Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16 di bawah bayangan tujuh bintang
Dua minggu berlalu di Puncak Qingyun seperti kedipan mata bagi para kultivator, namun bagi dunia fana, itu adalah perubahan musim. Salju tebal yang biasanya menyelimuti puncak sepanjang tahun kini mulai menipis di area sekitar sekte, digantikan oleh rumput hijau zamrud yang tumbuh subur.
Ini bukan karena musim semi telah tiba lebih awal, melainkan karena Nadi Naga di bawah tanah telah sepenuhnya terintegrasi dengan Menara Pengumpul Qi. Konsentrasi energi di dalam formasi sekte kini lima kali lipat lebih padat dibandingkan dunia luar. Bernapas di sini saja bisa memperpanjang umur manusia biasa.
Di halaman latihan yang diperluas, suara desingan angin terdengar tajam dan berirama.
"Hah! Hah! Hah!"
Li Yun bergerak seperti gasing. Di tangannya, sepasang Cakar Angin berkilau dingin. Tubuhnya melesat dari satu tiang kayu ke tiang kayu lainnya—sasaran latihan yang dibuat Su Lang. Tiang-tiang itu terbuat dari Kayu Besi yang keras, namun kini penuh dengan goresan dalam.
Srak!
Dengan satu sabetan menyilang, Li Yun memotong tiang Kayu Besi setebal paha orang dewasa itu menjadi tiga bagian rapi. Potongannya halus, seolah dipotong oleh laser.
Li Yun mendarat dengan napas teratur. Keringat di tubuhnya menguap menjadi kabut putih. Aura yang memancar darinya bukan lagi aura pemula yang ragu-ragu.
[Status Murid: Li Yun]
[Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 2 (Pertengahan)]
[Kemajuan: Luar biasa berkat Pil Pengumpul Qi Sempurna.]
Di sisi lain, di dekat kolam ikan beku yang kini mulai mencair, Lin Yue duduk bermeditasi di atas batu datar. Dia tidak bergerak sama sekali. Di sekelilingnya, udara membeku menjadi kristal-kristal es kecil yang melayang indah. Jika Li Yun adalah badai yang berisik, Lin Yue adalah danau musim dingin yang mematikan.
Dia membuka matanya. Sepasang pupil hitamnya kini memiliki cincin biru samar di tepinya.
[Status Murid: Lin Yue]
[Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 2 (Awal)]
[Bakat Tubuh Yin Murni: Terkendali 15%.]
"Dua minggu..." gumam Lin Yue, menatap tangannya sendiri yang putih porselen. "Hanya dua minggu, dan aku sudah mencapai apa yang orang lain butuhkan waktu lima tahun."
Dia menoleh ke arah Paviliun Penempaan di mana asap berwarna pelangi mengepul keluar. Dia tahu siapa arsitek di balik keajaiban ini. Su Lang. Pria itu tidak hanya memberi mereka rumah, tapi memberi mereka sayap untuk terbang.
Di dalam Paviliun Penempaan, suhu ruangan sangat panas, namun Su Lang tidak berkeringat. Dia bertelanjang dada, memperlihatkan otot-ototnya yang kini terbentuk sempurna dan dilapisi lapisan Qi pelindung.
Di depannya, Kuali Perunggu bergetar hebat di atas altar api yang ditenagai oleh dua Fragmen Penempa Surga.
"Sistem, stabilkan suhu di 1.200 derajat. Masukkan esensi logam Bintang Jatuh."
Su Lang sedang tidak membuat pil hari ini. Dia sedang menempa Formasi Pertahanan Sekunder.
Peristiwa di Kota Awan Putih membuatnya sadar. Formasi Pengalihan Persepsi hanya berguna untuk menyembunyikan sekte dari pengintai. Tapi jika musuh sudah tahu lokasi pasti mereka dan memutuskan untuk menyerang secara brute force (kekuatan kasar), ilusi tidak akan berguna. Dia butuh dinding yang keras.
Su Lang melempar lempengan logam yang dia beli dari sistem menggunakan sisa poin dedikasinya.
Wuuush!
Logam itu meleleh, menyatu dengan cairan perak di dalam kuali. Su Lang dengan cepat membentuk segel tangan, mengirimkan puluhan simbol rune emas ke dalam cairan tersebut.
"Padatkan!"
Cairan itu terbagi menjadi empat bola logam yang melayang keluar dari kuali, lalu mendingin seketika menjadi empat pasak besi hitam dengan ukiran kepala naga.
[Item Berhasil Dibuat: Pasak Naga Penahan Bumi (Set x4)]
[Tingkat: Roh Kelas Menengah]
[Fungsi: Menciptakan dinding gravitasi yang dapat menahan serangan fisik kultivator Tingkat 6 ke bawah.]
Su Lang menghela napas puas. Dia mengenakan kembali jubahnya.
"Dengan ini, persiapan selesai."
Su Lang keluar dari paviliun. Dia melihat Li Yun dan Lin Yue segera berdiri memberi hormat saat melihatnya.
"Istirahatlah," kata Su Lang sambil melempar masing-masing sebutir Pil Pemulih Stamina (kualitas sempurna). "Kalian berlatih terlalu keras. Ingat, tali busur yang ditarik terus-menerus akan putus."
"Terima kasih, Guru," ucap mereka serempak.
"Guru!" Xiao Me berlari dari arah dapur, membawa nampan berisi teh dan roti kukus. "Guru pasti lapar setelah di dalam sana seharian!"
Su Lang tersenyum dan mengambil sepotong roti. "Terima kasih, Xiao Me."
Mereka duduk bersama di teras Aula Utama, menikmati momen kedamaian sore itu. Angin sepoi-sepoi, teh hangat, dan tawa Xiao Me yang menceritakan bagaimana ayam-ayam hutan di belakang sekte mulai bertelur emas (mungkin efek samping makan rumput spiritual).
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Su Lang tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya. Wajahnya yang santai berubah menjadi serius dan dingin dalam sekejap.
Li Yun dan Lin Yue, yang instingnya sudah diasah, segera meletakkan makanan mereka dan memegang senjata.
"Guru?" bisik Lin Yue.
"Mereka datang," kata Su Lang datar. "Dan mereka membawa tamu istimewa."
Di kaki Gunung Qingyun.
Hutan yang biasanya sunyi kini dipenuhi oleh aura pembunuh yang pekat. Burung-burung tidak berani berkicau. Bahkan angin seolah takut untuk berhembus.
Lima puluh orang berbaju zirah hijau tua berdiri dalam formasi militer yang rapi. Mereka bukan preman jalanan seperti Sekte Besi Hitam. Mereka adalah Pasukan Bintang—unit elite dari Balai Tujuh Bintang. Setiap prajurit minimal berada di Qi Condensation Tingkat 2.
Di depan mereka, berdiri tiga orang.
Dua orang adalah Wakil Ketua, masing-masing memancarkan aura Tingkat 6.
Namun, yang menjadi pusat perhatian adalah pria tua di tengah. Dia mengenakan jubah sutra ungu dengan motif tujuh bintang di punggungnya. Rambutnya putih panjang, dibiarkan tergerai. Dia tidak membawa senjata, namun kehadirannya saja membuat udara di sekitarnya terdistorsi.
Gu Tian. Ketua Balai Tujuh Bintang. Qi Condensation Tingkat 8.
"Jadi ini tempat Mo tewas?" suara Gu Tian rendah, namun bergema seperti guntur di lembah itu.
Seorang pengintai maju dengan gemetar. "La-lapor Ketua. Menurut peta, Puncak Qingyun ada di sini. Tapi... kami hanya melihat hutan kosong dan tebing batu. Tidak ada jalan naik, tidak ada gerbang sekte."
Gu Tian mendengus. "Formasi Ilusi Tingkat Rendah. Mo benar-benar bodoh mati di tempat seperti ini."
Gu Tian mengangkat tangan kanannya. Qi ungu berkumpul di telapak tangannya, memadat menjadi bola energi yang berputar kencang.
"Hancurkan ilusinya."
Dia tidak melempar bola itu. Dia meremasnya.
BOOOM!
Gelombang kejut ungu meledak dari tangannya, menyapu ke depan seperti tsunami. Gelombang itu menghantam lereng gunung.
KRETEK!
Suara kaca pecah terdengar di udara kosong. Pemandangan tebing batu yang sunyi tiba-tiba retak, lalu hancur berkeping-keping seperti cermin yang jatuh.
Di balik pecahan ilusi itu, wujud asli Puncak Qingyun terungkap.
Sebuah gerbang batu giok yang megah (yang baru dibangun Su Lang), jalan setapak yang bersih, dan kabut spiritual yang tebal. Di kejauhan, sebuah menara bercahaya biru berdiri menantang langit.
Mata Gu Tian menyipit. "Menara Pengumpul Qi? Dan konsentrasi energi ini... Nadi Naga?!"
Keserakahan meledak di mata Gu Tian. Dia awalnya datang untuk balas dendam dan menjaga wibawa sekte. Tapi sekarang? Dia menyadari ada harta karun yang bisa membawanya ke ranah Foundation Establishment (Pembangunan Pondasi).
"Serang!" teriak Gu Tian. "Siapapun yang bisa memenggal kepala Su Lang, aku akan memberinya posisi Tetua dan sepuluh ribu Batu Roh!"
"BUNUH!"
Lima puluh prajurit Pasukan Bintang meraung dan menyerbu naik tangga batu.
Di atas puncak, Su Lang berdiri di depan gerbang, tepat di batas formasi kabut. Li Yun berdiri di sisi kirinya, Lin Yue di sisi kanannya. Xiao Me disembunyikan di dalam ruang bawah tanah Aula Utama yang paling aman.
"Mereka banyak sekali..." Li Yun menelan ludah, melihat lautan manusia hijau tua yang mendaki.
"Jangan hitung jumlahnya," kata Su Lang tenang. "Hitung jarak pedangmu dengan leher mereka."
Su Lang melangkah maju satu langkah. Dia mengangkat tangannya, dan empat Pasak Naga Penahan Bumi yang baru dia tempa melayang keluar dari cincin ruangnya, menancap di empat sudut gerbang utama.
"Formasi Dinding Gravitasi: Aktif!"
Wuuung!
Sebuah dinding transparan berwarna kuning tipis muncul, memblokir tangga masuk sekte.
Prajurit terdepan Balai Tujuh Bintang menabrak dinding itu.
BRAK!
Mereka tidak terpental, tapi mereka tiba-tiba jatuh berlutut, seolah ada gunung yang diletakkan di pundak mereka. Tulang kaki mereka retak seketika karena tekanan gravitasi yang mendadak.
"Arghhh!" Jeritan kesakitan memenuhi udara.
"Jangan berhenti! Hancurkan pasak itu!" teriak salah satu Wakil Ketua dari belakang. Dia melompat, pedangnya dilapisi Qi api, mencoba menebas dinding gravitasi.
Su Lang menoleh ke Lin Yue. "Sekarang."
Lin Yue mengangguk. Dia mengangkat tangannya. Jubah Bayangan Sutra di tubuhnya berkibar. Dia tidak menyerang dinding itu, tapi dia mengalirkan Qi Yin-nya ke tanah.
Teknik Yin: Jarum Es Tanah!
Tanah di bawah kaki pasukan musuh yang sedang tertahan gravitasi tiba-tiba membeku. Ratusan jarum es tajam mencuat dari tanah.
"Mati!" desis Lin Yue.
Jleb! Jleb! Jleb!
Pasukan barisan depan yang tidak bisa bergerak karena gravitasi menjadi sasaran empuk. Jarum-jarum es itu menembus kaki dan perut mereka. Darah merah mewarnai tangga batu menjadi pemandangan yang mengerikan.
Dalam serangan pembuka, sepuluh prajurit elit Balai Tujuh Bintang tewas atau lumpuh.
"Bajingan!" Gu Tian yang melihat dari bawah menjadi murka. "Kalian menghadapi sekte kecil dan dipermainkan seperti anak kecil?!"
Gu Tian melangkah maju. Dia tidak berlari. Dia melayang rendah di atas tanah—tanda kontrol Qi yang luar biasa.
"Minggir, sampah-sampah tidak berguna."
Gu Tian sampai di depan dinding gravitasi Su Lang. Dia tidak menggunakan senjata. Dia hanya menempelkan telapak tangannya ke dinding energi itu.
"Pecah."
Qi Tingkat 8 meledak.
KRAK!
Keempat Pasak Naga yang baru ditempa Su Lang bergetar hebat, lalu meledak menjadi serpihan logam. Dinding gravitasi hancur seketika.
Kekuatan absolut. Perbedaan 4 tingkat kultivasi antara Su Lang dan Gu Tian terlalu jauh untuk dijembatani hanya dengan artefak tingkat menengah.
Gelombang kejut dari hancurnya formasi itu menerpa Su Lang, Li Yun, dan Lin Yue.
"Ugh!" Li Yun terpental mundur, darah keluar dari hidungnya. Lin Yue terhuyung, wajahnya pucat.
Hanya Su Lang yang tetap berdiri tegak, meski jubahnya berkibar liar dan kakinya terbenam beberapa inci ke dalam lantai batu.
Gu Tian melangkah masuk ke halaman sekte, diikuti oleh sisa pasukannya yang bersorak.
"Jadi kau Su Lang?" Gu Tian menatap pemuda di depannya dengan tatapan merendahkan. "Masih muda. Punya bakat formasi. Sayang sekali kau memilih jalan yang salah dengan membunuh orang-orangku."
Su Lang menepuk debu di bahunya. Dia tidak tampak takut.
"Jalan yang salah?" Su Lang tersenyum sinis. "Orang-orangmu datang merampok rumahku, dan aku membunuh mereka. Itu disebut pertahanan diri, Tuan Tua. Di kamusku, itu adalah jalan paling lurus di dunia."
"Lidah yang tajam," Gu Tian terkekeh dingin. "Serahkan Nadi Naga, serahkan teknik penempaanmu, dan potong kedua tanganmu. Aku akan mengampuni nyawa murid-muridmu dan menjadikan mereka budak sekteku."
Mata Su Lang berkilat tajam mendengar kata 'budak'.
"Li Yun, Lin Yue," panggil Su Lang pelan.
"Ya, Guru!" mereka menjawab, bangkit kembali meski terluka.
"Urus sampah-sampah di belakangnya. Orang tua ini... milikku."
"Sombong!" Gu Tian meraung. "Tingkat 4 melawan Tingkat 8? Kau pikir ini dongeng?!"
Gu Tian menyerang. Kecepatannya jauh melampaui Musang Bayangan Bulan. Dia muncul tepat di depan Su Lang, tangannya membentuk cakar elang yang diselimuti Qi ungu korosif.
Cakar Bintang Penghancur Jiwa!
Su Lang tidak menghindar. Dia tidak bisa menghindar. Jika dia menghindar, serangan itu akan menghancurkan Aula Utama di belakangnya.
Su Lang mencabut Pedang Angin Murni-nya.
"Sistem! Overdrive Nadi Naga! Alirkan 100% ke tubuhku!"
[Peringatan! Tubuh pengguna akan mengalami kerusakan permanen jika menampung 100% energi Nadi Naga lebih dari 3 menit!]
"Lakukan!"
BOOOM!
Aura emas meledak dari tubuh Su Lang, membentuk bayangan naga samar yang melilit tubuhnya. Matanya berubah menjadi vertikal seperti mata reptil.
Su Lang menebaskan pedangnya ke arah cakar Gu Tian.
BENTROKAN!
Suara ledakan itu begitu keras hingga memecahkan gendang telinga para prajurit di sekitar mereka. Tanah di bawah kaki mereka amblas sedalam dua meter, menciptakan kawah besar.
Gu Tian terdorong mundur tiga langkah, matanya terbelalak kaget. Tangannya terasa panas dan kebas.
"Bagaimana mungkin?! Qi-mu... kenapa sepadat ini?!"
Su Lang berdiri di tengah kawah, darah merembes dari pori-pori kulitnya karena beban energi yang berlebihan. Tapi dia menyeringai lebar, seringai yang penuh kegilaan.
"Ini baru permulaan, Pak Tua. Kau menginginkan Nadi Naga? Aku akan memukulmu dengan Nadi Naga sampai kau muntah darah!"
Su Lang melesat maju. Bukan dengan kecepatan bayangan, tapi dengan kecepatan ledakan. Dia menyerang Gu Tian secara frontal, mengabaikan pertahanan, menukar luka dengan luka.
Sementara itu, Li Yun dan Lin Yue bertarung back-to-back melawan puluhan murid musuh.
Li Yun seperti gasing maut, Cakar Angin-nya merobek baju zirah musuh. "Jangan sentuh sekteku!" teriaknya.
Lin Yue, dengan wajah dingin, memanipulasi jarum-jarum es untuk melindungi titik buta Li Yun. "Maju, Li Yun! Aku akan menjaga punggungmu!"
Pertempuran di Puncak Qingyun telah berubah menjadi perang total. Salju, darah, dan kilatan Qi bercampur menjadi satu.
Gu Tian mulai merasa takut. Dia menyadari bahwa pemuda di depannya ini tidak bertarung untuk menang, tapi bertarung untuk membunuh, bahkan jika harus mati bersama. Setiap kali Gu Tian memukul Su Lang, Su Lang membalas dengan tebasan yang lebih keras.
"Orang gila! Kau orang gila!" teriak Gu Tian saat pedang Su Lang berhasil menggores pipinya.
"Sekte Aliran Abadi..." Su Lang terengah-engah, darah menetes dari dagunya, namun matanya menyala semakin terang. "...tidak akan runtuh hari ini!"
Su Lang mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Fragmen Kuali di dalam cincinnya beresonansi dengan Nadi Naga di tubuhnya.
Teknik Gabungan: Tebasan Naga Penempa Surga!
Pedang Su Lang memanjang menjadi bilah api emas raksasa sepanjang sepuluh meter.
Gu Tian memucat. Dia merasakan ancaman kematian yang nyata. "Perisai Bintang Tujuh!" Dia mengeluarkan artefak pelindung terbaiknya.
Su Lang mengayunkan pedangnya turun.
Dunia seakan terbelah menjadi dua.