Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata
Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja
Bagaimana kisah Sany selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tugas pertama part 9
Debu yang tebal memenuhi tempat itu, hingga menghalangi pandangan. Namun, perempuan itu masih bisa melihat bayangan SIA dengan jelas.
Ia melihat SIA mulai menggerakkan tangannya. Tubuhnya langsung tegang, bersiap menghadapi serangan balik.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. SIA hanya menggerakkan tangannya dengan anggun, dan semua debu di sekeliling langsung tersapu bersih seolah-olah ditiup angin yang tak terlihat.
Perempuan itu terlalu waspada. Setiap gerakan SIA ia anggap sebagai ancaman, padahal bisa jadi itu bukan serangan sama sekali.
"Sudah kuduga, SIA terlalu kuat untuknya," gumam Sany sambil mengamati pertarungan itu.
Perempuan itu tak menyerah. Ia terus menyerang dengan segala cara, serangan frontal, serangan dari samping, bahkan serangan jarak jauh.
Namun hasilnya tetap sama, setiap serangan dihentikan dengan mudah olehnya.
SIA tampak tak memiliki kelemahan apa pun. Perempuan itu mulai kelelahan, napasnya tersengal-sengal.
"Sepertinya kau sangat lelah. Kau boleh istirahat dulu," ucap SIA dengan nada datar sebelum berbalik arah.
Perempuan itu langsung terjatuh pingsan di tempat, dan SIA mulai melangkah mendekati Sany.
"Sepertinya, sudah giliranku untuk bertarung," ucap Sany sambil mengambil posisi siap.
"Tidak, kita tidak akan bertarung," kata SIA dengan suara datar, menatap Sany.
"Kenapa?" tanya Sany yang keheranan.
"Karena para Any dan Dewi sudah sepakat untuk tidak saling bertarung," jawab SIA langsung ke intinya.
"Tunggu... Bagaimana kau tahu soal Any?" tanya Sany yang penasaran sekaligus waspada.
"Kau bisa tanyakan itu pada sahabatmu sendiri. Untuk sekarang, bawa perempuan itu pergi dari planet ini dan selesaikan tugasmu," jawab SIA dengan tegas sebelum pergi meninggalkan Sany.
SIA berpaling, rambut putihnya berkibar ringan sebelum dia menghilang begitu saja, meninggalkan Sany sendirian di tengah ruangan bawah tanah yang sunyi, bersama perempuan yang masih tak sadarkan diri.
Sany masih terpaku memikirkan soal kesepakatan antara Any dan Dewi yang disebutkan SIA, tapi ia tak punya pilihan selain melakukan apa yang diperintahkan.
Dengan hati-hati, Sany mengangkat tubuh perempuan yang pingsan itu, lalu menggunakan kemampuan perpindahannya untuk membawa mereka pergi dari planet robot.
**
Sesampainya di Istana Estburg, Sany sudah ditunggu kedatangannya oleh Nova dan Bianca yang berdiri tepat di depan pintu utama istana.
"Akhirnya datang juga kau," sapa Nova sambil menyambut kedatangan Sany.
Mereka berdua mendekati Sany yang masih menggendong perempuan itu.
"Kenapa lama sekali?" tanya Nova dengan nada yang tak terlalu senang.
"Seperti biasa, si Ketua pasti sudah ikut campur," ucap Bianca yang sudah memahami pola yang terjadi.
Nova yang paham dengan maksud Bianca langsung memberi perintah.
"Bianca, kau bawa perempuan itu ke dalam,"
Bianca segera mengambil alih, mengangkat perempuan itu dari gendongan Sany, lalu berbalik dan masuk ke dalam istana, meninggalkan Sany dan Nova di depan pintu.
"Kau boleh pulang sekarang. Sisanya kami yang akan urus," ucap Nova sebelum berbalik dan berjalan menuju pintu istana.
Sebelum Nova benar-benar masuk, Sany seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi ia mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk kembali besok saja.
Sekaligus, ia ingin menemui Mystera. Ada hal penting yang perlu dibahas dengannya.
Keesokan harinya.
Sany kembali ke Istana Estburg setelah sarapan pagi. Tujuannya dua, menemui perempuan yang diselamatkannya, dan mencari Mystera.
Malam sebelumnya, Sany tidak menemukan Mystera di toko bibi yang kini telah berubah menjadi restoran kecil.
Begitu tiba di istana, Bianca langsung menyambutnya dari balik pintu utama.
"Oh, Bianca. Kebetulan kau di sini, ada yang mau kubicarakan," ucap Sany saat melihatnya.
Bianca sempat melirik ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mengawasi percakapan mereka.
"Ikuti aku, kita akan membahasnya di dalam," balas Bianca dengan suara rendah.
Sany pun mengikuti Bianca masuk melalui pintu utama istana. Interiornya masih sama seperti yang ia ingat dari kunjungannya di malam hari.
Bianca membawanya ke sebuah ruangan kerja pribadi, lalu mengunci pintu dari dalam.
"Silakan duduk," ucap Bianca dengan sopan, sebelum mereka mulai berbicara.
Mereka berdua duduk secara bersamaan, saling berhadapan di kedua sisi meja. Ruangan yang sunyi itu kini dipenuhi ketegangan halus antara mereka.
"Terima kasih atas sambutannya. Sebenarnya, maksud kedatanganku ke sini adalah untuk mencari Mystera," jelas Sany yang langsung ke intinya.
"Kalau kau mencari Mystera, dia sedang pergi menjalankan tugas dari Nova," jawab Bianca yang tampak mengetahui jadwal Mystera.
"Sejak kapan? Katanya dia ditugaskan untuk membantuku," Sany mengingat janji Mystera.
"Sejak kemarin. Dia memang suka membantumu melalui kata-kata, tapi sisanya harus kau urus sendiri," jelas Bianca dengan santai.
Sany teringat pada dukungan Mystera kemarin.
"Iya, dia memang membantuku mengatasi keraguan saat itu," kata Sany yang mengingatnya.
"Ketua memang tidak pernah berubah. Kau pasti ingin menanyakan sesuatu yang penting padanya, kan?" tebak Bianca dengan senyum penuh pengertian.
"Tentu. Ini tentang kesepakatan antara Any dan Dewi," sahut Sany, mengonfirmasi tebakan Bianca.
Mendengar itu, ekspresi Bianca sedikit berubah. Ada kilatan keterkejutan di matanya.
"Padahal, kaulah yang mewakili kami saat kesepakatan itu dibuat," ucap Bianca, mengingatkan Sany pada peristiwa yang penting.
"Benarkah? Aku sama sekali tidak ingat," kata Sany dengan jujur.
"Tidak apa-apa, Ketua. Yang penting kesepakatan itu tetap dipegang teguh," balas Bianca dengan nada serius, menekankan betapa pentingnya hal tersebut.
Sany melirik camilan yang tersaji di atas meja, dan tampak tertarik.
"Kalau Ketua mau, silakan ambil saja," ucap Bianca yang menyadari ketertarikannya.
"Terima kasih," balas Sany sebelum mulai mengambil camilan-camilan itu.
Sany mulai mengambil camilan yang ada di meja tanpa ragu, kemudian memakannya dengan lahap.
Tanpa ragu, Sany menyantap camilan dengan lahap. Bianca tak ingin mengganggu momen santainya, jadi ia memilih berdiri dan berjalan mendekati jendela, menikmati pemandangan di luar sambil memberi Sany ruang.
"Omong-omong soal kesepakatan, mereka yang disebut Dewi itu sebenarnya siapa?" tanya Sany penasaran sambil menoleh ke arah Bianca.
Mendengar pertanyaan itu, Bianca langsung berbalik menghadap Sany.
"Aku hanya bisa memberitahumu sedikit. Kau tidak masalah dengan itu, kan?" tanya Bianca untuk memastikan.
Pertanyaan itu membuat Sany curiga, sepertinya ada sesuatu yang sengaja tidak diungkapkan.
"Tidak masalah," jawab Sany langsung.
Bianca pun mendekat dan duduk kembali di kursi berhadapan dengan Sany.
"Perlu kuingatkan, kau jangan terkejut setelah aku memberitahumu, ini rahasia," bisik Bianca sambil memperingatinya.
Sany hanya mengangguk, memberi isyarat bahwa ia siap.
"Mudahnya begini, Sebelum segala sesuatu diciptakan, All menciptakan entitas pertama yang kita sebut sebagai Dewi," Bianca berbicara dengan suara rendah.
"All? Siapa itu All?" tanya Sany yang tidak mengenal nama itu.
"All itu nama lain dari Tuhan, Sany," jawab Bianca secara langsung, dengan nada sedikit kesal.
Sany hampir terkejut, tapi ia berhasil menahan reaksinya.
Bersambung...