Rubellite Valtia hanyalah seorang "Putri Palsu" yang haus akan kasih sayang Kaisar. Namun, kesetiaannya dibalas dengan hukuman mati di tangan ayahnya sendiri.
Kembali ke masa lalu saat ia masih berusia delapan tahun, Rubellite bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun, setiap kali ia berusaha menjauh, bayang-bayang masa lalu dan pertanyaan yang belum terjawab terus menghantuinya: Mengapa Ayah begitu membenciku?
Di tengah konspirasi istana dan trauma yang mendalam, Rubellite harus memilih: Benar-benar pergi, atau sekali lagi mencoba menembus hati sang Kaisar yang sedingin es meski risikonya adalah kematian kedua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ChikoGin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16: Layu Nya Sang Mawar
Aula Agung istana telah bertransformasi menjadi lautan kemewahan yang menyilaukan. Ribuan lilin kristal di langit-langit memantulkan cahaya pada pilar-pilar marmer yang melilit ruangan. Musik simfoni dimainkan dengan tempo yang agung, sementara para tetua klan dan bangsawan tinggi berdiri dengan napas tertahan di sisi hamparan karpet beludru merah yang membentang menuju singgasana. Harum bunga lili dan aroma anggur mahal memenuhi udara, menciptakan atmosfer kemegahan yang sempurna bagi keluarga penguasa.
Tiba-tiba, suara terompet perak panjang bergema tiga kali—nada kehormatan tertinggi bagi garis darah penguasa.
"Yang Mulia, Kaisar Volrantz de Valtia! Beserta Sang Putri, Mawar Kekaisaran, Rubellite von Valtia!"
Pintu raksasa berlapis emas setinggi lima meter itu terbuka perlahan. Di puncak tangga, berdiri dua sosok yang memancarkan aura luar biasa. Kaisar Volrantz berdiri dengan jubah kebesarannya yang berat, memancarkan wibawa absolut klan Valtia. Namun, perhatian seluruh hadirin tertuju pada wanita di sampingnya.
Rubellite von Valtia melangkah maju. Gaun hitam pekatnya menyapu lantai dengan suara desis yang elegan. Tidak ada lagi sisa-sisa gadis kecil yang pemalu. Rambutnya disanggul tinggi tanpa satu pun hiasan pita, digantikan oleh mahkota kecil bertahtakan rubi merah darah yang tampak kontras dengan kulit pucatnya. Ia berjalan dengan dagu terangkat, wajahnya tenang seperti permukaan danau yang membeku, menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu liar.
Kaisar Volrantz membawanya ke depan balkon singgasana, menghadap ribuan pasang mata. "Hari ini," suara Volrantz menggelegar, memenuhi setiap sudut aula yang luas itu, "Mawar klan Valtia telah mekar sepenuhnya. Di hari kedewasaannya, Rubellite bukan hanya simbol kecantikan, tetapi juga pilar kekuatan bagi Kekaisaran Matahari ini!"
Tepuk tangan bergemuruh seperti guntur, mengguncang aula kristal tersebut. Rubellite menerima cawan emas dari tangan Anna, mengangkatnya tinggi-tinggi dengan perasaan bahwa semua tahun penantian dan pengorbanannya sepadan. Namun, saat musik waltz dimulai dan para bangsawan mulai berbaur, bisik-bisik yang meragukan mulai merayap seperti kabut tipis.
"Selamat atas kedewasaan Anda, Putri Rubellite," Lady Clarisse menghampiri sambil mengatupkan kipas sutranya dengan gerakan anggun namun penuh maksud. "Tapi saya perhatikan... pita perak itu sudah tidak ada. Apakah Jenderal Valerius belum juga terlihat di sisi Anda? Padahal seluruh kekaisaran tahu betapa Anda menunggunya kembali dari perbatasan Utara."
Rubellite tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang dingin dan tanpa emosi. "Seorang Valtia tidak seharusnya terpaku pada satu benda selamanya, Lady Clarisse. Jenderal Valerius memiliki tanggung jawab besar di perbatasan. Saya yakin dia tahu mana yang lebih mendesak antara urusan negara dan sekadar pesta dansa."
Namun, tepat saat Rubellite akan menerima ajakan dansa seorang pemuda bangsawan, pintu aula dihantam terbuka dengan kasar dari luar. Dentuman itu membuat musik berhenti seketika, menciptakan keheningan yang mencekam.
Valerius melangkah masuk. Ia tidak mengenakan pakaian pesta, melainkan jubah hitam yang berdebu dan zirah yang tampak kusam, seolah-olah ia baru saja turun dari medan tempur. Di sampingnya, seorang wanita muda berambut putih bersih dengan mata biru mencengkeram erat lengannya, menatap sekeliling dengan wajah yang pucat dan ketakutan.
Rubellite hanya terdiam, mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik lipatan gaunnya hingga kuku-kukunya memutih. Badai kehancuran mulai mengoyak dadanya saat melihat Valerius tidak menoleh sedikit pun padanya. Pria itu melangkah tegap melintasi aula, menuntun wanita asing itu hingga berhenti tepat di hadapan singgasana, lalu berlutut dengan satu kaki.
"Yang Mulia," suara Valerius bergema rendah, membungkam seluruh aula. "Sepertinya hamba telah menemukan harta yang telah Anda cari selama ini."
Kaisar Volrantz de Valtia perlahan menegakkan punggungnya. Saat ia mendongak, sepasang mata merah sang Kaisar berkilat tajam di bawah cahaya lilin, memancarkan aura predator yang mengerikan. Tatapan merah itu, yang biasanya hanya menunjukkan otoritas dingin, kini sepenuhnya terobsesi pada wanita di samping Valerius.
"Valerius... kau yakin dengan apa yang kau bawa ke hadapan meja Valtia ini?" suara Volrantz terdengar rendah dan sedikit bergetar, sebuah reaksi yang jarang ditunjukkan oleh sang penguasa.
"Hamba mempertaruhkan nyawa dan seluruh tanda jasa hamba untuk membuktikannya, Yang Mulia," jawab Valerius tegas, kepalanya tetap tertunduk namun suaranya mantap.
Wanita berambut putih itu tersentak, bahunya menciut saat menyadari mata merah Kaisar terkunci padanya. Ia mencengkeram jubah Valerius semakin erat, bibirnya yang pucat gemetar tanpa mampu mengeluarkan suara sedikit pun.
"Maju dan perlihatkan dirimu di bawah cahaya Valtia," perintah Kaisar Volrantz dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Wanita itu ragu, namun dorongan lembut dari Valerius membuatnya melangkah maju. Ia berdiri sendirian di bawah bayang-bayang singgasana, tepat di samping Rubellite yang membeku seperti patung es. Seketika, aula yang tadinya sunyi meledak dalam bisik-bisik tajam yang menyakitkan telinga.
"Lihat rambut putih itu, dan matanya biru surgawi," Lady Clarisse berbisik sinis kepada rekan-rekannya. "Jika dia benar-benar harta klan Valtia, bukankah posisi Putri Rubellite sekarang dalam bahaya besar? Dia bukan lagi satu-satunya kebanggaan istana."
"Sungguh ironis," timpal seorang bangsawan tinggi lainnya. "Baru saja Yang Mulia menyebut Rubellite sebagai pilar kekaisaran, namun Jenderal Valerius justru membawa pulang seseorang yang tampak jauh lebih berharga di mata Kaisar. Lihat betapa kasihan wajah Putri kita, dia seperti orang asing di pestanya sendiri."
Tawa kecil tertahan terdengar dari sekelompok gadis bangsawan yang selama ini menyimpan rasa iri. "Pita peraknya sudah dilepas, tapi pria yang ia tunggu justru membawa pulang seorang dewi salju. Sepertinya Mawar Valtia akan segera layu malam ini, digantikan oleh cahaya yang lebih murni."
Rubellite menangkap setiap kata, setiap hinaan yang dibalut dalam nada iba yang palsu itu. Ia tetap berdiri tegak, dagunya masih terangkat tinggi, namun di dalam hatinya, dunia yang ia bangun dengan susah payah sedang runtuh berkeping-keping. Ia melihat ayahnya bangkit dari takhta, mata merahnya bersinar penuh obsesi akan kekuasaan yang mungkin dibawa oleh wanita ini.
"Sebutkan namamu, Nona Muda," ucap Volrantz sambil mengulurkan tangan besarnya yang dihiasi cincin-cincin kekaisaran.
"Sh-shiera, Yang Mulia," jawab wanita itu dengan suara lirih yang nyaris hilang ditelan luasnya aula.
"Shiera," ulang Volrantz dengan nada puas yang mendalam. "Malam ini, biarlah seluruh dunia tahu bahwa harta Valtia yang telah lama hilang telah kembali ke tempat yang seharusnya."
Kaisar sepenuhnya mengabaikan Rubellite yang berdiri kaku di sampingnya. Ayahnya, yang beberapa menit lalu membanggakannya, kini seolah menganggap Rubellite tak lagi ada. Rubellite, dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan, akhirnya memutus keheningan itu dengan suara yang sangat tenang namun sedingin musim dingin di Utara.
"Yang Mulia Ayahanda, sepertinya kehadiran Jenderal Valerius dan tamu istimewanya telah menjadi anugerah terbesar bagi malam ini, melebihi perayaan apa pun. Jika diizinkan, hamba ingin mengundurkan diri lebih awal karena merasa kurang sehat."
Volrantz bahkan tidak menoleh ke arah putrinya. Matanya tetap terpaku pada Shiera saat ia menjawab singkat, "Pergilah beristirahat, Rubellite."
Pengabaian itu terasa lebih menyakitkan daripada tusukan pedang yang pernah ia bayangkan. Tanpa sepatah kata lagi, Rubellite berbalik. Ia melangkah membelah kerumunan bangsawan yang kini menatapnya dengan berbagai emosi—ada yang puas, ada yang kasihan, dan ada yang sekadar penasaran. Ia tetap menjaga langkahnya agar tetap anggun dan tegak.
Saat ia melewati Valerius, pria itu sempat mengangkat wajahnya dan menatapnya sejenak. Ada sorot mata yang sulit diartikan di sana, namun Rubellite terus berjalan lurus ke depan tanpa memberikan satu pun lirikan balasan, meninggalkan aula megah yang kini terasa seperti penjara yang menyesakkan bagi hatinya.
Begitu pintu jati besar itu tertutup dan terkunci rapat, kekuatan yang menopang punggung tegak Rubellite luruh seketika. Ia bersandar pada permukaan kayu yang dingin, napasnya tersengal seolah udara di ruangan itu mendadak habis. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena hawa malam, melainkan karena memori mengerikan yang baru saja bangkit dari liang kubur ingatannya.
Rubellite melangkah dengan kaki yang terasa lemas menuju meja riasnya. Di bawah pantulan cermin kristal, ia melihat wajahnya yang pucat pasi, sangat kontras dengan gaun beludru hitam yang ia kenakan. Rambutnya yang tersanggul rapi tanpa hiasan apa pun membuat garis wajahnya terlihat semakin tajam dan dingin.
"Aku tahu dia akan datang hari ini..." bisik Rubellite pada bayangannya sendiri. Suaranya pecah dan bergetar hebat. "Aku sudah menyiapkan segalanya. Aku bahkan sudah mengunci masa laluku demi menyambut hari ini dengan kekuatan baru."
Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan para tetua akhirnya jatuh, membasahi pipinya. Ia mencengkeram pinggiran meja rias hingga buku jarinya memutih.
"Cuma aku tidak menyangka... pria yang selama ini aku tunggu, pria yang aku jaga janjinya di balik sehelai pita perak..." Rubellite terisak, tawa getir yang terdengar menyakitkan lolos dari bibirnya. "Dia membawa wanita itu kembali. Dia membawa Shiera tepat ke hadapanku."
Pikiran Rubellite langsung terlempar pada ingatan kelam dari kehidupan sebelumnya. Shiera—wanita dengan rambut putih yang tampak suci itu—adalah sosok yang dulu membuatnya kehilangan segalanya. Dialah yang memutarbalikkan fakta, menghasut Kaisar, dan menjebak Rubellite hingga sang Putri harus mengakhiri hidupnya di tangan algojo di depan rakyatnya sendiri.
"Kenapa harus sekarang? Kenapa di hari kedewasaanku?" Rubellite memukul permukaan meja rias dengan tangan gemetar. "Valerius... kau membawa mautku kembali ke istana ini. Kau memberikan panggung bagi wanita yang kelak akan menghancurkanku lagi."
Bayangan mata merah ayahnya yang bersinar penuh obsesi pada Shiera tadi membuatnya mual. Di kehidupan lalu, tatapan itu adalah awal dari pengucilan dirinya. Sejarah seolah sedang mengulang dirinya sendiri, dan Rubellite merasa tercekik oleh takdir yang sama.
"Pria yang aku tunggu sudah mati di perbatasan Utara," desis Rubellite sambil menghapus air matanya dengan kasar. Matanya kini berkilat penuh kebencian dan tekad yang dingin. "Jika kau membawa mautku, Valerius, maka aku tidak akan membiarkan diriku mati dengan cara yang sama seperti dulu."
Ia berdiri tegak kembali, menatap pantulan dirinya yang kini terlihat jauh lebih berbahaya tanpa mahkota di kepalanya. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Shiera berpura-pura menjadi "harta" yang suci sementara ia sendiri didorong menuju jurang eksekusi.
Anna masuk dengan langkah yang sangat pelan seolah takut suara sepatunya akan memecahkan kesunyian yang mencekam di kamar itu. Ia melihat nonanya berdiri kaku di depan meja rias dengan tangan yang masih gemetar namun sorot mata Rubellite sudah berubah. Tidak ada lagi kesedihan yang tersisa melainkan hanya kemarahan yang membeku.
"Nona," bisik Anna sambil meletakkan nampan teh dengan tangan gemetar. "Panglima Valerius ada di depan lorong. Beliau memaksa ingin bicara dengan Anda."
Rubellite tidak menoleh sedikit pun. Ia hanya menatap pantulan Anna di cermin dengan tatapan kosong. "Bicara? Untuk apa? Apa dia ingin memamerkan lebih banyak lagi betapa cantiknya 'harta' yang ia bawa itu di depan wajahku?"
"Wajahnya terlihat sangat serius, Nona. Jika Anda tidak sudi, saya akan meminta pengawal untuk mengusirnya sekarang juga," tawar Anna dengan nada tegas.
Rubellite terdiam sejenak. Ingatan tentang Shiera yang bergelayut di lengan Valerius kembali melintas dan memicu rasa mual yang luar biasa. Dalam ingatan garis waktu sebelumnya yang ia bawa lewat regresi ini, pria itu juga menjadi tameng bagi wanita tersebut dan hari ini sejarah seolah baru saja menuliskan bab pertamanya dengan tinta yang sama.
"Biarkan dia masuk, Anna," ucap Rubellite akhirnya dengan nada yang sangat tenang namun dingin.
"Tapi Nona—"
"Biarkan dia masuk," ulang Rubellite lebih keras. "Aku ingin mendengar langsung kebohongan apa lagi yang akan ia ucapkan malam ini."
Anna membungkuk hormat lalu melangkah keluar. Tak lama kemudian suara pintu jati yang berat itu kembali terbuka. Langkah kaki yang mantap dan berat bergema di atas lantai marmer. Valerius berhenti beberapa langkah di belakangnya. Keheningan di antara mereka terasa begitu padat.
"Rubellite," panggil Valerius dengan suara beratnya yang selalu berhasil menggetarkan hati Rubellite di masa lalu.
Rubellite perlahan berbalik dan menatap langsung ke mata pria itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Panglima Valerius von Vermilion. Aku terkejut Anda masih ingat jalan menuju kamarku setelah menemukan harta yang begitu berharga bagi ayahku."
Valerius menarik napas panjang dan mencoba melangkah mendekat namun Rubellite segera mengangkat tangannya untuk memberi tanda agar ia tetap di tempatnya.
"Jangan mendekat, Valerius. Cukup di situ," desis Rubellite. "Katakan padaku, apa tujuanmu membawa wanita berambut putih itu ke upacara kedewasaanku? Apakah menghancurkan harga diriku adalah bagian dari strategi perangmu di Utara?"
"Ini bukan seperti yang kau bayangkan, Rubellite," jawab Valerius dengan wajah yang tampak kaku. "Shiera adalah kunci untuk kedamaian kekaisaran. Aku menemukannya di sebuah kuil tua yang hancur dan kaisar sudah lama mencari keberadaannya."
Rubellite tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat pahit dan menyakitkan. "Kedamaian? Kau membawa wanita yang akan memenggal kepalaku dan kau menyebutnya kedamaian?"
Valerius mengerutkan keningnya dengan bingung. "Apa maksudmu? Memenggal kepalamu? Rubellite, kau bicara seolah-olah kau sudah tahu siapa dia."
Rubellite tersadar bahwa ia hampir membocorkan rahasia tentang regresi yang ia alami. Ia segera memperbaiki raut wajahnya menjadi sedingin es kembali.
"Aku tahu wanita sepertinya," ucap Rubellite sambil melangkah mendekat ke arah Valerius hingga mereka hanya berjarak satu jengkal. "Wanita yang tampak suci dan lemah namun mampu membuat seorang Panglima hebat melupakan janji yang ia ikat dengan sehelai pita perak. Sekarang pergilah. Aku tidak ingin melihat wajahmu atau wanita itu lagi malam ini."
Valerius terpaku di tempatnya berdiri. Ia menatap wajah Rubellite, mencari sisa-sisa kelembutan yang dulu selalu menyambutnya, namun ia hanya menemukan tembok tinggi yang tak tertembus. Tuduhan Rubellite tentang "memenggal kepala" dan "janji yang dilupakan" terasa seperti hantaman tanpa alasan baginya.
"Pita perak itu..." Valerius bergumam rendah, matanya beralih ke rambut Rubellite yang kini kosong tanpa hiasan. "Aku tidak pernah melupakannya, Rubellite. Setiap malam di Utara, saat badai salju menghantam tendaku, hanya ingatan tentangmu yang membuatku tetap bertahan. Aku membawa Shiera bukan untuk menggantikanmu, tapi karena perintah rahasia Kaisar yang tidak bisa kubantah."
Rubellite membuang muka, tawanya terdengar seperti kaca yang pecah. "Perintah rahasia? Dan kau memilih untuk mematuhinya tepat di depan ribuan bangsawan, di hari saat aku seharusnya menjadi pusat duniamu? Kau menyerahkanku pada serigala-serigala istana itu, Valerius."
Valerius mencoba meraih tangan Rubellite, namun wanita itu mundur satu langkah dengan gerakan cepat.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang baru saja menuntun wanita itu," desis Rubellite. Matanya berkilat, penuh dengan kilasan memori tentang bagaimana tangan yang sama di masa depan—di garis waktu yang sudah ia lalui—tidak akan mampu menyelamatkannya dari tiang eksekusi karena terlalu sibuk melindungi Shiera.
"Kau berubah, Rubellite," ucap Valerius dengan nada suara yang terluka. "Matamu... tatapanmu padaku sekarang penuh dengan kebencian yang tidak kupahami. Apa yang terjadi selama aku pergi? Siapa yang meracuni pikiranmu hingga kau menatapku seolah aku adalah musuhmu?"
"Waktu yang meracuniku, Panglima," jawab Rubellite sambil menunjuk ke arah pintu. "Waktu yang kau habiskan untuk mencari 'harta' itu sementara aku berjuang sendirian di sini. Sekarang keluar. Sebelum aku memanggil pengawal dan membuat keributan yang akan memalukan klan Vermilion."
Valerius mengepalkan tinjunya, rahangnya mengeras karena menahan emosi. Ia ingin menjelaskan lebih banyak, ingin memberi tahu bahwa Shiera hanyalah "alat" politik bagi Kaisar Volrantz, namun ia sadar bahwa Rubellite yang berdiri di depannya saat ini tidak akan mendengarkan apa pun.
"Baiklah," ucap Valerius pelan, suaranya serak. "Aku akan pergi. Tapi ketahuilah satu hal, Rubellite. Aku kembali ke ibu kota ini demi dirimu, bukan demi takhta atau wanita lain. Jika kau butuh waktu untuk percaya lagi, aku akan menunggu."
Valerius berbalik dan melangkah pergi. Suara pintu yang tertutup di belakangnya meninggalkan keheningan yang jauh lebih menyakitkan bagi Rubellite.
Rubellite jatuh terduduk di kursi riasnya, seluruh tenaganya seolah terkuras habis. Ia tahu Valerius di masa ini mungkin jujur, tapi ia tidak bisa mengambil risiko. Shiera adalah racun, dan siapa pun yang berada di dekat wanita itu—termasuk Valerius—akan menjadi bagian dari kehancurannya.
"Kau akan menunggu?" gumam Rubellite pada ruangan yang kosong. "Di kehidupan lalu kau juga mengatakan hal yang sama, sebelum akhirnya kau sendiri yang mengawal kereta penjaraku menuju alun-alun kota."