolah ikut berhenti.

​"Detak jantungnya melemah! Dia kehilangan terlalu banyak darah!" seru Dokter Aris panik.

​Gwen mendekat, dia meraih tangan Elang yang lunglai. "Elang, dengarkan aku! Kamu bilang kamu adalah bayanganku, kan? Kamu tidak boleh pergi sebelum aku mengizinkanmu! Kamu masih punya hutang penjelasan padaku!"

​Di ambang kematiannya, jemari Elang bergerak sedikit. Seolah-olah suara Gwen adalah satu-satunya jangkar yang menahannya di dunia ini.

​Dua jam kemudian, van itu berhenti di sebuah gudang tua di pinggiran dermaga yang sudah tidak beroperasi. Operasi selesai. Dokter Aris menyeka keringat di dahinya dengan tangan gemetar.

​"Pelurunya sudah keluar. Dia stabil, untuk saat ini," ucap Dokter Aris. "Tapi Nona, chip di dadanya mulai mengirimkan sinyal aktif. Sepertinya ledakan di gudang dan stres fisik yang dia alami memicu sistem keamanan chip tersebut. Anda harus segera menemukan cara untuk menenangkan sistemnya sebelum chip itu menganggap inangnya sudah mati."

​Gwen menatap liontin di tangannya. Dia ingat kata-kata Elang: "Isinya adalah kunci enkripsi Proyek Gerhana."

​Gwen membuka liontin itu. Di dalamnya, di balik foto Sarah yang tersenyum, terdapat sebuah micro-SD transparan yang sangat tipis. Gwen segera menyambungkannya ke laptop milik Hendra.

​Layar laptop dipenuhi dengan barisan kode rumit yang terus berjalan. Dan di tengah layar, sebuah hitungan mundur muncul.

​[00:59:59]

​"Satu jam?" suara Gwen tercekat. "Apa yang terjadi dalam satu jam?"

​"Jika kode aktivasi tidak dimasukkan dalam satu jam, chip di jantung Elang akan melakukan self-destruct," Dokter Aris membacakan peringatan di layar.

​"Tapi kodenya apa?!" Gwen berteriak frustrasi.

​Tiba-tiba, sebuah pesan muncul di layar laptop, menutupi barisan kode. Sebuah pesan dari pengirim anonim.

​"Gwen Adiguna, ingin menyelamatkan pengawal kesayanganmu? Datanglah ke Menara Adiguna sekarang. Sendiri. Bawa liontin itu. Jika kamu terlambat satu menit saja, jantung Elang akan meledak di tanganmu. — Paman Pratama."

​Gwen menatap Elang yang masih belum sadarkan diri, lalu menatap layar laptop. Paman Pratama ternyata belum tertangkap. Dia bersembunyi di dalam perusahaan Gwen sendiri, menunggu momen terakhir untuk melakukan skakmat.

​"Hendra, siapkan senjata cadangan," ucap Gwen dengan suara yang kini berubah menjadi sangat dingin dan penuh wibawa. "Dokter Aris, jaga Elang. Jangan biarkan siapa pun mendekatinya."

​"Nona, Anda mau ke mana? Itu jebakan!" seru Hendra.

​Gwen berdiri, mengenakan jaket kulit hitam untuk menutupi noda darah di bajunya. Dia mengokang pistolnya dengan gerakan yang sangat lihai, seolah-olah dia telah melakukan ini seumur hidupnya.

​"Paman Pratama mengira aku masih keponakannya yang kecil dan lemah," Gwen tersenyum mematikan. "Dia tidak tahu bahwa demi Elang, aku bersedia menjadi iblis yang paling mengerikan di dunia ini."

​Gwen melangkah keluar dari gudang, meninggalkan Elang yang masih berjuang antara hidup dan mati. Ini bukan lagi soal perusahaan. Ini adalah misi penyelamatan nyawa pria yang telah mencuri hatinya.

1
Anonymous
Semakin seru dan misterius
Anonymous
Semakin komplek dan misterius
Anonymous
Paman ?Memang harta lebih agung dan sangat berharga apalagi hanya sekedar ponak'an
Anonymous
Reno "I B L I S "
Anonymous
Reno kurang bersyukur dengan kehadiran Gwen dalam hidupnya seorang istri yang csntik punya harkat martabat dan derajat
masih saja dikhianati atau mungkin sejak awal tujuan Reno memang bukan membentuk keluarga yang bahagia
Anonymous
Mulai membaca dan larut di dalamnya
Anonymous
Tegar dan percaya diri Gwen tidak mudah terbawa perasaan
Anonymous
Masih misterius semua
Anonymous
Sip.....aku suka karakter Gwenn👍
Leebit
siap!! makasih ya udah berkunjung ke karyaku😊
vania larasati
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!