Nara tak pernah membayangkan hidupnya berubah jauh. Dari gadis yang diremehkan karena nilai akademik, kini ia menjadi istri pria mapan yang usianya terpaut jauh darinya.
Arkan, sosok dingin dan misterius, justru memanjakan Nara tanpa syarat. Namun menikah bukan akhir perjuangan, kelas sosial, tekanan keluarga, dan mimpi Nara yang belum selesai menjadi ujian terbesar.
Apakah Nara hanya akan menjadi istri yang dimanja, atau perempuan yang tetap berdiri dengan mimpinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Arkan baru saja selesai rapat ketika ponselnya bergetar. Nama Azka muncul di layar.
“Bro, kampus lagi ribut,” kata Azka tanpa basa-basi.
“Ribut kenapa?” tanya Arkan heran.
“Karena istrimu.” jawab Azka.
Jantung Arkan langsung berdegup kencang. Tentu saja Arkan takut terjadi sesuatu dengan Nara. "Ada apa? Coba jelaskan!" kata Arkan yang dari nada bicaranya sudah terdengar khawatir.
Azka menceritakan semuanya, gosip tentang Nara, tuduhan jadi simpanan, foto mobil mewah, sampai suasana kelas yang hampir ricuh.
“Untung tadi aku yang ngajar. Aku tahan dulu biar nggak makin parah. Tapi ini udah nyebar luas,” ujar Azka serius.
Tangan Arkan mengepal. Panik. Marah. Khawatir, semuanya campur aduk menjadi satu.
Yang terlintas di pikiran Arkan cuma satu yaitu Nara. Bagaimana Nara bisa mengatasi semuanya, Arkan juga merasa kesal kenapa Nara tidak mengumumkan pernikahan mereka saja. Apalagi tadi Nara izin jalan-jalan sama Sandra.
Tanpa pikir panjang Arkan langsung menelepon Nara, beruntung Nara menjawab panggilan dengan cepat, dan suaranya terdengar santai.
“Kenapa, Sayang?” tanya Nara begitu menjawab panggilan.
“Kamu di mana sekarang?” tanya Arkan panik.
“Udah di rumah kok. Baru aja sampai.” jawab Nara dengan santai.
Arkan benar-benar menghembuskan napas lega dengan jawaban Nara.
“Syukurlah…” gumam Arkan pelan, sampai Nara mendengarnya.
“Kok kayak orang panik banget sih?” tanya Nara heran.
Arkan terdiam sebentar, lalu suaranya berubah lembut tapi tegas.
“Kamu kenapa nggak bilang kalau di kampus lagi ada masalah?” tanya Arkan yang benar-benar bicara dengan nada lembut.
Nara tersenyum kecil. “Ah itu… cuma gosip doang. Nanti juga capek sendiri. Ya intinya itu kerjaan orang-orang iri.”
“Bukan cuma gosip, Nara,” ujar Arkan serius. “Itu sudah keterlaluan.”
Nara bisa merasakan nada khawatir di suara suaminya.
“Aku baik-baik aja kok. Tadi malah senang, bisa ajak Sandra jalan.”
Arkan menutup mata sejenak, menahan emosi.
“Kamu itu sekarang istriku. Kalau ada apa-apa, bilang. Jangan ditanggung sendiri.”
“Iya… maaf, tapi kan tadi memang ngga ada apa-apa, cuma fitnah biasa aja.” jawab Nara lirih.
“Besok aku ikut ke kampus.” kata Arkan, dan ucapan itu membuat Nara kaget.
“Hah? Ngapain?”
“Biar mereka tahu,” jawab Arkan dingin,
“siapa sebenarnya suami kamu.” lanjut Arkan.
Nara tahu kalau pasti suaminya tidak akan tinggal diam ketika istrinya disentuh oleh ketidakadilan. Tapi Nara tidak mau dikenal sebagai istri Arkan, kalau dikenal bisa-bisa Nara sulit bergaul. Tapi Nara juga bingung harus bagaimana menolak keinginan suaminya.
Begitu Arkan sampai di rumah, Nara langsung menghampiri suaminya. Tangannya menarik lengan jas suaminya pelan, ekspresinya serius tapi lembut.
“Sayang..jangan ikut campur urusan kampus aku ya.”
Arkan menatap Nara kaget. “Kenapa? Mereka sudah keterlaluan, Nara.”
Nara menggeleng cepat. “Menurut aku itu cuma iri hati. Biasa lah, orang-orang kalau lihat temannya berubah hidup langsung mikir aneh-aneh.”
“Tapi mereka nuduh kamu simpanan!” suara Arkan mulai naik.
“Aku tahu, tapi justru itu yang mau aku pakai buat ngebalik keadaan.”
Arkan mengernyit. “Maksud kamu?”
Nara tersenyum kecil, ada kilat jahil di matanya.
“Aku sudah punya rencana sendiri. Kalau kamu datang besok, semua bakal kelihatan kayak aku berlindung di balik suami kaya. Dramanya jadi rusak.” jawab Nara dengan ekspresi manyun, yang membuat Arkan gemas.
Arkan terdiam, menatap istrinya dalam-dalam. “Kamu mau menghadapi mereka sendiri?”
“Iya,” jawab Nara mantap.
“Sekali ini aja, percaya sama aku. Aku mau bikin mereka malu tanpa ribut, tanpa teriak-teriak.” Nara kembali meyakinkan suaminya.
Arkan menghela napas berat. “Kamu tahu aku nggak suka kamu disakiti?”
“Aku juga nggak mau disakiti,” kata Nara lembut sambil menggenggam tangan suaminya.
“Tapi justru karena itu aku mau buktiin kalau aku bukan perempuan lemah, aku ngga mau nanti malah semua orang nanti menuduh aku mentang-mentang punya suami kaya.”
Beberapa detik hening. Arkan akhirnya mengangguk pelan.
“Oke. Aku nggak datang.”
Lalu Arkan menatap Nara serius. “Tapi kalau sampai satu orang saja melewati batas…”
Nara tersenyum manis.
“Aku akan turun tangan.”
Arkan mendekat dan mengecup kening istrinya.
“Janji.” jawab Nara sambil tersenyum manis.
Di balik senyum manisnya, Nara sebenarnya sudah menyiapkan satu kejutan besar. karena Nara tidak akan melawan dengan teriak.
Keesokan harinya, sesuai dugaan Nara, namanya benar-benar jadi bahan panas di kampus.
Bisik-bisik terdengar di setiap sudut, tatapan sinis mengiringi langkahnya, dan Naumi tampak paling sibuk mengompori teman-teman sekelas.
“Mahasiswi kayak gitu harus ditindak tegas!”
“Cemarin pamer uang, sekarang ketahuan kan asalnya dari mana!” bisik-bisik terdengar oleh Nara, namun Nara tetap cuek.
Akhirnya teman-teman Nara sepakat membawa Nara ke ruang dosen.
Nara tidak melawan. Ia berjalan tenang, bahkan sempat tersenyum kecil. Sandra yang ikut di belakang hanya bisa menggenggam tangannya memberi semangat.
Di dalam ruangan, Naumi mulai berakting seolah paling peduli.
“Pak, kami cuma khawatir citra kampus rusak. Nara sering dijemput mobil mewah, gampang transfer puluhan juta. Kami takut dia—”
“Saya sudah menikah.” Kalimat Nara memotong ucapan Naumi dengan tenang, tapi menghantam ruangan seperti petir.
Semua terdiam.
“Apa?” beberapa mahasiswa berseru kaget.
Nara mengeluarkan ponselnya, membuka galeri. Ia menunjukkan buku nikah, foto akad, dan beberapa dokumen resmi. Wajah sang pria sengaja Nara tutup stiker lucu.
“Ini suami saya. Resmi. Sah di mata hukum dan agama.”
Dosen meneliti bukti-bukti itu dengan serius, lalu mengangguk.
“Tidak ada pelanggaran apa pun di sini.” kata Dosen.
Naumi pucat. “Tapi… tapi dia masih mahasiswa!” kata Naumi masih mencoba menjatuhkan Nara.
“Menikah tidak dilarang kampus,” jawab dosen tegas.
“Yang dilarang adalah menuduh tanpa bukti.” Sandra ikut angkat bicara.
Suasana langsung berbalik. Beberapa teman menunduk malu. Ada yang mulai berbisik menyesal.
Naumi menggigit bibir, tangannya gemetar.
Semua rencananya hancur.
Nara menatapnya tenang, tanpa senyum sombong, tanpa amarah.
Hanya satu kalimat yang ia ucapkan pelan tapi menusuk. “Lain kali, sebelum merendahkan orang, pastikan ceritamu benar.”
Naumi langsung kalah telak.
"Tapi kamu tidak berani membawa suami kamu kesini kan?" Naumi masih menantang Nara.
"Bukan tidak berani, tapi suami saya kerja, untuk memenuhi kebutuhan saya." jawab Nara.
"Bisa jadi kan kamu istri simpanan?" Naumi masih tidak mau kalah.
"Kalau kamu merasa saya istri simpanan, silahkan kamu cari istri sahnya dan bawa kesini, kalau omongan kamu terbukti, baru namanya saya membawa nama kampus jadi jelek, dan perlu kamu ingat, kita tidak saling kenal, kita kenal hanya karena satu kelas, jadi jangan sok tahu."
Naumi terdiam dan merasa kalah, Nara hanya tersenyum manis ke Naumi