NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan dibalik layar

Aku masih ingat pertama kali mengunduh aplikasi itu. Tinder.

Awalnya hanya karena rasa penasaran—tentang bagaimana rasanya “bertemu” seseorang lewat layar, hanya dengan satu gesekan jari. Sesederhana swipe kanan untuk “iya” dan swipe kiri untuk “tidak”.

Mungkin terlihat sepele, tapi di balik setiap gesekan itu ada harapan kecil: semoga kali ini berbeda. Semoga kali ini bukan sekadar obrolan singkat yang menggantung, atau janji manis yang hilang tanpa kabar.

Di layar ponselku, muncul wajah-wajah asing yang tersenyum. Beberapa tampak tulus, beberapa terlihat penuh percaya diri, ada pula yang seperti menyimpan cerita yang tak pernah bisa kutebak. Dan di situlah, untuk pertama kalinya aku mulai bertaruh pada perasaan.

Karena siapa sangka? Dari sebuah layar kecil, hatiku bisa belajar jatuh lagi.

Sepulang kerja, aku merebahkan tubuh di kasur. Rasa lelah bercampur gabut membuatku membuka kembali aplikasi dating yang sudah lama terpasang di ponselku. Jari-jariku mulai bermain, menggeser layar ke kanan dan ke kiri, seolah-olah sedang mencari kejutan kecil di antara wajah-wajah asing.

Benar saja, tak sampai lima menit, sebuah notifikasi muncul. It’s a match.

Aku tersenyum. Rasanya ada kepuasan kecil setiap kali notifikasi itu muncul, meski aku tahu sebagian besar akan berakhir sama: chat sebentar, lalu menghilang begitu saja. Tapi kali ini agak berbeda. Dia bukan pria yang wajahnya akan membuat semua orang menoleh di jalan. Tidak terlalu tampan, malah biasa saja. Namun ada sesuatu darinya yang membuatku berhenti. Kulitnya hitam manis—dan jujur saja, aku memang menyukai pria berkulit hitam.

Aku pun membuka percakapan. Dengan sedikit ragu aku mengetik, “Hai, kamu dari mana?”

Dia membalas tak lama kemudian: “Paris.”

Ah, Paris. Kata itu saja sudah cukup untuk membuatku tersenyum lebar. Paris selalu punya pesona bagiku, entah karena romantisnya kota itu di film-film atau karena aku diam-diam memang ingin punya kisah cinta yang terasa istimewa. Walaupun wajahnya tidak terlalu tampan, mendengar dia dari Paris saja sudah membuatnya terasa berbeda di mataku.

Kami pun mulai bertukar pesan ringan—tentang pekerjaan, hobi, dan kehidupan sehari-hari. Dia tidak terlalu banyak bicara, tapi jawabannya cukup untuk membuatku penasaran. Ada rasa hangat yang tumbuh, seolah aku menemukan percikan kecil yang jarang kurasakan dari laki-laki lain di aplikasi ini.

Malam itu aku menutup mata dengan senyum tipis. Ada perasaan aneh, semacam harapan kecil yang berbisik: “Semoga dia bukan sekadar singgah.”

Namun, di sudut hatiku, ada suara lain yang lebih pelan: “Jangan terlalu percaya, nanti kamu kecewa lagi.”

Keesokan harinya, aku kembali membuka aplikasi itu. Ada rasa deg-degan kecil, berharap notifikasi darinya muncul. Ternyata sepi. Tidak ada pesan baru.

Aku akhirnya menyapanya lebih dulu. Dari situlah aku tahu namanya—Yeye, pria berusia 32 tahun yang ternyata sudah memiliki seorang anak. Jujur saja, aku sempat kaget. Tidak banyak laki-laki di aplikasi ini yang jujur soal status mereka. Tapi entah mengapa, kejujurannya justru membuatku sedikit lega.

Obrolan kami berlanjut ringan, meski kadang terasa menggantung. Lalu, tiba-tiba Yeye mengajakku bertemu malam itu juga.

Sebenarnya aku ingin, tapi malam itu aku sudah punya janji dengan teman-temanku. Setiap malam Kamis kami memang punya kebiasaan makan malam bersama lalu lanjut ke pesta kecil. Jadi aku berkata, “Mungkin setelah aku pulang, kita bisa ketemu?”

Dia cepat membalas, “Tidak masalah, aku akan menunggu. Kalau kamu mau, aku bahkan bisa menjemputmu.”

Aku tersenyum membaca pesannya, lalu membalas singkat, “Baiklah.”

Entah kenapa, ada rasa manis ketika tahu dia mau menungguku.

Malam itu aku mengenakan dress coklat manis, rambut curly-ku kubiarkan tergerai, dan tentu saja aku tak lupa menyemprotkan parfum kebanggaanku. Aku berangkat bersama dua orang terdekatku: Amanda, temanku, dan Cici, sepupuku. Mereka berdua sama liarnya jika sudah terkena alkohol—selalu bisa berubah jadi “pemburu” di club, mencari mangsa untuk diajak pulang.

Kami memulai malam dengan makan malam di restoran favorit. Kami memesan wine, menyeruputnya perlahan sambil tertawa-tawa, seolah dunia hanya milik kami bertiga.

Setelah itu, seperti kebiasaan setiap Kamis, kami melanjutkan ke sebuah club yang cukup terkenal di kota. Tempat itu ramai, penuh bule, bahkan sering terlihat selebgram atau artis lokal nongkrong di sana. Musik hiphop berdentum keras, lampu-lampu berwarna menari liar, dan suasana malam berubah menjadi dunia yang sama sekali berbeda.

Begitu sampai, kami memesan enam tequila shot. Hangatnya alkohol menjalar cepat ke seluruh tubuhku. Rasanya mabuk, tapi justru itu membuatku lebih berani, lebih lepas.

Amanda dan Cici semakin liar setelah minum. Mereka mulai bercanda gila-gilaan, menari dengan siapa saja, bahkan sibuk mencari “mangsa” untuk dibawa pulang nanti. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka, tapi aku tahu malam ini aku tidak bisa seperti mereka.

Karena aku sudah punya janji.

Janji dengan Yeye.

Di tengah musik, tawa, dan tarian, pikiranku sesekali melayang padanya. Kata-katanya masih terngiang—bahwa dia akan menungguku malam ini. Dan entah kenapa, di antara kebisingan club dan mabuk tequila, aku justru semakin penasaran dengan pertemuan yang belum terjadi.

Setelah beberapa jam di club, akhirnya aku memutuskan pulang lebih dulu. Amanda dan Cici masih larut dalam dunia mereka sendiri—terlalu sibuk menari dan bercanda dengan orang-orang baru. Aku sendiri mulai merasa pusing. Kepalaku berat, mataku sedikit buram, tubuhku oleng. Apakah aku sudah terlalu mabuk?

Di perjalanan pulang, aku memegang ponsel erat-erat. Dengan sedikit keberanian bercampur nekat, aku menelpon Yeye. Suaraku agak bergetar saat berkata, “Aku akan menemuimu sekarang. Tapi jangan jemput aku, ya. Aku naik taksi online saja. Aku nggak sanggup kalau pake motor.”

Dia menjawab cepat, tenang, seolah sudah siap dari tadi. “Tidak masalah, aku akan menunggu di depan villaku.”

Aku menarik napas panjang, lalu jujur mengaku, “Aku sedikit mabuk.”

Dan dia menjawab singkat, dengan nada yang membuatku lega, “Tidak apa-apa.”

Malam itu, di tengah rasa pusing dan kabut alkohol, ada perasaan baru yang tumbuh: campuran antara deg-degan, takut, dan penasaran. Aku tahu langkahku malam ini bisa menjadi awal cerita baru—atau justru luka yang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!