NovelToon NovelToon
JENIUS RENDAHAN

JENIUS RENDAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Slice of Life
Popularitas:130
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Fikri

Melihat begitu banyak orang hebat di sekitarku membuatku merasa rendah di mata mereka. Bagi dunia ini, nilai akademis adalah segalanya. Namun bagiku, kreativitas merupakan hal terpenting sebagai pengubah karya imajinasi menjadi kenyataan. Apakah diriku, seorang siswa yang dianggap memiliki "kemampuan rendah", dapat membuktikan bahwa cara pandang mereka salah? Ini adalah kisah tentang membuktikan diri di tengah gempuran para jenius akademik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 : Kekuatan Mengerikan Callen Yang tersembunyi

Koridor sekolah mulai lengang, menyisakan gema langkah kaki kami berdua.

Matahari siang menerobos masuk lewat ventilasi, menciptakan garis-garis cahaya di lantai. Zea masih berdiri di hadapanku, menuntut jawaban dengan mata cokelatnya yang tak mau kalah. Dia benar-benar ingin menjadi suporter nomor satuku, entah atas dasar apa.

"Jadi?" desak Zea lagi. "Kamu mau pilih apa, Cal? Jangan bilang Catur ya, itu membosankan. Aku mau lihat kamu bergerak."

Aku menghela napas pelan, menatap postur tubuhku sendiri.

Orang-orang melihatku sebagai remaja laki-laki bertubuh kurus—atau bahasa halusnya ramping. Di balik seragam putih abu-abu yang sengaja kupilih satu nomor lebih besar ini, tidak ada yang tahu bahwa massa ototku sangat padat. Jenis otot fungsional yang dibangun untuk kecepatan dan ledakan tenaga, bukan otot bodybuilder yang besar tapi kaku.

"Tenis Meja," jawabku singkat setelah menimbang-nimbang.

Mata Zea berbinar seketika. "Pingpong?"

"Hm. Tenis Meja," ulangku. "Nggak perlu lari keliling lapangan, nggak perlu kontak fisik kayak basket atau sepak bola, dan bisa dilakukan di dalam ruangan ber-AC."

Alasan utamaku sebenarnya sederhana: Tenis Meja mengandalkan refleks mata dan kecepatan tangan. Dua hal yang sudah kulatih sampai taraf di luar nalar manusia normal. Aku bisa memenangkan pertandingan tanpa harus berkeringat banyak.

"Wow! Itu bagus sekali, Cal!" seru Zea antusias, tepuk tangannya terdengar renyah. "Aku suka cowok yang main pingpong! Kelihatan taktis dan cepet! Oke, fix ya! Aku bakal siapin spanduk—"

"Woy! Lama nggak ketemu, Loser."

Suara berat dan serak memotong kegembiraan Zea.

Aku dan Zea menoleh bersamaan.

Di ujung koridor, berdiri tiga siswa laki-laki bertubuh kekar. Seragam mereka sedikit dikeluarkan, lengan baju digulung memamerkan otot bicep. Mereka adalah kakak kelas—kelas 11.

Mataku menyipit di balik kacamata. Aku mengenali yang di tengah. Bagas. Mantan kakak kelasku waktu SMP yang dulu sering memalak anak-anak kelas 1.

Bagas menyeringai, melangkah mendekat dengan gaya sok berkuasa. Dua temannya mengekor di belakang sambil tertawa meremehkan.

"Wah... wah... beneran Callen ternyata," ucap Bagas sinis, matanya menelusuriku dari atas ke bawah. "Terakhir gue liat lo pas lo kelas 2 SMP, kan? Masih aja kurus kering kayak lidi."

Dia berhenti tepat di hadapanku, aromanya bau rokok yang disamarkan parfum murah.

"Dan sekarang..." Bagas melirik Zea dengan tatapan nakal. "Udah berani deket-deket sama cewek populer ya? Hahaha. Hebat juga nyali lo."

Teman di belakangnya ikut tertawa. "Mimpi apa lo semalem, Dek? Ati-ati ntar bangun tidur nangis."

Wajah Zea langsung berubah merah padam, bukan karena malu, tapi karena marah. Alisnya menukik tajam.

"Hei! Apa maksud kalian?!" sentak Zea berani. Dia melangkah maju, memosisikan dirinya di antara aku dan Bagas. "Jaga mulut kalian ya! Aku nggak ada apa-apa sama Cal! Dia temanku!"

Bagas tertawa mengejek, seolah teriakan Zea hanya lelucon lucu.

"Temen? Seriusan Zea Primadona mau temenan sama dia?" Bagas menunjuk wajahku dengan telunjuknya yang kasar. "Asal lo tau ya, Ze. Dia ini orang ilang. Nggak punya arah. Nggak punya bakat. Pas SMP aja kerjanya cuma diem di pojokan kayak patung. Kenapa lo mau temenan sama sampah kayak dia?"

Emosi Zea meledak. Tangan kanannya mengepal.

"Tarik ucapan lo barusan!" teriak Zea. Dia hendak maju untuk mendorong dada Bagas.

Tapi sebelum tangan Zea menyentuh Bagas, sebuah tangan lain menahannya.

Tangan kiriku mencengkram lengan atas Zea.

Grep.

Zea tersentak. Dia menoleh padaku dengan kaget. Bukan karena aku menghentikannya, tapi karena rasanya.

Cengkraman tanganku terlihat santai dari luar. Tapi bagi Zea yang merasakannya, itu terasa seperti diborgol oleh besi baja. Berat, kokoh, dan tidak tergoyahkan. Dia mencoba memberontak sedikit, tapi tanganku tidak bergeming satu milimeter pun.

"Sudah... Zea," ucapku pelan, suaraku datar namun mengandung perintah mutlak.

Zea menatap mataku. Ketenangan di sana membuatnya merinding. Dia merasakan aura yang berbeda—bukan aura Callen yang pasrah, tapi aura sesuatu yang berbahaya yang sedang ditahan.

"Tapi Cal... mereka ngehina kamu..." protes Zea, suaranya melembut tapi masih kesal.

"Nggak perlu buang tenagamu buat ngeladenin tong kosong," jawabku tenang.

Aku melepaskan lengan Zea perlahan, lalu beralih menatap Bagas.

Bagas terlihat tersinggung dikatai 'tong kosong'. Wajahnya mengeras. "Maksud lo apa, hah?!"

Bagas maju, hendak mencengkram kerah bajuku.

Dengan gerakan kilat yang nyaris tak terlihat mata, tangan kananku bergerak menepis tangannya, lalu ganti mencengkram pergelangan tangan Bagas.

Bagas terbelalak. Dia mencoba menarik tangannya kembali, tapi tidak bisa. Cengkramanku mengunci urat nadinya dengan tekanan presisi. Wajah Bagas memucat menahan sakit, meski aku tidak meremukkan tulangnya.

"Mari kita selesaikan hal ini di belakang sana," kataku dingin, menunjuk ke arah lorong sempit di samping perpustakaan lama yang letaknya di ujung sekolah. Tempat yang sepi, tanpa CCTV.

Bagas, yang tidak mau terlihat lemah di depan teman-temannya meski tangannya kesakitan, memaksakan sebuah seringai.

"Oke. Berani juga lo," desis Bagas setelah aku melepaskan tangannya. Dia mengibaskan tangannya yang terasa kebas. "Gue tunggu lo di sana. Awas kalo kabur."

Bagas dan dua temannya berjalan lebih dulu ke arah perpustakaan sambil tertawa-tawa jahat, membayangkan akan menghajar adik kelas yang songong.

Mereka pergi. Meninggalkan aku dan Zea yang berdiri kaku di koridor.

"Cal! Kamu gila ya?!" Zea langsung panik, memegang kedua bahuku. "Apa maksudmu ngajak mereka ke sana? Kamu mau berantem lawan tiga orang sekaligus?! Itu anak kelas 11 lho, badannya gede-gede!"

Zea merogoh saku roknya, mengambil ponsel. "Aku laporin ke Pak Bambang atau Guru BK sekarang. Ini udah bullying!"

Saat Zea hendak menekan layar ponsel, aku menahan tangannya lagi. Kali ini dengan lembut. Jemari panjangku menyentuh punggung tangannya, menurunkan ponsel itu.

"Nggak usah," cegahku.

"Tapi Cal—"

"Nggak perlu khawatir," potongku, menatap manik matanya lekat-lekat.

Aku mendekatkan wajahku sedikit, memberikan keyakinan lewat tatapan mata.

"Tidak ada hal buruk yang bakal terjadi, Ze. Percaya sama aku. Setelah ini aku kembali."

Ze.

Mendengar nama panggilannya dipangkas menjadi dua huruf dengan nada yang begitu intim dan maskulin, Zea terpaku. Pipinya merona merah seketika. Jantungnya berdegup kencang, melupakan sejenak rasa paniknya.

Panggilan itu terdengar spesial. Eksklusif.

"Ka-kamu..." Zea tergagap, kehilangan kata-kata.

Aku melepaskan tangannya, memberinya senyum tipis—sangat tipis—sebagai penenang. Lalu aku berbalik, berjalan santai menyusul Bagas ke arah lorong perpustakaan seolah aku hanya mau pergi ke toilet.

Zea berdiri mematung di koridor. Dia melihat punggungku menjauh.

Satu menit berlalu. Tiga menit. Enam menit.

Zea menggigit bibir bawahnya cemas. Dia mondar-mandir di tempat. "Enam menit... lama banget. Jangan-jangan Callen dikeroyok? Jangan-jangan dia pingsan?"

Rasa khawatirnya memuncak. "Bodo amat lah, aku susulin!"

Baru saja Zea hendak berlari, dia melihat sosok itu muncul lagi dari balik tikungan lorong.

Callen.

Dia berjalan santai ke arah Zea. Seragamnya masih rapi. Kacamatanya masih bertengger sempurna di hidung. Napasnya teratur. Tidak ada lebam, tidak ada darah, bahkan rambutnya tidak berantakan. Dia terlihat sama persis seperti enam menit yang lalu.

Zea melongo. Dia berlari menghampiri Callen, mengecek tubuh cowok itu dari atas ke bawah.

"Cal! Kamu gapapa?! Kok sebentar banget?" tanya Zea histeris, memegang lengan Callen memastikan tulangnya utuh. "Mana mereka? Kamu kabur ya?"

Callen menatap Zea datar, lalu menjawab dengan nada bosan.

"Aku menidurkan mereka sebentar."

Zea mengerutkan kening, bingung. "Hah? Menidurkan? Maksudnya kamu nyanyiin lagu nina bobo gitu?"

"Kamu bisa memastikannya sendiri kalau penasaran," jawab Callen santai sambil menunjuk ke belakang dengan jempolnya.

Zea yang dilanda rasa penasaran luar biasa langsung berlari kencang menuju area belakang perpustakaan.

Saat sampai di sana, langkah Zea terhenti mendadak. Mulutnya terbuka lebar membentuk huruf 'O'.

Pemandangan di depannya tidak masuk akal.

Di atas rumput liar di balik tembok perpustakaan, Bagas dan dua temannya tergeletak di tanah. Mereka tidak bergerak.

Zea memberanikan diri mendekat dengan gemetar. Dia melihat wajah Bagas. Matanya terpejam damai, mulutnya sedikit terbuka, dan terdengar suara dengkuran halus.

Zzzzz...

Tidak ada darah. Tidak ada gigi yang patah. Tidak ada memar biru di wajah. Mereka bertiga hanya... pingsan. Tergeletak rapi berjajar seolah baru saja memutuskan untuk tidur siang massal di jam sekolah.

"Gila..." bisik Zea, merinding.

Bagaimana caranya? Bagaimana cara melumpuhkan tiga orang berbadan besar dalam waktu kurang dari enam menit tanpa meninggalkan bekas luka sedikit pun?

Zea berbalik, berlari kembali ke koridor tempat Callen menunggunya.

"Cal!" seru Zea, napasnya memburu. Dia menatap Callen seolah sedang melihat alien. "Gimana... gimana caranya? Mereka pingsan semua! Tapi nggak ada luka! Kamu apain mereka?!"

Callen menyandarkan punggungnya di tembok, memasukkan tangan ke saku celana.

Dia menatap Zea yang kebingungan. Perlahan, ekspresi datarnya mencair. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang tulus—senyum yang mencapai matanya, membuat wajah tampannya terlihat berkali-kali lipat lebih mempesona.

Callen menempelkan jari telunjuk di bibirnya.

"Ssttt... Itu rahasia ya, Zea."

Melihat senyum dan gestur itu, Zea merasa lututnya lemas. Antara takut dengan kemampuan mengerikan Callen, dan terpesona dengan karismanya yang meluap-luap.

Hari ini, satu lagi lapisan misteri Callen terkuak. Dan Zea semakin yakin, dia tidak akan pernah bisa lepas dari pesona Jenius Rendahan ini

1
Zumrotul Mukaromah
semangatt update kakk🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!